11/12/14

Ide Gila Mengabu-Abukan Minoritas

Kondisi geografis Indonesia membuat kita menjadi bangsa dengan ragam budaya yang sangat kaya. Sudah seharusnya kita menganut paham multikultur dan pluralisme. Namun perbedaan budaya yang muncul dan hadir di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita juga memiliki efek samping yang pastinya juga dirasakan oleh negara lain. Minoritas menjadi istilah umum yang kita dengar hampir setiap harinya, baik di media massa maupun di literatur akademik. Penanganan minoritas menjadi sangat penting mengingat kesamaan hak bagi setiap warga negara. Pemerintah dan lembaga pendidikan tidak pernah berhenti mencari akal untuk menanamkan multikultur dan pluralisme kepada setiap generasi muda bangsa Indonesia.

Permasalahannya adalah apakah kita sudah benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan istilah multikultur, pluralisme, ataupun minoritas? Kaum-kaum terdidik selalu memasukkan istilah-istilah ini ke dalam perbincangan mereka sehari-hari, cas cis cus membicarakan keadaan negara yang katanya memiliki lebih dari 100 ragam budaya ini. Kata-kata yang terungkap terkadang hanyalah kesombongan semata karena bisa membaca literatur dari bahasa lain atau sekedar bisa masuk ke universitas bergengsi di dalam maupun luar negeri. Kata-kata yang terlontar hanyalah sepintas kata tanpa makna.

Apa itu multikultur dan pluralisme? 
Saya akan memberikan contoh sederhana yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari. Kita datang ke sebuah tempat ibadah bersama teman kita yang berbeda agama. Ketika saya ingin beribadah kemudian ditanya oleh orang lain, "Mas, temennya ga ikut ibadah juga?", lalu saya menjawab, "Oh, dia agamanya beda, mas," itu disebut multikultur. Ketika orang itu tahu bahwa teman saya berbeda agama, dia tidak memaksa teman saya untuk beribadah dengan caranya, maka itu disebut pluralisme. Multikultur adalah sebuah pengakuan terhadap perbedaan orang lain. Bahwa "mereka" berbeda dengan "kita". Namun multikultur tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pluralisme. Pluralisme sendiri memiliki makna sebagai penghargaan atas adanya perbedaan. Multikultur tanpa adanya pluralisme hanya menciptakan perdamaian semu antara etnis, ras, ataupun pemeluk agama yang berbeda. Di tengah-tengah itulah lahir toleransi.

Kembali ke permasalahan minoritas, masyarakat Indonesia pada umumnya hanya mengenal minoritas dalam arti kuantitas atau jumlah, padahal arti minoritas lebih luas dari itu. Minoritas bisa berarti sekelompok individu yang tidak memiliki hak yang sama dengan yang lain, ada represi, atau tekanan yang berlebih kepada mereka, hanya karena mereka berbeda. Selama ini pembahasan minoritas di Indonesia berputar di isu orang-orang "Cina" dan orang-orang "Kristen". Sepertinya makna minoritas menjadi sesempit, "Minoritas itu ya Cina, minoritas itu ya Kristen". Sampai-sampai Presiden SBY melarang penggunaan kata-kata Cina dan menggantinya menjadi Tiongkok karena konotasi negatif yang melekat di kata Cina.

Mengabu-abukan Minoritas
Saya percaya bahwa seluruh lapisan masyarakat sudah berusaha begitu keras untuk menegakkan multikultur dan pluralisme. Sejak kita kecil kita diberitahu bahwa kita hidup dengan keberagaman budaya, kita diajarkan untuk menghargai perbedaan, namun apakah itu semua sudah cukup? Satu hal yang saya ingin sampaikan pada kesempatan ini sebenarnyan adalah sebuah ide, pendapat, opini gila yang terlintas di benak saya setiap kali mendengar kata minoritas. Saya melihat minoritas dari kacamata mayoritas selalu dari sisi multikultur dan pluralisme. Namun masih banyak sekali kejanggalan yang saya temukan dalam usaha saya meleburkan minoritas.

Apakah mengakui dan menghargai minoritas sebatas kewajiban bagi kita? Bahwa kita memberikan mereka ruang untuk berkembang tanpa ada usaha bagi kita untuk meleburkan mereka menjadi bagian dari kita? Kasus yang saya temukan dari "sekedar" mengakui dan menghargai minoritas adalah terciptanya eksklusivitas yang berlebih bagi mereka. Padahal, multikultur dan pluralisme hadir dengan harapan terciptanya toleransi. Toleransi itu sendiri memiliki banyak arti, dan pada akhirnya akan jatuh kepada choice (pilihan). Memberikan kebebasan memang merupakan tindakan yang paling romantis di kehidupan, maka dari itu pilihan tersebut harus tetap dijaga agar selalu ada, bukan hanya berujung kepada keterpaksaan.

