14/05/12

Konsep Tuhan #2

Jika pada tulisan saya sebelumnya, saya mengajukan argumen betapa aktif Tuhan itu, pada tulisan saya kali ini saya akan menawarkan argumen yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Argumen ini sebenarnya diajukan oleh teman saya, dan saya akan mencoba mengembangkannya.

Dalam buku History of God, Karen Armstrong sempat menawarkan teori "tanpa sebab" adanya Tuhan. Tuhan ada tapi tidak ada yang tahu mengapa Dia ada. Saya agak lupa siapa yang mencetuskannya pertama kali, antara Plato atau Aristoteles, yang pasti filsuf Yunani. Berangkat dari sini, saya ingin mengembangkan peran Tuhan dari yang ada tanpa sebab, menjadi ada dan merupakan seorang spektator.

Kenapa spektator? Argumen ini akan saya kaitkan kepada perkataan Baron of Holbach, yang lagi-lagi saya kutip dari buku Karen Armstrong, yakni "religion created Gods because people could not find any other explanation to console them for the tragedy of life in this world". Manusia merupakan mahkluk terpintar yang pernah ditemukan sampai sekarang. Kemampuan manusia dalam beradaptasi dan berpikir menjadi kelebihan utamanya untuk mampu bertahan dari teori seleksi alam milik Darwin. Manusia sering mengandalkan ilmu sains untuk menjelaskan banyak hal, sayangnya, ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan menggunakan ilmu sains. Agama dan konsep Tuhan merupakan cara untuk menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu sains tersebut. Mungkin itu sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Baron of Holbach secara garis besarnya.

Spektator dalam tulisan saya dimaksudkan sebagai hal yang tidak terpisah dari penciptaan alam semesta. Tuhan menciptakan alam semesta, tetapi Dia tidak melakukan apapun untuk mengubah apa yang sudah dibuatnya. Dia hanya melihat dari singgasananya. Pada saat penciptaan alam semesta, dunia sudah dibuat dengan rinci akan siklus yang tak akan berhenti. Di satu sisi memang ini terdengar seperti ketiadaan hari akhir atau kiamat. Dunia akan tetap ada, tetapi dia akan bersiklus secara terus-menerus. Dari satu zaman es, ke zaman es lainnya, dari zaman dinosaurus, ke zaman dinosaurus lainnya, dan terus-menerus bersiklus. Tapi ketiadaan manusia dalam hal ini saya aminkan adanya hari akhir atau kiamat. Hari kiamat untuk manusia itu ada, tetapi bukan untuk alam semesta. Mahkluk lain akan mengisi apa yang ditinggalkan oleh manusia. Dan Tuhan pada sesi ini akan tetap sebagai spektator. Dia hanya melihat siklus ini terus terjadi untuk waktu yang tidak ditentukan.

Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan akan seperti apa peradabannya berlangsung. Kerusakan alam, global warming, dan lain-lain merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri. Sejalan dengan itu, siklus alam terus berputar. Yang bisa dilakukan manusia adalah terus bertahan dari seleksi alam-nya Darwin.

Sebagai penutup, saya mau mengaitkan argumen ini dengan adanya kepercayaan bahwa ada mahkluk lain yang lebih dulu hidup dan bahkan lebih maju dan canggih peradabannya daripada manusia. Misteri Atlantis mungkin bisa menjadi contoh peradaban tersebut. Bagaimana kemudian jika hal itu benar? Bahwa ada yang lebih dulu hidup dan berkembang sebelum manusia, hingga mencapai suatu titik dimana mereka mencapai hari akhirnya? Dan manusia menjadi siklus berikutnya dari perhitungan awal Tuhan? Sekian.

13/05/12

Social Monster

Permasalahan politik tidak akan jauh dari masalah sosial. Itu sebabnya di UGM ilmu sosial dan ilmu politik disatukan dalam satu fakultas. Mungkin juga di beberapa universitas lainnya. Mengapa demikian? Saya tidak akan membahas hubungan antara ilmu politik dan ilmu sosial di tulisan saya kali ini. Kesempatan ini akan saya gunakan untuk menuliskan opini saya tentang orang-orang sosial, terutama mereka yang tergolong social monster.

Saya bukan orang yang ahli dalam ilmu sosial ataupun ilmu politik, ini hanya opini saya saja lho. Menurut saya, orang-orang sosial itu ada banyak macamnya. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang sosial itu ada yang tidak mudah/sulit bersosialisasi! Ya, saya akan membahasnya sedikit di sini, tapi bahasan utama saya adalah mengenai orang sosial yang tergolong social monster. Ini adalah istilah yang mungkin saya gunakan, mungkin juga sudah ada yang lebih dulu menulis tentangnya, untuk orang-orang yang pandai bersosialisasi, atau bahkan karena terlalu pandainya sampai dibilang monster.

