05/01/14

Ramalan Sang Menara

"Tik... Tok... Tik... Tok..." bunyi dentangan jam tangan Christopher membuat lamunannya menjadi-jadi. Sudah setengah jam sepertinya ia melamunkan momen yang baru dua hari ia lewati itu. Tugasnya di tanah kaum Gipsi telah berakhir, dan siang ini harusnya dia telah berada di kamar apartemennya yang hangat dan nyaman. Langit sedang tidak dalam mood yang baik dan memaksa para penumpang pesawat di bandara menunggu, termasuk Christopher. Ia kemudian kembali merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kartu tarot bertuliskan The Tower. Mungkin sudah kesekian kalinya ia melihatnya di tengah penantian cuaca yang tak kunjung membaik. Melihat kartu itu kembali membuat lamunan dan ingatannya menjadi satu: tentang sebuah ramalan.

. . .

Aku akan menceritakanmu sebuah rahasia yang mungkin tidak akan menjadi rahasia lagi. Tentang hal-hal tabu yang orang-orang modern bilang tak pantas untuk dipercayai atau hanya untuk sekedar dipertimbangkan. Tentang hal-hal yang oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan sebagai suatu omong kosong tak berakal.

Malam itu seharusnya aku bertemu dengan seorang klien untuk urusan pekerjaan. Tepat jam delapan malam aku tiba di restauran yang tak terlalu ramai, tempat kami berjanji untuk bertemu. Restauran yang dihiasi oleh ornamen-ornamen kuno berwarna hitam dengan dinding-dinding yang didominasi warna hijau, serta penerangan yang tidak optimal memberi kesan 'mengerikan' jika aku boleh mengatakan. 

Sebagai seorang dewasa yang profesional adalah sebuah kewajiban untuk datang tepat waktu dalam urusan bisnis, namun entah apa yang dipikirkan oleh klienku ini sehingga membuatnya datang satu jam lebih lambat. Anehnya, dia datang tidak dari pintu utama restauran seperti yang kulakukan. Dia turun dari tangga pojok restauran yang tidak diperbolehkan untuk umum.

"Maaf ya saya terlambat, urusan saya ternyata belum bisa selesai seperti yang saya rencanakan," sapa orang itu sambil menjabat tanganku.

"Seharusnya Anda mengabari saya jika Anda akan datang terlambat," balasku tegas.

Perbincangan bisnis kami berjalan lancar tanpa ada masalah yang berarti. Aku menutupnya dengan tanda tangan klienku diatas kertas perjanjian.

"Anda sudah menikah?" tiba-tiba klienku bertanya. Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Aku menggeleng perlahan sambil tersenyum. "Pekerjaan Anda sepertinya sudah mumpuni untuk membangun bahtera rumah tangga," lanjutnya sambil mengernyitkan dahi. "Saya sebenarnya sudah disini dua jam lebih dulu dari Anda, namun waktu belum pas untuk kita berbicara bisnis. Begitu kata dia," klienku berdiri dan memberiku jabatan tangan. "Cobalah ke atas, dan jika dia bertanya, bilang saya yang memintamu kesana. Anggap saja sebagai rasa terima kasih sudah mau datang jauh-jauh ke sini," katanya mengakhiri pertemuan kami dengan misteri.

Sambil membereskan dokumen-dokumen di atas meja, pikiranku terbang menuju tangga di pojok restauran yang bertuliskan 'dilarang naik'. Kata-kata klienku mengganjal di benakku dan sudah terlanjur membawa kakiku ke lantai dua restauran itu. Sebuah pintu hitam menantiku dengan gagang emas yang memiliki ukiran indah. Pintu itu terbuka persis sesaat sebelum aku mengetuknya. Seorang wanita dengan ikat kepala khas Gipsi menyapaku.

"Silahkan masuk," katanya cepat tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara.

Berbeda dengan restauran di lantai satu, ruangan ini jauh lebih terang dengan warna dinding cerah mengelilinginya. Ruangan sebesar 3x4 itu hanya berisikan satu lemari buku yang penuh dengan buku-buku tentang ramalan dan dua tempat duduk berhadap-hadapan yang dipisahi oleh sebuah meja kotak kecil dengan kain hijau menutupinya. Jendela dengan tirai berwarna hitam terbuka di pojok ruangan membawa masuk angin malam yang dingin.

"Kamu cuma punya waktu dua jam untuk bertanya, dan akan dimulai dari pertanyaan pertamamu," wanita itu duduk sambil menyalakan rokok.

"Anda peramal?" tanyaku penuh keraguan.

"Haha... Pertanyaan pertama yang bagus! Berarti hitungan waktu sudah dimulai!" tangannya mengambil kartu tarot yang ada di atas meja dan mengacaknya. "Ya, aku seorang peramal," lanjutnya sambil mempersilahkanku duduk. "Jangan kaget. Aku tak suka dengan ruangan gelap, kesannya terlalu 'mistis'," dia menghisap rokoknya sambil tersenyum. "Silahkan, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan,"

"Bagaimana masa depan karirku?" tanyaku. Aku masih belum bisa berpikir pertanyaan lain selain diriku. Wanita itu kemudian mengisyaratkanku untuk mengambil tiga kartu dengan jari-jarinya.

"Hmm, lumayan. Kamu punya tingkat rezeki di kisaran 70 dari 100. Angka yang bagus," wanita itu mulai menerjemahkan ketiga kartuku. "Kamu orang yang memiliki ambisi. Itu bagus, tapi selesaikan dulu satu-satu, jangan serakah," lanjutnya. "Jangan terlalu sering menghabiskan uangmu untuk hal tidak penting seperti sepatu dan pakaian, tabunglah untuk ambisimu yang berikutnya," dia menutup ketiga kartuku dan menaruhnya di luar kumpulan kartu yang lainnya. "Ada lagi?"

"Tebakan wanita ini bagus juga," pikirku. Maklum, dengan tingkat pendidikanku sudah seharusnya aku tidak terlalu terbawa dengan permainan kartu tarot ini. Kupikir ini hanya tebakan yang beruntung saja. Tapi perjumpaan yang tak pernah direncanakan dan tanpa perkenalan ini membuatku penasaran dan ingin melanjutkannya. "Bagaimana kabar ayah dan ibuku?" aku melanjutkan pertanyaan. Sekarang wanita itu menyuruhku mengambil empat kartu.

