26/04/13

Tanpa Jilbab Kamu Tetap Seorang Muslimah

"Mengapa para pemuda ini merasa terjebak dengan adat-istiadat yang bukan milik mereka?" Aku berbicara kepada Mama. 
"Adat kehormatan sudah ada sebelum Islam. Jika kita bertahan pada budaya dengan mengatasnamakan Islam, maka kita sama saja menyembah apa yang manusia, bukan Tuhan, ciptakan? Bukankah itu disebut menyembah berhala?"  
Mama menghela napas, "Itulah kebodohan."

Percakapan di atas saya kutip dari buku "Allah, Liberty, & Love" karya Irshad Manji dalam salah satu babnya, yakni Pelajaran Ketiga: Budaya itu tidak sakral. Irshad Manji, salah seorang penulis reformis muslim kontemporer secara gamblang menunjukkan bagaimana mendamaikan iman dan kebebasan dalam dunia yang dipenuhi dogma-dogma represif atas nama identitas, budaya, maupun kehormatan keluarga. Irshad Manji mencoba untuk memberikan kita pilihan dan kapasitas untuk mewujudkannya.

Seorang wanita yang memutuskan untuk tidak mengenakan jilbab ataupun hijab tidak menandakan dirinya sebagai seorang non-Islam. Masalah agama memang sejak dulu menjadi isu yang sangat sensitif di dunia, terlebih lagi di Indonesia. Namun itu tidak menjadikannya sebagai sebuah isu yang tidak dapat dibicarakan. Saya mulai tertarik untuk melihat permasalahan jilbab semenjak saya masuk ke dalam dunia HI (Hubungan Internasional). Ini bukan berarti saya menolak penggunaan jilbab, tapi lebih kepada bagaimana muslim mencermati keadaan sekitarnya.

Pelarangan penggunaan jilbab di Perancis menjadi isu yang lumayan sering dibicarakan dalam lingkar studi HI, terutama bagi mereka yang memberi perhatian lebih terhadap isu agama. Peraturan yang disahkan semenjak tahun 2011 itu menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat. Ada yang menentangnya atas nama agama dan kebebasan, namun juga ada yang mendukungnya sebagi bentuk war on terrorism. Memang sejak peristiwa 9/11 di Amerika muslim mendapatkan citra yang buruk sebagai teroris dan dunia memandang Islam sebagai 'sebuah' aktor antagonis dalam studi keamanan dunia. Istilah islamophobia kemudian nyaring terdengar di dunia Barat.

Tren di Indonesia
Kaum muslim di seluruh dunia mengalami dilema yang sama, yakni antara kukuh mempertahankan ajaran yang mereka pahami (terkadang seadanya) atau memperbaiki citranya sebagai penganut agama pembawa perdamaian di dunia. Dari sini kemudian saya memulai dari memperhatikan permasalahan jilbab sebagi faktor budaya di Indonesia.

Penggunaan jilbab sepertinya menjadi sebuah tren di kalangan pelajar Indonesia, khususnya ketika mereka telah mengenyam pendidikan tinggi di universitas. Tanpa melihat alasan di balik penggunaannya, saya lebih suka untuk melihat wanita apa adanya. Saya percaya bahwa tubuh dan segala perlengkapan yang menutupinya tidak dapat dijadikan faktor utama dalam menilai seseorang apakah dia baik atau tidak. Sayangnya, ada tren kontradiktif yang terjadi di Indonesia, yakni penggunaan kekerasan atas nama agama dan penggunaan agama sebagai alat politik (atau sebaliknya, agama dipolitisasi). Kebanyakan orang menilai orang lain dari pakaiannya maupun latar belakangnya (biasanya keluarga dan agama) tanpa mengindahkan perilaku sehari-hari individu tersebut. Ketika dunia mengalami krisis kepercayaan dan demonisasi terhadap Islam akibat 9/11, muslim Indonesia malah sibuk mencap yang lain kafir dan sesat.

