20/09/15

Ada Apa dengan Kita dan Film-Film Anak yang Tertukar?

"Encanensu (nama disamarkan demi kepentingan sponsor, halah), mohon kau maafkan ibu. Ibu tidak ingin kau marah terus,"
"Baik ibu, aku tidak akan marah lagi,"

Begitulah potongan kalimat dialog dalam sebuah film seri impor dari Turki yang sekarang ini sedang merajalela di Indonesia. Entah apa yang merasuki saya malam itu sehabis pulang kantor sehingga saya menyempatkan waktu menonton satu episode dari film yang bahkan saya tidak ikuti dari awal. Setelah menghabiskan hampir tiga jam perjalanan untuk bisa sampai di rumah dengan selamat dari kantor, malam itu saya memutuskan untuk makan malam telebih dahulu sebelum saya melepas kaos kaki. Sambil mengisi perut yang kosong, saya menyalakan televisi dan berhenti di salah satu stasiun televisi swasta yang terkenal dengan film-film impor Turki-nya. Saya berharap banyak dari film impor yang saya tonton tersebut, namun nyatanya jalan kisahnya mudah ditebak. Yap, cerita tentang anak orang kaya yang tertukar dengan anak orang miskin di rumah sakit. Klise.

 Ini dia dua anak yang tertukar. Cantik ya?

Meski diisi oleh aktor dan aktris yang cantik nan tampan dan didukung oleh latar belakang pemandangan yang indah ala Turki, nyatanya film ini memiliki garis cerita yang sama saja dengan beberapa film sinema elektronik (sinetron) Indonesia yang telah banyak (juga sempat ngehits) ditayangkan. Saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan kisah anak yang tertukar? Apakah sebegitu senangnya masyarakat kita dengan kisah anak yang tertukar? Atau ini semacam fantasi liar yang menjadi impian dan doa-doa tersembunyi dari masyarakat kita?

Kisah anak yang tertukar sudah sangat jelas akan menaruh fokus pada isu sosial. Pasti yang tertukar adalah anak dari keluarga yang kaya dengan anak dari keluarga miskin (ya iyalah, kalo sama-sama keluarga miskin, ga bakal ada sensasinya), kemudian ada satu kejadian di masa depan, tentunya ketika anak mereka sudah besar, yang membuat orang tua mereka tersadar atau membuktikan bahwa anak mereka tertukar. Lagi-lagi, klise.

Isu sosial antara si kaya dan si miskin selalu menjadi hits yang tak terbantahkan di hampir seluruh negara di dunia. Tengok film seri Taiwan yang super hits di era saya masih SD dulu (yes, I'm talking about F4), atau film kartun yang terinspirasi dari negeri 1001 malam, Aladdin, dan masih banyak lainnya. Kebanyakan film yang mengangkat isu sosial selalu berhasil mendapatkan simpati masyarakat karena jelas sekali sangat mudah bagi sang penulis cerita untuk menempatkan mana yang jahat dan mana yang baik, dan menunjukkan tersiksanya kaum yang lemah (biasanya sih alur ceritanya seperti itu). Lalu, apakah ini fenomena yang biasa?

Belakangan ini saya terganggu dengan pemikiran film anak-anak yang tertukar ini. Kenapa? Karena saya merasa bahwa mungkin ada yang salah dengan mental atau mungkin juga mindset kita. Saya pribadi merasa sangat senang memposisikan diri sebagai anak yang tertukar dari keluarga miskin dan mendadak jadi orang kaya (ya iyalah, mana ada yang mau dari kaya jadi miskin). Mungkin ini yang menjadi daya tarik dari film-film yang membawa isu sosial kaya dan miskin. Ya, diam-diam kita memposisikan diri dan berdoa kisah seperti itu terjadi pada kita, demi perubahan status sosial yang instan. Ini semua kemudian perlahan-lahan menjadi imajinasi kita, kemudian kita berandai-andai, dan pada akhirnya kita mempercayai kisah seperti ini yang membuatnya menjadi bagian dari diri kita. It impacts to our acceptance of life, I think.

