12/11/12

Perpisahan

Hingga malam tiba barulah kita akan berpisah.
Di tengah meriahnya pesta, di tengah suka cita, ingatlah kami yang pernah bersama kalian.

28/10/12

Hujan

Pagi itu hujan mendatangi Jogja. Ya, sudah lama tidak hujan di tanah sang Sultan. Telpon genggamku berdering. "Ah, pasti kekasihku," pikirku. Ternyata nomer tidak dikenal yang menyapaku pagi itu. Seperti kenangan lama yang manis. Entah berapa tahun yang lalu, yang pasti aku masih mengingatnya. Dia menyapaku dengan tanda senyuman di pesan singkat. Dengan suaranya yang jernih terkadang dia membangunkanku. Sama seperti dirinya yang menemani hari-hariku sekarang.

Hujan tak akan pernah lama datang menjenguk. Tetapi sejalan dengan doa manusia, dia tetap dibutuhkan. Tapi sayang, di masaku, hujan itu terlalu lebat. Memberikan ingatan yang buruk mengenai petir, badai, halilintar, dan awan hitam. Dia pergi meninggalkan kenangan, meskipun awalnya dia datang membawa harapan. Sama seperti dulu, kau datang ketika hujan.

Hujan itu sudah lalu sayang, tapi aku tak akan berbohong bahwa mungkin badai akan kembali. Setidaknya sekarang kita bisa menikmati pelangi.

23/10/12

Penjaga Makam

Oh ya, lentera ini menemaniku setiap malam di tengah jaga.
Menjaga para teman lama yang sudah tiada.
Di bawah sinar rembulan yang indah dan fana.

Ayo sahabat, mari berkeliling, kan ku tunjukkan rumahku.

Tanah yang lembut dan gembur sangat mahal harganya.
Yang teratur dan yang terjaga.
Ketimbang yang tandus dan keras di sebelah sana.

Ayo sahabat, mari berkeliling, kan ku tunjukkan rumahmu.

Oh ya, teman lama mari berbicara, tentang luka dan duka.
Sudah tiada?
Ya, ragamu tak akan pernah kembali ke dunia.

Ayo sahabat, kita kunci gerbang neraka dan surga.
Malam ini cukup sampai sini saja.

Bosan aku mendengar tangis sendu yang dibuat-buat itu.
Bukankah kita akan sama-sama menuju satu titik tertentu?
Tinggal menunggu waktu.

21/10/12

Jokowi dan Jakarta

Jakarta sudah mendapatkan Gubernur barunya. Gubernur yang akan mengemban segudang masalah dan akan menjadi kambing hitam ketika sesuatu tidak berjalan sesuai ekspektasi masyarakat Jakarta. Jokowi yang jauh-jauh datang dari Solo saya pikir sudah mengetahui hal ini. Tingkat kesibukan, temperamen, dan ego masyarakat ibukota tentu jauh berbeda dengan masyarakat Solo. Apa yang bisa dilakukan oleh Jokowi dalam masa 5 tahun jabatannya sebagai Gubernur Batavia?

Indonesia merupakan negara berkembang atau sekarang masyarakat dunia lebih senang menggunakan efimisme late-comers country. Sebagai ibukota, Jakarta mempresentasikan keadaan Indonesia secara utuh. Ya, sangat utuh. Kesenjangan sosial, distribusi kekayaan yang tidak merata, ledakan penduduk, korupsi, semua ada di ibukota. Semua yang melanda Indonesia ada di Jakarta. Busung lapar? Kemiskinan? Kriminalitas? Apa lagi yang tidak ada di Jakarta? Kota yang hidup 24 jam ini tak lelah menghibur sekaligus menggerogoti jiwa-jiwa malang manusia yang ada di dalamnya.

Mulai dari lalu lintas
Saya pernah melihat sebuah kutipan yang sangat menggugah di internet: 

"A developed country is not a place where the poor have cars. It's where the rich use public transportation" -Mayor of Bogota

Dari sebuah kutipan yang sederhana ini, terlintas di pikiran saya, "Jokowi harus mulai dari permasalahan lalu lintas Jakarta". Berangkat dari asumsi awal saya mengenai Jakarta sebagai representasi Indonesia, jika Jokowi mampu mengubah Jakarta menadi lebih baik, maka Indonesia akan menjadi lebih baik. Salah satu permasalahan terbesar Jakarta adalah padatnya lalu lintas, membengkaknya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor, dan tidak efektifnya transportasi publik. Dan Jokowi harus bisa menyelesaikan masalah ini untuk menjawab doa-doa masyarakat Jakarta.