Islam mengajarkan umatnya untuk menutup alat vital dan berpakaian sopan. Ini dapat dimaknai dengan sangat luas. Saya tidak menyalahkan maupun menganjurkan untuk tidak mengenakan jilbab sebagai salah satu interpretasi ajaran Islam, tetapi bagaimana mengakalinya untuk dapat 'lolos' menghadapi rintangan seperti di Perancis. Jilbab, hijab, dan cadar memang menjadi pilihan yang paling efektif (karena menutup seluruh bagian tubuh) ketimbang menggunakan baju lengan panjang ataupun topi untuk menutupi rambut. Namun hal tersebut dapat memberikan dampak negatif psikologis terhadap orang lain yang curiga dan berprasangka buruk bahwa pengguna jilbab, hijab, ataupun cadar sebagai bentuk penutupan diri ataupun menyembunyikan sesuatu.

Menghindari pria untuk terangsang juga sering menjadi alasan penggunaan jilbab, hijab maupun cadar. Tetapi bagi saya hal ini menjadi kurang masuk akal di tengah pergolakan arus globalisasi. Beberapa teman pernah berargumen bahwa di zaman globalisasi dimana rok mini, hot pants, dan kaos tak berlengan telah menjadi hal yang biasa digunakan wanita dan merupakan konsumsi sehari-hari, yang menurut kaum feminis, tidak bisa dijadikan alasan memprovokasi pria untuk memperkosa wanita. Adalah tuntutan yang berlebihan memang bagi kaum lelaki untuk menerima argumen tersebut, tapi saya percaya bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari hal tersebut ketimbang memaksa wanita menggunakan jilbab, hijab, maupun cadar.

Islam tidak pernah memaksa
Saya masih ingat perkataan kakak saya bahwa Islam itu tidak pernah memaksa. Islam adalah agama yang bebas, membutuhkan pendalaman, penafsiran, dan interpretasi yang luas. Kebebasan individu menjadi patokan utama saya hingga saat ini. Mau menggunakan jilbab ataupun tidak pada akhirnya Islam itu adalah pilihan masing-masing individu.

Dibuat untuk rubrik opini IR UGM Book Club

Starstruck

I'll never forget the moments I spent with her. Who the hell wants to forget his time with the 'star'? You could say I'm very lucky as I get what you may dreamed of. I'm dating a celebrity, an actress, a dream of all men. But there are other reasons that make those moments unforgettable. Yes, the star's light able to blind your eyes, or in case of mine, even can hurt your heart.

"I'm sorry," she said while crying on the phone.
"It's okay, I understand," I replied to end the conversation.

I knew this time would come, the time when I had to willingly see her shine without me. At least he was more appropriate than me in front of her parents. I will not lie that I'm sad, but I realized that my sadness will not last long as time passes.

. . .

I remember the first time I went to a small cafe that also has room to stay at a cheap price on the roadside the night after I finished my official duties. I saw her open the door and entered with her blue winter jacket. Her eyes were tired, her hair was a mess, make her looked more like a human, not a star. Turns out she had just returned from the shooting set which I think pretty far away if it must be reached by taxi. And I knew, at that time I had fallen in love.

She had no home, settled from a cheap inn to another one has become a habit in order to save money before getting paid from the filming. At least that's what I heard from the bartender.

"May I sit here?" I asked as I took a bottle of beer to the table where she sat.
"Please," she said languidly.
"Are you an actress?" I asked.
"If I were an actress, I would not be in a place like this," she replied with a high tone.

I drank my beer for a moment, looking at the city lights lit on these cold night which visible from the side of the window where we were sitting together.

"Sorry, I thought it would not be wise for an actress to let herself get a bad image," I smiled.
"What do you know about image?" she asked as she looked into my eyes.
"All I know is that image left a certain impression in the memory of others. But to left an impression in the heart is a different thing," I teased her.

Her laugh was so sweet once she heard my words coming, and that evening was passed very fast. Clock has shown at half three in the morning when she closes her mouth which yawning because of exhaustion. I think our relationship started very well because we were both tired, so I think it will end up in a different way.

. . .

