10/03/14

Terima Kasih, Neil Strauss

Saya telah menyelesaikan salah satu buku yang saya beri poin penuh (bintang lima) di akun Goodreads saya. Buku berjudul "The Game: Penetrating The Secret Society of Pickup Artists" karya Neil Strauss ini memakan waktu satu bulan bagi saya untuk menyelesaikannya. Saya sangat antusias membacanya dan 452 halaman tidak menjadi masalah serius bagi saya. Dan pada akhirnya, seperti buku-buku bagus lainnya yang memberikan saya lebih dari sekedar cerita, tidak ada yang dapat saya katakan selain berkata, "Terima kasih, Neil Strauss."

The Game
Suatu kebetulan memang ketika saya menemukan buku ini di rak bawah toko buku Periplus Malioboro. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mencari buku-buku yang aneh-aneh di setiap toko buku, dan untungnya saya dipertemukan oleh buku yang tersisa satu ini ketika itu. Berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas langsung menarik perhatian saya. Ukurannya yang kecil ternyata tidak mencegah buku ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan saya.

Buku ini singkatnya bercerita tentang seorang penulis majalah RollingStones yang mendapat tugas untuk menulis tentang sebuah komunitas pickup artists yang mulai tren di masanya. Diawali dengan ketidakpercayaan, Neil Strauss menerima pekerjaan tersebut dan menemukan bahwa dirinya telah tersedot dalam dunia yang selamanya akan merubah dirinya dan jutaan pembaca buku ini. Selama dua tahun penuh dia menyelami (sambil meminum juga) dunia pickup artists. Belajar mengenai trik-trik bagaimana untuk mendekati wanita hingga membawanya ke kamar (tidak selalu) untuk "dijelajah". Di tengah perjalanan, Neil Strauss bertemu dengan berbagai macam karakter yang di dalam bukunya hanya dituliskan dengan nama alias atau kode sandi mereka sebagai pickup artists, dan juga sempat berinteraksi dengan artis-artis papan atas Hollywood.

"To win the game was to leave it."
Ketika buku lain memberikan saya bagian-bagian favorit yang biasanya di awal atau di tengah cerita, buku ini memberikan efek yang luar biasa di akhir cerita. Saya tidak akan memberitahu Anda bagaimana buku ini akan berakhir untuk tetap menjaga ketertarikan Anda untuk membacanya, tapi saya ingin berbagi sedikit kesan saya terhadapnya. 

Neil Strauss berhasil menjalani mimpi mayoritas laki-laki normal di dunia untuk bisa tidur dengan berbagai macam wanita cantik di seluruh dunia. Sebuah dunia yang akhirnya harus dengan rela ia tinggalkan demi kebaikan hidupnya. Lalu apa yang menarik? Seperti yang tertera di sub bab tulisan saya ini, permainan usai ketika kita pergi meninggalkannya. Apa yang terjadi selama dua tahun dalam hidup Neil Strauss, dan mungkin juga kita yang sudah membacanya, bukan lain hanyalah sebuah permainan. Permainan yang harusnya kita mainkan dengan tujuan agar kita tidak terjebak di dalamnya untuk waktu yang lama. Permainan berbahaya yang mampu membuat siapapun rela meninggalkan hampir semuanya: kekayaan, kesehatan, waktu, pendidikan, bahkan masa depan untuk dapat bermain dengan sangat baik di dalam permainan ini.

Buku ini berhasil me-reset semua yang terjadi dalam pikiran pembacanya untuk kembali melanjutkan hidup dan berhenti memainkan permainan ini ketika kita selesai membacanya. Permainan ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah alat bagi kita untuk mencapai tujuan awal untuk mempelajari dunia pickup artists. Apakah kita ingin menggunakannya hanya sekedar untuk bermain menemukan wanita yang berbeda setiap hari untuk menemani malam-malam yang sepi? Atau untuk mencari the one yang akan menemani kita hingga akhir hayat? Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Sekali lagi, "Terima kasih, Neil Strauss."

07/03/14

Nyanyian Kantin

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya sudah jarang sekali untuk pergi ke kampus. Yah, paling satu atau dua kali untuk sekedar bertemu dosen atau mengurus keperluan skripsi. Saya juga sudah tidak berurusan dengan politik kampus, fakultas, atau jurusan yang biasanya tidak saling peduli satu sama lain. Saya hanya sekedar mendengar angin gosip yang berterbangan tanpa punya kendali atau kekuatan yang valid sebagai pengurus organisasi ataupun semacamnya. 

