08/05/14

Catatan Perang Korea

Salah satu karya dari penulis sekaligus wartawan Indonesia, Mochtar Lubis, ini mungkin adalah buku pertama yang memberikan perspektif berbeda tentang sebuah perang yang terbit di Indonesia. Dengan gaya bahasanya yang khas, Mochtar Lubis membawa pembaca melihat perang Korea pada dekade awal tahun 1950-an lebih dekat. Seperti yang disimpulkan oleh Mochtar lubis, "Perang menghasilkan kesedihan, bencana, duka, air mata, dan lain-lain. Perang adalah keruntuhan dari perikemanusiaan".

Pergolakan di negeri Ginseng ini mendapat perhatian banyak negara di dunia karena menjadi salah satu arena perebutan pengaruh antara ideologi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Selepas kekalahan Jepang di Perang Dunia II, Korea sebagai bagian dari jajahan Jepang ikut merasakan bagaimana pemimpin negara-negara besar mempengaruhi kehidupan mereka. Korea Utara yang dibawahi oleh Uni Soviet memiliki pemimpin bernama Kim Il Sung yang notabene merupakan pahlawan perang ketika masa penjajahan Jepang dulu. Di sisi lain, Korea Selatan yang dibawahi oleh Amerika Serikat secara "demokratis" memilih Syngman Rhee sebagai Presiden mereka.

Mochtar Lubis bersama dengan wartawan lainnya dari berbagai negara meliput jalannya peperangan. Bersumber dari keterangan banyak warga Korea, Mochtar Lubis menyimpulkan bahwa perang Korea memang dimulai oleh pihak Korea Utara yang secara mendadak menduduki kota Seoul. Semenjak itu pertumpahan darah tidak bisa dihindari oleh kedua belah pihak.

Kisah Tentang Penderitaan Karena Perang
Mochtar Lubis menekankan bahwa penulisan buku ini bukan sepenuhnya untuk menceritakan bagaimana perang ini berjalan, tapi bagaimana dampaknya terhadap masyarakat Korea. Bab yang saya paling suka dari buku ini adalah Bab 5: Kimpo-Seoul. Dalam bab tersebut ada sebuah cerita yang mengiris hati saya dan membuka mata saya bahwa perang bukan hanya sekedar pertarungan politik ataupun ideologi, namun juga pertaruhan nyawa.

Entah ini bersifat subjektif atau tidak, tapi di dalam bab tersebut Mochtar Lubis menceritakan bahwa sesuai dengan keterangan-keterangan yang didapatkannya dari masyarakat Korea, Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menggunakan perang Korea sebagai momentum untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Syngman Rhee, yang tidak terlalu populer di mata masyarakat dan memiliki banyak musuh di DPR, menggunakan polisi militer Korea Selatan untuk tidak hanya "menghukum" masyarakat Korea Selatan yang benar-benar terbukti membantu pasukan Korea Utara, namun juga "menghukum" para lawan politiknya dengan dakwaan yang sama. Dalam situasi yang kacau, hukum tidak berlaku sesuai dengan prosedur. Penculikan lawan-lawan politik Syngman Rhee berjalan mulus tanpa ada halangan karena keadaan negara yang kacau.

Salah satu kisah tentang penculikan tersebut ditemui oleh Mochtar Lubis ketika mengamati keadaan di depan gedung parlemen Korea Selatan. Seorang wanita menghampirinya dengan balutan luka di tangannya, bercerita dengan tangis yang tak tertahankan dalam bahasa Korea yang tidak ia mengerti. Hingga akhirnya datang seorang wanita yang bisa berbahasa Inggris menerjemahkan kata-katanya untuk Mochtar Lubis. Awalnya Mochtar Lubis mengira wanita tersebut menangis karena kesakitan akibat luka di tangannya dan mencoba meminta obat kepada Mochtar Lubis, namun ternyata perkiraannya salah. Setelah diterjemahkan, ternyata wanita tersebut mencoba untuk menanyakan keberadaan suaminya kepada Mochtar Lubis. Ia bercerita pada Mochtar Lubis bahwa suaminya ditangkap tanpa penjelasan ketika ia dan suaminya berkeliling kota Seoul untuk mencari sisa-sisa makanan. Semenjak hari itu ia terus mencari suaminya dan tanpa henti berkeliling kota Seoul.