It did not take long to make the world realize that she is a star and her fans one by one began to appear. I never had problems with it, my job keeps me busy and removes prejudice. Until one day, the moment I feared came. Gossip is popping up in the media, a picture of her along with another man posted in every magazine. When I was on duty to attend an abroad conference, reporters were after me. Asked me about the things I did not know.

What I knew is he was a young entrepreneur, she met him while shooting the romantic scenes which done in a restaurant owned by him. Love indeed does not know where and when, it seemed the cupid shoot love arrows while drunk at the time. She explained it all on the telephone. I asked her to meet me, but she said she did not want to. It looked like she felt guilty. There was no contact between us for weeks, until finally she called me when the sun begins to set.

"I can not lie to you, since I first saw you, you always make me smile," she began the conversation.
"Yeah, I guess I was not ready to be a star's mate," I said in a joking tone.
"You're perfect and I do not deserve you. Find a woman which will always faithful to accompany you when you're busy, find a woman which will always watching you and worried about you when you fly across the countries. You deserve it all," she began to cry.
"Yes, I understand. I hope you will be happy with your life," I replied.
"I'm sorry," she said while crying on the phone.
"It's okay, I understand," I replied to end the conversation.

Thank you doctor for the afternoon that you spend with me: a glass of milk, a plate of apple pie, and a good story.

22/04/13

Tuan Putri

Untuk tuan putri yang telah mencuri hatiku kesekian kalinya,

Dia begitu manis kulihat dari seberang jendela, berjalan anggun tanpa memperhatikanku. Ketika kututup jendela itu, aku sadar bahwa aku takkan pernah tahu apakah aku bisa mendapatkannya.

"Dulu kenapa ya kita bisa putus?" tanyaku sambil memperhatikan jalanan.
"Gak tau, lupa" jawabnya santai sambil bermain dengan telepon genggamnya.

Pertanyaan yang terus kuulang, namun aku sudah tahu jawabannya. Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutnya yang manis. Apakah kau ingat, benci, atau malah menyegarkan ingatanmu akan masa-masa bahagia kita? Ah, mungkin itu hanya sekilas bagian hidup yang perlu dibuang dan diganti oleh yang baru baginya.

Sudah menjadi kebiasaan burukku mendekati wanita seenaknya. Mendekati yang terluka kemudian melukainya lagi. Atau yang lebih buruk lagi, mendekati mereka yang ceria dan meninggalkan sedih. Kenapa begitu? Aku sendiri tak tahu.

"Apa kau mau menikahiku?" tanyaku bergurau.
"Ya" jawabnya singkat membuat hatiku meledak.

Alasannya tak menjadi hal yang penting bagiku, karena kau mungkin berbohong kepadaku. Aku dan dia tak berbeda, kita merajut harapan di ruang yang gelap. Dia pandai menyimpan kejujuran dan pandai membuat hati lelaki bahagia.

Tak pernah aku merasakan hal seperti ini dengan wanita lain. Penasaran, senang, rindu, cemburu, benci, dan palsu menjadi satu. Cinta yang dibentuk oleh es dan api, begitu dingin namun hangat. Kita bermain di sebuah hutan yang tak berbatas, tanpa pagar. Kita berkejar-kejaran, menghindari satu sama lain, namun hati ingin tahu sambil bersembunyi di balik pepohonan, rindukah ia? Masihkah ia mencari? Perasaan yang tak akan pernah bisa kudustai, rindu. Rindu wajahnya yang manis, dan dingin tangannya akan selalu menghantui pikiranku di kala sendiri.

Aku takkan pernah tahu perasaannya dan keinginannya. Karena ia tak akan pernah mengizinkanku membuka pintu hatinya yang tertutup. Mungkin aku tak akan pernah mendengarnya dari mulut manisnya, kata sakral yang diucapkan setiap manusia kepada kekasihnya, "Aku cinta padamu".

bahagialah kamu tanpa hati yang terluka.

