20/08/15

Makan Enak Gak Harus Mahal

Daaaaaaaaaaaamn! Udah lama banget nih gak nulis di blog. How are you peopleeee? Wazzzzzuuuup? How's life? Great? Glad to hear that! Udah 2 bulan ya ternyata, ckck. Sebelumnya mau mohon maaf lahir batin dulu ya, maaf tidak memenuhi janji untuk nulis setiap minggu, hiks. Gue tersesat dalam kehidupan *halah. Well, anyway, I get my life rhythm back! I'm gonna write again yaw!

Sesuai dengan judul, kali ini gue mau me-review sebuah tempat makan yang murmer yang secara gak sengaja gue temukan di arah pulang ke kosan. This is the first time I eat EMPAL GENTONG. Yup, Empal Gentong, makanan khas Jawa Barat yang sering dibilang makanan khas Betawi juga (correct me if I am wrong ya). Begini kisahnya...

***

Malam itu seperti biasa saya pulang sekitar jam 8an malam dari kantor. Saya melihat sebuah warung kopi cukup besar yang ramai sekali. Namun saya melihat ada pikulan di depan warung kopi tersebut dengan ketupat bertengger di atas pikulannya. Warung kopi itu nampak jelas dari luar, namun pikulan di depannya nampak ramai dengan orang. Well, sh*t! Let's try to find out!


Ooo, ternyata ada something di pikulan tersebut, Tanpa banyak basa-basi, saya tanya, "Pak, ini apa ya?", and he said, "Empal Gentong".

Empal Gentong? What is that yo? Norak banget ye gue. Yaudah gue langsung pesen, "Pesen satu ya pak, yang paling enak." Dengan banyaknya antrian, si bapak langsung mengolah dengan cepat, dan gue iseng aje foto.


Setelah doi ngolah pesenan gue, gue lihat dan telaah baik-baik nih makanan, and daaaaaaaaaaamn! This is look so delicious!


Empal gentong dengan paru! Wait, is it still can be called as empal gentong? I don't know, tapi yang pasti rasanya unik! Asin, manis, gurih, semua campur jadi satu di mulut.

***

Enough with the picture ya, I know you are hungry now, haha. Jadi setelah gue makan dan kenyang, gue ajak si bapak ini buat ngobrol (sorry, I forgot to take his picture).

Namanya Bapak Ali, beliau sudah jualan empal gentong pikul ini selama 10 tahun. Bapak Ali belajar masak empal gentong dari baba-nya, yang juga penjual empal gentong selama 40 tahun. Bapak Ali meneruskan usaha baba-nya setelah si baba jatuh sakit dan gak bisa jualan (no worries, he is still in good shape dan ikut nimbrung masak serta ngobrol tadi). 

Bapak Ali adalah mantan caddy dan pelatih golf. Doi meninggalkan pekerjaannya karena memilih untuk meneruskan usaha baba-nya. Surprisingly, pendapatan dari penjualan empal gentong ini twice than his salary per month, haha. Ya akhirnya beliau serius menjalankan bisnis ini. Semua pegawainya adalah anggota keluarganya. Ada baba-nya, om-nya, tantenya, keponakannya, sampai adeknya, semua bantu jualan empal gentong.

Berawal dari kesukaannya terhadap empal gentong (plus insiden baba), doi berani improvisasi dengan campuran ketupat sayur. And this is the answer of the unique taste I have described to you before! Damn, this man is good! Terhitung 50 tahun sudah empal gentong ini ada di daerah Patal Senayan. Bapak Ali mengundang saya untuk sewaktu-waktu nanti main ke rumah untuk belajar bikin empal gentong, haha.

Sayangnya perbincangan kami tidak berlangsung lama karena pengunjung yang terus berdatangan dan membuat Bapak Ali sangat sibuk. Empal gentong Bapak Ali buka jam 3 sore dan tutup jam 9 malam (6 jam doang, abis itu habis ludes, keren banget kan?). Dengan rasa yang mantap dan harga yang sangat friendly (I spent IDR 23.000 include drink), gak heran empal gentong Bapak Ali sangat ramai dan cepat habis. Mungkin kapan-kapan kamu mau makan di sini sama aku? Uhuy, gombal dulu ah.