Jangan kaget jika bertemu orang sosial (orang yang mendalami ilmu sosial) yang tidak pandai bersosialisasi. Dalam beberapa literatur, hal ini dibahas secara mendalam oleh para ahli. Bagi saya, alasan utama mereka tidak pandai bersosialisasi adalah mungkin karena mereka merupakan pengamat sosial. Saya pernah mendengar seorang dosen saya bercerita, peneliti ilmu sosial (orang sosial) ada yang sifatnya takut/tidak mau bertemu dengan objek penelitiannya. Dia lebih memilih untuk mengkajinya secara studi literatur ketimbang penelitian lapangan. Entah mengapa demikian. Tapi itu nyata! Yang mau saya perjelas di sini adalah, ada lho orang sosial yang tidak pandai bersosialisasi. Jadi jangan taruh stereotype bahwa semua orang sosial itu pandai bersosialisasi. Itu semua kembali pada individu masing-masing.

Nah, sekarang kita sampai pada inti pembahasan. Istilah social monster saya gunakan untuk orang-orang yang terlalu pandai bersosialisasi. Mengapa terlalu pandai? Ya, ada orang yang bahkan ketika dia berbicara, dia mampu memakan nafsu berbicara lawannya. Kita akan menemukan ini pada orator-orator ulung, diplomat-diplomat, atau bahkan provokator. Saya pernah atau bahkan sering bertemu dengan social monster ini. Jika kita dekat dengannya, kita selalu ingin mendengar kata-katanya, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu seperti wahyu yang keluar dari mulut nabi, seringkali sulit untuk dibantah. Mungkin itu biasa, yang luar biasa adalah ketika kita selalu mengharapkan kehadirannya di setiap acara. Kita selalu dapat dibuat menganga dengan kata-kata para social monster ini. Hebat kan? Contoh yang paling tepat adalah Mario Teguh. Jika kita tidak mengenal agama, mungkin kita bisa mengatakan beliau adalah nabi, haha. Kata-katanya selalu menginspirasi kita bukan?

Social monster ini sendiri tidak jarang memiliki kemampuan mematahkan argumen atau memakan nafsu berbicara lawannya. Mengapa memakan nafsu berbicara? Karena apa yang ingin kita katakan sudah terwakili oleh kata-katanya. Dan hebatnya lagi, ini bisa digunakan untuk memprovokasi orang-orang di sekitarnya. Penggerakkan massa adalah contoh nyata tindakan provokasi para social monster. Jika digunakan untuk demo yang benar tentu tidak mengapa, tapi bagaimana jika digunakan untuk hal-hal yang tidak baik seperti menghasut seseorang?

Kemampuan social monster ini ada yang didapat dari bakat/sejak lahir sudah memiliki kemampuan ini, ada yang didapat melalui pengalaman, dan ada juga yang memang sengaja dipelajari. Berapa banyak sekarang buku-buku yang membahas tentang tata cara bicara seorang social monster? Semua orang sekarang bisa menjadi social monster. Dan dari sini, ada satu lagi argumen yang ingin saya tawarkan. Menurut saya, tidak bisa ada lebih dari satu social monster dalam suatu forum. Karena jika ada, akan menimbulkan friksi atau bahkan aura yang bertentangan. Meskipun demikian, tidak jarang ditemukan dua social monster dalam satu forum, tetapi yang terjadi adalah, hanya ada satu social monster yang aktif. Dalam kata lain, ada yang mengalah.

Pada akhirnya, social monster adalah sebuah istilah. Apakah baik atau buruk itu terserah kepada pandangan Anda. Bagi saya, social monster adalah keinginan dan usaha dari setiap individu untuk menjadi individu yang lebih dapat dikenal dan diterima masyarakat.

Melukis

Beberapa hari yang lalu saya baru saja mengunjungi museum Affandi yang ada di Yogyakarta. Affandi Koesoema adalah seorang maestro lukisan terkenal dari Indonesia pada tahun 1940-1990. Beliau juga menjadi saksi atas perjuangan Indonesia dalam memerdekakan diri. Salah satu karyanya yang terkenal pada saat masa perjuangan adalah poster "Boeng Ajo Boeng!" yang sejarahnya menurut saya lucu. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan berkunjung ke museum Affandi.