"Orang tuamu pekerja keras. Hidup mereka tidak pernah lepas dari pekerjaan, suatu hal yang positif. Rezeki terus mengalir dan sepertinya ada celah untukmu masuk. Tidak tertarik untuk melanjutkan bisnis keluarga?" tanyanya di tengah penjelasan. Aku menggeleng ragu. "Belum ya sepertinya, tapi akan. Coba kita lihat ibumu. Ah! Sedang berbahagia karena anggota keluarga baru ya? Selamat!" sekarang dia menjabat tanganku. "Sekarang kita lihat ayahmu, hmm... Dosa lama telah terampuni, sekiranya begitu menurutku, usahanya sudah cukup keras untuk menebus dosa-dosanya," katanya sambil menatap mataku. "Ada lagi?"

Sekarang otakku mulai berpikir irasional. Wanita ini seperti membuka bajuku hingga telanjang! Dia melihat orang tuaku seakan mereka ada di depannya. Aku tak bisa berkata-kata dan hanya bisa menggeleng-geleng takjub. Wanita itu tersenyum melihatku. "Hubungan asmaraku, bisakah kau melihatnya?" aku tidak bisa menahan pertanyaan ini. Pertanyaan yang mungkin sudah 1000 pasang kekasih tanyakan setiap kali mereka pergi ke para peramal. Tapi tetap saja aku tidak bisa menahannya.

"Sebegitu beratnyakah?" tiba-tiba wanita itu berbicara sambil mengecek wajahku. "Kita coba ya, ambil enam kartu," perintahnya aku turuti. Dia mulai membukanya satu-satu. "Ambil lagi satu," kembali aku turuti. "Satu lagi," perintahnya lagi membuatku semakin penasaran.

"Kisah cinta yang indah. Kalian sangat bahagia menjalani hubungan kalian. Sama-sama merasa nyaman ya. Namun masalah sangat besar menanti kalian dan sangat pasti menahan kalian dari jenjang yang lebih serius. Lihat kartu ini," dia menunjukkan kartu dengan gambar seseorang memasuki hutan. "Hutan ini akan sangat menyesatkanmu, membawamu kepada keraguan, tapi kamu akan bertahan, pasti," wanita itu memijat kepalanya sendiri. "Tapi malapetaka menantimu di ujung hutan, sang menara akan membawamu pada keputusasaan," sekarang dia menunjukkan kartu dengan tulisan 'The Tower'.

Aku berusaha mencerna apa yang telah diterjemahkan. Tapi aku masih merasa kurang dan masih ingin mencari tahu apa sebenarnya yang akan menjadi penahan serta malapetaka bagiku. "Bisakah ini berakhir dengan indah?" tanyaku.

"Bisa, tapi sungguh sulit. Hanya segelintir orang yang mampu merubuhkan sang menara," wanita itu menatapku dengan tatapan simpatik. "Sungguh malang jiwa muda yang tampan," dia mengelus pipiku.

"Aku ingin melihat orang tua kekasihku," tanyaku memberanikan diri. Wanita itu tersenyum dan menyuruhku mengambil enam kartu.

"Sebuah masa lalu yang sulit telah dijalani, namun dosa-dosa yang lalu belum pernah ditebus secara tuntas. Sekarang api kecil sedang menyala di bahtera rumah tangga mereka. Sekarang coba kamu perhatikan, apa yang mendominasi kartu-kartu ini?" dia menunjuk ke kartu-kartu yang sedang diterjemahkan.

"Koin?" jawabku ragu.

"Pentacles, pintar! Uh, keluarga yang bergelimang harta. Kasihan, cahayanya membuat silau mata mereka dan membutakan mereka untuk melihat jiwa baik di depanku," katanya sambil tersenyum melihatku. "Mari kita lihat sang ayah. Ah! Raja koin, sebuah anugerah atas tebusan mahal di masa lalu hidupnya. Kekerasan di masa lalu menempanya menjadi seperti sekarang. Semua serba duit, serba uang, keduanya dipersatukan oleh koin-koin kecil yang menumpuk. Dia akan melakukan segalanya untuk mempertahankan singgasananya. Mari kita lihat si ibu. Hmm... Ratu yang ingin dipuja. Masa lalu menghantui dirinya yang tak akan pernah puas. Sepertinya api kecil di bahtera mereka berasal dari kecemburuan sang ratu di masa lalu," dia melihatku seakan tahu bahwa aku akan bertanya.

"Apakah ini artinya penahanku adalah harta? Apakah aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka? Bukankah angka yang kau berikan tadi bagus?" aku langsung memcecarnya.

"Tidak akan pernah cukup untuk memuaskan mereka," dia menatapku tajam. "Ambil satu kartu," aku menurutinya. Dia membuka kartu itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sesaat setelah dia melihatnya. "Baru kali ini aku melihat kisah yang seperti ini," dia bergumam sendiri.

"Ada apa? Kenapa?" tanyaku.

"Tidakkah kau ingin melihat kekasihmu?" dia malah berbalik bertanya. Aku mengangguk, kemudian dia menyuruhku mengambil tiga kartu. "Kekasihmu sangat bahagia denganmu. Tapi dia akan tetap bahagia tanpamu pada akhirnya," katanya menerjemahkan ketiga kartu tersebut. Wajah wanita itu sungguh lesu dan sedih. Terlihat seperti seseorang yang baru saja menonton film dengan akhir yang tidak bahagia.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya termenung dan mencoba mencerna semuanya. "Apa makna satu kartu yang sebelumnya?" tanyaku.

"The Hanged Man," dia menunjukkan kartunya. "Artinya pengorbanan. Orang tua kekasihmu bersedia mengorbankan apapun untuk menjaga singgasana koin mereka, meskipun itu artinya mengorbankan anak mereka sendiri," sekarang wanita itu memegang tanganku sambil melemparkan pandangan simpatik.

"Maksudnya mengorbankan?" tanyaku tak mengerti.

