Beberapa hari belakangan ini rasanya saya sering terluka secara non-fisik. Entah kenapa, baik karena ucapan atau tindakan teman-teman, maupun orang lain yang mengecewakan saya. Ini membuat saya berpikir, mengapa saya bisa terluka jika fisik saya bahkan tak tersentuh? Ada peribahasa yang mengatakan bahwa kata-kata tak akan dapat melukaimu, kecuali jika yang mengatakannya adalah orang yang berarti bagimu.
Kita telah hidup di sebuah zaman dimana kekerasan merupakan sebuah dosa, tabu dalam tindakan. Kekerasan fisik kemudian menjadi sorotan dunia, bahwasanya melukai secara fisik merupakan pelanggaran dan salah satu ancaman keselamatan kepada seorang individu. Segala macam alat yang mampu melukai fisik baik secara sengaja didesain seperti itu, maupun tidak, harus diperhatikan sangat baik-baik penggunaannya. Senjata kemudian telah dipegang kendali oleh negara atau hanya institusi tertentu yang diperbolehkan menggunakannya.
Kemudian timbul pertanyaan, dengan adanya supremasi penggunaan senjata apakah masyarakat masih mampu melukai satu sama lain? Tentu jawabannya ya. Secara fisik mungkin kita tidak bisa melukai, tetapi berkembangnya zaman telah mengubah kemampuan adaptasi manusia untuk mempertahankan diri (surveillance) di tengah pergaulan atau komunikasi antar individu. Ya, manusia telah mampu mengubah aksara menjadi senjata. Senjata untuk melukai individu lain tidak secara fisik. Hal ini menurut saya lebih berbahaya daripada senjata api. Bagaimana bisa?
Ada peribahasa yang mengatakan bahwa lidah (aksara) bisa melukai apa yang tidak dapat disentuh oleh pedang. Secara eksplisit peribahasa ini telah menjelaskan seberapa berbahayanya penggunaan aksara sebagai senjata. Kita telah melewati masa peperangan dengan senjata, sekarang kita telah memasuki masa peperangan aksara. Sejarah telah membuktikan bahwa kekerasan secara fisik bisa dikalahkan oleh kekuatan aksara. Berapa banyak negara yang dapat memerdekakan diri dengan kekuatan diplomasi? Tindakan represif negara lain yang berbentuk kekuatan fisik menjadi sesuatu hal yang sudah dilarang sekarang. Kebebasan berpendapat menjadi pisau peruncing tombak aksara.
Aksara sebagai senjata mampu melakukan fungsinya secara fleksibel. Kepercayaan dapat dijadikan tameng pelindung untuk menusuk individu lain dari belakang. Mungkin kita telah mendengar atau bahkan telah merasakan bagaimana seseorang dapat mengkhianati orang lain yang mempercayainya. Inilah yang membuat aksara sangat berbahaya baik secara penggunaan maupun dampak yang diakibatkannya. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun bertahun-tahun dan dapat dihancurkan dalam waktu semalam. Selain merasakan sakit secara non-fisik, aksara dapat menimbulkan trauma terhadap rasa percaya seseorang dengan orang lainnya. Ini akan berdampak luas bagi kehidupan komunitas dan kerja sama.
Mulutmu, harimaumu. Gunakanlah aksara sebaik mungkin, lebih baik menggunakannya untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan kerja sama ketimbang menjadikannya senjata.