Terakhir, sebelum saya menutup tulisan omong kosong ini, saya baru menyadari sisi unik dari film si kaya dan si miskin ini. Biasanya, penonton akan dibuai dengan kehidupan sang kaya yang mewah, dan saya selalu bertanya-tanya apa tujuannya. Apakah ini sebagai alat pemacing agar kita semua bisa sekaya itu atau ini hanya tindakan sesumbar semata? Ah, uniknya film anak yang tertukar. Membuat kita bertanya-tanya, membuat kita berdoa, membuat kita percaya, bahwa mungkin suatu ketika, kita ini adalah anak-anak yang tertukar, dan sejatinya memiliki keadaan finansial yang jauh lebih baik dari sekarang. Maafkan analisa penulis yang kacau dan dangkal.
 
Dan ini adalah babe serta emak dari kedua anak tersebut. Selalu berpenampilan klimis dan kece, representasi dari lelaki sukses dengan harta melimpah. Who doesn't want to be like him?

13/09/15

Give Us the Good in This Life and the Next, and Protect Us from Your Fury

Dear God,

It's been awhile since my last pray. I know that I am not your favourite, nor the purest one. In fact, maybe I am the worst among your creatures. But people told me that you never sleep. You always hear our whispers. You always hear our prayers. Then, in this silent night, let me whisper you my prayers.

Dear God,
The one that known by many names,

It's up to you, and will always be your right to either answer or not our prayers. I have heard once some saint said this thing to me: "What is our difference than beggars if we pray only when we need something from God?" No, it's not wrong, nor right. I keep playing it in my mind, what is my difference than beggars, really. You are the conqueror, the owner of heaven and earth. You are the creator of everything. What is my difference than beggars to you? To whom I can ask something if it's not you?

Dear God,
The one who wrote the list of death and life,

Losing someone that we love is something that we can't really bear, and you knew it. That's why you allow us to create cemetery, to allow us remembering our loved ones that have passed away. You allow us to grief. God, it is a difficult time for my loved one. Please gave her strength to bear the pain. Please gave her your light. Let her accept everything that you have wrote since day one. I know that you always gave the best for your creature.

Dear God,
The owner of everything,

I do also in difficult times now, and I know that you knew it. Please gave me strength and show me your light to go through all of this. For all the things that you create, you have decide how one creature will go follow his path that you have made. Please forgive me for all the things and the sins that I have done.

May the night sleep well and the sun will shine bright tomorrow.

Let me finish my pray to you.


"Dear God, give us the good in this life and the next, and protect us from your fury."

04/09/15

Flavors of Chile: Undangan Pertama sebagai Blogger

"1 September malam di Jakarta? Kamu mau diundang sebagai blogger gak?" kata seorang senior kampus yang juga merupakan bos di kantor. Tanpa basa-basi, saya langsung mengiyakan undangan tersebut. 

Masih ingat beberapa bulan yang lalu saya mengubah fokus tulisan di blog saya menjadi tempat untuk mengulas tempat-tempat nongkrong asyik. Usaha pertama saya mengulas tempat nongkrong berbuah manis karena terjadi lompatan pembaca yang signifikan. Hal tersebut diikuti oleh bertambahnya follower saya di berbagai macam akun sosial media saya. Meski nama blog masih pakai nama sendiri (belum ada branding) dan masih numpang sama blogspot (iya, saya tahu masih jelek banget layout-nya, haha), saya tidak patah semangat untuk terus mengulas tempat-tempat nongkrong asyik yang saya pernah datangi.

Tepatnya di akhir bulan lalu saya mendapatkan undangan untuk datang ke sebuah acara di email pribadi saya. Acara yang saya tidak tahu harus akan menulis apa nantinya. Karena acara ini bukan tentang tempat nongkrong, tapi acara perkenalan budaya. Ya, saya mendapatkan undangan untuk datang ke acara Flavors of Chile. 

Acara ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar negara Chile di hotel Grand Hyatt. Acara yang ditujukan sebagai perkenalan budaya melalui masakan Chile ini mendatangkan banyak orang penting dan orang-orang terkenal (tidak termasuk saya, haha). Banyak pejabat asing dan orang-orang Kadin yang saya lihat, serta ada Chef terkenal Indonesia yang saya juga sempat temui. Mau tahu bagaimana kisahnya? Cekidot!

***

Tertulis di undangan acara dimulai pada pukul 18.30 WIB. Saya baru berangkat dari kantor pukul 18.30 WIB. Dalam hati, "Aduh, telat deh ini. Undangan pertama sebagai blogger malah telat, mati gue." Sepanjang perjalanan saya sudah merangkai berbagai macam alasan untuk keterlambatan ini. Jalanan dari kantor menuju venue tidak macet dan saya berhasil sampai pukul 19.00 WIB.