"Perjodohan. Itu yang paling mungkin akan terjadi. Pada akhirnya kekasihmu juga akan melakukan pengorbanan. Entah mengorbankan keluarganya untuk cinta atau sebaliknya. Pribadi yang semakin tersakiti akan menjadi sangat kuat dan keras. Karena itulah, pada akhirnya dia akan tetap bahagia. Dia akan membuka hatinya untuk sang calon suami, siapapun itu," tangan kanannya terus memegangi kartu The Hanged Man. "Renungkan ini, kekasihmu adalah pihak yang akan paling tersakiti," dia menatapku dengan mata penuh kesedihan. "Sungguh tega. Manusia macam apa yang tega membinasakan cinta demi harta," wanita itu merapikan kartu-kartunya.

Otakku berputar sangat cepat dan jantungku hampir meledak rasanya. Setelah semua tebakannya atas diriku, aku ragu dapat meragukan tebakannya atas masa depanku.

"Waktumu sudah habis. Kuberikan kesempatan terakhir untuk mengambil satu kartu," kali ini wanita itu mengeluarkan kartu yang berbeda dan mengacaknya. Aku mengambilnya.

"The Sign," dia menunjukkan kartunya. "Kamu sudah diberi petunjuk oleh sang Ilahi. Cermatilah sekitarmu," katanya mengakhiri penjelasan kartu terakhir.

Aku menghela napas mencoba menenangkan diri. "Tuan Christopher, pilihan Anda adalah yang terbaik, yakini itu, dan semua bisa terjadi," kemudian tangannya menutup mataku.

.

Aku tak tahu apa yang terjadi, setahuku aku sudah berada di kamar hotelku pukul enam pagi. Aku terbangun dengan mimpi yang aneh tentang aku berada di hutan dan kekasihku disekap di sebuah menara. Aku kemudian mengenakan jaketku untuk pergi sarapan. Ada sesuatu di sakuku. Dan ternyata itu kartu The Tower.

. . .

Christopher masuk ke dalam pesawat sambil memegangi kartu itu di sakunya. Dia menebak-nebak dan meragu atas keberadaan kartu itu. Dua hari yang lalu berjalan seperti sebuah mimpi, namun jika begitu, kenapa kartu itu bisa ada di sakunya? Christopher sangat ingin menceritakan pengalaman ini kepada Carmen, tapi sepertinya belum saatnya. Dan meskipun jika nanti Carmen mengetahuinya, Christopher berharap tak akan ada pertanyaan yang terlontar untuknya. Karena dia hanya mengetahui semua ini sebatas 'ramalan'.

22/12/13

Kata

Kata, adalah anugerah Tuhan dan kesepakatan manusia atas kesepemahaman. Kata, memberi ruang dan membatasi dimensi. Menenggelamkan eksistensi, mencurinya, kemudian hilang dalam gelap esensi. Kata telah menguntungkan sekaligus merugikan kita. Atas definisi-definisi yang tidak seberapa. Atas pembatasan dan reduksi esensi. Atas segala perasaan dan kenikmatan yang tak terlukiskan. 

Oleh kata kita terpenjara sekaligus dibebaskan. Oleh makna-makna yang disepakati bersama kita mengenal dunia. Hanya mereka yang memahami ini yang bisa merangkai kata, tepat di mana mereka seharusnya berada. Menjadikannya sebuah simpul harmoni, bernada, dan melantunkan keindahan. Tapi yang paling berbahaya adalah kata mampu memanipulasi hati manusia. Menggugahnya, membuatnya meronta-ronta, atau bahkan membuatnya kecil dan menangis.

Aku adalah budak kata yang candu melalui tulisan-tulisan yang tertoreh dalam tinta di atas kertas. Menagih janji atas kenikmatan dari kesepakatan bersama melalui buku-buku yang indah. Dibuat oleh para perangkai kata.

14/12/13

Arti Dewasa

Sekitar seminggu yang lalu saya membaca tweet mas Ulil tentang jengukannya terhadap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga kita, Andi Mallarangeng. Di tweet tersebut mas Ulil memberikan link terhadap tulisan Andi yang ke-6. Andi memiliki kebiasaan yang unik di balik jeruji besi sebagai tahanan KPK, yaitu menulis. Tulisannya yang ke-6 menarik hati saya karena beliau menulis hal yang tidak biasa menjadi perhatian seorang politisi, apalagi tahanan kasus korupsi. Tulisan beliau berjudul "Konsep 'Dewasa' Ternyata Agak Rumit". Seperti yang tertulis dalam judul, tentunya beliau berbicara mengenai konsep dewasa di dalam tulisannya. Bagaimana masyarakat Indonesia memahami arti kata 'dewasa' dipandu oleh UU serta melihatnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan politik dan sosial negara kita.

Apa sebenarnya arti dewasa? Bukan itu sebenarnya yang mau saya bahas di kesempatan kali ini. Untuk detail yang lebih jauh Anda bisa mencermati tulisan Andi atau mencari maknanya menurut setiap bidang (biologi, politik, ataupun psikologi) atau berdasarkan atas pengalaman Anda pribadi. Ya, pengalaman pribadi. Itu sebenarnya yang mau saya bahas kali ini. Pengalaman pribadi saya mengenai konsep kedewasaan. Seperti apa sebenarnya orang-orang dekat saya melihat sisi kedewasaan saya.

Orang Tua
Siapa lagi yang lebih dekat dengan kita ketimbang orang tua? Bagi beberapa orang yang memiliki kasus khusus mungkin bisa menyangkalnya. Tapi saya yakin kebanyakan dari kita sangat dekat dengan orang tua kita. Saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan yang simpel, "Pernahkah Anda dikatakan dewasa oleh orang tua Anda?". Jawaban saya, tidak.

Orang tua kita (saya khususnya) adalah orang-orang yang selalu menuntut yang terbaik dari kita. Saya tidak pernah terlihat baik bagi mereka, termasuk melihat saya sebagai orang yang benar-benar sudah dewasa. Tapi saya tahu itu adalah cara mereka untuk terus menggali apa yang terbaik dari saya. Mereka berusaha untuk memacu saya dengan cara yang terkadang tidak saya sukai, yakni membanding-bandingkan saya dengan orang lain. Apakah Anda juga sering dapat perlakuan seperti itu?