16/04/13

Tentang Kakek dan Ayah

Kesempatan kali ini akan kugunakan untuk bercerita mengenai seseorang. Seseorang yang berjasa, mungkin secara tidak langsung, namun sangat besar jasanya bagi kami sekeluarga. Entah dengan sebutan apa yang pantas digunakan untuk memanggilnya. Keluarga kami bisa dibilang dekat, namun tidak terlalu dekat. Jauh, namun juga tidak terlalu jauh. Semenjak pertama kali bertemu dengan beliau, Ayah selalu memintaku memanggilnya "Mbah". Sebutan sopan untuk seseorang yang sepuh atau secara harafiah berarti "Kakek".

. . .

Saat itu matahari mulai terbenam, adzan maghrib telah selesai dikumandangkan, dan semua orang telah kembali ke rumah setelah menunaikan sholat ketika seorang pemuda dan ayahnya menghampiri rumah pejabat yang baru pulang dari Jakarta itu. Mereka mengetok pintunya beberapa kali.

"Assalammualaikum," sapa ayah pemuda itu.
"Wa'alaikumsalam, ada apa To?" tanya pejabat itu membuka pintu dengan sajadah di tangannya.
"Ini pak Bul, anak saya. Saya mau bapak bawa dia ke Jakarta"
"Oalah, mari-mari masuk dulu. Kita bicarakan di dalam. Na, tolong buatkan teh tiga, aku teh tawar ya" katanya kepada istrinya di dapur.
"Ah, terima kasih pak", dia tersenyum memegang tangan anaknya untuk dituntun masuk ke dalam rumah pejabat itu.

Rumahnya sederhana, dengan foto pernikahan bertengger di ruang tamunya. Pak Abul dan Bu Hasna adalah orang terpandang di desa. Pak Abul setiap harinya bekerja sebagai pegawai negeri yang berdinas di Jakarta. Setiap hari raya Islam dia selalu menyempatkan waktu untuk pulang kampung ke desa di tengah pedalaman pulau Jawa, seperti sekarang ini.

"Bagaimana kabar istri-istrimu To?" tanya pak Abul sambil menyeruput teh tawarnya.
"Baik-baik semua, saya baru mendapatkan satu lagi anak. Seorang putra dari istri muda saya." jawab pak Yanto terlihat bahagia sekali.
"Alhamdulillah, semoga menambah berkah keluarga ya. Ini anak yang ke berapa To?"
"Kedua pak, sudah besar"
"Iya, terlihat kuat seperti bapaknya ya. Jadi bagaimana?"
"Begini pak, toko sepertinya sudah tidak bisa lagi membiayai hidup tiga istri dan tujuh anak saya. Saya ingin anak saya ini bapak bawa ke Jakarta, cari nasiblah pak."

Pak Yanto adalah seorang pedagang sembako di desa. Istri pertamanya meninggal karena sakit, istri keduanya tidak bisa memberikannya anak. Semua anaknya dilahirkan oleh istri mudanya, istri ketiganya. Mereka semua diasuh bersama-sama oleh kedua istrinya.

"Berapa umurmu nak?" tanya pak Abul kepada pemuda yang dari setadi mendengarkan perbincangan mereka dengan serius sekali.
"18 tahun pak" jawab pemuda itu tegas.
"Mau kamu ke Jakarta?"
"Iya pak, kalo itu bisa membantu ayah saya"
"Anak pintar. Sudah lulus SMA kan kamu?"
"Ah, sudah pak. Pintar ini dia, tapi tukang kelahi" potong pak Yanto.
"Haha, wajarlah, namanya juga laki. Kayak kamu dan aku tidak saja dulu. Baiklah, saya coba hubungi orang rumah di Jakarta ya. Saya cek dulu masih ada kamar kosong tidak"
"Ah, dia bisa tidur dimana saja pak, ya kan?"
"Iya pak" jawab pemuda itu cekatan.
"Baiklah kalo begitu. Minggu depan saya kembali ke Jakarta, kamu siapkan baju dan lainnya. Pamitanlah kepada ibumu dan adik-adikmu"
"Terima kasih pak Abul, saya tidak tahu harus bagaimana"
"Hanya ini yang bisa saya lakukan pak Yanto, sisanya tinggal dia yang berusaha. Saya tidak bisa menjamin apa-apa"
"Ini sudah lebih dari cukup pak, saya hutang banyak sama pak Abul"
"Sudah-sudah, tidak usah begitu. Kita sama-sama manusia, sama-sama Muslim, mari saling bantu"
"Baiklah pak, kami pulang dulu" pamit pak Yanto menyuruh anaknya mencium tangan pak Abul.