"Mas Iqbal ya? Blogger kan? Di sini mas registrasinya," tetiba seorang wanita menghampiri dan membimbing saya ke meja registrasi selepas sampai di hotel Grand Hyatt. Saya tidak bisa menutup kegirangan saya malam itu. Saya senyum-senyum sendiri, dan menengok kesana kemari tidak jelas karena tidak ada satu wajah pun yang saya kenal.

Suasana di pintu masuk ruangan

"Banyak bule!" itu yang terlintas pertama kali di pikiran saya ketika melewati ruang registrasi. "Acaranya mulai jam 19.30 WIB, sekarang kita cocktail party dulu mas," kata salah seorang penyelenggara acara kepada saya. "Oh, jadi ini yang namanya cocktail party," orang-orang minum dan bercengkerama satu sama lain. Maklum saya belum pernah menghadiri cocktail party (ah, kebiasaan minum jamu aje).

Suasana bar dengan banyak pilihan wine

Saya mengambil segelas wine merah dengan posisi tangan yang gak jelas sok-sok ngerti. Setelah itu duduk di sofa yang ada beberapa wanita sedang bercengkerama. Setelah berbicara sejenak, mereka ternyata awak media yang diundang untuk meliput acara ini, salah satunya dari detik.com (saya pembaca setia detik.com lho, hehe. Ini nih beritanya, detik.com emang cepet kalo nulis berita: Sajian Seafood dengan Rasa Eksotis Dihadirkan di 'Flavors of Chile')

Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB dan pintu ruangan dibuka. Saya ikut-ikutan masuk dan saya diminta duduk di meja nomer 24, katanya saya akan duduk bersama blogger lain. Setelah menempati tempat duduk, benar saja, saya berkenalan dengan banyak blogger-blogger ternama. Let me list them down:
  1. Ada Soya dari Soya vs Food
  2. Ada Aline dari Foolosophy
  3. Ada Yenny dari Things That Make Me Happy
  4. Ada Andre dari Food Directory (silahkan cek akun Instagramnya)
Selain para blogger, meja ini juga diduduki oleh tiga punggawa lifestyle. Ada Ario penyiar radio dan dua wanita cantik, Puteri dan Diah, host dari dua stasiun TV swasta.

Wefie meja no. 24

Kami semua disambut oleh Duta Besar Chile yang menjelaskan tujuan acara ini, serta video sekilas mengenai negara Chile. Yang paling saya suka dari acara ini adalah setiap kali kami akan disajikan makanan, sang koki, Francisco Araya, menunjukkan bahan-bahan makanan serta cara memasaknya yang dikemas sangat apik dalam video.

My first dish: Avocado gel. Salmon crudo and shellfish

Despite the small size it has, the taste is so unique! Yap, perpaduan alpukat dengan ikan salmon, asing sekali bukan? Setiap hidangan akan ditemani oleh wine yang berbeda-beda (maaf saya lupa mencatat nama wine-nya).

My second dish: Salmon sealed with orange's salt, citrus sauce, and baby onions caramelized with dried plums

Sepertinya orang-orang Chile senang sekali dengan ikan salmon ya? Nevermind, ini rasanya enak! Rasa asin dari salmonnya sangat terasa!

My third dish: Chilean seabass, peas puree, shellfish's sofrito with 'merken' and black potatos

I don't even know what 'merken' is, yang jelas, kentang warna hitam ini yang bikin saya penasaran. "Kok kentang bisa hitam warnanya?" perdebatan ini berlangsung cukup lama di meja kami. Ada yang bilang bahwa ini menggunakan tinta cumi yang disajikan di atas daging seabass (coba perhatikan gambar). That's makes sense sih, haha. Kentang hitam ini bukan main rasanya. Seperti dikukus, hangat, enak dan berasa seperti ubi, tapi tidak manis.

My last dish: Apple sorbet, grapes gel, soil of almond and walnut, cherries

Nah, makanan penutup saya ini semacam es krim begitu pemirsa. Dengan campuran rempah kacang dan cherry, bisa lah ngepas sama lidah saya.