Ketika ada dua perbedaan: A dan B, keduanya saling mengakui dan menghargai adanya perbedaan, yang terjadi memang penghilangan suatu sekat di antara keduanya, namun masih menyisakan batasan. Yang A tetap akan dengan yang A, yang B tetap akan dengan yang B, tidak boleh ada penyeberangan. Penyeberangan inilah yang saya coba modifikasi untuk menjadi satu leburan baru. Leburan A dan B, yakni C. Usaha untuk melebur keduanya inilah yang saya namakan mengabu-abukan minoritas. Bayangkan, sebuah komunitas, negara, tanpa adanya pengertian minoritas, ketika semua menjadi satu tanpa adanya batas keberagaman atau keberagaman yang membatasi, maka satu-kesatuan unity menjadi sempurna.

Saya tidak berusaha untuk mengaplikasikan kegilaan saya ini kepada orang lain, tapi saya hanya berusaha untuk tetap menghadirkan pilihan tersebut ada. Pilihan untuk tetap menjadi A, B, ataupun C harus terus dijaga. Dari situlah negara memegang peranan penting sebagi pemerintah, pengatur kehidupan masyarakat, sebagai penjaga pilihan.

08/12/14

Kenapa Harus Selalu Jokowi?

Malam itu sebuah acara di saluran televisi swasta sedang membahas mengenai pembebasan Pollycarpus selaku pihak pelaku dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Tidak lama kemudian pembahasan mengarah kepada bagaimana hukum "dimainkan" di Indonesia. Lagi-lagi, konklusinya berakhir di "Jokowi harus memperkuat institusi penegak hukum". Padahal banyak asisten Jokowi yang bisa melaksanakan tugas ini, Kapolri misalnya.

Selepas acara itu, satu hal yang langsung terlintas di pikiran saya adalah "mengapa harus selalu Jokowi?"

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu ketika saya masih berada di Yogyakarta, saya sempat bertukar pikiran dengan seorang sahabat. Mengapa orang-orang Jakarta selalu menyalahkan kondisi Jakarta kepada Jokowi yang terlihat tidak melakukan perubahan di masa jabatannya sebagai Gubernur? Jika kita tarik kembali benang merah kondisi perkotaan di Indonesia, maka kita telah mendapatkan banyak suri tauladan yang baik seperti Walikota Surabaya dan Bandung, ibu Risma dan pak Ridwan Kamil. Dari sana kita bisa melihat bagaimana peran Walikota bisa merubah segalanya. Saya tidak pernah mendengar bagaimana orang-orang Bandung protes terhadap Gubernur Jabar, ataupun orang-orang Surabaya dengan Gubernur Jatim mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah "apakah orang-orang Jakarta tidak tahu bahwa mereka memiliki Walikota?"

Sekarang Jokowi sudah menjadi seorang Presiden. Presidennya wong cilik, bukan keturunan pejabat, apalagi politisi handal. Jokowi hanya seorang pengusaha dari Solo yang sederhana kemudian dengan bantuan "keajaiban" bisa duduk di kursi orang nomer satu di Indonesia. Apa yang membuat Jokowi begitu berbeda? Mengapa Jokowi begitu fenomenal, dipuja tapi juga dibenci? Argumen saya simpel, karena dia dikenal sebagai orang yang mau mendengar dan mau merespon.

FoE dan FoR
"Dasar anak muda, kamu itu ngeyel terus," begitulah kira-kira bagaimana bos saya menghentikan ke-sok-tahuan saya di kantor. Sebagai anak muda yang masih berapi-api, saya begitu semangat meluapkan pengetahuan saya kendati tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Orang-orang yang pandai berbicara memang jelas memiliki kelebihan. Untuk dapat berbicara, membalas perbincangan dengan baik, kita harus memiliki apa yang disebut sebagai FoE dan FoR mengenai isu yang sedang diperbincangkan.

Apa itu FoE? FoE adalah Field of Experience yang jika dibahasa Indonesiakan berarti kumpulan pengalaman kita mengenai isu yang sedang diperbincangkan. Istilah "hormati yang tua" tidak lepas dari pembahasan FoE. Umur selalu diidentikkan dengan pengetahuan yang luas. Meski tidak selalu benar, tapi pengalaman memang tidak bisa disangkal merupakan guru terbaik. Umur tidak pernah berbohong dalam membahasakan pengalaman. Dengan keberagaman hidup yang dialami semua manusia, sebuah kemustahilan kita bisa mengetahui pengalaman apa saja yang sudah dilalui seseorang. Siapa yang tahu bahwa seorang Kyai Haji dulu pernah menjual narkoba atau sebaliknya, seorang pencuri yang ternyata hanya berusaha menghidupi anak dan istrinya?