Fakultas saya tercinta di Bulaksumur terlihat rindang-rindang saja dengan angin sayu yang mendayu. Gedung-gedung baru megah berdiri, tempat parkir yang meluas mengundang lebih banyak kendaraan untuk parkir di sana, dan tentunya didominasi oleh kendaraan para mahasiswanya. Siang ini saya ke kampus datang sekedar untuk main, bertemu dengan teman-teman yang masih mengambil mata kuliah. Selain itu saya juga ingin mengecek gosip tentang kantin fakultas saya yang hampir satu tahun ini "mati" tak bernyawa.

"Kamu tau gak sih, masa ibu penjaga kantin ada lagi lho!" kata seorang teman via telpon genggam.

"Ah, masa? Bukannya sudah ganti tender?" balasku sambil malas-malasan.

"Kesini deh, kita diminta dukungan untuk pengaduan masalah kantin sama si ibu."

"Siang ya aku kesana."

Siang datang, matahari tegap berdiri. Lantai yang berlapis ubin, beton-beton penyangga bangunan menyapa. Saya berjalan ke kantin untuk bertemu dengan teman-teman. Tanpa banyak bicara saya langsung mencoba salah satu penjaja makanan di kantin baru itu. Masih seperti dulu, membayar makanan pun harus ke kasir. Sejauh ini belum ada kecurigaan. Kemudian saya pun ke kasir, dan bertemu dengan ibu kantin.

"Hai bu," sapaku sambil membayar.

"Halo mas," si ibu mengambil kembalian. "Oh iya mas, saya mau minta tolong. Besok saya mau bertemu dengan pihak kampus ini, saya butuh dukungan mas dan teman-teman," si ibu memberikan buku dengan banyak catatan tangan dari mahasiswa-mahasiswi serta komplain mereka tentang kantin.

"Loh, loh, memang ada apa ya ini bu?"

"Aduh mas, gimana ya saya jelasinnya. Ya memang awalnya kontrak kami dulu kan sudah habis, lalu kan katanya mau ada perbaikan fasilitas, dicat ulang, bangku-bangku, meja-meja, dan stan-stan akan diperbaiki, diganti yang lebih bagus. Tapi ternyata kita toh tidak bisa jualan lagi."

"Walah, ini memang wewenang siapa sekarang bu?"

"Walah, mas. Saya ini wong cilik, masalah itu kan yang lebih tinggi yang tahu."

"Ini sudah saya tulis komentar saya. Coba ya bu nanti saya kasih tahu teman-teman saya yang gerak di organisasi, siapa tahu bisa bantu."

"Wah, matur nuwun lho mas!" kata si ibu terlihat senang.

Setelah itu saya kembali ke tempat duduk. Cerita yang mengalir ternyata memberi banyak informasi serta sedikit cross check. Ada yang bilang harga sekarang jauh lebih mahal dari yang dulu, ada yang bilang tidak seenak dulu, tapi juga ada yang bilang dulu sempat ada pengetesan makanan untuk penjaja di kantin oleh pihak kampus yang terbuka bagi mahasiswa. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Saya benar-benar bingung dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Apakah semua orang seperti saya? Atau hanya saya yang seperti ini karena jarang ke kampus? Kalo iya, tak apa, tapi kalo tidak, wah, bahaya. Lalu mereka yang memberi dukungan itu apakah tahu betul apa duduk permasalahannya?

Di saat-saat seperti ini saya jadi gemes dengan organisasi-organisasi kampus yang katanya kerakyatan ini. Apakah mereka sudah tahu? Kalo sudah, mereka melakukan apa ya? Apakah sudah berusaha? Jika sudah, menghasilkan apa? Tak masalah jika gagal, tapi semua harus tahu apa yang terjadi. Informasi dan transparansi harus tetap dijunjung tinggi. Jangan menunggu untuk diminta menjelaskan, mulailah menjelaskan. Buat awareness di antara kita semua, bangkitkan rasa kepedulian. Bukankah itu tugas kita semua? Tidak perlu membeda-bedakan jurusan, apalagi agama. Daripada jauh-jauh membahas soal negara atau terlalu sering membicarakan seminar-seminar skala nasional atau internasional, bagaimana jika kita memberi sedikit perhatian bagi sekitar kita? Alangkah lebih baik jika ada edaran, public hearing, atau informasi berbentuk lainnya yang bisa menjelaskan semuanya dari semua organisasi mahasiswa yang tidak terlalu jauh aktif dari isu ini, atau yang anggotanya sering mengisi perut mereka di sini. 