Setelah kami selesai makan, sang koki pun keluar dari dapur untuk memperkenalkan diri. Suatu kehormatan bagi saya bisa mencicipi masakan chef Francisco Araya. Ketika sang koki sibuk berkenalan dengan yang lain, saya kabur untuk mendatangi satu wajah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia:

CHEF MARINKA!

YAP! She's the one and only Chef Marinka! Waw, ternyata beda banget aslinya sama di TV. Orangnya ramah, baik, dan cantiknya, unexplainable, haha. Chef Marinka terlihat sangat excited mencicipi masakan Chile, tapi sayang waktu saya bersama dengan beliau tidak lama, sudah banyak yang antri mau ngobrol dan foto sama chef Marinka. I wonder about her opinions on Chilean foods.

Anyway, saya tidak berkecil hati. Karena ketika yang lain sibuk dengan chef Marinka, saya bisa mendekati chef Francisco Araya. This is where the magic happen! I know that I am not a great food blogger, because I write review about hangout places, not the details of the food, that is why my coversation with chef Francisco Araya for couple of minutes worth so much!

Saya sadar saya tidak punya banyak waktu dengan chef Francisco Araya, karena dia pasti akan dikejar-kejar juga oleh yang lain, so I only ask him one question, "What is the essence of Chilean food?"

Chef Francisco Araya menjawab satu kata, "Freshness." Kesegaran merupakan inti dari makanan Chile. Orang-orang Chile sadar bahwa mereka dianugerahi oleh kekayaan alam yang luar biasa, dan berlimpahkan oleh sumber daya laut terbaik. Itu alasannya kenapa pada acara ini chef Francisco Araya menyajikan makanan-makanan seafood untuk kami. Karena inti dari makanan Chile adalah kesegaran, maka orang-orang Chile jarang sekali memakai bumbu. Chef Francisco Araya menjelaskan "Ketika kami ingin makan ikan, kami ingin merasakan rasa dari daging ikan tersebut, bukan kenikmatan bumbu." Well, that's explain everything Chef! Berbeda dengan Indonesia yang dianugerahi rempah-rempah, kita sangat suka dengan bumbu. Siapa coba yang tidak suka rendang? Gado-gado? Damn, that's my favorite!

Acara pun selesai, sebelum saya kembali ke kantor, saya menyempatkan diri foto bersama dengan para blogger sekali lagi bersama dengan dua chef hebat dari Chile dan Indonesia. Thank you for the food chef! Thank you for the conversations, bloggers! Cheers!

Flavors of Chile! What a night!

20/08/15

Makan Enak Gak Harus Mahal

Daaaaaaaaaaaamn! Udah lama banget nih gak nulis di blog. How are you peopleeee? Wazzzzzuuuup? How's life? Great? Glad to hear that! Udah 2 bulan ya ternyata, ckck. Sebelumnya mau mohon maaf lahir batin dulu ya, maaf tidak memenuhi janji untuk nulis setiap minggu, hiks. Gue tersesat dalam kehidupan *halah. Well, anyway, I get my life rhythm back! I'm gonna write again yaw!

Sesuai dengan judul, kali ini gue mau me-review sebuah tempat makan yang murmer yang secara gak sengaja gue temukan di arah pulang ke kosan. This is the first time I eat EMPAL GENTONG. Yup, Empal Gentong, makanan khas Jawa Barat yang sering dibilang makanan khas Betawi juga (correct me if I am wrong ya). Begini kisahnya...

***

Malam itu seperti biasa saya pulang sekitar jam 8an malam dari kantor. Saya melihat sebuah warung kopi cukup besar yang ramai sekali. Namun saya melihat ada pikulan di depan warung kopi tersebut dengan ketupat bertengger di atas pikulannya. Warung kopi itu nampak jelas dari luar, namun pikulan di depannya nampak ramai dengan orang. Well, sh*t! Let's try to find out!


Ooo, ternyata ada something di pikulan tersebut, Tanpa banyak basa-basi, saya tanya, "Pak, ini apa ya?", and he said, "Empal Gentong".

Empal Gentong? What is that yo? Norak banget ye gue. Yaudah gue langsung pesen, "Pesen satu ya pak, yang paling enak." Dengan banyaknya antrian, si bapak langsung mengolah dengan cepat, dan gue iseng aje foto.


Setelah doi ngolah pesenan gue, gue lihat dan telaah baik-baik nih makanan, and daaaaaaaaaaamn! This is look so delicious!