Apa itu FoR? FoR adalah Field of Reference yang jika dibahasa Indonesiakan berarti kumpulan pengetahuan kita mengenai isu yang sedang diperbincangkan. "Buku adalah jendela dunia" katanya, dan itu benar seada-adanya. Hanya dengan membaca kita bisa mengetahui pengalaman puluhan tahun seseorang atau mengetahui hasil penelitian yang bisa memakan seumur hidup usia seseorang. Buku mengakselerasi pengalaman kita yang tadinya butuh waktu lama menjadi sangat singkat. Tentu benar adanya orang yang membaca banyak buku juga memiliki banyak pengetahuan layaknya pengalaman.

Ketika kita berbincang dengan seseorang, secara sadar maupun tidak sadar, kita pasti akan menggunakan salah satu atau keduanya. "Dulu gue pernah...," atau "dulu gue baca di buku ini...," sering terucap di bibir kita. Kita selalu berusaha untuk berbicara dengan dasar yang kuat, dan dasar itu kita dapatkan baik dari FoE maupun FoR yang tadi secara singkat saya jelaskan sebelumnya.

Semua Serba Jokowi
Lalu apa kaitannya dengan Jokowi? Mengacu kepada argumen saya, Jokowi adalah orang yang dipercaya sebagai seorang pendengar yang baik dan mau merespon informasi yang dia terima serta mengkombinasikannya dengan informasi yang dia miliki menjadi sebuah aksi. Kita pasti juga pernah bertemu dengan orang-orang seperti Jokowi, baik itu sahabat kita, keluarga, atau psikiater. Kita memerlukan orang-orang yang mau mendengarkan kita. Sekedar mendengar saja sudah senang, apalagi jika permintaan kita dikabulkan bukan? Bayangkan Anda sedang ingin sekali suatu barang, Anda ceritakan dengan pasangan Anda, kemudian suatu hari dia membelikannya untuk Anda. Senang bukan kepalang pastinya!

Kebanyakan politisi lupa bahwa mendengar adalah salah satu cara paling efektif untuk memperkuat FoE ataupun FoR kita. Jangankan politisi, saya pribadi sangat sulit untuk mendengarkan orang lain. Saya lebih suka berbicara, karena saya merasa paling tahu dan saya ingin orang lain mengikuti perkataan saya, bukannya membuat sebuah dialog yang kondusif untuk mencari jalan tengah yang dapat saling menguntungkan.

Saya acungkan keempat jempol saya untuk Jokowi karena tidak pernah lelah blusukan untuk hanya sekedar mendengar keluh kesah rakyatnya. Kita terlalu sibuk mencari orang untuk beraksi demi kita, tapi kita lupa bahwa orang itu tidak akan beraksi untuk kita jika ia tidak mau mendengarkan kita. Indonesia kekurangan pemimpin yang mau mendengar. Cukuplah sudah kita berteriak keras-keras memprotes ini dan itu. Sudahkah kita menjadi pendengar untuk lingkungan kita? Jika sudah, maka jadilah penggerak aksi, tidak usah menunggu orang lain apalagi pemerintah. Pemerintah sudah cukup banyak kerjaannya. Mari belajar jadi masyarakat mandiri.

Sebagai penutup, saya ingin menitip pesan baik untuk diri saya sendiri maupun untuk Anda, jadilah pendengar yang baik. Kita lebih dulu belajar mendengar sebelum belajar berbicara bukan?

26/10/14

Angin Musim Gugur

Malam itu Christopher memutuskan untuk pulang berjalan kaki ke flatnya dari kantor. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri yang lebih panjang dari biasanya. Langkahnya lambat dan begitu lembut di atas trotoar yang masih agak ramai dilalui orang-orang. Bulan bersinar cukup terang, namun tak ada bintang. Musim gugur datang lebih cepat dari biasanya, membawa angin yang dingin untuk jiwa-jiwa yang kesepian. Daun yang kering berguguran, menimbulkan suara musik yang lirih di langkah kaki Christopher. Syalnya telah diikat dengan erat, bajunya berlapis tiga, tas kecil di pundak kanannya, dan kedua tangannya sibuk memeluk dua buku yang dipinjamkan oleh seorang sahabat.

"Apakah ini semua sepadan," gumamnya dengan pikiran yang tak tenang.

Beberapa bulan belakangan Christopher tidak bisa tidur dengan lelap. Pikirannya resah, dan hatinya gundah. Merekam kembali ingatannya hingga detik yang mungkin ia sesali sekarang ini: tentang pekerjaan, tentang cinta, dan tentang keluarga.

. . .

"Apakah kesendirian begitu hina, sahabatku?" tanya Christopher sambil menyeduh tehnya yang masih mengepulkan asap panas.

"Tidak, tidak hina. Ia hanya sebuah fase yang perlu kau lewati," jawab Anthony.