Yang menjadi celah unik dari orang tua kita adalah mereka akan selalu melihat kita sebagai anak mereka yang masih kecil. Yang masih memerlukan bimbingan, nasehat, kasih sayang, dan tak jarang memanjakan kita. Bagi saya, ini adalah hal yang sangat positif di tengah derasnya tuntutan profesionalisme dalam segala bidang. Orang tua adalah tempat yang palik baik bagi kita untuk meminta pujian di saat kita membutuhkannya, selimut yang hangat untuk kita tidur di kamar, memasakkan kita makanan rumah, atau bahkan perhatian kecil seperti menanyakan bagaimana kabar kita setiap bulan.

Jawaban saya atas pertanyaan diatas masih sangat mungkin untuk disangkal atau bahkan saya sendiri masih meragukannya. Orang tua kita mungkin memang tidak pernah mengatakannya secara langsung bahwa kita sudah dewasa, namun perilaku mereka sebenarnya mengatakannya secara langsung. Sebagai contoh, adalah keputusan yang sangat berat untuk orang tua mempertimbangkan dimana anaknya akan kuliah kelak. Apakah dekat dengan rumah, di luar kota, atau bahkan di luar negeri. Setiap jarak memberikan makna kebebasan serta beban tanggung jawab yang lebih berat. Saya selalu merasa beruntung untuk bisa merantau dalam jenjang pendidikan kuliah saya. Dengan menjadi anak kos, saya bisa berusaha untuk lebih bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri. Mencari makan atau bahkan masak sendiri, mencuci baju (saya sih laundry), membersihkan kamar, menghabiskan waktu sendiri di kamar, mengerjakan tugas di luar kos/rumah, bekerja bagi yang mengalami kesulitan ekonomi, hingga menjaga hubungan dengan penghuni kos yang lain serta masyarakat sekitar adalah beberapa dinamika yang dirasakan anak-anak kos. Izin yang diberikan oleh orang tua kita untuk kita memilih/membuat keputusan kita sendiri terhadap tempat kita mengenyam pendidikan, atau takdir kita sendiri adalah pengakuan yang tak terbantahkan atas kedewasaan kita.

Teman
Teman kita, terutama yang sebaya, tentu juga memiliki penilaian mereka sendiri atas kedewasaan kita. Dengan melakukan banyak tindakan konyol saat bergaul atau melakukan kesalahan saat kita bekerja dalam tugas kelompok menentukan penilaian mereka atas kesan kedewasaan kita. Yang lainnya melihat sisi berbeda dari itu semua. Ada yang melihat kontribusi kita terhadap mereka, organisasi, diksi yang kita gunakan sehari-hari, hingga kebiasaan yang jarang kita tunjukkan di depan umum juga memiliki pengaruh tersendiri.

Kita dan teman-teman kita sering terjebak dalam koridor-koridor penilaian kedewasaan kita tadi. Kita jarang sekali dapat melihat seseorang sebagai satu-kesatuan konsep kedewasaan. Misal, ada teman saya yang jika bermain futsal/olahraga sangat serius dan kata teman-teman saya yang lain, aura kedewasaannya sangat terpancar. Tetapi saat melakukan tugas kelompok kami tahu bahwa dia tidak bisa diberikan tanggung jawab yang besar, sehingga hanya diberikan tugas yang mudah-mudah saja. Kita memiliki dua penilaian terhadap satu orang yang sama dengan melihat konsep kedewasaan dari koridor yang berbeda.

Kekasih
Kalo yang ini beda urusannya. Kekasih atau pacar adalah suatu hasil dari jalinan hubungan komunikasi yang intensif antar kedua insan manusia yang bersifat sangat privat. Jadi, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai ini. Sedangkan saya, pernah bertanya bagaimana pacar saya melihat kedewasaan saya. Pada dasarnya jawabannya sama dengan teman. Kita masih sering terjebak oleh koridor penilaian kedewasaan. Namun, pola yang saya temukan agak sedikit berbeda di sini. Mungkin karena dipengaruhi oleh kedekatan, jarang sekali kita akan menemukan jawaban-jawaban yang negatif dan cenderung positif.

Namun terkadang, sifat ketidakdewasaan kita juga diperlukan dalam hubungan. Misalnya, spontanitas. Bagi saya, kegiatan yang spontan itu memang tidak bisa dibilang dewasa karena tidak terencana hitungan untung-ruginya. Tapi dalam suatu hubungan ternyata spontanitas, menurut saya, diperlukan sebagai penyegar. Kebosanan atas jalinan hubungan yang lama akan mematikan rasa di hati, dan spontanitas bisa menjadi solusi.

Pribadi
Saya sangat benci dibilang tidak dewasa atau masih kecil oleh orang lain. Sampai sekarang pun saya masih kesal jika orang tua saya yang mengucapkannya (meskipun sudah tidak pernah lagi pasca saya kuliah). Karena bagi saya, setuju dengan tulisan Andi, konsep kedewasaan adalah suatu hal yang rumit. Pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui bisa saja mengkonfirmasi kita atas label dewasa, namun orang lain yang melihat kita dari koridor yang berbeda-beda tadi belum tentu berkesimpulan sama. Yang paling parah adalah ketika kita terjebak dalam stereotipe dan mulai menghakimi orang lain atas satu tindakan kecil.

Saya masih sering bertanya apakah konsistensi memiliki sangkut-pautnya dengan konsep kedewasaan. Karena saya pikir konsisten dengan ucapan memiliki pengaruh yang tinggi terhadap kesan orang lain kepada kita. Seperti halnya menulis status di Facebook, Twitter, atau bahkan Line. Ketika kita menghapusnya, dimana letak konsistensi kita? Apakah itu artinya ketika kita menghapusnya, kita terlepas dari tanggung jawab kita atas apa yang telah kita tulis? Bagaimana jika orang lain sudah terlanjur membacanya? Yang lebih menarik lagi, apa alasan kita untuk menghapusnya? Apakah karena takut dibaca dan menerima kritikan? Atau kita takut harapan kita akan status kita yang kita tujukan untuk orang lain dibaca oleh orang itu sehingga membuat kita menjadi pengecut? Atau bagaimana?