Yang tersulit dari penanganan masalah lalu lintas adalah bagaimana caranya membuat orang-orang kaya di Jakarta mempercayai dan menggunakan transportasi publik. Mempercayai dan menggunakan adalah dua hal yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan dalam hal ini. Pemerintah daerah (Pemda) Jakarta harus mampu membuat mereka percaya terlebih dahulu mengenai keamanan, kenyamanan, serta efektivitas transportasi publik. Ini bisa dilakukan dengan penayangan iklan serta sosialisasi yang gencar oleh Pemda kepada masyarakat Jakarta, terutama orang-orang kaya Jakarta atau mereka yang lebih suka menggunakan mobil pribadi. Bagi saya, TransJakarta belum bisa menjadi jawaban atas permasalahan ini. Jokowi harus mencari alternatif lain, dan semoga rencana Monorail dapat menjadi jawabannya. Sistem lalu lintas yang baik akan memudahkan seluruh kegiatan di ibukota.

Memanusiakan ibukota
Istilah memanusiakan ibukota yang sering dibicarakan oleh teman-teman saya, para pemerhati Jakarta, sudah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari. Kesenjangan sosial yang sangat jelas terlihat di ibukota perlu diperhatikan oleh Jokowi. Jokowi harus bisa bersikap tegas dalam masalah ini. Banyaknya warga kota lain yang mengadu nasib di ibukota pasca lebaran selalu menjadi tradisi yang ada setiap tahun. Ini bukan berarti saya menyalahkan mereka yang mengadu nasib sepenuhnya, tetapi bagaimana Pemda menangani perpindahan penduduk ini yang perlu diwaspadai. Harus ada prosedur dan syarat yang jelas mengenai sistem "mengadu nasib" ini. Jokowi harus mampu mengatur arus perpindahan penduduk, baik yang keluar maupun masuk ke dalam ibukota.

Kepedulian masyarakat Jakarta yang terus menurun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk juga harus menjadi salah satu rencana kerja Jokowi. Memanusiakan ibukota berarti menyadarkan kembali masyarakat ibukota bahwa mereka adalah manusia yang harus bersosialisasi dan peduli satu sama lain. Tingginya tingkat kesibukan di Jakarta membuat masyarakatnya sangat egois dan menjunjung tinggi privasi. Mereka tidak mau diganggu oleh hal-hal sepele seperti rapat warga atau kerja bakti, dan uang selalu menjadi hal pertama yang mereka gunakan sebagai jawaban. Memang ini tidak akan bisa diselesaikan dalam jangka waktu dekat, melalui pendidikan, iklan, dan pendekatan oleh Pemda kepada masyarakat akan mampu menjadi jawaban yang tepat. Sebelum memanusiakan masyarakat ibukota, Jokowi harus mampu memanusiakan jajarannya.

Semangat Jokowi!
Permasalahan ibukota adalah representasi permasalahan negara. Roda ekonomi yang berputar di ibukota harus tetap dijaga untuk terus berputar sembari membenahi jalananannya yang rusak dan kotor. Saya percaya Jokowi membawa angin perubahan bagi Jakarta, tetapi saya tidak yakin beliau membawa angin perubahan yang baik saja. Seringkali kita menyelesaikan masalah dengan menciptakan masalah yang baru. Saya dan masyarakat Jakarta tentunya berharap banyak kepada sang Gubernur. Jangan pernah berhenti berharap selama kita percaya adanya Tuhan. Semangat Jokowi!

15/10/12

Paradoks Hidupku

Malam ini rasanya bulu kudukku merinding tidak karuan, brrrr! Bukan, bukan karena ada hal-hal gaib. Tapi karena dia. Dia yang aku dekati, aku ambil hatinya, aku cintai, dan aku rindukan.

"Jangan, aku kenal dengan dia" katanya.