"Seringkali aku berpikir, apakah aku ini manusia beradab atau hanya manusia yang kesepian? Aku begitu ingin menghabiskan malam-malam dengan tangan-tangan yang lembut, kulit yang mulus, dan bibir yang manis, teman. Tapi aku memilih untuk tidur dengan selimut yang tak memiliki denyut,"

"Kau hanya 'menjadi' lelaki," Anthony tertawa, "tidak ada yang salah. Kita ini manusia yang beradab ketika kita mengerti kebutuhan kita dan tahu bagaimana memenuhinya sesuai dengan aturan yang ada. Kalo kau memilih jalan yang sepi, itu tidak salah. Tapi yang perlu kau pikirkan adalah apakah semua ini sepadan?"

Christopher terdiam.

"Kita masih muda Christopher, masih banyak hal di dunia ini yang belum pernah kita rasakan. Hematku, lakukanlah kesalahan! Untuk apa kita khawatir jika hidup lebih mengkhawatirkan dari yang kita kira?" Anthony menghisap rokoknya dalam-dalam. Ia sepertinya mengerti bahwa sahabatnya perlu sedikit waktu untuk meresapi kata-katanya. Asap rokok keluar perlahan dari hidung dan mulutnya.

"Aku takut,"

"Takut adalah bagian dari hidup, sahabatku! Tapi yang sebenar-benarnya adalah ketakutan merupakan ilusi. Kau takut kehilangan dirinya sekarang? Apa kau pernah berpikir bisa bertemu dengannya kembali? Prosesnya memang akan sangat menyakitkan. Tapi pembelajaran memang seberat itu, sahabat," Anthony kembali menghisap rokoknya. "Jika aku boleh berkomentar, ketakutanmu sekarang hanyalah menimbang apakah semua ini akan berakhir bahagia. Tapi sahabat, tidak pernah ada yang benar-benar berakhir bahagia. Kebahagiaan adalah sebuah proses, bukan tujuan. Kematian adalah akhir dari semua kehidupan. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Orang bilang hidup adalah sebuah kebohongan besar yang indah, sedangkan kematian adalah sebuah kebenaran yang menyakitkan. Kau pilih percaya yang mana? Apakah kau memilih untuk terus hidup dalam kebohongan yang indah? Atau hidup dalam kebenaran yang menyakitkan?"

Christopher mengambil rokok dari sakunya. Sejak kuliah ia begitu sering menghisap tembakau. Rokok menjadi bagian dari hidupnya yang kelam. Yang telah mengajarkannya banyak hal, mempertemukannya dengan banyak orang, dan menjadikannya begitu naif. Ia menyalakannya dan menghisapnya penuh hikmat. Rokok telah memberikan kenikmatan di saat otaknya berputar begitu cepat atau saat hatinya berdegup kencang.

"Aku tak tahu harus mendengarkan jiwa atau ragaku Anthony. Kau juga tahu bagaimana aku memandang hidup ini. Sejak kita bertemu, kita lewati banyak hal bersama yang membuatku tersadarkan oleh satu hal. Semua begitu pragmatis. Orang-orang begitu oportunis. Dan aku sama sekali tidak keberatan dicap sebagai salah satunya. Aku sudah lelah dipandang sebelah mata. Dan jika ada celah, mungkin aku akan mengambilnya,"

"Hati-hati sahabatku, kata-katamu terlalu berani, aku takut kau tersayat olehnya nanti. Menjadi pragmatis lagi-lagi adalah sebuah pilihan. Pilihan yang cenderung berat ke sisi rasionalitas untung dan rugi. Aku mengenalmu cukup lama, dan kau adalah orang yang tidak konsisten. Kau bisa berubah pikiran begitu cepat, dan bahayanya kau juga bisa merubah orang lain untuk mengikutimu. Aku takut kau akan menyesal, bukan hanya kau, tapi kita, ya kita. Kita tidak boleh menyesal,"

Malam itu mereka habiskan untuk berbicara banyak hal. Anthony menepati janjinya untuk meminjamkan dua buku miliknya kepada Christopher.

. . .

Tahun depan ia harus ke rumah orang tuanya. Ada sebuah acara penting yang harus didatanginya. Kakaknya akan menikah, tapi Christopher tidak punya siapa-siapa untuk mendampinginya menghadiri acara tersebut. Lagi-lagi, ia akan menjadi lelaki yang kesepian. Menjadi bahan candaan di tengah keluarga besarnya yang naif dan tidak akan pernah mengerti pertarungan yang ia hadapi dalam hidupnya.

Ia mendamba wanita yang begitu berbeda, yang begitu jauh. Saat yang dekat semakin mendekat, hatinya menjadi ragu. Apakah penantian dan kesepiannya akan sepadan? Sebagaimana malam yang semakin dingin, tangan dan hati Christopher juga menjadi dingin. Dan ia tahu, tak ada yang akan menghangatkannya malam ini.

25/09/14

Mengenal Etos Kerja Negara Maju

Awalnya saya membaca postingan seorang teman di Path, kemudian saya gatal untuk berbagi pengalaman dengan Anda-Anda yang setia membaca blog ini. Seorang teman yang memulai program exchange-nya sekitar enam bulan yang lalu memposting pengalamannya di negeri asal Doraemon.