Yah, saya mengakui saya juga sering melakukan itu terutama di Facebook. Alasan saya simpel, karena saya tidak mendapatkan "like", haha. Kalo memang tulisan saya itu ada yang salah ejaan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, saya juga akan menghapusnya dan mengubahnya agar sesuai. Tapi ketika saya menuliskan status bersifat informasi atau opini dan ada orang menyangkalnya, saya akan mencoba untuk menjawab dan menerimanya sebagai kritik agar saya lebih berhati-hati, bukan dengan mencoba menyelesaikannya dengan menghapusnya. Karena itu saya sangat menghargai orang yang bertahan dikritik oleh banyak orang di statusnya, haha.

Jadi, kita kembali lagi, apa arti dewasa?

03/12/13

Menjadi "Garis Depan"

Sore yang mendung di langit Yogyakarta membawa saya ke puing-puing mimpi ditemani lembutnya selimut. Maksud hati mengistirahatkan kepala saya sejenak yang agak pusing, namun ternyata gagal dan membuat mata ini terus menatap acara di salah satu stasiun televisi. Apa boleh buat, sudah kadung terbawa suasana acara tersebut, jadi menontonnya hingga selesai.

Pada bulan September saya kembali ke tanah Jawa setelah menunaikan kewajiban saya kepada kampus. Belitung, tanah Laskar Pelangi menjadi tujuan saya untuk melaksanakan kegiatan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat). Selama dua bulan saya menghabiskan waktu bersama masyarakat Belitung, tujuan sebenarnya adalah untuk membantu pembangunan daerah dengan pemanfaatan sumber daya mahasiswa bersama berintegrasi dengan masyarakat. Menciptakan kondisi mutualisme bagi keduanya, mahasiswa memantik semangat membangun masyarakat, dan masyarakat memberi pengalaman kepada mahasiswa. Meski pada akhirnya lebih berat yang kedua, saya rasa program kampus saya ini berhasil membuat saya, khususnya, mengerti sepersekian persen gambaran kehidupan masyarakat di daerah yang jauh dari perkembangan dan bagaimana sebenarnya sumber daya orang-orang terdidik itu sangat diperlukan di sana.

Garis Depan
Acara sebuah stasiun televisi yang saya tonton menceritakan tentang sebuah tim kesehatan yang dikirim ke sebuah daerah perbatasan terluar Indonesia dengan Papua New Guinea, bernama Semografi. Daerah yang jika saya tidak salah memiliki jumlah keluarga di bawah seratus ini sangat memperihatinkan. Bayangkan kehidupan tanpa pasokan listrik dan tiada akses komunikasi dan informasi. 

Tim kesehatan yang terdiri dari satu dokter dan beberapa perawat ini menempuh perjalanan selama delapan jam dari kota untuk menuju kampung Semografi. Melewati dua gunung dan 19 sungai, tim kesehatan ini sudah sangat cocok sekali menjadi anak buah Ninja Hatori. Perjuangan mereka diceritakan dan digambarkan sangat apik dalam acara tersebut.

Berbagai macam tantangan dihadapi oleh tim kesehatan ini. Dari permasalahan suplai obat-obatan yang hanya bisa minta diantarkan melalui jasa komunikasi militer setempat (via helikopter) atau harus ke kota yang notabene mengulang perjalanan Ninja Hatori mereka hingga masalah komunikasi dengan masyarakat setempat yang kurang menyadari pentingnya arti kesehatan. Penyakit yang diidap oleh masyarakat setempat didominasi oleh penyakit pernapasan akibat cara tradisional merokok (rokok terbuat dari tembakau yang dikeringkan kemudian digulung dengan tembakau, tanpa kertas, tanpa filter. Bayangkan seberapa beratnya daya rusak yang dihisap oleh mereka!) dan penyakit kulit akibat sistem sanitasi yang buruk serta kebiasaan membuang ludah dan sampah sembarangan.

Proses pemberian pengobatan benar-benar menjadi perhatian khusus saya dalam acara tersebut. Coba bayangkan, meskipun mereka sudah diberikan pengobatan gratis oleh tim kesehatan, masih saja banyak yang belum mengerti atau malah ngeyel. Kebiasaan hidup sehat dan bersih serta meminum obat-obatan masih menjadi hal yang asing bagi mereka. Ini dapat kita mengerti dengan melihat rendahnya tingkat pendidikan di sana. Disuruh minum obat tiga kali sehari sangat sulit, minum sehari satu kali saja sudah untung, itu jika tidak lupa.

Bupati daerah setempat yang mengerti akan kesulitan-kesulitan ini, untungnya, memiliki inisiatif yang sangat bagus dengan memberikan insentif kepada tim kesehatan tersebut berupa gaji sebesar 30 juta rupiah per bulan, bersih ditambah uang makan yang akan diberikan selama mereka di sana. Tapi tetap saja, apa gunanya uang di sana, wong gak ada tempat untuk menghabiskan uang atau sekedar berbelanja di sana.

Butuh Otak dan Niat
Saya sangat mengagumi orang-orang yang berani bekerja di daerah perbatasan. Mereka bukanlah orang sembarangan yang hanya punya niat baik. Orang-orang ini dituntut untuk memiliki ilmu serta pengetahuan lebih untuk bisa memahami kehidupan masyarakat setempat. Begitu juga halnya dengan niatan. Tanpa niat, daerah perbatasan hanyalah sebuah titik tak terlihat bagi mereka di peta Indonesia.

Saya mencoba melihat kembali pengalaman saya di tanah Laskar Pelangi. Program KKN-PPM yang saya jalankan selama dua bulan sepertinya belum ada apa-apanya dibandingkan orang-orang Garis Depan ini. Saya hanya baru melihat 1% kehidupan mereka dari kacamata seorang mahasiswa yang masih diberikan uang dan dijamin keselamatannya oleh orang tua dan kampus. Sedangkan orang-orang ini bertaruh nyawa dan (saya rasa) tidak memikirkan imbalan atau gaji mereka.