Cerita tersebut merupakan satu dari banyak kisah penderitaan karena perang Korea yang ditemukan oleh Mochtar Lubis. Banyak kisah-kisah yang dicatat oleh Mochtar Lubis yang tak akan pernah tersampaikan oleh surat kabar manapun di seluruh dunia. Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih menganggap perang sebagai sebuah jalan keluar agar dapat melihat sisi lain dari perang yang terkadang terlupakan karena termakan oleh waktu.

03/05/14

Bukan Spiderman

Amazing Spiderman 2 memang menyajikan sesuatu yang berbeda dengan Spiderman sebelumnya ketika masih diperankan oleh Tobey Maguire. Dengan kenakalan Andrew Garfield saat mengenakan kostum Spiderman dan hadirnya Gwen Stacy yang diperankan Emma Stone memberikan warna baru untuk si manusia laba-laba. Tapi tulisan ini bukanlah untuk membuat review tentang film manusia laba-laba.

Salah satu sorotan yang paling tajam dari setiap kisah pahlawan super adalah hadirnya dua kehidupan yang berbeda dari keseharian sang pahlawan. Superman dengan Clark Kent-nya yang bekerja sebagai reporter, Spiderman dengan Peter Parker sebagai seorang remaja yang merintis menjadi fotografer, atau si millionaire Bruce Wayne yang memilih untuk mengamankan kota Gotham sebagai Batman. Tapi apakah hanya mereka yang memiliki dua kehidupan yang berbeda? Saya rasa tidak. Pernahkah kalian merasa bahwa kita ini memiliki hidup yang beragam? Minimal seperti para pahlawan super ini, kita punya dua kehidupan yang berbeda. Mengutip kata-kata bibi May, "terkadang kita menyembunyikan kehidupan kita, bahkan kepada mereka yang kita sayangi". Tapi kehidupan apa sebenarnya yang kita sembunyikan? Everybody have their own issues I think.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle
Kutipan dari Ian Maclaren mungkin bisa menjelaskan bagaimana seseorang memiliki dua kehidupan yang berbeda. Setiap orang mengalami pertarungan yang hebat dalam hidupnya setiap hari, setiap detik, dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Kita pun demikian saya rasa. Seseorang bisa saja sangat ramah dalam satu pertemuan, namun mungkin dia tidak akan seramah itu dalam pertemuan-pertemuan lainnya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam setiap detik hidupnya. Seperti halnya Spiderman bukan? He fought a very hard battle against the super-villains and no one know that he was only a teenager with the same problem like the rest of us.

Sometimes the person who tries to keep everyone happy is the most lonely people
Bagaimana sebuah senyuman itu bisa lahir mengalami proses yang rumit. Senyuman, sebuah hal sederhana yang dapat menyebarkan kebahagiaan ternyata memiliki dilemanya sendiri dengan tangis yang disimpan oleh setiap pemiliknya. Sebagai manusia, kita adalah makhluk hidup yang cukup egois. Kita ingin orang lain untuk menghargai kita, mengerti akan kesedihan dan keadaan kita, namun jarang untuk mencoba mau untuk sekedar lebih peduli dengan orang lain. Kita cenderung senang untuk ditanya ketimbang bertanya, sekedar bertanya "ada apa?" atau "bagaimana kabarmu?". Kita lupa bahwa kita perlu mendengar sebelum didengar. Kita terus ditekan oleh sekitar kita, menjadikan kita pribadi yang semakin individualistis. Lelah dengan keluhan sedang senyuman harus terus terpajang di wajah.

Pada akhirnya, kita semua adalah para pahlawan super minus kekuatan super bukan? Kita memiliki sisi-sisi kehidupan yang disembunyikan. Kita juga harus menjaga perasaan tiap-tiap orang dengan menimbang perasaan kita sendiri. Semakin kita hidup, semakin rumit kehidupan.