Ketertarikan saya terhadap seni rupa mungkin sudah ada sejak saya duduk di bangku SD. Kakak saya adalah inspirasi saya, kami berdua dulu senang menggambar bersama. Dari sana saya seringkali secara sengaja menggambar di halaman paling belakang buku pelajaran saya. Tapi entah semenjak kapan saya berhenti menggambar. Dan terkadang, perasaan ingin menggambar selalu menghantui saya.

Saya selalu menganggap seni sebagai kekurangan saya. Bukan maksudnya saya tidak menyukai seni, bahkan mungkin saya sangat menyukai seni, tapi mungkin terkadang saya kurang memahaminya. Maksud saya dengan kekurangan adalah saya selalu bingung jika ditanya bisa apa dalam seni. Berseni bisa banyak artinya, tidak hanya menggambar atau hanya bermusik. Berseni teater atau akting juga bisa disebut seni. Masalahnya, saya tidak menguasai satu pun.

Kunjungan saya ke museum Affandi membangkitkan gairah saya untuk berseni. Memang, saya pernah diajarkan bermain gitar oleh kakak saya yang juga menginspirasi saya untuk menggambar, tapi tidak terlalu serius. Sekarang saya merasakan dilema untuk menjawab permasalahan ini. Haruskah saya mendalami permainan gitar saya? Atau saya belajar melukis dari nol? Jujur saya lebih condong ingin melukis karena lebih bisa mengekspresikan apa yang ada dalam perasaan saya. Tetapi kemudian, dengan ketersediaan waktu dan biaya, apakah semuanya memungkinkan?

Seorang sahabat pernah berkata, "tidak ada kata terlambat untuk belajar". Mungkin melukis bisa menjadi sisi lain kehidupan saya. Atau mungkin juga Anda?

11/05/12

Mungkin Kami Memang Tidak Ingin Kamu Pergi

Sedih, bukan bosan. Kami bukannya tidak mau anakku, kami hanya takut jika kamu benar-benar pergi jauh dari pelukan kami. Pernarkah terbersit di pikiranmu semua ini? Tidakkah kamu akan rindu dengan kami?

Setiap kali kamu membuka pintu putih rumah kita, kamu menyalami kami dengan senyum dan mencium kedua pipi kami. Kami rindu kamu anakku, kami mungkin tidak mengatakannya, kami hanya mengekspresikannya. Mami buatkan kamu masakan yang kamu suka dan papa ajak kamu berbicara tentang hal-hal kesukaanmu, politik dan hukum. Kakak-kakakmu bukannya juga sudah mencurahkan rindunya padamu? Mereka mengajakmu pergi dan bermain. Tentu, malam adalah saat yang paling tepat untuk berkumpul. Papa dan kakak-kakakmu pulang kerja, dan mami selesai memasak masakan untuk makan malam. Kita bersenda gurau dan mengobrol bersama di atas meja makan kesayangan kita.

Sore itu, kamu bilang pada kami ingin mencari beasiswa ke luar negeri. Kami langsung sepakat berkata tidak usah. Bukan, bukan karena kami tidak memiliki cukup uang untuk membiayaimu, kamu sendiri juga memaksa mencari beasiswa penuh. Kami khawatir, khawatir kamu terpesona dengan dunia luar. Seperti ayah Siddharta Gautama, seperti kisah Bubble Boy, kami hanya orang tua yang khawatir.

Jika kamu sakit bagaimana? Apakah kamu sudah makan? Apakah di sana akan selalu dingin? Kami akan selalu ingat kebiasan-kebiasan kamu yang baik maupun buruk. Kami adalah darah dagingmu, kami tahu. Kamu suka sekali dengan selimut, meskipun ketika tidur malam, paginya kamu berkeringat kepanasan. Kami tahu kamu harus mandi selama 30 menit setiap pagi. Kami selalu ingat jam makan malammu yang ngawur jika kami tidak paksa. Jangan tanya bentuk kasih sayang, karena kami tidak bisa mendefinisikannya.

Mungkin memang kami yang tak mau kamu pergi. Maafkan kami.

Konsep Tuhan #1

Beberapa hari belakangan saya sempat mengobrol dengan beberapa teman mengenai konsep Tuhan. Apakah benar Tuhan itu ada? Darimana asalnya? Apa tujuan keberadaannya? Semua pertanyaan itu bukan berarti kami, saya khususnya, meragukan keberadaan Tuhan, tetapi adalah hal wajar bagi manusia untuk bertanya-tanya. Bukankah itu yang membedakan kita dengan mahkluk lainnya?