That's all folk! See you again in my next post! Here's some extra photo of my dinner tonight. Hope you hungry!

Segelas teh hangat dan sepiring empal gentong cukup untuk menemani malamku yang dingin dan lapar akan kasih sayangmu *aseek

29/06/15

#lovewins

Selamat malam! Apa kabar? Semoga bahagia selalu ya! Minggu ini gue absen dulu untuk me-review hangout places karena keterbatasan waktu dan tempat. Eits, tapi jangan pergi dulu! Karena gue ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk menuliskan sebuah pemikiran, semangat, dan harapan yang udah lama ingin gue tulis tapi gajadi-jadi terus. Gue mau nulis tentang kejadian yang beberapa hari ini heboh banget di dunia nyata maupun di dunia maya. Yup, gue mau nulis opini gue tentang same-sex marriage.

Akhirnya, legal juga!
Tanggal 26 Juni 2015 menjadi hari baik bagi kaum LGBT (kok gue ngerasa aneh ya pakai istilah "kaum"?) di Amerika Serikat karena Supreme Court melegalkan pernikahan sesama jenis. Negara Amerika Serikat (selain merupakan negara adidaya) adalah negara yang sering atau suka banget gue perhatiin. Pergerakan politik dan sosialnya selalu memberikan hawa baru bagi dunia internasional. Sejak memerdekakan diri dari Inggris (correct me if I'm wrong), menghapuskan sistem perbudakan, pergerakan kesetaraan kulit hitam, hingga pemberian hak suara bagi semua warganya, Amerika Serikat selalu menjadi pusat perhatian dunia. Bahkan, meski bukan merupakan negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis, Amerika Serikat tetap mendapatkan sorotan dari negara-negara di dunia. Lalu apa hubungannya dengan gue?

Gue mendukung pernikahan sesama jenis. Bukan, itu bukan berarti gue seorang homoseksual, gue adalah seorang pecinta wanita, azeeek. Anyway, I support same-sex marriage simply karena gue merasa bahwa pernikahan atau bersatunya suatu pasangan adalah hak mendasar setiap manusia, hak semua orang untuk bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintainya, and that's also mean for those who have a same-sex partner.


 

Pernikahan sesama jenis dan pernikahan beda agama
As some of you may know, gue juga mendukung pernikahan beda agama. Hal ini didasari oleh keadaan gue yang sekarang juga sedang menjalani hubungan beda agama. Menurut gue, dua hal ini berbagi inti pesan yang sama, yakni hak mendasar setiap manusia untuk bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintainya. Gue tahu bener rasanya menjalin hubungan beda agama, yang menurut gue juga mungkin dirasakan oleh orang-orang yang menjalani hubungan sesama jenis, yakni resistensi dari banyak pihak. 

Ketika gue melihat dan membaca berita tentang ini, gue seneng banget. Gue merasa simpati, mungkin juga empati, dengan mereka yang sudah lama sekali memperjuangkan hal ini. Sayangnya, di Indonesia malah terjadi sebaliknya, Mahkamah Agung menolak permintaan untuk melihat kembali undang-undang pernikahan, which mean negara (dan masyarakat) Indonesia masih belum bisa menerima adanya pernikahan beda agama.

Hukum menjadi solusi dan awal mula yang bagus kalo kata Macklemore. Ketika hukum, dalam hal ini negara, memandang semua orang itu sama, equal, dan melindungi hak semua orang, semua warga negara untuk dapat bersatu dengan orang-orang yang dicintainya, maka secara perlahan pola pikir masyarakat juga akan berubah. Pergolakan sosial yang terjadi di masyarakat memang akan selalu berubah dari zaman ke zaman, semua itu pasti ada pro-kontranya, tapi gue percaya banget, cinta itu datang bukan karena pilihan, tapi udah dari sananya.

Alasan-alasan inilah yang membuat gue mendukung same-sex marriage. Alasan-alasan ini yang ikut membentuk gue menjadi pribadi yang seperti sekarang.