"The loneliest people are the kindest. The saddest people smile the brightest. The most damaged people are the wisest. All because they do not wish to see anyone else suffer the way they do."

10/03/14

Terima Kasih, Neil Strauss

Saya telah menyelesaikan salah satu buku yang saya beri poin penuh (bintang lima) di akun Goodreads saya. Buku berjudul "The Game: Penetrating The Secret Society of Pickup Artists" karya Neil Strauss ini memakan waktu satu bulan bagi saya untuk menyelesaikannya. Saya sangat antusias membacanya dan 452 halaman tidak menjadi masalah serius bagi saya. Dan pada akhirnya, seperti buku-buku bagus lainnya yang memberikan saya lebih dari sekedar cerita, tidak ada yang dapat saya katakan selain berkata, "Terima kasih, Neil Strauss."

The Game
Suatu kebetulan memang ketika saya menemukan buku ini di rak bawah toko buku Periplus Malioboro. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mencari buku-buku yang aneh-aneh di setiap toko buku, dan untungnya saya dipertemukan oleh buku yang tersisa satu ini ketika itu. Berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas langsung menarik perhatian saya. Ukurannya yang kecil ternyata tidak mencegah buku ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan saya.

Buku ini singkatnya bercerita tentang seorang penulis majalah RollingStones yang mendapat tugas untuk menulis tentang sebuah komunitas pickup artists yang mulai tren di masanya. Diawali dengan ketidakpercayaan, Neil Strauss menerima pekerjaan tersebut dan menemukan bahwa dirinya telah tersedot dalam dunia yang selamanya akan merubah dirinya dan jutaan pembaca buku ini. Selama dua tahun penuh dia menyelami (sambil meminum juga) dunia pickup artists. Belajar mengenai trik-trik bagaimana untuk mendekati wanita hingga membawanya ke kamar (tidak selalu) untuk "dijelajah". Di tengah perjalanan, Neil Strauss bertemu dengan berbagai macam karakter yang di dalam bukunya hanya dituliskan dengan nama alias atau kode sandi mereka sebagai pickup artists, dan juga sempat berinteraksi dengan artis-artis papan atas Hollywood.

"To win the game was to leave it."
Ketika buku lain memberikan saya bagian-bagian favorit yang biasanya di awal atau di tengah cerita, buku ini memberikan efek yang luar biasa di akhir cerita. Saya tidak akan memberitahu Anda bagaimana buku ini akan berakhir untuk tetap menjaga ketertarikan Anda untuk membacanya, tapi saya ingin berbagi sedikit kesan saya terhadapnya. 

Neil Strauss berhasil menjalani mimpi mayoritas laki-laki normal di dunia untuk bisa tidur dengan berbagai macam wanita cantik di seluruh dunia. Sebuah dunia yang akhirnya harus dengan rela ia tinggalkan demi kebaikan hidupnya. Lalu apa yang menarik? Seperti yang tertera di sub bab tulisan saya ini, permainan usai ketika kita pergi meninggalkannya. Apa yang terjadi selama dua tahun dalam hidup Neil Strauss, dan mungkin juga kita yang sudah membacanya, bukan lain hanyalah sebuah permainan. Permainan yang harusnya kita mainkan dengan tujuan agar kita tidak terjebak di dalamnya untuk waktu yang lama. Permainan berbahaya yang mampu membuat siapapun rela meninggalkan hampir semuanya: kekayaan, kesehatan, waktu, pendidikan, bahkan masa depan untuk dapat bermain dengan sangat baik di dalam permainan ini.

Buku ini berhasil me-reset semua yang terjadi dalam pikiran pembacanya untuk kembali melanjutkan hidup dan berhenti memainkan permainan ini ketika kita selesai membacanya. Permainan ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah alat bagi kita untuk mencapai tujuan awal untuk mempelajari dunia pickup artists. Apakah kita ingin menggunakannya hanya sekedar untuk bermain menemukan wanita yang berbeda setiap hari untuk menemani malam-malam yang sepi? Atau untuk mencari the one yang akan menemani kita hingga akhir hayat? Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Sekali lagi, "Terima kasih, Neil Strauss."