Saya ingin berbagi sebuah pengalaman berharga terkait etos kerja yang baru-baru saja saya alami. Dimulai saat awal bulan Agustus lalu, saya diberikan tugas menjadi salah satu supporting team untuk sebuah klien internasional. Saya dipercaya untuk menjadi PR Event Coordinator oleh atasan saya. 

"Why?"
Beberapa hari berlangsung, Project Manager (PM) untuk sang klien tidak masuk pada hari itu. Alhasil, saya yang harus meneruskan pekerjaannya untuk berhubungan dengan klien. Ternyata saat itu sedang ada perdebatan mengenai rencana event yang akan dilaksanakan pada bulan September dan saya diminta oleh atasan untuk mencari solusi atas perdebatan tersebut.

Perdebatan terjadi mengenai jumlah pembicara yang akan hadir di acara tersebut. Hal yang sepele bukan? Tapi tidak bagi mereka. Setelah saya pelajari perdebatan tersebut, ada perbedaan pendapat antara sang PM dan sang klien. Klien percaya bahwa satu pembicara sudah cukup untuk mengisi acara yang rencananya akan berdurasi 2 jam itu. Namun, sang PM tidak sepemikiran dengan hal tersebut. Saya memahami pemikiran sang PM yang menyatakan bahwa it is unusual to have a single speaker in a such big event. Akhirnya saya mencoba memberikan penjelasan-penjelasan untuk membuat klien memahami jalan pemikiran PM dan saya.

Ternyata hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan bagi saya, karena hal pertama yang akan selalu mereka ucapkan setelah saya memberikan penjelasan adalah "why?". Yang unik dan sering luput dari kita (termasuk saya) adalah hal-hal kecil yang detail. Orang-orang ini membawanya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni mengusahakan semuanya agar rasional, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan ke depannya. Setelah sekitar beberapa jam saya memberikan penjelasan serta contoh-contoh yang memperkuat argumen saya, akhirnya muncul e-mail ini:



Semakin Detail, Semakin Baik
Setelah kejadian tersebut, saya mulai di-recognize oleh sang klien. Saya yang sebelumnya pasif karena job desc saya hanya menjalankan event, menjadi aktif memberikan pendapat saat ditanyai oleh klien, atasan, dan juga PM. Hingga akhirnya saya diajak untuk makan malam oleh atasan dan PM bersama dengan klien. Hubungan kami menjadi sangat akrab sampai datang saat-saat saya menjalankan fungsi PR Event Coordinator.

H-7 sang klien mengutus perwakilannya ke Jakarta untuk membantu saya merealisasikan rencana yang dibuat sebulan lalu. Seperti yang saya bilang sebelumnya, orang-orang ini sangat detail dan sangat kepo. Mereka mempertanyakan ini dan itu, mengapa, dan bagaimana selanjutnya. Dalam satu hari kami bisa merevisi rancangan hingga tujuh kali dan semua itu harus dibayar mahal dengan waktu. Saya dan tim harus menginap di kantor untuk mempersiapkan semuanya, dan hebatnya perwakilan mereka, meskipun tidak menginap, juga ikut bekerja hingga larut malam.

Apresiasi Itu Penting!
Acara berjalan dengan lancar, meskipun ada satu dua hal yang mengganggu akibat perbedaan bahasa. Semua terbayar lunas oleh senyum manis sang klien dan juga e-mail ini:


Setelah acara berakhir, saya belum bertemu dengan sang klien maupun perwakilannya yang sangat kooperatif dalam bekerjasama menjalankan acara. Satu hal yang selalu saya perhatikan dan jarang sekali saya temukan di etos kerja orang-orang Indonesia, yakni masalah apresiasi. Meskipun cara kerja orang-orang ini agak sedikit menyusahkan karena selalu meminta sesuatu hingga sangat detail, mereka akan selalu mengakhirinya dengan kalimat atau kata-kata apresiasi. Dan hal itu benar-benar membayar lunas semua jerih payah yang sudah saya dan tim lakukan.

P.S:
1. Sensor dilakukan untuk menjaga kerahasiaan.
2. Cerita lebih lengkap bisa tanya/ngobrol langsung.
3. Bonus e-mail terakhir (mereka sangat detail):


07/09/14

Menjadi Manusia di Atas 10 Juta Rupiah

"Kalo kamu masuk ke sebuah ruangan dan kamu merasa kamu adalah yang paling pintar, maka kamu berada di ruangan yang salah,"

Setelah beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang senior yang menjadi role-model bagi saya, dua malam terakhir ini saya bertemu dengan dua orang luar biasa yang memberikan saya semangat dan tujuan hidup baru. Dua sahabat yang dulu secara tidak disengaja dipertemukan oleh Tuhan kepada saya. Dan ajaibnya, mereka semua dari almamater yang sama. Betapa bersyukurnya saya dapat kuliah di Yogyakarta.