"No freedom 'til we're equal, damn right I support it"
 Macklemore & Ryan Lewis - Same Love

21/06/15

Kenapa Harus ke Barbershop?

Hey-ho! Bagaimana kabar kalian hari ini? Gue mau berterima kasih dulu nih kepada semua pembaca yang sudah mampir ke blog gue karena minggu lalu seusai gue me-review Three Buns, ternyata terdapat loncatan pembaca yang sangat signifikan (bagi gue). Tulisan review Three Buns ternyata mampu menarik perhatian 100 pembaca, damn! That was a fantastic number! Terima kasih sudah mau mampir dan membaca blog gue, gue jadi makin semangat menulis review tentang the best hangout place in town!

Sore ini setelah gue bermalas-malasan di kosan, gue memutuskan untuk saatnya potong rambut. Wait, potong rambut? What's the relevancy with the best hangout place in town? Ini dia pertanyaan yang perlu gue jabarkan buat kalian. Bagi kalian yang masih asing dengan istilah barbershop, sebetulnya bermakna sama dengan tempat cukur/pangkas rambut yang biasa ada di pinggir jalan dekat-dekat rumah kita (I used to go to pangkas rambut lho dulu hingga SMA). Istilah barbershop sendiri di Indonesia mulai kian ramai beberapa tahun belakangan ini. Ada sebuah barbershop fenomenal di Jakarta (bukan barbershop ini yang mau gue review) yang mampu memberikan domino effect terhadap lifestyle anak-anak muda Jakarta (dan pada akhirnya di kota-kota lain di Indonesia).

So, what is barbershop? Bagi gue, secara fundamental, yang membedakan pangkas rambut dengan barbershop adalah: 1) Fasilitas; 2) Jenis layanan; 3) Produk pendukung untuk gaya/kesehatan rambut; 4) Kenyamanan. Fasilitas tentu memberikan penampilan yang berbeda antara barbershop dengan tempat pangkas rambut, AC misalnya, membuat kita tetap nyaman di ruangan. Barbershop juga biasanya memberikan pelayanan yang berbeda-beda, ada yang cukur saja, cukur + pijat, dan lain-lain. Pelayanan itu tentuya dibanderol dengan harga yang berbeda-beda pula. Di barbershop juga biasanya menyediakan produk-produk yang bisa kita beli untuk menunjang gaya/kesehatan rambut kita, dan biasanya kita juga akan diajarkan cara penggunaannya, dari vitamin, pomade/minyak rambut, hingga berbagai jenis sisir, biasanya tersedia di barbershop. Terakhir, nah ini yang akan gue bahas lebih dalam, adalah kenyamanan. Bukan maksud hati mengatakan bahwa di pangkas rambut tidak nyaman, namun di barbershop (menurut gue) kenyamanan merupakan penilaian paling vital bagi seorang pelanggan untuk kembali lagi kesana, alasannya pun beragam, tapi buat gue, yang terpenting adalah peran si barber (tukang potong rambutnya) itu sendiri.

###


Sore ini gue mampir ke barbershop favorit gue, Barberoom. Setiap bulan gue selalu kesini untuk potong rambut dan bercengkerama dengan orang-orang di dalamnya. Terhitung gue udah 9 bulan lebih bolak-balik Barberoom dan udah ketemu sama yang punya (sore ini ga ketemu), manajernya, hingga barber langganan gue.

Sebagai sebuah barbershop, Barberoom memberikan fasilitas yang oke dan pelayanan yang beragam. Barber-barber yang ramah menjadi nilai plus Barberoom. Gue sendiri kalo dateng ke Barberoom pasti langsung disambut oleh semua stafnya dan pasti yang nanganin gue adalah barber langganan gue (kita bisa memilih mau dilayani oleh barber yang mana). Gue dateng, buka pintu, disapa, dikasih tempat duduk, dikasih teh (kalo lagi ga bulan puasa), dan akan diajak ngobrol-ngobrol. This is what makes barbershop, or in this case Barberoom, the best hangout place in town.

"This is a barbershop, not a hair salon. You came here not to impress anyone, but to get the best service while talking with your fellow about sports, women, relationships."