Empal gentong dengan paru! Wait, is it still can be called as empal gentong? I don't know, tapi yang pasti rasanya unik! Asin, manis, gurih, semua campur jadi satu di mulut.

***

Enough with the picture ya, I know you are hungry now, haha. Jadi setelah gue makan dan kenyang, gue ajak si bapak ini buat ngobrol (sorry, I forgot to take his picture).

Namanya Bapak Ali, beliau sudah jualan empal gentong pikul ini selama 10 tahun. Bapak Ali belajar masak empal gentong dari baba-nya, yang juga penjual empal gentong selama 40 tahun. Bapak Ali meneruskan usaha baba-nya setelah si baba jatuh sakit dan gak bisa jualan (no worries, he is still in good shape dan ikut nimbrung masak serta ngobrol tadi). 

Bapak Ali adalah mantan caddy dan pelatih golf. Doi meninggalkan pekerjaannya karena memilih untuk meneruskan usaha baba-nya. Surprisingly, pendapatan dari penjualan empal gentong ini twice than his salary per month, haha. Ya akhirnya beliau serius menjalankan bisnis ini. Semua pegawainya adalah anggota keluarganya. Ada baba-nya, om-nya, tantenya, keponakannya, sampai adeknya, semua bantu jualan empal gentong.

Berawal dari kesukaannya terhadap empal gentong (plus insiden baba), doi berani improvisasi dengan campuran ketupat sayur. And this is the answer of the unique taste I have described to you before! Damn, this man is good! Terhitung 50 tahun sudah empal gentong ini ada di daerah Patal Senayan. Bapak Ali mengundang saya untuk sewaktu-waktu nanti main ke rumah untuk belajar bikin empal gentong, haha.

Sayangnya perbincangan kami tidak berlangsung lama karena pengunjung yang terus berdatangan dan membuat Bapak Ali sangat sibuk. Empal gentong Bapak Ali buka jam 3 sore dan tutup jam 9 malam (6 jam doang, abis itu habis ludes, keren banget kan?). Dengan rasa yang mantap dan harga yang sangat friendly (I spent IDR 23.000 include drink), gak heran empal gentong Bapak Ali sangat ramai dan cepat habis. Mungkin kapan-kapan kamu mau makan di sini sama aku? Uhuy, gombal dulu ah.

That's all folk! See you again in my next post! Here's some extra photo of my dinner tonight. Hope you hungry!

Segelas teh hangat dan sepiring empal gentong cukup untuk menemani malamku yang dingin dan lapar akan kasih sayangmu *aseek

29/06/15

#lovewins

Selamat malam! Apa kabar? Semoga bahagia selalu ya! Minggu ini gue absen dulu untuk me-review hangout places karena keterbatasan waktu dan tempat. Eits, tapi jangan pergi dulu! Karena gue ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk menuliskan sebuah pemikiran, semangat, dan harapan yang udah lama ingin gue tulis tapi gajadi-jadi terus. Gue mau nulis tentang kejadian yang beberapa hari ini heboh banget di dunia nyata maupun di dunia maya. Yup, gue mau nulis opini gue tentang same-sex marriage.

Akhirnya, legal juga!
Tanggal 26 Juni 2015 menjadi hari baik bagi kaum LGBT (kok gue ngerasa aneh ya pakai istilah "kaum"?) di Amerika Serikat karena Supreme Court melegalkan pernikahan sesama jenis. Negara Amerika Serikat (selain merupakan negara adidaya) adalah negara yang sering atau suka banget gue perhatiin. Pergerakan politik dan sosialnya selalu memberikan hawa baru bagi dunia internasional. Sejak memerdekakan diri dari Inggris (correct me if I'm wrong), menghapuskan sistem perbudakan, pergerakan kesetaraan kulit hitam, hingga pemberian hak suara bagi semua warganya, Amerika Serikat selalu menjadi pusat perhatian dunia. Bahkan, meski bukan merupakan negara pertama yang melegalkan pernikahan sesama jenis, Amerika Serikat tetap mendapatkan sorotan dari negara-negara di dunia. Lalu apa hubungannya dengan gue?