Ada banyak sekali pendapat mengenai konsep keberadaan Tuhan. Mungkin saya akan membuat ini menjadi tulisan berseri. Yang pertama, saya akan mencoba menjelaskan konsep Tuhan yang saya dapat dari sebuah game.

Pernah bermain game Black & White? Ya, sebuah game PC yang bergenre strategi ini menempatkan kita sebagai sosok Tuhan bagi berbagai macam umat. Game ini berawal dari sebuah drama ketika ada anak manusia yang tenggelam dan kemudian dikelilingi oleh sekelompok ikan hiu. Orang tua anak itu kemudian berdoa untuk mendapat pertolongan Tuhan, dan saat itulah permainan dimulai. Uniknya, konsep Tuhan ini berawal dari sebuah doa yang sederhana. Satu Tuhan kemudian tercipta dari sebuah dimensi lain dimana partikel-partikel hitam putih berkumpul. Permainan kemudian berlangsung, tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan Tuhan lain dengan cara membuat para pemujanya beralih menjadi memuja kita.

Dari permainan game ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu ada banyak. Tetapi hanya beberapa yang dapat bertahan karena mereka saling berebut pemuja. Intinya, pujaan yang dipanjatkan menjadi sumber utama kekuatan untuk bisa melakukan berbagai macam keajaiban. Musibah seperti gempa bumi, badai, dan lain-lainnya merupakan wujud peperangan antar Tuhan tersebut dalam memperebutkan kekuasaan.

Jika kita kaitkan dengan kehidupan di dunia yang sebenarnya, banyak sekali konsep Tuhan yang berbeda-beda antara kaum yang satu dengan yang lainnya, contoh seperti masyarakat Mesir kuno yang percaya terhadap dewa Ra, Anubis, dan lain-lain, masyarakat Yunani kuno yang percaya terhadap dewa Zeus, Hades, dan lain-lain, masih banyak contohnya. Seiring dengan perkembangan kemudian dewa-dewa ini tidak bisa memenuhi keinginan manusia. Hipotesis saya kemudian lahir agama-agama monotheis dengan Tuhan yang baru akibat jawaban dari doa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Karena pengikutnya banyak, Tuhan monotheis ini kemudian dapat menghancurkan peradaban kepercayaan kaum-kaum kuno tersebut. Seperti kisah Musa yang menghancurkan Firaun, Isa atau Yesus yang menghancurkan Romawi, dan lain-lain.

Baiklah, sekian tulisan saya mengenai konsep Tuhan yang pertama. Perlu diingat, ini hanya sekedar opini. Saya perlu menekankan hal tersebut karena belakangan ini di Indonesia sering terjadi pembatasan berpendapat, apalagi jika berkaitan dengan soal agama. Akhir kata, selamat malam.

09/05/12

Aku Bukan Padi

Bukankah kita sama?
Kita sama-sama menua dari waktu ke waktu.
Ilmu yang kita dapatkan apakah akan berguna?
Hanya Tuhan yang tahu.

Bukankah kita sama?
Kita sama-sama memegang amanat dan janji buta.
Tanpa tahu masa depan, menerka masa depan.

Mungkin aku bukan padi, yang merunduk ketika semakin berisi?
Mungkin aku mangkuk. yang terisi lalu kosong lagi?
Atau mungkin aku pipa tua, yang hanya bisa menghisap tanpa ada isi?

Aku tak bisa sepertimu yang menatap langit luas dan menerjang ombak.
Aku tak tega memotong kata dari setiap mulut yang berbicara.
Aku bukan panglima yang berdiri penuh keberanian dan kebijaksanaan.
Dengan serdadu-serdadu yang membela dari belakang dan dari depan.

Hidupku tak sepadat dan semenarik kata-kata dalam gulungan perkamen para wisudawan.
Mungkin aku hanya berusaha mencari hidup yang lain.
Melewati pagi yang penuh dengan awan.
Dan malam, malam yang kunanti penuh dengan kedamaian.

Para Monster, Dewa, dan Alat Ajaib

Suatu hari, hiduplah 4 monster raksasa di suatu pegunungan. Mereka tidak bisa hidup rukun, selain karena mereka memiliki ukuran yang besar, mereka juga memiliki kebiasaan yang aneh.

Yang paling tua, berwarna abu-abu, sukanya berpergian dan menyendiri, jika diganggu dia akan mengamuk. Yang kedua, berwarna ungu, sukanya berbicara tetapi tidak mau mendengar. Yang ketiga, berwarna hijau, sukanya makan apa saja. Dan yang paling kecil, berwarna merah, sukanya tidur.