07/03/14

Nyanyian Kantin

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya sudah jarang sekali untuk pergi ke kampus. Yah, paling satu atau dua kali untuk sekedar bertemu dosen atau mengurus keperluan skripsi. Saya juga sudah tidak berurusan dengan politik kampus, fakultas, atau jurusan yang biasanya tidak saling peduli satu sama lain. Saya hanya sekedar mendengar angin gosip yang berterbangan tanpa punya kendali atau kekuatan yang valid sebagai pengurus organisasi ataupun semacamnya. 

Fakultas saya tercinta di Bulaksumur terlihat rindang-rindang saja dengan angin sayu yang mendayu. Gedung-gedung baru megah berdiri, tempat parkir yang meluas mengundang lebih banyak kendaraan untuk parkir di sana, dan tentunya didominasi oleh kendaraan para mahasiswanya. Siang ini saya ke kampus datang sekedar untuk main, bertemu dengan teman-teman yang masih mengambil mata kuliah. Selain itu saya juga ingin mengecek gosip tentang kantin fakultas saya yang hampir satu tahun ini "mati" tak bernyawa.

"Kamu tau gak sih, masa ibu penjaga kantin ada lagi lho!" kata seorang teman via telpon genggam.

"Ah, masa? Bukannya sudah ganti tender?" balasku sambil malas-malasan.

"Kesini deh, kita diminta dukungan untuk pengaduan masalah kantin sama si ibu."

"Siang ya aku kesana."

Siang datang, matahari tegap berdiri. Lantai yang berlapis ubin, beton-beton penyangga bangunan menyapa. Saya berjalan ke kantin untuk bertemu dengan teman-teman. Tanpa banyak bicara saya langsung mencoba salah satu penjaja makanan di kantin baru itu. Masih seperti dulu, membayar makanan pun harus ke kasir. Sejauh ini belum ada kecurigaan. Kemudian saya pun ke kasir, dan bertemu dengan ibu kantin.

"Hai bu," sapaku sambil membayar.

"Halo mas," si ibu mengambil kembalian. "Oh iya mas, saya mau minta tolong. Besok saya mau bertemu dengan pihak kampus ini, saya butuh dukungan mas dan teman-teman," si ibu memberikan buku dengan banyak catatan tangan dari mahasiswa-mahasiswi serta komplain mereka tentang kantin.

"Loh, loh, memang ada apa ya ini bu?"

"Aduh mas, gimana ya saya jelasinnya. Ya memang awalnya kontrak kami dulu kan sudah habis, lalu kan katanya mau ada perbaikan fasilitas, dicat ulang, bangku-bangku, meja-meja, dan stan-stan akan diperbaiki, diganti yang lebih bagus. Tapi ternyata kita toh tidak bisa jualan lagi."

"Walah, ini memang wewenang siapa sekarang bu?"

"Walah, mas. Saya ini wong cilik, masalah itu kan yang lebih tinggi yang tahu."

"Ini sudah saya tulis komentar saya. Coba ya bu nanti saya kasih tahu teman-teman saya yang gerak di organisasi, siapa tahu bisa bantu."

"Wah, matur nuwun lho mas!" kata si ibu terlihat senang.

Setelah itu saya kembali ke tempat duduk. Cerita yang mengalir ternyata memberi banyak informasi serta sedikit cross check. Ada yang bilang harga sekarang jauh lebih mahal dari yang dulu, ada yang bilang tidak seenak dulu, tapi juga ada yang bilang dulu sempat ada pengetesan makanan untuk penjaja di kantin oleh pihak kampus yang terbuka bagi mahasiswa. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Saya benar-benar bingung dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Apakah semua orang seperti saya? Atau hanya saya yang seperti ini karena jarang ke kampus? Kalo iya, tak apa, tapi kalo tidak, wah, bahaya. Lalu mereka yang memberi dukungan itu apakah tahu betul apa duduk permasalahannya?