Serentak aku merinding, keringat dingin tubuhku. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi privasi. Tembok-tembok itu telah runtuh. Diruntuhkan atau runtuh dengan sendirinya? Haruskah runtuh? Gawat! Inikah arti kesetiaan? Inikah arti cinta? Inikah rasa yang kelak akan menjadi-jadi ketika aku menikah? Ataukah ini arti dari obsesi? Oh tidak!

Aku mencintaimu, tapi aku ingin bebas. Ini masalahku yang tak pernah terselesaikan dari dulu. Aku melihat yang lain dengan pembenaran atas nama kebebasan. Aku terjebak, lagi. Dalam euforia menuju satu tahun, ini semakin menjadi-jadi. Apakah kau mengakses seluruh akun media sosialku? Apakah kau terus membuntutiku? Apa gerangan yang membuatmu seperti ini? Apakah kau tak lagi percaya padaku? Aku takut.

Ya, aku takut tak bisa mencintai yang lain. Aku takut pintu kesempatan yang diceritakan orang-orang itu akan tertutup selamanya, tapi aku juga takut kehilanganmu. Takut kehilangan seluruh perhatianmu dan seluruh cintamu.

Ini paradoks hidupku.

14/10/12

Kehilangan: Harta, Kesehatan, dan Karakter

“Ketika kita kehilangan harta, kita hanya kehilangan sedikit. Ketika kita kehilangan kesehatan, kita kehilangan banyak. Tetapi ketika kita kehilangan karakter diri kita, kita kehilangan segalanya.”

Guru saya pernah mengatakan hal tersebut ketika saya duduk di bangku SMP. Pernyataan yang sangat membingungkan saat pertama kali saya dengar. Bagaimana bisa ketika kita kehilangan harta, kita hanya kehilangan sedikit? Padahal harta merupakan akumulasi kekayaan dan kepemilikan dari usaha kita selama bertahun-tahun. Dan sakit, ya, kata lain dari kehilangan kesehatan, mengapa kita bisa kehilangan banyak? Padahal kita dengan cepatnya bisa sembuh dari suatu penyakit. Dan karakter? Apa itu karakter? Mengapa ketika kita kehilangannya kita akan kehilangan segalanya? Sekiranya begitulah pemikiran saya ketika duduk di bangku SMP. 

Seiring berputarnya waktu, kata-kata guru saya terus terngiang di pikiran saya. Setiap kali saya melihat berita mengenai kebakaran di suatu tempat di televisi, pada akhir berita sang pembawa berita akan selalu berkata, “Kerugian dari kebakaran mencapai...”, dan jika beruntung, “Tidak ada korban dalam peristiwa kebakaran tersebut”. Kata-kata tersebut kembali berputar di pikiran saya. Mengapa harus beruntung? Bukankah mereka tetap saja kena sial akibat kebakaran tersebut? Bayangkan, mereka kehilangan tempat tinggal, harta, dan mungkin masa depan mereka. Kenapa sang pembawa berita masih mengatakan itu suatu keuntungan?

Hingga tiba suatu saat ketika bos ayah saya menjadi korban tindak kriminal. Ketika itu beliau sedang mengendarai mobil pribadinya, beliau berhenti di lampu merah, dan tepat pada saat malam yang sepi itu mobilnya dikelilingi oleh banyak pemuda. Tanpa menunggu, pemuda-pemuda tersebut memecahkan kaca mobil beliau dan membajak mobilnya. Beliau pun keluar dari mobil dengan tangan hampa. Dompet, telpon genggam, dan seluruh arsip bisnisnya hilang bersama mobilnya yang dibajak. Ketika cerita tersebut disampaikan, secara refleks saya bertanya kepada ayah saya, “Kenapa tidak melawan?”, kemudian ayah saya hanya tersenyum dan mengusap rambut saya. 

Ternyata hidup tidak semurah itu. Hidup tidak bisa dibeli dan juga tidak bisa dijual. Hidup merupakan suatu berkah dan kutukan di saat yang bersamaan. Saya sadar bahwa harta bisa dicari lagi ketika hilang, tetapi kesehatan merupakan hal yang mungkin hanya Tuhan yang bisa memberikannya kembali kita ia hilang. Itulah mengapa ketika kita kehilangan kekayaan, kita kehilangan sedikit, namun ketika kita kehilangan kesehatan, kita kehilangan banyak.