Seminggu kemudian pak Abul kembali ke Jakarta bersama istri dan pemuda itu dengan bis murahan. Pak Abul adalah orang yang sederhana dan pandai menyimpan uang. Tak pernah ia naik pesawat untuk perjalanan dinasnya. Uang perjalanan yang diberikan oleh kantor, ditabungnya sedikit-sedikit dengan cara naik kendaraan yang lebih murah.

"Saya tidak bisa memberikanmu apa-apa, selain tempat tinggal dan makanan. Kamu cari kerja sendiri, ada masalah apa selesaikanlah sendiri" kata pak Abul di perjalanan.
"Iya pak, saya mengerti" jawab pemuda itu sambil menahan pusing kepalanya karena baru pertama kali naik mobil.

Sampai di Jakarta, pak Abul memperkenalkan pemuda itu dengan dua anak lakinya. Mereka bertiga ditempatkan sekamar. Semua orang di rumah pak Abul sangat ramah dengan pemuda itu. Dia menganggapnya seperti anak sendiri, anak-anaknya juga menganggapnya seperti kakak. Selama dua tahun lebih pemuda itu hidup di tengah keluarga pak Abul, bekerja serabutan dari pagi hingga malam, dari menjual nasi uduk bersama bu Hasna di pasar sampai ikut membantu mengemasi percetakan buku Yasin milik temannya anak pak Abul.

"Assalamualaikum," sapa seorang berjas kepada pak Abul.
"Wa'alaikumsalam. Walah Sep, sudah lama kamu tidak main kesini" jawab pak Abul sambil memeluk tamunya.
"Maaf pak Abul, saya sibuk sekali" jawab orang itu sambil tersenyum.
"Bagaimana perusahaanmu? Katanya ada masalah sama Tono" tanya pak Abul sambil menyuruh tamunya duduk.
"Baik pak, pesat malahan. Iya ini si Tono semakin hari, kami semakin sengit kelahi"
"Kalian ini rekan kerja, jangan begitu. Ada apa malam-malam kemari? Jauh pula rumahmu Sep" tanya pak Abul langsung.
"Begini pak Abul, saya butuh banyak sekali tenaga untuk proyek saya di Kelapa Gading. Mungkin pak Abul punya teman atau kenalan untuk bantu saya" jawab orang itu sambil membuka jasnya.

Pak Septa adalah seorang pengusaha properti yang berhutang jasa dengan pak Abul. Pak Abul kenal dengannya semenjak pak Septa memulai usahanya dari nol. Pak Abul-lah yang membiayai modal awal usahanya.

"Walah, kalo banyak sih saya tidak punya. Tapi saya mau titip orang satu boleh Sep? Yah, hitung-hitung bantu tenagalah" tanya pak Abul sambil melirik pemuda yang dia bawa dari desa itu.
"Waduh, maaf pak Abul, tapi dia bisa apa? Lulusan mana?" tanya pak Septa mencoba mengelak.
"Lulusan SMA, saya bawa dari desa. Apa sajalah, yang penting bisa bantu. Lihat, dia pekerja keras" jawab pak Abul menunjuk pemuda itu yang sedang mengemas buku Yasin untuk dikirim ke Cempaka Putih hingga sekujur tubuhnya berkeringat.
"Hmm, baiklah, mungkin bisa saya usahakan. Besok suruh langsung ke Kelapa Gading saja pak Abul"
"Baik, saya antar saja ya dia sekalian saya ke kantor"
"Walah, bukannya jauh pak kantor bapak dari Kelapa Gading? Sepertinya spesial sekali pemuda itu buat pak Abul"
"Ah, saya hanya ingin bantu. Lagipula saya lihat api semangatnya berkobar besar sekali di matanya. Saya seperti melihat diri saya beberapa tahun silam sewaktu pertama kali merantau ke Jakarta"

Mereka pun terus berbicara satu sama lain. Mengakrabkan diri dalam hawa panas malam Jakarta. Esoknya pak Abul mengantar pemuda itu ke Kelapa Gading untuk bertemu pak Septa.