Suatu ketika saat mereka bertengkar, turunlah seorang dewa. Dewa itu memarahi mereka karena seringkali saling bertengkar satu sama lain. Untuk mencegahnya, maka sang dewa memberikan masing-masing monster tersebut sebuah alat ajaib. Yang tertua diberikan sebuah gelas ajaib yang berisi air berbagai macam rasa buah. Jika habis, maka akan dengan sendirinya terisi kembali dengan rasa buah yang berbeda. Yang berwarna ungu, diberikan bantal yang barang siapa memakainya maka dia tak akan bisa tidur. Yang berwarna hijau diberikan sebuah gulungan perkamen yang berisi kata-kata bijak. Dan yang paling kecil, diberikan sebuah cermin yang bisa melihat kemauan seseorang.

Selepas perginya sang dewa, monster-monster tersebut mencoba alat-alat ajaib tersebut. Yang tertua membawa gelas itu kemanapun dia pergi, suatu ketika dia haus dan meminumnya. Lalu dia berpikir, gelas ini akan jauh lebih bermanfaat apabila diberikan kepada adiknya yang suka makan. Yang berwarna ungu tidak suka dengan bantal tersebut, karena baginya tidak ada manfaatnya sama sekali. Dia pikir akan lebih baik jika diberikan kepada adiknya yang tukang tidur. Yang berwarna hijau malah bingung dengan makna kata-kata yang ada di gulungan perkamen, karena dia tidak punya petunjuk maka ia meminta kakak tertuanya untuk menjelaskan kepadanya arti dari setiap kata-kata tersebut. Dan yang terkecil tidak peduli dengan cerminnya, dia tetap tidur dengan pulas.

Ketika yang tertua kembali ke pegunungan untuk menemui sang adik yang berwarna hijau, dia memberikan gelasnya. Sang adik kemudian meminumnya terus, terus, dan terus. Karena sibuk meminumnya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi lapar. Dan ketika ia sadar, ia berhenti meminumnya dan memeluk kakaknya. Dia pun meminta kakaknya untuk menjelaskan arti kata-kata bijak yang ada di gulungan perkamennya. Sang kakak yang terbiasa menyendiri dan memaknai berbagai macam fenomena alam, mengerti betul kata-kata bijak tersebut. Seiring dengan menjelaskannya kepada adiknya, sang kakak menjadi tahu akan arti kebijaksanaan.

Sedangkan yang berwarna ungu dengan kesal membawa bantalnya kepada adiknya yang berwarna merah. Dengan diam-diam, si kakak mengangkat kepala adiknya dan menaruh bantalnya dibawah kepala sang adik. Terbangunlah si kecil dari tidurnya. Tetapi karena malas, dia tetap merebahkan tubuhnya tetapi tidak dapat tidur. Sedangkan kakaknya yang tertawa melihat adiknya yang malas, tidak sengaja menengok ke cermin ajaib milik adiknya. Saat dia melihat cermin tersebut, sang kakak tahu bahwa sebenarnya yang dia inginkan adalah untuk didengar oleh orang lain, dan untuk itu dia harus belajar untuk mendengar orang lain terlebih dahulu.

Setelah saling tukar, keempat monster tersebut saling berbagi. Yang tertua kemudian menceramahi ketiga adiknya dengan bijak, yang ungu karena dia ingin didengar, maka ia mendengar kakaknya dengan baik, dan seiring dengan itu dia belajar untuk berbicara lebih bijak lagi. Yang terkecil menjadi tidak malas dan mau bangun dari rebahannya. Dan ketika mereka semua haus, yang hijau memberikan gelasnya untuk diminum bersama. Ketika mereka lelah, mereka bisa menggunakan bantalnya untuk beristirahat tanpa harus menjadikan mereka malas.

Pada akhirnya, mereka secara bersama-sama melihat pada cermin keinginan. Ketika mereka berempat bercermin, tidak ada yang istimewa. Mereka hanya melihat diri mereka berempat di depan cermin. Mereka kebingungan. Dan saat itu juga dewa turun menemui mereka dan menjelaskan kepada mereka. Sebetulnya yang mereka inginkan sejak awal adalah untuk hidup bersama secara rukun. Setelah keempatnya sadar akan keinginan mereka, sang dewa mengambil kembali alat-alat ajaib tersebut. Seiring waktu, keinginan mereka untuk hidup bersama secara rukun menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk hidup bersama secara rukun dan saling melengkapi.