Memang cuma cewek yang bisa ngegosip? Cowok juga bisa kali. I spend many hours in Barberoom usually to have a good laugh on everything! From job, women, into relationship. Meski sudah selesai mendapatkan pelayanan, gue biasanya masih akan stay untuk ngobrol atau sekedar menyeduh teh hangat di sini.




Kalian juga bisa konsultasi mengenai gaya rambut terkini atau gaya rambut apa yang paling cocok dengan kalian. Produk-produk yang disediakan juga tentunya akan dicocokkan sesuai dengan gaya kalian. Barber-barber yang ramah ini akan membimbing kalian untuk jadi gentlemen.


Ini adalah a'a Agus, barber langganan gue yang udah tahu gaya rambut gue kayak gimana dan gak pernah berubah sejak 9 bulan terakhir. "Eh, a'a Ozil dateng," sapa a'a Agus setiap kali gue dateng ke Barberoom. A'a Agus adalah barber yang ramah, lucu, dan cabul, haha. Gue akan selalu dibuat ketawa dengan cerita-cerita jenakanya setiap kali datang kesini. Fun fact dari a'a Agus, bahwa kebanyakan barber di Indonesia berasal dari Garut! Gak percaya? Coba kalian tanya asal para barber ini. Dulu gue pernah bilang sama a'a Agus, jangan-jangan di Garut itu ada sekolah barbernya, dan doi dengan santai menjawab, "Kita mah gak perlu sekolah barber a', kita mah udah jago potong memotong rambut dari lahir. Sama jagonya kayak merayu wanita, haha." Geli bener gue dengernya, haha.

Oke, jadi kalian sudah tahu kenapa gue ke Barberoom setiap bulannya. You will get the best service, the best advice, and the best laugh in here. I definitely recommend you to stop by and have a good time here. This is the best hangout place in town!

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: barberoom.co

13/06/15

People Who Love to Eat are Always the Best People

Halo! Udah lama banget gue gak nulis di blog! God, my work seems like never ending! Nice to write again in this lovely afternoon! Eits, tapi sekarang gue lagi nulis gak di sembarangan tempat nih. Gue lagi nulis di salah satu tempat paling hitz di Jakarta.

So, I'm planning to improve my blog by not only writing personal things but also some review. As some of you have known that my blog start to review books (sorry, belum sempet baca-baca buku lagi nih) and now I'm going to review the best hangout place in town! Dari mana ide ini bisa muncul? Let me tell you the story.

Mau Jadi Influencer

Sejak gue bekerja di salah satu PR agensi paling bergengsi di dunia (remind me to write a story about it), gue mulai mengurus keberangkatan beberapa blogger dan influencer untuk klien-klien gue. Saat itu gue mikir, "Damn! Kenapa gue ga bisa kayak mereka yang dibayar untuk hal yang mereka suka? They simply write their experience for some of the most interesting event in the world!" dan ternyata semesta mendukung.

Beberapa minggu setelah gue mengirimkan influencer dan blogger-blogger itu ke luar negeri, gue bertemu dengan salah satu dedengkot dunia maya, mas Rane. Gue ketemu di sebuah acara yang diselenggarakan oleh klien gue, and I talk a lot with him.

"Mas, kok enak ya jadi influencer gitu? Mereka dibayar cuma untuk nulis," gue bilang sama mas Rane.

"Iqbal, lu juga bisa kali kayak gitu. Yang penting lu tau apa yang lu suka, lu tulis deh. Sisanya hanya tinggal konsisten aja untuk terus nulis," jawab mas Rane.

Perbincangan kami memakan waktu berjam-jam saat itu dan akhirnya membuat gue bertekad untuk nulis tentang hal-hal yang gue suka. I love to hangout, I love to eat and drink, I love to talk with people, and I love to write! Akhirnya gue memutuskan untuk menulis tempat-tempat hangout asik di Jakarta dan (masukkan dari mas Rane) tempat-tempat makan terpencil semacam kaki lima yang bisa memutarbalikkan lidah lu 180 derajat! So, start from now, every weekend I will write them down in my blog. Are you excited as I am?! Yeeehaaaa!