Semenjak hengkang dari tanah Sultan, ibukota merubah pandangan hidup saya 180 derajat. Saya menjadi begitu pragmatis dan materialistis. Saya selalu mengejar apa yang tak akan pernah selesai. Dan sayangnya, it consumes me. Mulai dari rasa simpati dan juga empati yang berkurang sedikit demi sedikit, hingga depresi yang tidak berkesudahan.

"Tidak pernah ada the way. Yang ada adalah my way and your way. Semua orang punya jalannya sendiri-sendiri, kawan. Yang penting jangan pernah berhenti."

Saya (bersyukur) bukan tipe orang yang mudah merasa puas. Selalu saja ada keinginan, target-target, impian, yang ingin dicapai. Dan terkadang itu tidak murni datang karena niatan yang baik. Salah satu 'racun' yang sedang mengkontaminasi saya saat ini adalah rasa iri. Saya begitu terintimidasi (secara tidak langsung) dengan keadaan finansial orang-orang luar biasa ini. Saya merasa begitu kecil, dan menyadari bahwa saya membuang begitu banyak waktu ketika masih berstatus mahasiswa dulu. Kenapa saya bisa begitu 'berbeda' dari mereka yang memulai semuanya dari tempat yang sama dengan saya? Dan setelah berbincang dengan ketiganya, akhirnya saya menemukan jawabannya.

Hidup adalah kerja keras. Mereka yang saya temui merupakan pekerja keras luar biasa yang tak henti-hentinya belajar untuk berkembang. Mereka adalah manusia-manusia yang menyadari bakat serta passion mereka. Dan (bagi saya) sayangnya, mereka sudah mengetahui itu semenjak mereka masih duduk di tempat yang juga menjadi tempat saya mengenyam pendidikan tinggi.

First rule: Language
Aturan pertama untuk menjadi manusia di atas 10 juta rupiah, pastinya, adalah bahasa. Percayalah, bahasa Inggris bukan lagi menjadi 'kelebihan' namun menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa dihindari untuk masuk ke sebuah institusi bergengsi dengan kaliber internasional. Saya yang merasa begitu sombong karena sudah merasa sudah cukup bisa untuk berbahasa Inggris, menemui karma. Cukup bisa bukan minimum requirement lagi untuk dapat mengantarkan kita ke pintu depan institusi impian kita bekerja, tapi fluently. Ini adalah hal yang saya kurang tanggapi dengan serius dulu.

Mulailah belajar untuk bisa berbahasa Inggris dengan lancar, tidak gagap, dengan grammar yang baik dan sopan (tidak kasar). Membaca dan menulis kalimat atau laporan dalam bahasa Inggris tanpa bantuan kamus, google translate, ataupun aplikasi kamus lain, adalah suatu keharusan. Atasan atau klien tidak punya waktu dan tidak akan pernah menerima alasan apapun untuk keterlambatan laporan atau hasil kerja. Efisiensi waktu adalah segalanya dalam dunia kerja.

Second rule: Skill & Passion
Skill and passion? Kenapa keduanya tidak terpisahkan? Karena keduanya saling berhubungan dan saling menguatkan. Ketika kita telah menemukan passion kita, maka ada skill yang akan terasah setiap kali kita melakukan passion kita. Sangat bijaksana untuk menentukan passion dan commit melakukannya sedini mungkin.

Yang paling krusial dari dunia kerja adalah they didn't give a shit with our GPA or academic achievements. What they want to see and hear is you now, not you in the past. IPK dan prestasi seminar-seminar ataupun lomba hanya akan mengantar kamu ke pintu depan institusi. Yang mereka inginkan adalah dampak apa yang semua itu berikan terhadap kepribadian kita.

Third rule: Experience
Pengalaman adalah guru terbaik, dan itu benar secara mutlak. Pengalaman adalah apa yang bisa kita jual. Dan pengalamanlah yang membentuk kepribadian kita. Tapi dari itu semua, adalah pengalaman yang mementukan rasionalitas, cara berpikir, cara pandang, dan juga membuka wawasan kita. Di sinilah sebenarnya inti dari penghakiman atas nilai dari seseorang.

Dari ketiga rules yang saya bicarakan ini, adalah pengalaman yang paling sulit untuk dibentuk. Karena ia bergantung terhadap kepribadian dan keberanian seseorang dalam mengambil keputusan. Masa lalu tidak akan pernah bisa diubah, karena itu ia tak ternilai. Yang terpenting dari itu semua adalah untuk tidak menyesalinya dan siap memperbaiki atau mengembangkannya di masa depan. Satu pola sama yang saya lihat dari orang-orang ini adalah keberanian mereka untuk keluar dari comfort zone mereka. Dan itu sangat membentuk kepribadian mereka, yang tentunya, menjadi lebih baik.