Gue mendukung pernikahan sesama jenis. Bukan, itu bukan berarti gue seorang homoseksual, gue adalah seorang pecinta wanita, azeeek. Anyway, I support same-sex marriage simply karena gue merasa bahwa pernikahan atau bersatunya suatu pasangan adalah hak mendasar setiap manusia, hak semua orang untuk bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintainya, and that's also mean for those who have a same-sex partner.


 

Pernikahan sesama jenis dan pernikahan beda agama
As some of you may know, gue juga mendukung pernikahan beda agama. Hal ini didasari oleh keadaan gue yang sekarang juga sedang menjalani hubungan beda agama. Menurut gue, dua hal ini berbagi inti pesan yang sama, yakni hak mendasar setiap manusia untuk bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintainya. Gue tahu bener rasanya menjalin hubungan beda agama, yang menurut gue juga mungkin dirasakan oleh orang-orang yang menjalani hubungan sesama jenis, yakni resistensi dari banyak pihak. 

Ketika gue melihat dan membaca berita tentang ini, gue seneng banget. Gue merasa simpati, mungkin juga empati, dengan mereka yang sudah lama sekali memperjuangkan hal ini. Sayangnya, di Indonesia malah terjadi sebaliknya, Mahkamah Agung menolak permintaan untuk melihat kembali undang-undang pernikahan, which mean negara (dan masyarakat) Indonesia masih belum bisa menerima adanya pernikahan beda agama.

Hukum menjadi solusi dan awal mula yang bagus kalo kata Macklemore. Ketika hukum, dalam hal ini negara, memandang semua orang itu sama, equal, dan melindungi hak semua orang, semua warga negara untuk dapat bersatu dengan orang-orang yang dicintainya, maka secara perlahan pola pikir masyarakat juga akan berubah. Pergolakan sosial yang terjadi di masyarakat memang akan selalu berubah dari zaman ke zaman, semua itu pasti ada pro-kontranya, tapi gue percaya banget, cinta itu datang bukan karena pilihan, tapi udah dari sananya.

Alasan-alasan inilah yang membuat gue mendukung same-sex marriage. Alasan-alasan ini yang ikut membentuk gue menjadi pribadi yang seperti sekarang.

"No freedom 'til we're equal, damn right I support it"
 Macklemore & Ryan Lewis - Same Love

21/06/15

Kenapa Harus ke Barbershop?

Hey-ho! Bagaimana kabar kalian hari ini? Gue mau berterima kasih dulu nih kepada semua pembaca yang sudah mampir ke blog gue karena minggu lalu seusai gue me-review Three Buns, ternyata terdapat loncatan pembaca yang sangat signifikan (bagi gue). Tulisan review Three Buns ternyata mampu menarik perhatian 100 pembaca, damn! That was a fantastic number! Terima kasih sudah mau mampir dan membaca blog gue, gue jadi makin semangat menulis review tentang the best hangout place in town!

Sore ini setelah gue bermalas-malasan di kosan, gue memutuskan untuk saatnya potong rambut. Wait, potong rambut? What's the relevancy with the best hangout place in town? Ini dia pertanyaan yang perlu gue jabarkan buat kalian. Bagi kalian yang masih asing dengan istilah barbershop, sebetulnya bermakna sama dengan tempat cukur/pangkas rambut yang biasa ada di pinggir jalan dekat-dekat rumah kita (I used to go to pangkas rambut lho dulu hingga SMA). Istilah barbershop sendiri di Indonesia mulai kian ramai beberapa tahun belakangan ini. Ada sebuah barbershop fenomenal di Jakarta (bukan barbershop ini yang mau gue review) yang mampu memberikan domino effect terhadap lifestyle anak-anak muda Jakarta (dan pada akhirnya di kota-kota lain di Indonesia).

So, what is barbershop? Bagi gue, secara fundamental, yang membedakan pangkas rambut dengan barbershop adalah: 1) Fasilitas; 2) Jenis layanan; 3) Produk pendukung untuk gaya/kesehatan rambut; 4) Kenyamanan. Fasilitas tentu memberikan penampilan yang berbeda antara barbershop dengan tempat pangkas rambut, AC misalnya, membuat kita tetap nyaman di ruangan. Barbershop juga biasanya memberikan pelayanan yang berbeda-beda, ada yang cukur saja, cukur + pijat, dan lain-lain. Pelayanan itu tentuya dibanderol dengan harga yang berbeda-beda pula. Di barbershop juga biasanya menyediakan produk-produk yang bisa kita beli untuk menunjang gaya/kesehatan rambut kita, dan biasanya kita juga akan diajarkan cara penggunaannya, dari vitamin, pomade/minyak rambut, hingga berbagai jenis sisir, biasanya tersedia di barbershop. Terakhir, nah ini yang akan gue bahas lebih dalam, adalah kenyamanan. Bukan maksud hati mengatakan bahwa di pangkas rambut tidak nyaman, namun di barbershop (menurut gue) kenyamanan merupakan penilaian paling vital bagi seorang pelanggan untuk kembali lagi kesana, alasannya pun beragam, tapi buat gue, yang terpenting adalah peran si barber (tukang potong rambutnya) itu sendiri.