Dulu sempat ada vandalisme yang mempertanyakan isu ini, namun entah sudah kemana hingar-bingarnya. Katanya bersatulah, katanya kerakyatanlah, katanya perjuanganlah, katanya kekeluargaanlah, apa artinya semua jika seperti ini sekarang? Alat makan tak bisa bicara, jangan biarkan mereka terbuang sia-sia hanya karena perut ini sudah kenyang. Dulu kita sempat dihina sebagai elit berotak yang hidup dibalik jeruji beton mewah ber-AC karena tidak mau pergi ke jalan. Sekarang tidak perlu pergi ke jalan untuk membantu, terlalu jauh, dan mungkin terlalu riskan. Coba lihat dan dengar mereka yang bernyanyi di kantin.

22/02/14

Gosip Malam di Sekitar

Malam ini saya menghabiskan sekitar empat jam untuk berkumpul dan melepas tawa bersama teman-teman saya. Jogja yang malam ini dianugerahi hujan membawa kami pada suasana yang menyenangkan untuk melepas penat dengan segelas minuman hangat maupun dingin yang pas dengan lidah kami masing-masing. Kali ini saya ingin bergosip sedikit tentang dua isu yang terjadi di sekitar saya: wisuda dan agama.

Dua hari yang lalu baru saja UGM melakukan pelaksanaan wisuda gelombang pertama, yakni untuk gelombang bulan Februari. Kegiatan yang diiringi sukacita karena telah selesainya masa studi ini seharusnya menjadi ajang untuk berbenah diri, baik bagi yang wisuda maupun yang belum. Kenapa berbenah diri? Wisuda merupakan akhir dari masa studi namun juga merupakan awal bagi para sarjana memasuki dunia pekerjaan. Well, kecuali bagi mereka yang memang sudah bekerja saat sambil kuliah atau bahkan sebelum kuliah memang tidak akan terlalu kaget. 

Saya setuju dengan postingan seorang teman yang mengatakan "Jangan sombong kalo kamu lulus duluan dengan IPK cumlaude, siapa tahu kamu nanti kerja di perusahaanku." Sombong memang suatu hal yang oleh siapapun harus dihindari. Tapi alangkah baiknya jika kita, baik yang wisuda maupun yang belum, menanggapi ini dengan hal positif. Pertama, bagi yang sudah wisuda memang suatu kebanggaan untuk bisa lulus, artinya kan sudah berhasil menyelesaikan masa studi, yang bagi beberapa mungkin dirasa berat. Ya mungkin saja terkadang kita sebagai manusia khilaf dengan artian berbangga hati dengan cara yang berlebihan. Kedua, untuk yang belum wisuda alangkah lebih baik jika kata-kata seperti itu tidak keluar, meski sebagai tujuan untuk pengingat. Wong, kita kan juga sama-sama manusia, sama-sama teman, masa sih harus sampai seperti itu? Kenapa kita tidak turut menjadi bagian sukacita tersebut? Seharusnya ajang wisuda bisa menjadi instropeksi bagi diri kita, "Apa ya yang salah dengan saya? Kok teman saya sudah lulus tapi saya belum?" dan menjadi cambuk semangat untuk kita menyelesaikan masa studi dan segera masuk ke dunia kerja.

Isu kedua yang ingin saya komentari sebenarnya terpantik oleh berita pencabutan larangan atheisme di UGM. Sebelum berkomentar ada baiknya kita membaca beritanya terlebih dahulu (yang memang agak jauh relevansi judul dengan isinya):


Berita tersebut sebenarnya ingin memberi kita informasi mengenai perubahan peraturan Rektor UGM. Perubahan pasal tersebut sebenarnya bukan diawali oleh dukungan untuk mempelajari atheisme dan keberagaman agama (yang sangat saya harapkan pada awalnya sebagai institusi pendidikan yang ternama), melainkan untuk menjaga ketertiban. Peraturan tersebut sebatas pelarangan mahasiswa untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Ya, kalo saya pribadi sih tidak terlalu mempersoalkan, namun pastinya banyak yang akan responsif terhadap "judul" berita yang rasanya tidak pas dengan isinya.