Sebenarnya hanya ada tiga rules ini yang saya temukan dari orang-orang luar biasa ini. Keinginan dan motivasi mereka beragam dalam mencari dan menempati posisi mereka sekarang. Untuk mengetahui siapa jati diri kita, memang hati nuranilah yang bertugas dan bertanggung jawab. Tapi jika ada satu lagi rules yang bisa ditambahkan, maka saya akan memilih Count Your Blessings. Kehidupan manusia tidak akan pernah terpuaskan. Seberapapun hebatnya kita, akan selalu ada yang lebih hebat. Dan kita akan selalu merasa iri terhadap sesuatu yang lebih baik. Tapi semua itu adalah hal yang wajar dan normal. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, maka bersyukurlah.

We all have choices.

12/08/14

Tidak Ada yang "Salah" dengan Pekerjaan Pertama

Malam itu Mampang Prapatan dipadati oleh mobil-mobil yang berisikan orang-orang yang pulang kerja. Saya berada di dalam taksi menuju sebuah restoran milik seorang senior sambil mendengar ceramah agama sang sopir taksi. Cahaya yang tercipta oleh lampu-lampu mobil-mobil mewah, angkutan umum, lampu jalanan, dan gedung-gedung pencakar langit menjadi suatu lukisan indah yang sulit dilupakan bagi mereka yang pernah berada di tengah sibuknya kota Jakarta. Terkadang betapa sulitnya kita bersyukur atas nikmat-Nya meski semudah melihat nuansa kota melalui jendela kecil taksi berwarna biru.

"Tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama," katanya di tengah perbincangan kami. Seorang kakak, guru, mentor, atau saya lebih suka memandangnya sebagai seorang figur, role model untuk anak muda bau kencur yang belum tahu apa-apa tentang dunia kerja. Tiga jam berlalu begitu saja, saya tenggelam dalam pembicaraan kami akan pekerjaan kami yang berada dalam satu bidang, dan restoran itu tetap ramai dengan orang-orang yang juga tenggelam dalam entah apa yang ada di tiap-tiap pikiran mereka.

Jujur saya selalu merasa minder apabila pertanyaan mengenai "gaji" muncul di antara saya dan teman-teman saya yang sudah atau setidaknya sedang mengenyam pendidikan yang katanya disebut-sebut sebagai kampus kerakyatan. Dengan melihat kakak-kakak kami yang lulus dan mendapat pekerjaan serta gaji fantastis di ibukota, jelas saya ini tidak ada apa-apanya, hanyan butiran debu di tengah hutan beton ibukota. Ada sebuah mindset yang tercipta, sebuah standarisasi bahwa lulusan salah satu dari tiga universitas negeri raksasa di negara Indonesia ini harus menjadi "seseorang", ditambah lagi Presiden baru kita yang satu almamater dengan saya. Sebuah citra yang harus dijaga, atau saya lebih suka menyebutnya sebagai beban moral untuk mereka-mereka yang baru menetas keluar dari sana.

Apakah ada yang salah dengan saya? Atau dengan teman-teman saya? Apakah semua standarisasi itu harus dipenuhi demi sebuah citra yang mungkin beberapa tahun lagi berubah? Saya sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan di universitas terbesar di Indonesia, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, serta pelajaran hidup di sana. Terkadang saya suka termenung memandang gelagat teman-teman saya dalam melihat dunia kerja. Memang, tidak pernah ada salahnya untuk beropini, membicarakan sesuatu sesuai pengalaman, namun apakah pengalaman kita sama?

"Kamu serius mau digaji sebesar itu? Kamu menganiaya diri kamu sendiri tahu,"

Berbagi kisah adalah sebuah pembelajaran, dan tujuannya adalah untuk dapat saling menghormati. Saya tahu betul tiap-tiap orang memiliki misinya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan saya. Kita begitu lama bermimpi saat kuliah, dan terbangun dari mimpi yang indah itu rasanya sakit sekali. Saya tidak bisa memenuhi standar maya yang terbentuk dalam mindset teman-teman saya. Saya rasa-rasanya berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang perguruan tinggi. Tapi, ada yang bernasib lebih menyedihkan lagi dari saya. Apa itu bisa menjadi pembenaran?

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri orang-orang yang tidak bisa menggunakan bahasa yang katanya merupakan bahasa pemersatu dunia, bahasa internasional, dalam kehidupannya sehari-hari maupun untuk urusan formal. Mereka diperas dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore selama bertahun-tahun untuk gaji yang besarnya tidak lebih dari saya yang baru saja masuk kerja sekitar 2 bulan. Ada lagi mereka yang memiliki potensi luar biasa besarnya, namun harus memikul nasib berat atas tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara. Mereka rela untuk tidak digaji "demi sebuah mimpi akan negara yang lebih baik," katanya. Dan masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang bisa, lagi-lagi, saya gunakan untuk menjadi pembenaran nasib saya ini.