Eat Burger and Drink!

For my first attempt, gue milih Three Buns, sebuah tempat makan asik yang bisa dibuat hangout sama temen-temen lu. Where did I know this place from the very first place? My best friend of course! Waktu itu gue janjian mau ketemu sama salah satu temen lama gue, seorang pengacara yang lagi galau mau ngelanjutin karir cemerlangnya atau mau mengajar untuk kemaslahatan bangsa, mas Rifky. Back to the story, waktu itu kita sama-sama clueless mau ketemuan dimana, sampai akhirnya dia bilang, "Hey, I know a good place to meet, Three Buns!" and so we're off!


Three Buns merupakan sister company dari Potato Head, another great place to hangout, which explain a lot about the uniqueness of the place. Three Buns dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kesan taman bermain yang terinspirasi dari New York Central Park (I have never been there, so I can't explain a lot). Mereka percaya bahwa masyarakat Indonesia itu perlu tahu nikmatnya burger, a real burger! Mereka mengusung visi, "A homemade burger, made from heart", keren banget kan? The burger in here was so delicious! Sayang mereka harus mengurangi ukuran burgernya karena banyak pelanggan yang komplain ukurannya kegedean untuk takaran orang Indonesia (really guys? Come on!).


Dari luar kalian akan melihat sebuah trailer kecil bergambar kepala bulldog (their mascot), and once you got in, wow, believe me, you will be fascinated! Look at some of the photo below!



Sore ini gue memutuskan untuk ketemu dengan orang Three Buns, dan gue disamperin oleh Jessica Eveline, Head Chef Three Buns yang bertugas menjaga kualitas makanan dan minuman yang mereka sajikan. Jessica berbicara banyak tentang Three Buns dan burger. Pengunjung Three Buns sangat beragam, dari anak-anak muda sampai bule-bule yang sekedar mau minum di bar mereka. Hari-hari kerja biasanya dipenuhi oleh orang-orang kantoran yang cari makan siang dan akhir pekan akan dipenuhi oleh anak-anak muda dan bule-bule.


Di sini lu bisa ngerokok, minum alkohol, dan ada wifinya. Kurang apa coba? Kurang makanannya? Let me show you my menu this afternoon:


Gue pesen menu Street Truff dengan minuman Beerootscola. Gak usah ditanya lagi, Three Buns memang jagonya burger. Mereka menyajikan berbagai macam burger, dari burger dengan daging sapi, babi, hingga Four Floor, burger 4 lantai yang bisa bikin mulut lu kepenuhan. Untuk minuman, mereka menyajikan minuman soda, bir, hingga alkohol.

In my honest opinion, they have everything it takes to be the best hangout place in town. I really, really, really, recommend you to come!

For more details, visit: threebuns.com

10/05/15

Calamity

Christopher woke up in a very fresh day. He felt the joy of the weekend, the joy of happiness in his heart. His mind was free and he put aside his work-stuff in his laptop. He walked down the stair and seeing his family gather in the garden, they were busy with the BBQ party.

"What's that, dad?" he asked.

"Beef, still not done yet," said an old man with a full beard. He wore a white shirt with a green short, a very unusual appearance for a man of his age.

The smoke was everywhere, made Christopher's eyes sore.

"Grab some beer and give me one, son," the old man said with a deep and gentle voice.

"Here," he gave the old man a bottle of beer.

"Is your mother still changing your little brother's diaper?"

"Yup,"

"Then it's a good time to talk with you." said the old man while putting the steak on the plate.

There were lot of familiar faces. The crowd, the laugh, and everything he missed from his family was there at that time. They sat down in the corner of the garden. Two chairs, both didn't in position of facing each other. The old man began to drink his beer, and slowly closing his eyes.

"You know that I love your mother so much, right?" the old man said.

"A-ha," Christopher began to drink his beer.