Pemahaman mengenai agama adalah suatu hal yang sangat fundamental dan terkadang sangat sulit dipisahkan antara mana yang faith dan mana yang bisa diperdebatkan. Bagi banyak orang, termasuk saya, agama adalah suatu hal yang dapat diperdebatkan, namun jika sudah menyentuh ranah faith itu menjadi soal lain. Faith di sini artinya adalah sebuah kepercayaan dari lubuk hati yang dibumbui pengalaman kerohanian. Suatu hal yang terkadang sangat sulit untuk dijelaskan. Hemat saya, sebelum berdebat mengenai pemahaman agama, kita perlu tahu terlebih dahulu apakah lawan kita mengerti mengenai pembedaan dari objek perdebatan itu.

Di negara yang katanya sekuler namun sangat religius ini, kita tidak bisa sembarangan memperdebatkan agama dengan orang lain. Rasa mudah tersinggung menjadi hal yang lumrah di Indonesia (yang mana juga menurut saya menghambat kemajuan kekritisan pemikiran kita). Banyak yang suka mengkritik namun masih banyak juga yang masih tidak mau dikritik (saya juga termasuk lho). Intinya, kita ya sama-sama belajar untuk saling memahami terlepas apakah kita memang benar-benar paham atau tidak mengenai agama. Setidaknya kita tetap berkembang tanpa harus menyakiti orang lain, kecuali jika memang orang itu ingin berkembang juga, maka dia harus menerima konsekuensi untuk mau dikritik.

Well, saya rasa itu komentar singkat saya atas gosip-gosip di sekitar saya. Shhhh! Coba perhatikan lebih baik! Lebih banyak mendengar membuat kita bisa lebih banyak berbicara lho! Lebih banyak membaca "seharusnya" membuat kita semakin bijak. Saya Iqbal, selamat malam!

19/02/14

19 Februari 2014

Sudah beberapa malam ini aku sangat merasa kosong. Kosong dengan jadwal yang melompong, skripsi yang tertunda karena harus menunggu dosen untuk kembali ke tanah Jogja. Pagi ini lima temanku telah diwisuda. Tak terasa waktu berlalu cepat ya? Aku mulai menghitung waktu dan rasanya sangat janggal. Terkadang terasa sangat cepat berlalu, tapi lebih sering terasa sangat lama. Ketiadaan aktivitas membuatku rapuh dan membuatku terhenti, seperti jam dinding tua yang berkarat.

Temanku sekarang hanya ada satu, pena dengan tinta yang menodai waktu. Yang lain berpencar mencari hikmah dalam hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang terjebak, mengutuk, bahagia, dan tak sedikit yang kembali ke awal. Sekarang rasanya aku bisa memahami arti "teman hidup". Di saat-saat terakhir, mereka bilang, kita akan mengingat awal. Sepi sudah rasanya tanah Jogja malam ini. Apakah aku yang memang benar-benar sendiri atau pikiranku yang sedang menjebakku?

Sering aku berkata, "Kasihan ya mereka yang tidak merantau, tidak tahu rasanya 'hidup'" dan aku sadar aku begitu sombong. Sekarang setiap aku melihat cermin yang tepat berada di depanku, ia seakan berkata, "Kasihan ya, kamu sendiri". Dan baru sadar aku bahwa kebosanan adalah penjara yang paling menakutkan. Ketika buku tak lagi memberikan arti, serta kekasih yang hanya bermakna esensi dan tiada eksistensinya. Menemani dari jauh, hanya sekedar kata tanpa sentuhan. Sekarang yang ada hanya kata melanjutkan, sesal telah tertinggal, karena pilihan telah diambil. "Tahun pertama dan kedua, kalo bisa main sama teman-teman terus. Kalo sudah tahun-tahun terakhir 'kan sudah sendiri-sendiri, baru cari pacar yang bisa nemenin bikin skripsi," begitu yang kuingat kata-kata dari seorang senior yang sekarang entah mencari rezeki di mana.