###


Sore ini gue mampir ke barbershop favorit gue, Barberoom. Setiap bulan gue selalu kesini untuk potong rambut dan bercengkerama dengan orang-orang di dalamnya. Terhitung gue udah 9 bulan lebih bolak-balik Barberoom dan udah ketemu sama yang punya (sore ini ga ketemu), manajernya, hingga barber langganan gue.

Sebagai sebuah barbershop, Barberoom memberikan fasilitas yang oke dan pelayanan yang beragam. Barber-barber yang ramah menjadi nilai plus Barberoom. Gue sendiri kalo dateng ke Barberoom pasti langsung disambut oleh semua stafnya dan pasti yang nanganin gue adalah barber langganan gue (kita bisa memilih mau dilayani oleh barber yang mana). Gue dateng, buka pintu, disapa, dikasih tempat duduk, dikasih teh (kalo lagi ga bulan puasa), dan akan diajak ngobrol-ngobrol. This is what makes barbershop, or in this case Barberoom, the best hangout place in town.

"This is a barbershop, not a hair salon. You came here not to impress anyone, but to get the best service while talking with your fellow about sports, women, relationships."

Memang cuma cewek yang bisa ngegosip? Cowok juga bisa kali. I spend many hours in Barberoom usually to have a good laugh on everything! From job, women, into relationship. Meski sudah selesai mendapatkan pelayanan, gue biasanya masih akan stay untuk ngobrol atau sekedar menyeduh teh hangat di sini.




Kalian juga bisa konsultasi mengenai gaya rambut terkini atau gaya rambut apa yang paling cocok dengan kalian. Produk-produk yang disediakan juga tentunya akan dicocokkan sesuai dengan gaya kalian. Barber-barber yang ramah ini akan membimbing kalian untuk jadi gentlemen.


Ini adalah a'a Agus, barber langganan gue yang udah tahu gaya rambut gue kayak gimana dan gak pernah berubah sejak 9 bulan terakhir. "Eh, a'a Ozil dateng," sapa a'a Agus setiap kali gue dateng ke Barberoom. A'a Agus adalah barber yang ramah, lucu, dan cabul, haha. Gue akan selalu dibuat ketawa dengan cerita-cerita jenakanya setiap kali datang kesini. Fun fact dari a'a Agus, bahwa kebanyakan barber di Indonesia berasal dari Garut! Gak percaya? Coba kalian tanya asal para barber ini. Dulu gue pernah bilang sama a'a Agus, jangan-jangan di Garut itu ada sekolah barbernya, dan doi dengan santai menjawab, "Kita mah gak perlu sekolah barber a', kita mah udah jago potong memotong rambut dari lahir. Sama jagonya kayak merayu wanita, haha." Geli bener gue dengernya, haha.

Oke, jadi kalian sudah tahu kenapa gue ke Barberoom setiap bulannya. You will get the best service, the best advice, and the best laugh in here. I definitely recommend you to stop by and have a good time here. This is the best hangout place in town!

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: barberoom.co

13/06/15

People Who Love to Eat are Always the Best People

Halo! Udah lama banget gue gak nulis di blog! God, my work seems like never ending! Nice to write again in this lovely afternoon! Eits, tapi sekarang gue lagi nulis gak di sembarangan tempat nih. Gue lagi nulis di salah satu tempat paling hitz di Jakarta.

So, I'm planning to improve my blog by not only writing personal things but also some review. As some of you have known that my blog start to review books (sorry, belum sempet baca-baca buku lagi nih) and now I'm going to review the best hangout place in town! Dari mana ide ini bisa muncul? Let me tell you the story.