Lalu bagaimana dengan karakter? 

Manusia tercipta begitu berbeda, kita tak ada yang sama persis ketika diciptakan oleh Tuhan. Kita menjadi pionir-pionir penggerak dari hal-hal yang kita percayai. Kita melakukan apa yang menjadi minat dan bakat kita. Kita bersosialisasi dan mencari kehidupan yang kita inginkan melalui hal-hal tersebut. Karakter adalah ciri khas, dia adalah gambaran mengenai siapa kita. Analogi dan manifestasi dari pikiran kita. Kita dipercaya dan saling mempercayai karena karakter. Dari sinilah saya bisa mengatakan pentingnya karakter. 

Saya tidak bisa melihat sisi lain dari karakter kecuali kepercayaan. Kepercayaan yang terbangun dari karakter yang secara konsisten terus ada. Konsistensi karakter yang terbentuk karena kejujuran kita terhadap apa yang kita rasakan. I’m sad when I’m sad, I’m happy when I’m happy, I’m angry when I’m angry. Kita tidak boleh berbohong kepada diri kita sendiri. Kita berperilaku apa adanya, karena hanya dengan begitulah karakter kita bisa terbentuk. Kepercayaan akan terjalin, dan orang-orang mengetahui kejujuran kita. 

Ketika kita berbohong kepada diri sendiri, kita kehilangan karakter kita. Kita kehilangan kepercayaan yang kita butuhkan untuk mendapatkan hidup yang kita inginkan. Kita kehilangan harta dan kehidupan, kita kehilangan segalanya. Maka, jujurlah kepada diri sendiri. Kita merasa sedih, kecewa, dan menyesal saat kita kehilangan. Apapun bentuk dari kehilangan tersebut, jujurlah, dan orang-orang di sekitarmu akan mengerti.

12/10/12

Para Serigala

Sejatinya pria adalah serigala. Kami adalah pemburu hebat yang siap menerjang mangsa, sendiri maupun berkelompok. Kami bisa bekerja sama, namun satu-dua dari kami mungkin menginginkan jatah yang lebih banyak ketimbang yang lain. Bukankah para serigala licik?

Kami pandai merayu, seperti alunan panggilan kepada sang rembulan di saat malam penuh bintang. Kami bisa menjadi manja tetapi tetap bisa diandalkan. Kami adalah serigala yang setia jika kebutuhan kami terpenuhi. Tetapi kami ekspansionis, tak mudah merasa puas, dan terkadang sangat ambisius. Kami mengejar kesempurnaan di tengah ladang sang penggembala domba. Yang putih, yang mulus, yang sintal dan menggoda. Ketika kami sudah berhasil mendapatkan satu, kami tetap memandang rerumputan hijau itu yang penuh dengan domba. Mata penggembala yang semakin larut semakin merapat memberi kesempatan untuk mencuri satu-dua domba, lagi?

Tak akan ada habisnya jika bercerita tentang para serigala. Matanya yang menyala setiap malam menarik mangsanya mendekat penuh rasa penasaran. Ya, kami memang penuh dengan daya tarik. Daya tarik yang memikat dan mematikan. Kami mencium kalian penuh dengan gairah, mencengkeram kalian dengan cakar-cakar kami yang manis. Hitungan detik, kalian tak akan merasakan sakit lagi.

Beberapa dari kami mungkin lebih licik lagi. Ada yang mengenakan bulu-bulu domba demi berada di tengah ladang. Sang penggembala mungkin tahu atau mungkin tidak. Berpura-pura menjadi domba mungkin terdengar menggelikan tapi beberapa dari kami berhasil melakukannya. Kami tetap mendapatkan daging kalian yang lezat. Oh ya, jangan lupa hati kalian yang lembut, bagian favorit kami. Kami mungkin menyantapnya di awal atau akhir masa berburu.

Aku tak ingin menjadi serigala lagi, aku ingin belajar menjadi manusia. Menjadi tuan para serigala, menjadi penggembala domba yang baik. Yang mengalunkan nada seruling bambu lebih indah dari alunan kepada sang rembulan. Aku ingin menjadi satu yang setia. Tapi naluri tak pernah bisa berbohong. Aku juga pernah, dan mungkin akan menjadi salah satu dari para serigala itu, lagi.