Aku begitu iri dengan banyak orang yang menghinaku berlebihan, yang memikirkan hal-hal yang lebih penting dan hal-hal yang lebih sederhana dariku. Mungkin ini yang dirasakan para filsuf zaman dulu. Aku sudah menghitung hari, kemudian kusadari, aku tak bisa pulang lagi. Rumahku tak akan sama lagi. Aku telah berada di tengah-tengah, di saat-saat ragu untuk menyikap masa depan dan tak ada jalan pulang. Sekarang inilah rumahku. Kamar 3x4 yang sejak dua tahun lalu aku berpindah. Seiring aku menulis ini, pikiran kecil menyelip ke dalam hati, "Semua begitu indah pada waktunya kurasa, sekarang saatnya melakukan simplifikasi: toga, kerja, menikah, tua."

Tapi, lagi-lagi kutanya, "Apa iya hidup manusia sesimpel itu?"

17/02/14

Ibu Risma Layak Mendapatkan Kebahagiaan

Di tengah desas-desus ingin mundurnya Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Najwa Shihab mendapatkan momentum yang tepat untuk membuka hati dan mata masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Surabaya pada khususnya akan keadaan cahaya harapan mereka itu. Dengan ketajamannya, Najwa Shihab berhasil menguak rahasia terdalam dari Ibu Risma (panggilan akrab Tri Rismaharini) dan membaginya kepada kita semua. Bagi kita yang selama ini mengenal Ibu Risma sebagai sosok yang kuat, tegas, tegar, dan pemberani, tentu kita akan terkejut dengan tetesan arti mata yang keluar di tengah wawancara eksklusif tersebut.

Tekanan politik
Lulusan ITS ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang politik yang begitu kuat. Ibu Risma memainkan perannya sebagai Walikota murni menggunakan hati nuraninya tanpa memikirkan strategi politik. Baginya menjadi Walikota adalah amanat besar dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan di alam baka kelak. Dengan sifatnya yang religius, Ibu Risma telah mendapatkan banyak sekali 'pencerahan' untuk menunaikan tugasnya. Beberapa kebijakan yang kontroversial tidak luput dari sifat religius dan sifat seorang ibu. Di mulai dari pengecekan jalannya proyek, penutupan lokalisasi, hingga permasalahan di Kebun Binatang Surabaya. Mengandalkan pendekatan pribadi terhadap objek yang akan mendapatkan dampak utama dari kebijakan yang akan dikeluarkannya, Ibu Risma berhasil menangkis banyak kritik. Meskipun begitu, masih banyak yang belum dapat menerima caranya untuk mencapai tujuan utamanya sebagai Walikota Surabaya, yakni menyejahterakan segenap penduduk kota pahlawan.

Tiga tahun telah berlalu di masa pemerintahan Ibu Risma yang pertama. Kendati demikian, Ibu Risma sudah harus menghadapi badai tekanan politik yang kuat dari segala sisi. Ketegasannya untuk menolak pembangunan jalan tol di Surabaya telah membuka sifat asli para politikus materialis yang selama ini bersembunyi di belakangnya. Padahal cita-citanya menolak jalan tol sesederhana agar masyarakat Surabaya tidak perlu membayar untuk bisa memakai jalan gratis yang dibangun oleh pemerintah. Lobi dan tekanan politik terus mengejar Ibu Risma hingga tetes terakhir air matanya. Sekarang, keadaan cahaya harapan masyarakat Surabaya itu sudah berada di ujung tanduk.

Mundur untuk menang
Sebagai seorang wanita, Ibu Risma tidak bisa terlepas dari kerapuhan emosi. Meski terkenal dengan keberanian dan ketegasannya, Ibu Risma tetaplah seorang ibu dan seorang istri yang juga memiliki keluarga. Najwa Shihab berhasil menggali kegelisahan Ibu Risma di wawancara eksklusifnya dengan membuatnya mengatakan, "Saya sudah memberikan semua yang saya punya untuk masyarakat Surabaya." Dalam kata lain, Ibu Risma sebenarnya menunjukkan betapa apa-apa yang sudah beliau korbankan tidak kunjung terbayar dan sedang mengalami krisis kepercayaan bahwa apa yang selama ini diyakininya benar apakah memang benar-benar setimpal.