Sekarang ini memang sudah mulai tumbuh program-program sejenis yang mencoba memantik para pemuda maupun profesional untuk mengabdi kepada negeri di daerah-daerah perbatasan negara Indonesia. Namun tidak jarang saya temukan mereka yang tidak peduli, tidak tahu, dan bahkan menghindari hal-hal seperti ini. Saya pun kembali mempertanyakan diri kembali, apakah saya bagian dari mereka? Apakah kesadaran yang tumbuh ini selamanya hanya akan menjadi kesadaran tanpa tindakan? Saya masih ingat, saya dulu berniat untuk KKN-PPM di daerah perbatasan juga, tapi mungkin saya yang belum siap atau mungkin juga takdir punya jalannya sendiri, jadi saya berangkat ke Belitung kemarin.

Kemajuan Bangsa
Banyak dari kita (termasuk saya) terus mengeluh betapa lambannya bangsa kita ini berkembang, baik itu dalam bidang akademi, teknologi, bisnis, peradaban, maupun toleransi dan multikulturalisme, tanpa melakukan apa-apa bagi bangsa. Saya berakhir pada sebuah kesimpulan yang sangat menyakitkan saat selesai menonton acara tersebut, bagaimana bangsa kita ini bisa maju jika masih banyak daerah yang tertinggal? Bagaimana kita bisa berbicara masalah penjualan iPhone 5s jika di Semografi saja masyarakat belum tahu apa itu ponsel genggam? Lalu, apakah pantas kita iri dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, ataupun Korea Selatan yang memiliki wajah perkembangan teknologi maju, sedangkan masih banyak borok-borok bangsa ini yang perlu disembuhkan, diperhatikan, dimajukan? Ternyata perjalanan bangsa kita masih panjang ya.

30/11/13

Tentang Membaca Buku

"Buku itu investasi masa depan," begitu kata Ayah saat saya pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi Gadjah Mada. Saya sangat bodoh waktu pertama kali mendengar kata-kata Ayah saya dengan lalu. Saya belum menyadari arti penting dari kata-kata beliau. Pertama kali saya memasuki dunia perkuliahan, dosen saya selalu menekankan pentingnya membaca. "Jika kalian mau lebih pintar dari saya, baca buku lebih banyak dari saya!" begitu kata beliau menandai permulaan perjalanan perkuliahan saya. Bahan bacaan yang banyak sekali di perkuliahan memaksa saya untuk terus membaca dan membaca, apapun medianya, koran, buku, hingga artikel-artikel di internet. Dan saat itulah saya mulai menyukai buku.

Saat pertama kali kuliah, entah berapa banyak buku yang saya paksakan untuk beli agar tidak tertinggal dengan teman-teman yang lain. Maklum, saya sewaktu SMA bukanlah orang yang gemar membaca, dan teman-teman kuliah saya ini, saya juga baru tahu pada tahun kedua, banyak yang suka membaca. Ayah saya dengan senang hati mendukung saya untuk membeli buku dengan mengganti berapapun uang yang saya keluarkan untuk membeli buku kuliah. Dari sekedar Rp. 60.000,- hingga diatas Rp. 300.000,-. Bagi saya itu jumlah yang luar biasa untuk membeli buku dan Ayah saya tidak keberatan dengan itu. Saya mulanya sangat benci membaca, tertidur di tengah-tengah saat membaca. Atau bahkan meninggalkan buku yang saya baca saat saya rasa sudah tidak lagi menarik atau membosankan. Lama-kelamaan saya terbiasa, baik dengan kebosanan gaya penulisan, apalagi buku-buku teori, hingga mengerti arti dari kata-kata atau istilah yang saya jarang dengar dalam pembicaraan sehari-hari.

Ayah saya juga sebenarnya bukan seseorang yang suka membaca buku, tapi beliau selalu membaca koran setiap pagi saat libur kerja atau sore sepulang kerja. Saya selalu memperhatikan bagaimana beliau membaca dengan seksama maupun hanya membaca dengan sekilas. Menggunakan kacamata bacanya yang khas dan tentunya minuman teh atau kopi sebagai pelengkap. Saya selalu teringat kebiasaan itu setiap kali saya membaca. Jika Ayah saya rajin sekali membaca, kenapa saya tidak? Ternyata sekarang saya mulai merasakan kebiasaan itu menurun ke saya. 

Sejak memasuki semester 6, saya berhenti membaca koran dan mengandalkan televisi untuk berita-berita terkini, namun saya lebih fokus kepada buku. Saya menjadi lebih sering membaca dan membeli buku. Kemudian lahirlah komunitas IR Book Club yang saya dan teman-teman saya dirikan. Bacaan saya jadi mulai meranah ke genre-genre asing. Buku-buku yang jarang orang lain baca, dan itu menarik perhatian saya. Dengan berdiskusi bersama teman-teman yang juga suka membaca buku seperti itu, gairah saya untuk membaca semakin meningkat dan terus meningkat hingga sekarang.

Menjadi Hobi
Dulu saya tidak mengerti apa sebetulnya hobi saya. Perbincangan dengan beberapa teman membuat hati saya tersentil. Teman-teman dengan lancar dan ringan sekali membicarakan apa yang menjadi kesukaan atau hobi mereka. Ada yang suka otomotif, fotografi, hingga gigs. Kata salah satu dari mereka, "lelaki itu harus punya hobi,". Lalu, apa hobi saya?

Saya kemudian curhat dengan pacar saya mengenai ini. Apa sebenarnya hobi saya? Pacar saya kemudian mengatakan bahwa hobi itu adalah sesuatu yang kita suka lakukan dengan sukarela, tanpa ada rasa terbebani, senang rasanya jika dilakukan, dan tanpa sadar kita melakukannya. Apakah saya benar-benar suka membaca buku? Ya namanya tidak sadar, jadi mana saya tahu. Kemudian hal yang paling menyadarkan saya adalah ketika saya melihat rak buku saya di kos. Betapa banyaknya buku yang berjejer di sana, belum lagi buku-buku yang sedang dipinjam oleh teman-teman saya. Padahal saya masih ingat dulu waktu pertama kali kuliah, rak buku saya hanya ada satu dan itu kosong (tak ada buku). Sekarang saya berencana membeli rak ketiga, karena dua rak buku saya sudah penuh. Ternyata saya benar-benar suka membaca.