"You also know that I made a great sacrifice to be with her. We raised you with what they called as pluralism, diversity, or any words you'd have ever known. The thing is, I regret it, son. I put everything on the table at that time. We all made the best decision according to our needs, our interest at that time. Lately it haunts me. I know that love is such a complex thing, and I never hope that you will understand it, but I do want you understand the pain I felt. The pain of being neglected, the pain of being nowhere. I see the same path in yours, and I don't want you to feel the same."

"What this is all about?"

"I know that you love your girlfriend. I'm afraid I could not accept it."

"What? After all this time? After all the things you have said to me?"

"I know. I'm such a hypocrite. But I never want anything except the best from you. The path will be very difficult for the both of you and it will getting worse,"

"So, you don't trust me that I can handle that?"

"I didn't say so. You are still young and yet you will experience a lot about this world, about the society where we live in. It's just not the state that you will face, but yourself. I feel this contradictions in myself, there are conflicts in my heart about the decision I've made. I don't want you to regret this like I do,"

"The only thing I will regret is when I did not pursue my happiness,"

"You see, son. This is the thing we share in common. We both struggle for our happiness and I know that you know how much I support you. When her dad called me, I sense trouble, tragedy, calamity, unfortunate events will befall on you. It is my duty as your dad to protect you. I know I'm being too hard for you right now. But can you pleased this old man with this one request?"

"No,"

"You still have time to made up your mind,"

"And so is you,"

"When the times come, son, I want you to choose,"

"I guarantee I will made it clear for you,"

11/03/15

Will You Pick Me Up at School?

Hello! How are you? It's been awhile since my last post. I hope you still find my blog interesting after this two months of my absence. It was quite busy these past two months. I have struggling with my career and so on. Anyway, let's get into the business. I want to share some stories based on my experience this afternoon.

It was 1 pm and I'm on a fine dining restaurant waiting to meet someone. The place is not entirely restaurant, actually it was a multi-functioned building filled with many offices. The restaurant was at the 2nd floor of the building. What has struck my mind is that the building consist of a pre-elementary school (and elementary school also). The time keep ticking and the clock has showed 2 pm. The elevators opened and I saw little angels are rushing out. They were accompanied by their babysitter of course. They, then, have lunches in the restaurant.

I found it really sad to see a school inside a multi-functioned building which also consist of restaurant and many offices. Back then, I still remember that my elementary school was in the middle of residents. We had a football field, gardens, and many land spaces. I went to school by bicycle with my friends. But I do notice that this school I saw is not a regular school. There are many foreign students. There are blondes, black skinned curly boy, but there are also Indonesians. I understand that due to the limited space in Jakarta, this school exist to fulfill the needs of education in this elite surroundings in the middle of Jakarta, and I also understand that this school must has cost more than the regular one.

While I saw them had their lunch, I start to thinking their parents. What kind of parents they have? What is their job? Where do they live? And where do they work? With this kind of situation, I barely believe that they have time for their children. While I think of that, once again, I saw the elevators opened and I saw adult peoples in suits and dresses are rushing out. They were smiling and calling their child names. It was a heart touching moment. They speak in many languages, I heard English, Japanese, Korean, and Indian. I keep thinking, despite of their busy schedule, they spare some times to pick up their child. They were playing, joking, and laughing each other.

Curiosity made me follow them into the outside of the building. There was a long queue of cars. Each of them had one driver. But sadly, there was a kid that didn't picked up by his parent. You guess it, an Indonesian boy. He was accompanied by a babysitter and picked up by his driver. Well, I am not surprised at all.

For quite some time, I think about this phenomena which I have seen. I think it is not about how modern you are in raising your kids, but how care you are in raising them. Many Indonesian parents still think that their hard work is for the future of their kids. They spent much times for their careers, and often leaving their children moments for their job. Yes, it isn't wrong, but I think it is more important that you have to be there for the future of your kids. I know that Indonesian boy's feeling, because I have been there. I begin to think that wealth won't change you much. It's about culture, and we can still learn to fix it.

Time goes by and rain has falling. I cancelled my meeting because I was waiting too long for someone I want to meet and decide to go back to my place. The traffic jam made me realize how this city eats people's time. It corrupts you. Jakarta is the "mother"-city of Indonesia. I think it should act more like a mother has to.