Memang sangat disayangkan ketika seorang pemimpin ideal yang muncul ketika krisis kepercayaan terhadap pemimpin menghampiri negeri ini dihinggapi sebuah pertimbangan untuk mundur. Seluruh masyarakat Indonesia tahu seberapa besar masyarakat Surabaya mencintai Walikotanya, cahaya harapannya. Namun sangat disayangkan ketika yang terjadi adalah demonstrasi untuk melarang Ibu Risma mundur. Mungkin ini bisa dimengerti karena dukungan yang sifatnya lebih elegan dengan menggunakan media sosial Twitter tidak begitu berpengaruh terhadap stance bimbang yang masih hinggap di benak Walikota Surabaya. Tetapi, dukungan yang diperlukan oleh Ibu Risma sekarang sebenarnya berasal dari keluarganya, dan orang-orang terdekat yang dipercayai oleh Ibu Risma. Karena sejak awal, merekalah yang menyemangati Ibu Risma dan mendampinginya menjejakkan kaki di arena kotor politik untuk bisa membersihkan debu-debu yang selama ini menyelimuti kota Surabaya.

Ibu Risma layak mendapatkan kebahagiaan atas apa yang telah ia lakukan kepada kota Surabaya. Jika ia bahagia bisa melayani masyarakat Surabaya, yang katanya, 'menggantungkan harapan' kepadanya, maka sudah sebaiknya Ibu Risma meneruskan perjuangannya hingga akhir masa jabatan. Namun jika baginya mundur adalah pilihan yang tepat, sudah seharusnya sebagai seseorang yang mencintai pemimpinnya kita menghormati keputusan tersebut. Berikan Ibu Risma ruang untuk bernafas, berpikir, dan biarkan ia melepas rindu terhadap keluarganya yang selama ini ia titipkan kepada Tuhan untuk dapat menjalankan tugas sebagai seorang Walikota. Ibu Risma tetaplah seorang manusia, seorang istri, dan seorang ibu yang layak mengejar kebahagiaannya, seperti kita.

15/02/14

Ada Setangkup Haru dalam Rindu

Di tengah hiruk-pikuknya dunia maya tentang letusan gunung Kelud, malam itu aku pergi untuk keluar mencari makan malam. Jam telah menunjukkan pukul setengah 12 malam dan langkahku terhenti di sebuah pinggiran jalan. Tempat makan yang tidak asing lagi bagiku, sebuah tempat makan yang menjual gudeg dadakan itu rasanya enak dan memang agak mahal.

Tak ada yang berbeda malam itu, hujan abu pun belum turun, dan si ibu penjual juga masih dengan ramah menyapaku. Seperti biasa, aku memesan daging ayam bagian paha atas dan minum teh hangat untuk melawan dinginnya angin malam. Awalnya aku ingin membungkusnya, namun sepertinya akan lebih menyenangkan meluangkan waktu sejenak di luar kamar pikirku saat itu. 

Aku duduk di sebelah seorang bapak-bapak, umurnya mungkin 30an. Dia mengenakan batik, rapih dengan celana bahan, dan sepatu pantofel hitam. Dia tersenyum kepadaku sambil membenarkan kacamata bundarnya dan menyimpan kunci mobilnya di saku celananya sehingga ada ruang untukku duduk. Sesaat setelah aku memasukkan beberapa suap nasi, ada seorang bapak-bapak yang menghampiri bapak-bapak sebelahku. Tampilannya 180 derajat berbeda. Dia menaiki motor tua, dengan plat luar Jogja. Kaosnya lusuh, mengenakan celana pendek, dan sandal jepit.

"Halo, bung!" sapa bapak-bapak yang baru datang itu kepada sebelahku.

"Halo, gimana kabarmu?" balas sebelahku dengan logat Jakarta.

"Apik! Wah, rapih tenan koe?" tanyanya.

"Iya, ini abis dari nemenin bos," jawab sebelahku sambil tertawa kecil.

"Wah, sudah jadi orang ya kamu. Eh, tau gak teman kita si X sudah jadi Kajur lho sekarang!" kata bapak-bapak itu sambil mengambil dingklik untuk duduk di depan sebelahku.

"Wah, yang benar? Padahal dulu dia bilang gak mau jadi dosen, haha," balas sebelahku melanjutkan makannya.

"Iya, katanya dulu mau ke Jakarta, hidup kantoran, eh, rupanya ora iso lepas karo Jogja, haha,"

"Yah, namanya juga manusia, tidak ada yang tahu takdir toh? Kamu sendiri bagaimana? Gak mau rantau?" tanya sebelahku yang sekarang selesai menghabiskan makan malamnya.