Sekarang, saya tidak pernah lagi membatasi diri untuk membeli buku dengan jumlah harga di luar akal sehat (saya pernah menghabiskan hampir 1 juta untuk membeli buku). Namun saya tetap menjaga diri agar sebisa mungkin sebulan sekali saja ke toko buku. Karena setiap kali saya ke toko buku, saya selalu tertarik untuk membeli buku, padahal masih banyak buku yang belum saya selesaikan.

Tapi hobi yang baru saya sadari ini belum menjadikan saya seseorang yang benar-benar gila buku. Ada banyak teman saya yang lebih gila lagi, dan saya sadar saya belum ada apa-apanya. Saya masih sering lupa dengan isi buku yang sudah saya baca, jadi saya harus membaca isinya secara garis besarnya dulu sebelum menjelaskan ke orang lain. Hal ini kemudian yang memantik saya untuk menulis. Menulis review atau resensi buku sangat membantu untuk mengingat isi buku itu. Ternyata memang benar bahwa membaca dan menulis itu dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Sekarang saya sedang berlatih untuk menulis review atau resensi buku-buku yang telah saya baca. Tapi lagi-lagi, rasa malas adalah musuh utama.

Satu hal yang negatif dari hobi saya ini adalah saya menjadi benci sekali dengan teman-teman yang meminjam buku saya dan lupa mengembalikannya, apalagi buku saya yang dipinjam oleh teman saya, dipinjamkan lagi ke temannya (jadi tangan ketiga). Bukan kepalang bencinya saya ketika mengetahui itu. Saya merasa buku-buku itu adalah harta karun saya, dan seharusnya orang yang saya pinjamkan itu menyadari betapa saya sangat menghargai mereka dengan membolehkannya meminjam harta karun saya. Makanya setiap kali ada teman yang ingin meminjam buku, saya menjadi ragu dan merasa enggan. Saya menjadi egois. Padahal ketika teman saya ada yang memiliki buku yang bagus, saya juga kerap meminjamnya (tapi pasti saya kembalikan). Yah, namanya juga manusia.

Saya juga sering merasa ada yang kurang setiap kali saya selesai membaca buku pinjaman. Saya merasa harus memilikinya. Ini mengakibatkan saya harus membeli buku yang serupa atau memfotokopinya. Namun saya rasa ini bukanlah hal yang negatif. Rasanya senang sekali jika koleksi buku saya bertambah. Ada kebahagiaan tersendiri yang mengalir di nadi saya. Ini memunculkan ide di masa depan agar saya memiliki perpustakaan pribadi. Wah, pasti senang sekali rasanya melihat koleksi buku saya semenjak menjadi mahasiswa kelak.

Menjaga Konsistensi
Sebagai penutup, saya ingin memberikan tips kepada teman-teman yang masih merasa kesulitan untuk membaca buku. Sebenarnya kuncinya ada di konsistensi kalian untuk membaca. Sebagai contoh, saya menjaga konsistensi membaca saya dengan selalu membaca satu jam sebelum saya tidur. Tapi jika memang kalian sedang ingin membaca lebih, silahkan. Saya kadang juga agak keterlaluan dengan tidak mengenal tempat untuk membaca (kadang di kamar mandi, kantin kampus, atau bahkan di lapangan), tapi tidak apa, itu artinya kalian sedang tertarik, dan jangan redupkan gairah kalian untuk membaca itu.

Memang pada awalnya akan sangat sulit dan terasa sangat malas untuk melakukannya. Tapi jika kalian memang benar-benar ingin membaca, paksakanlah. Jika itu tidak menjadi hobi kalian, atau sekedar kewajiban untuk membaca bahan kuliah, saya rasa tips saya itu akan berguna. Ingat, membaca itu penting! Buku adalah jendela dunia, dan istilah itu benar! Setelah kalian membaca, bagikanlah ilmu kalian dengan orang lain, diskusikan, lalu menulislah! Kemajuan peradaban manusia dimulai dari cara mereka berpikir, dan mampu menuliskan ide mereka agar bisa dimengerti oleh orang lain.

26/11/13

Alien di Antara Kita

"Di Indonesia ada alien. Di Mall di pusat kota Jakarta itu terlihat banyak rombongan manusia2 aneh yang deduksi dan induksi dari pengalaman hidup untuk membaca orangku nggak mampu menalarkan dengan utuh selain asumsi kalau mungkin: ini kasta baru manusia Indonesia, hedonis tingkat murni, pureblood, yang punya takdir kekayaan milyaran sejak baru lahir. Orang2 ini sepertinya nggak pernah merasakan susah, mereka dan lingkungannya menciptakan lingkungan eksklusif terlindung dan aman dari proses-proses sosial dan segala hal yang akan berkaitan tentang kesadaran ke-Indonesiaan atau pun keduniaan. Bahkan isu2 ham dan lingkungan yang biasanya ada di kalangan elitis dan kelas menengah terlihat nggak menyentuh mereka. Putih, bersih, berkelas, bebas, dengan nilai moral sendiri, rule of social sendiri, dengan setiap gerik mencoba menciptakan keanggunan, merapihkan rambut, menjaga gestur badan, tebaran pesona. Alien2 ini orang2 yang asing dengan Indonesianya. Hahaha. Hati2, kita ribut urusan rakyat mayoritas sementara kasta baru ini menguasai aset2 dan kekayaan kapital gila2an."

Tulis status Facebook seorang senior yang terkenal menjadi aktivis kampus ini membuat saya tertegun sejenak dan memutar otak mengenai keberadaan alien ini. Apakah benar mereka benar-benar ada? Mereka yang tak tersentuh, yang ekslusif, dan bahkan tak memikirkan "kita". Keberadaan alien ini ternyata sungguh dekat. Bahkan di nadi jantung kota pendidikan Yogyakarta pun saya rasa ada. Mereka mulai memasuki relung pernapasan kita, mempengaruhi detak jantung kita, dan mungkin lama-kelamaan akan membentuk pemikiran dan perkembangan otak kita.