06/01/15

Film Seri "House" dan Awal 2015

Hello! How are you? It's been awhile isn't it? Sudah empat tahun ternyata saya menulis di blog and still counting. Kalo saya lihat statistik jumlah pengunjung total blog ini rasanya hampir tidak percaya. Masih ingat dulu saya senang sekali ketika angka di pojok kanan atas situs blog saya ini mencapai angka 100. Untuk kalian para pembaca blog saya, terima kasih karena sudah membaca tulisan-tulisan yang sedikit berguna dan banyak omong kosongnya ini. Maaf saya tidak sekeren blogger lainnya yang konsisten dan menawarkan konten menarik seputar kehidupan pribadi, hobi, maupun tips-tips spesial dalam mengatasi permasalahan seks, wait, are you seeking of it on internet? Haha, gotcha! Anyway, selamat tahun baru 2015 bagi kita semua! Semoga apa-apa yang kita targetkan, kita impikan di tahun ini dapat tercapai, amen to that!

Sebelum menuliskan maksud hati saya pada postingan kali ini, saya ingin bercerita tentang awal mula kegiatan menulis saya di blog ini dan kemajuannya hingga saat ini. Semua bermula saat saya masih duduk di bangku kuliah, ketika saya mulai menyadari bahwa saya suka membaca dan perlu untuk menuliskan 'sesuatu' agar saya dapat bertahan dalam menghadapi dunia (ini lebay). 

Masa kuliah adalah masa-masa yang paling mengasyikkan dalam hidup saya, tugas sedang banyak-banyaknya, teman sedang banyak-banyaknya, dan pacar juga sedang banyak-banyaknya, wait, it sounds wrong. Kuliah di UGM membuat saya tersadar bahwa saya hidup di dunia yang kompleks dengan keberagaman yang sangat hebat! Saya bertemu orang-orang luar biasa dan berbagi cerita dengan mereka. Tapi terkadang ada beberapa cerita yang tidak bisa dibagikan dengan sembarangan orang, dan pemikiran yang tidak bisa diterima juga oleh sebagian orang. Menulis di blog menjadi sebuah pelarian yang bagus bagi saya untuk berbagi cerita, meski saya tidak pernah tahu siapa saja yang membaca blog saya ini. Beberapa cerita di blog saya adalah kejadian nyata yang dikemas ulang dengan nama samaran maupun sedikit aksi hiperbola. Saya berusaha sebisa mungkin untuk menyampaikan kesan dan pesan dalam sebuah kisah yang saya temui kepada kalian, semoga kita mendapatkan pesan yang sama.

Setelah beberapa lama saya menulis ternyata cerita-cerita saja tidak cukup, puisi dan opini menjadi opsi bagi saya untuk meramaikan pengunjung blog ini, hey, siapa sih yang gak mau terkenal? Anyway, intinya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan cerita yang sama-sama sudah Anda bagi dengan saya. Saya ingin tetap menulis selama saya bisa melakukannya dan tidak akan berhenti untuk berbagi kisah dengan kalian. It's kinda pathetic sih nulis kayak gini, but hell with that! I know you read my blog somewhere, haha. Well, semoga postingan pertama di tahun 2015 bisa memberikan kalian kegalauan seperti yang sedang saya rasakan sekarang. Have a good read!

Film Seri "House" dan Awal 2015
"Staring death in the face has changed my life, what a cliche,"

Begitulah kira-kira ucapan dr. House kepada dr. Wilson sahabatnya yang berubah 180 derajat ketika divonis mengidap kanker. For your information, malam ini adalah kali pertamanya saya menonton film seri "House", dan langsung di season terakhir, season 8, dan episode-episode terakhir. Gak ragu sih kemudian jika banyak yang mengagumi sosok House, sebagaimana saya mengagumi sosok Harvey Spectre di fim seri Suits.