"Wah, aku juga sepertinya sama seperti si X, terlanjur cinta dengan Jogja, haha" jawab bapak itu sambil menatap keramaian lalu lintas di perempatan Ring Road Jalan Kaliurang.

Keduanya melanjutkan perbincangan mereka, bernostalgia dengan waktu yang tidak pernah mau berhenti atau sekedar menanti. Aku segera menyelesaikan makan malamku dan kembali ke kamar kosku yang mungil. Sembari melangkahkan kaki, lampu-lampu jalanan berubah menjadi serpihan-serpihan kecil kenangan yang akan selalu teringat. Tentang kota yang penuh cerita, cinta, dan persahabatan. Tak terasa sudah hampir empat tahun aku ada di kota ini. Tak pernah menyesal aku berada di Jogja meski jauh dari keluarga. Jogja akan selalu menjadi rumahku, selalu memiliki tempat yang istimewa di hati setiap orang yang pernah ke kota Gudeg ini.

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu..."

13/02/14

Seperti Buah

Sore itu sebenarnya aku akan menghadiri rapat organisasi, tapi satu buku yang baru aku selesai baca mengganggu pikiranku, membuatku resah. Aku membuka laptop mungilku dan mengutak-atik kata menjadi rangkaian kasar. Dosa sekali aku, melewatkan rapat untuk keegoisan nafsu berpikirku. 

Sahabatku ini, sudah dari setadi sebenarnya di hadapanku. Sesekali berbicara, sesekali aku tanggapi, sesekali aku kembali sibuk dengan kata-kata dalam dunia maya. Tak terasa, sudah tiga jam lamanya kami berdiskusi, dan suasana seperti ini yang mungkin kelak ketika aku sudah bekerja, berkeluarga, akan sangat aku rindukan.

. . .

"Intinya, manusia yang punya ilmu banyak itu seperti buah" katanya setelah menenggak sebotol minuman rasa.

"Maksudnya?" aku menghentikan tarian jariku di atas keyboard untuk mendengarkannya sejenak.

"Buah yang sudah tua atau matang itu teksturnya empuk. Contohlah mangga, semakin tua, semakin matang, semakin wangi, semakin empuk. Kalo dibuka, harum, warnanya meyakinkan kita kalo rasanya enak. Buahnya akan terasa lembut, empuk, dan manis." lanjutnya sambil menatap buku yang sudah aku baca di sebelah laptopku.

"Kalo begitu seharusnya para pemuka agama seperti itu dong" aku kembali melanjutkan tulisanku.

"Ya, seharusnya. Tapi kita kan gak tahu apakah para pemuka agama itu memang benar-benar punya ilmu banyak" lanjutnya.

"Pemuka agama kita banyak yang keras, saklek, sepertinya sangat takut dengan perubahan, dengan modernitas. Sedikit-sedikit dibilang 'kafir', sedikit-sedikit dibilang 'antek liberal', macam mana itu" aku berbicara masih sambil sibuk dengan tulisanku.

"Yah, kamu kan bisa membalikkan analogiku tadi. Yang belum matang, tentu keras teksturnya. Enggan menerima perubahan, enggan menerima sesuatu yang baru, karena mereka memang belum matang"

. . .

Kami mengakhirinya dengan tawa. Diskusi yang berawal dari masalah jilbab ini ternyata membuat tiga jamku sangat berharga. Tidak pernah aku menyesal menghabiskan waktu untuk berdiskusi, dengan siapapun, dan kapanpun tentunya. Diskusi membuatku mengerti dunia, mengerti manusia, mengerti siapa "aku" dan "kamu", dan terkadang membuatku kembali penasaran dengan-Nya. 

Sekarang, sahabatku itu malah diganggu dengan masalah jilbab. Tidak hanya itu, ada juga yang bermasalah dengan hari Valentine, besar-besar memposting gambar "Menolak hari Valentine karena saya seorang muslim". Radang hati ini rasanya, itu kan budaya, sepertinya tidak ada sangkut-pautnya dengan ke-Islam-an-mu. Aku punya saran, kenapa tidak posting ini, "Saya seorang muslim, dan saya menghargai hari Valentine sebagai sebuah keberagaman budaya". Ah, pusing sendiri aku. Tapi jadi geli sendiri karena mengingat perbincangan ini. Ternyata manusia memang seperti buah ya, dan saya sepertinya juga bukan buah yang sudah matang.