Memang tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama. Pekerjaan pertama selalu menjadi awal mula seseorang menapaki dunia kerja. Kita tidak akan pernah bisa berharap lebih dari kaki yang masih bergetar di pinggir tebing. Menatapi langit yang luas, yang terkadang rasanya tak akan tersentuh. Tapi kita bisa melihat burung-burung yang terbang, awan, matahari, dan bintang-bintang yang bersinar di gelapnya malam. Dan mungkin sewaktu-waktu kita bisa menjadi bagian dari itu semua.

01/08/14

Munculnya Cinta

Dari begitu banyaknya cerita tentang cinta, apakah kita benar-benar tahu artinya cinta, Isabel? Apakah kita pernah sekedar bertanya kepadanya tentang maksud kehadirannya di setiap nafas kehidupan mahkluk ciptaan Tuhan? Atau, bertanya "Siapa sebenarnya Tuhan?". Ah, pertanyaan yang begitu tabu dipandang oleh masyarakat. Berbicara seakan kita tahu segalanya hingga lupa bahwa sang surya telah lama tenggelam.

Isabel, siang ini aku melakukan ibadah yang sudah jarang rasanya aku lakukan semenjak aku kuliah. Ya, ibadah, Isaebel. Apa kau tahu artinya ibadah? Ah, kau pasti sudah memiliki definisi yang jauh lebih canggih dariku. Bagiku, ibadah adalah cara agar kita bisa dekat dengan Tuhan. Atau sekedar berkomunikasi dengan-Nya, meski seringkali hanya berbisik ke telinga-Nya. Apakah kau memiliki definisi yang berbeda? Izinkan aku tahu. Mari, aku lanjutkan cerita pendekku kembali.

Sang penceramah nampak semangat melontarkan kata-kata pujian serta doa-doanya siang itu. Ada satu hal unik yang aku tangkap dari ceramahnya, yakni tentang munculnya cinta. Aku tak pernah memikirkan sebelumnya bagaimana cinta bisa muncul di dunia ini. Mengapa kita tidak pernah membicarakan ini ya sebelumnya, Isabel? Di tengah propaganda dan segmentasi agama yang ia bicarakan, yang lagi-lagi, seperti yang sudah-sudah, hanya berkutat antara neraka dan surga, dia berbicara tentang cinta. Meski rasanya seperti hanya kurang dari lima menit ia membicarakan tentang cinta dan kaitannya dengan agama, pikiranku terbang sendiri mencari kisah tentang munculnya cinta siang itu, Isabel.

Kapan dan darimana sebenarnya cinta muncul? Apakah ia seorang lelaki berengsek yang mencari wanita tiap malamnya tanpa ia kenal namanya esok hari di ranjang hotel mereka menginap? Atau ia adalah seorang ibu yang membersihkan kotoran anaknya hingga ia bisa membersihkannya sendiri di usianya yang masih kecil? Atau ia adalah seorang kakak yang bingung dengan kehadiran adik barunya hingga terkadang merasa iri dengan segala perhatian yang didapatkan namun tetap tidak bisa memungkiri hatinya yang penuh dengan suka cita?

"Saudara-saudara, cinta datang di tengah harapan dan keraguan," sang penceramah memecah keheningan yang hinggap di otakku. Apa iya cinta datang di antara harapan dan keraguan?

"Ketika kita memberikan perhatian kita kepada seseorang, di sana timbul harapan bahwa kita juga ingin mendapatkan perhatian. Ingin dicintai,"

"Namun, kita seringkali lupa bahwa harapan tidak pernah datang sendiri. Ia datang bersama keraguan. Keraguan akan datangnya cinta yang kita harap,"

"Saat itulah cinta muncul, saudara-saudara,"

Dan cinta pun muncul. Menjadi jawaban atas harapan dan keraguan. Namun, apakah iya selalu berakhir seperti itu? Bagaimana dengan cinta yang tak terjawab? Tak terbalas? Apakah akan berakhir sama? Apakah ini hanya konsep belaka, yang lagi-lagi, hanya berkedok sebagai propaganda?

Yang aku mengerti, Isabel, cinta itu adalah kebenaran. Ia adalah yang sebenar-benarnya. Ia menghapuskan dendam dan benci, menghilangkan iri dan dengki, ia membutakan mata seseorang atas perhitungan untung dan rugi.. Jika ia benar adalah kebenaran, maka sang penceramah tidak berbohong. Karena seperti yang kau dan aku selalu bicarakan setiap kali kita bertemu, "Kebenaran hadir di tengah harapan dan keraguan,"

Kita berharap, kemudian meragu. Semakin kita dekat dengan kebenaran, semakin banyak cobaan yang datang. Jika harapan dan keraguan selalu datang bersamaan, apakah cinta datang sendiri? Akankah dia pergi, Isabel? Akankah kita sebenar-benarnya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita? 

Apakah cinta itu ada?