. . .

Sepertinya sudah lama semenjak 100 hari meninggalnya kakek aku datang ke rumahnya. Ayah tak bisa datang waktu itu karena berada di Surabaya bersama ibu. Aku tak begitu mengenal kakek maupun ayah, hanya cerita ini yang aku miliki untuk bisa mengenal masa lalu mereka. Kakek bercerita itu sewaktu aku sunatan. Tanpa kakek, mungkin ayah masih di desa membantu ayahnya di toko sembako. Mungkin pria berjas itu akan bangkrut karena berselisih oleh rekan kerjanya sendiri yang membuat perusahaan baru lebih besar dari perusahaannya sekarang. Ayah menjadi sahabat sekaligus rekan kerja barunya semenjak itu, karena kejujuran dan kegigihannya dalam bekerja. Keberanian, kejujuran, dan kepedulian menghiasi cerita ini. 

Selamat jalan kakek, semoga segala kebaikanmu terbayarkan di surga.

Mungkin

Hari ini kita berkelahi begitu hebat dan pada akhirnya aku kehabisan kesabaran. Padahal hari begitu indah, matahari bersinar ketika kau datang. Namun senyum itu tak hadir menyapa, dan semua menjadi sangat buruk. Semua berawal dari hal yang sangat sepele. Dan sekarang aku hanya bisa berkata "mungkin". Mungkin jika kau tak begini, tapi begitu. Mungkin jika aku begitu, dan tidak begini.

Kau bawa makan siang untukku, aku bilang terima kasih.
Kau tanya "apa kau pikir aku tidak ada disini?", hatiku panas.
Aku bilang aku mau pergi, kau menahanku.

"Berikan lelaki kebebasan," kataku, "maka kau akan mendapatkannya". Jika memang jodoh tak akan kemana. Namun semua terlambat, kebebasanku hilang dalam satu jam yang kau sita dariku. Kau berbicara ini itu, aku tak mau mendengarkan. Hingga akhirnya batas kesabaranku hilang dalam amarah dan emosi yang kau bentuk. Sudah ku bilang, semua butuh waktu. Kau tak bisa memaksa seseorang untuk berbicara dalam keadaan hati yang panas dan kepala yang tak dingin. Begini jadinya.

Wanita, kau kadang menjadi madu dunia, namun lebih sering menjadi racun. Akan ku katakan padamu apa yang ku mau, apa yang ku butuhkan agar kau diam, merenung, dan memperbaikinya, mungkin untuk yang lain, bukan untukku. Seorang wanita itu harus:
  1. Cantik fisiknya: Jangan naif, semua datang dari mata kemudian turun ke hati. Jaga cantikmu, agar kau terus bersinar untuk dia yang kau cintai.
  2. Pintar pemikirannya: Berbagi pemikiran dan berikan pendapatmu jika diminta. Kau pasti ingin menjadi bagian dari dirinya yang kau cintai bukan? Tak hanya bagian dari hatinya, namun juga dari pemikirannya.
  3. Pintar perilakunya: Apalah artinya wanita tanpa perilaku? Dia yang bisa beradaptasi dan terus mendampingi orang yang dicintainya sangat dibutuhkan oleh lelaki. Pintar mengetahui kondisi, kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus pergi, dan kapan harus datang. Kita semua punya privasi dan waktu sendiri-sendiri.
  4. Berikan kebebasan kepada dia yang kau cintai: Jodoh tak akan kemana, kita semua individu yang merdeka. Jika ia harus pergi, relakan. Jika ia datang kembali, sambut dia dengan senyuman.
Hujan turun menutup hari yang hitam. Kita merusak dan sama-sama rusak. Yang perlu dilakukan adalah merenung dan memberi waktu kepada hati yang luka. Bertahan dalam rasa sakit adalah pelajaran utama dalam cinta.