Mau Jadi Influencer

Sejak gue bekerja di salah satu PR agensi paling bergengsi di dunia (remind me to write a story about it), gue mulai mengurus keberangkatan beberapa blogger dan influencer untuk klien-klien gue. Saat itu gue mikir, "Damn! Kenapa gue ga bisa kayak mereka yang dibayar untuk hal yang mereka suka? They simply write their experience for some of the most interesting event in the world!" dan ternyata semesta mendukung.

Beberapa minggu setelah gue mengirimkan influencer dan blogger-blogger itu ke luar negeri, gue bertemu dengan salah satu dedengkot dunia maya, mas Rane. Gue ketemu di sebuah acara yang diselenggarakan oleh klien gue, and I talk a lot with him.

"Mas, kok enak ya jadi influencer gitu? Mereka dibayar cuma untuk nulis," gue bilang sama mas Rane.

"Iqbal, lu juga bisa kali kayak gitu. Yang penting lu tau apa yang lu suka, lu tulis deh. Sisanya hanya tinggal konsisten aja untuk terus nulis," jawab mas Rane.

Perbincangan kami memakan waktu berjam-jam saat itu dan akhirnya membuat gue bertekad untuk nulis tentang hal-hal yang gue suka. I love to hangout, I love to eat and drink, I love to talk with people, and I love to write! Akhirnya gue memutuskan untuk menulis tempat-tempat hangout asik di Jakarta dan (masukkan dari mas Rane) tempat-tempat makan terpencil semacam kaki lima yang bisa memutarbalikkan lidah lu 180 derajat! So, start from now, every weekend I will write them down in my blog. Are you excited as I am?! Yeeehaaaa!

Eat Burger and Drink!

For my first attempt, gue milih Three Buns, sebuah tempat makan asik yang bisa dibuat hangout sama temen-temen lu. Where did I know this place from the very first place? My best friend of course! Waktu itu gue janjian mau ketemu sama salah satu temen lama gue, seorang pengacara yang lagi galau mau ngelanjutin karir cemerlangnya atau mau mengajar untuk kemaslahatan bangsa, mas Rifky. Back to the story, waktu itu kita sama-sama clueless mau ketemuan dimana, sampai akhirnya dia bilang, "Hey, I know a good place to meet, Three Buns!" and so we're off!


Three Buns merupakan sister company dari Potato Head, another great place to hangout, which explain a lot about the uniqueness of the place. Three Buns dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kesan taman bermain yang terinspirasi dari New York Central Park (I have never been there, so I can't explain a lot). Mereka percaya bahwa masyarakat Indonesia itu perlu tahu nikmatnya burger, a real burger! Mereka mengusung visi, "A homemade burger, made from heart", keren banget kan? The burger in here was so delicious! Sayang mereka harus mengurangi ukuran burgernya karena banyak pelanggan yang komplain ukurannya kegedean untuk takaran orang Indonesia (really guys? Come on!).


Dari luar kalian akan melihat sebuah trailer kecil bergambar kepala bulldog (their mascot), and once you got in, wow, believe me, you will be fascinated! Look at some of the photo below!



Sore ini gue memutuskan untuk ketemu dengan orang Three Buns, dan gue disamperin oleh Jessica Eveline, Head Chef Three Buns yang bertugas menjaga kualitas makanan dan minuman yang mereka sajikan. Jessica berbicara banyak tentang Three Buns dan burger. Pengunjung Three Buns sangat beragam, dari anak-anak muda sampai bule-bule yang sekedar mau minum di bar mereka. Hari-hari kerja biasanya dipenuhi oleh orang-orang kantoran yang cari makan siang dan akhir pekan akan dipenuhi oleh anak-anak muda dan bule-bule.


Di sini lu bisa ngerokok, minum alkohol, dan ada wifinya. Kurang apa coba? Kurang makanannya? Let me show you my menu this afternoon:


Gue pesen menu Street Truff dengan minuman Beerootscola. Gak usah ditanya lagi, Three Buns memang jagonya burger. Mereka menyajikan berbagai macam burger, dari burger dengan daging sapi, babi, hingga Four Floor, burger 4 lantai yang bisa bikin mulut lu kepenuhan. Untuk minuman, mereka menyajikan minuman soda, bir, hingga alkohol.

In my honest opinion, they have everything it takes to be the best hangout place in town. I really, really, really, recommend you to come!

For more details, visit: threebuns.com