Saya suka sekali dengan pembawaan House yang begitu apa adanya, tapi saya lebih tertarik untuk menerjemahkan karakter Wilson. Karena saya tidak menonton House dari season awal, saya jelas tidak mengetahui bagaimana kepribadian Wilson, namun di episode 20, Wilson mengaku menyesali hidupnya yang dia nilai terlalu baik dan terlalu peduli. Wilson kemudian berubah menjadi seseorang yang ignorance dan selfish sebagai bentuk balas dendam kepada takdir. Dia mengaku ingin menjadi Kyle, yang ternyata di akhir cerita merupakan seorang lelaki yang berhasil mendapatkan wanita idaman Wilson saat SMA dulu. 

Ironi yang terjadi pada Wilson (sebagai dokter, dia terkena kanker, dan ternyata Wilson takut mati di rumah sakit ataupun di ambulan) merupakan kisah yang sering kita temui di kehidupan nyata, atau dalam kesempatan ini, kehidupan saya. I always wanted to be a warm person, dikelilingi oleh banyak teman, dan selalu disambut hangat oleh semua orang. Tapi kejadian resign teman-teman kantor saya (ya, sekarang saya cuma berdua di kantor kecil mungil yang tadinya berdelapan) kemarin benar-benar memukul saya. It is very stressful to see the office empty, no more laugh, dan gak ada lagi kawan ngerokok.

Ketika teman-teman seperjuangan saya di kantor memutuskan untuk resign rame-rame, saya berkonsultasi dengan banyak orang, keluarga, pacar, teman dekat, maupun menggalau di media sosial. What I found interesting is I was regretting my decision to stay because of my parents' reasons. Tapi kalo boleh mengkritisi diri sendiri, mungkin ini juga salah satu sifat blaming others saya yang tidak pernah sembuh. Saya masih belum bisa menerima bahwa saya takut dalam mengambil keputusan untuk mengejar kebahagiaan ketimbang kesuksesan. Saya masih berpikir, "It's okay if they choose to resign, as long as I still have this job and still get paid." Orang tua saya yang berpikir "Yang penting kerja dan gak nganggur" sepertinya benar-benar mendorong saya ke tembok penyesalan. Saya tidak pernah mempertimbangkan bahwa lingkungan kerja juga sangat penting dalam menyeimbangkan tingkat stres dalam meneruskan kehidupan.

Ironi berlanjut dengan realita bahwa saya hanya memiliki sedikit sekali teman di Jakarta, ya saya juga gak punya banyak teman di Jogja, tapi setidaknya lebih banyak daripada di Jakarta, why we keep talking about this? It's a little bit tricky talking about friends. Sometimes we think of them as friends, but they don't. Anyway, kembali lagi, saya menemui tembok transisi kehidupan saya menuju seseorang yang baru lulus kuliah dan baru memasuki dunia kerja. Saya merasa sangat menyesal untuk bisa lulus kuliah terlalu cepat. Saya memilih untuk mempercepat laju hidup ketika yang lain belajar untuk memahami dan menikmati hidup mereka. Bukan berarti saya tidak menikmati, hanya saja saya merasa ini terlalu cepat. Dulu ketika teman-teman saya memilih untuk exchange, saya berpikir, "Ah, ngapain exchange, memperlambat kelulusan. Lagipula nanti juga bisa keluar negeri pakai duit sendiri." Ketika teman-teman lain memilih bolos kuliah untuk leha-leha atau sekedar main bersama, saya memilih untuk belajar. Ketika yang lain sedang asyik-asyiknya liburan, saya magang dan menjauh dari keluarga. Those things still haunting me and now I barely can enjoy my life.

Sekarang nasi udah jadi bubur, keringet udah keburu asin (emang kapan manisnya). Kebahagiaan saya sepulang kerja hanyalah bermain FM di kosan, menyedihkan sekali bukan. Now I still thinking about resigning myself and slowing my life's pace down. Masih banyak yang ingin dilakukan, masih ingin senang-senang, dan saya mulai berpikir saya tumbuh terlalu cepat. Saya masih ingin keliling semua provinsi di Indonesia, masih ingin membeli hal-hal kecil seperti sepatu dan baju, bukannya berpikir untuk menikah, membeli rumah atau mobil. But well, mungkin "nanti" ada jalannya.


Sekali lagi, selamat tahun 2015!