Di tengah ketakutan itu saya mencoba melihat kembali mimpi-mimpi saya yang ingin saya capai di Jakarta. Ya, Jakarta. Ibukota Indonesia yang telah menjadi pemikat para perantau di nusantara. Pusat perputaran ekonomi dan arus keuangan bangsa kita sebagian besar terletak di sana. Saya ingin menjadi bagian darinya. Mengambil sebanyak mungkin uang yang ada di sana dengan ilmu yang telah saya pelajari di kota Gudeg. Apakah iya hidup saya hanya sedangkal itu? Tanpa ada maksud dan takdir lain dari Tuhan yang menempatkan saya di jantung kota pergerakan mahasiswa Indonesia? Saya mulai merenungkan kembali semuanya.

Mimpi dangkal saya itu saya dapatkan dari sebuah hal yang sangat simpel. Beberapa bulan yang lalu sepulangnya saya dari tanah laskar pelangi, saya mendapatkan sebuah film serial bagus yang mungkin dapat menggambarkan kehidupan alien ini, Suits. Kehidupan yang nyaman, mobil mewah, apartemen mewah, kehidupan kalangan atas eksklusif, yang digambarkan dari kehidupan seorang pengacara. Indahnya hidup seperti itu. Tapi apakah tujuan hidup akan berhenti sampai sana?

Membaca status senior saya di atas membuat saya menjadi takut akan menjadi salah satunya. Atau jangan-jangan saya sudah menjadi bagian dari mereka? Sudah mulai terpengaruh virus alien-alien itu? Saya sangat takut. Sangking takutnya, hari ini saya memaksakan diri menonton film Laskar Pelangi di tengah kesibukan untuk mengingatkan saya tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai, prosesnya, dan untuk siapa mimpi itu akan berdampak. Saya menginjeksikan vaksin kepedulian ke dalam diri saya, meski dalam dosis yang terhitung sedikit. 

Saya tak ingin menjadi alien! Apa jadinya bangsa ini jika kita semua menjadi alien? Apakah kita pantas mengatakan diri kita ini manusia jika kepedulian sudah hilang dari kamus kita?

03/11/13

Lelaki

"Tidak aku tahu lelaki begitu mudah ditipu oleh perempuan,"

Begitu tulis Mochtar Lubis mengantarku kepada akhir cerita pendeknya. Malam ini aku memutar otakku yang kaku oleh emosi. Terjaga oleh kesadaran yang terbangun dalam lima jam tidurku sejak matahari terbenam. Melihat wajah yang cantik di album foto ponsel genggamku, tak terasa waktu telah lebih lama menahan rasa cinta ini untuknya dari praduga awalku.

"Emotion is good, but you should back it up with some cold hard facts,"

Menemani bulan sambil mengulang kembali episode-episode dari kisah seri tentang seorang pengacara tak berhati yang mengejar kemenangan. Selalu terbayang tentang mimpi menjadi dirinya yang tak peduli dunia dan wanita. Bagaimana seseorang bisa menghilangkan emosinya? Menjalin hubungan hanya sebatas kebutuhan fisik tanpa ada campur tangan cinta. Aku ingin seperti itu, tapi itu bukan aku.

Dunia terus berubah dan membawaku kepada kehidupan yang semakin kompleks. Perempuan mengangkat equality ke permukaan. Bukannya takut, tapi ragu. Apakah kita semua paham arti equality? Mengaitkannya dengan anatomi tubuh dan menganalisa perilaku berdasarkan ilmu biologi. Apakah kita memang benar-benar equal? Perempuan ingin selalu dimengerti, tapi apakah mereka pernah mau mengerti tentang lelaki? Yang tak hanya memerlukan kebutuhan fisik seperti yang selama ini selalu menjadi prejudis mereka, namun lebih dari itu. Tentang aktualisasi diri dan pengakuan. Tentang emosi dan egoisme. Tentang suka dan tidak suka. Tentang menjadi sensitif dan tak peduli.

Mungkin aku telah kacau dan kehilangan identitas di tengah krisis hidup menuju ke kedewasaan seperti yang kau bilang. Aku akan menjadi sesuatu yang aku inginkan, dan mungkin juga seperti yang kau harapkan. Aku ingin menenggelamkan "aku" yang kini sedang dalam badai emosi. Membuangnya begitu saja seperti tisu yang basah dipakai untuk membersihkan percikan sperma. Aku ingin mengukir raut wajah ini, seperti lelaki-lelaki yang katanya telah merasakan manis pahitnya kehidupan. Menyembunyikan sifat asliku dalam tindakan yang tak akan pernah dapat dimaafkan. Bukankah begitu penyakit lelaki yang seharusnya? Mengalihkan apa yang seharusnya ditunjukkan ke dalam tindakan yang bajingan? 

Seperti kata pepatah Belanda, "semakin tinggi status sosial dan tingkat intelektual seseorang, semakin tinggi tingkat kebinatangannya". Seperti lelaki-lelaki yang terhimpit oleh kekuatan sosial untuk menjadi "lelaki", namun melakukan ke"lelaki"annya kepada hal yang tak sepantasnya dilakukan seorang lelaki. Dipaksa untuk menghilangkan apa yang sebenarnya menjadikannya lelaki. 

Tak aku tahu bahwa harga kebebasan sebegitu mahalnya. Menjadi seorang lelaki pun tidak bebas begitu saja menjadi. Membentuk identitas diri dari apa yang diinginkan oleh orang lain. Kita bukanlah kita yang apa adanya, melainkan kita yang terbentuk oleh mata-mata orang lain yang melihat kita.

Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang hal yang aku suka, tentang hal yang aku benci?
Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang apa yang kurasa dan apa yang kuinginkan?
Dan apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang aku yang ingin menjadi apa, tentang siapa aku sebenarnya?
Tenggelam dalam badai emosi,
Mencoba menghapusnya dan bertahan dalam lingkar kebinasaan,
hidup,
Sulit menjadi apa yang seharusnya kita ini diciptakan,
Karena mata-mata yang tak pernah melepasmu dalam kebebasan.