Di saat-saat seperti ini saya jadi gemes dengan organisasi-organisasi kampus yang katanya kerakyatan ini. Apakah mereka sudah tahu? Kalo sudah, mereka melakukan apa ya? Apakah sudah berusaha? Jika sudah, menghasilkan apa? Tak masalah jika gagal, tapi semua harus tahu apa yang terjadi. Informasi dan transparansi harus tetap dijunjung tinggi. Jangan menunggu untuk diminta menjelaskan, mulailah menjelaskan. Buat awareness di antara kita semua, bangkitkan rasa kepedulian. Bukankah itu tugas kita semua? Tidak perlu membeda-bedakan jurusan, apalagi agama. Daripada jauh-jauh membahas soal negara atau terlalu sering membicarakan seminar-seminar skala nasional atau internasional, bagaimana jika kita memberi sedikit perhatian bagi sekitar kita? Alangkah lebih baik jika ada edaran, public hearing, atau informasi berbentuk lainnya yang bisa menjelaskan semuanya dari semua organisasi mahasiswa yang tidak terlalu jauh aktif dari isu ini, atau yang anggotanya sering mengisi perut mereka di sini. 

Dulu sempat ada vandalisme yang mempertanyakan isu ini, namun entah sudah kemana hingar-bingarnya. Katanya bersatulah, katanya kerakyatanlah, katanya perjuanganlah, katanya kekeluargaanlah, apa artinya semua jika seperti ini sekarang? Alat makan tak bisa bicara, jangan biarkan mereka terbuang sia-sia hanya karena perut ini sudah kenyang. Dulu kita sempat dihina sebagai elit berotak yang hidup dibalik jeruji beton mewah ber-AC karena tidak mau pergi ke jalan. Sekarang tidak perlu pergi ke jalan untuk membantu, terlalu jauh, dan mungkin terlalu riskan. Coba lihat dan dengar mereka yang bernyanyi di kantin.

22/02/14

Gosip Malam di Sekitar

Malam ini saya menghabiskan sekitar empat jam untuk berkumpul dan melepas tawa bersama teman-teman saya. Jogja yang malam ini dianugerahi hujan membawa kami pada suasana yang menyenangkan untuk melepas penat dengan segelas minuman hangat maupun dingin yang pas dengan lidah kami masing-masing. Kali ini saya ingin bergosip sedikit tentang dua isu yang terjadi di sekitar saya: wisuda dan agama.

Dua hari yang lalu baru saja UGM melakukan pelaksanaan wisuda gelombang pertama, yakni untuk gelombang bulan Februari. Kegiatan yang diiringi sukacita karena telah selesainya masa studi ini seharusnya menjadi ajang untuk berbenah diri, baik bagi yang wisuda maupun yang belum. Kenapa berbenah diri? Wisuda merupakan akhir dari masa studi namun juga merupakan awal bagi para sarjana memasuki dunia pekerjaan. Well, kecuali bagi mereka yang memang sudah bekerja saat sambil kuliah atau bahkan sebelum kuliah memang tidak akan terlalu kaget. 

Saya setuju dengan postingan seorang teman yang mengatakan "Jangan sombong kalo kamu lulus duluan dengan IPK cumlaude, siapa tahu kamu nanti kerja di perusahaanku." Sombong memang suatu hal yang oleh siapapun harus dihindari. Tapi alangkah baiknya jika kita, baik yang wisuda maupun yang belum, menanggapi ini dengan hal positif. Pertama, bagi yang sudah wisuda memang suatu kebanggaan untuk bisa lulus, artinya kan sudah berhasil menyelesaikan masa studi, yang bagi beberapa mungkin dirasa berat. Ya mungkin saja terkadang kita sebagai manusia khilaf dengan artian berbangga hati dengan cara yang berlebihan. Kedua, untuk yang belum wisuda alangkah lebih baik jika kata-kata seperti itu tidak keluar, meski sebagai tujuan untuk pengingat. Wong, kita kan juga sama-sama manusia, sama-sama teman, masa sih harus sampai seperti itu? Kenapa kita tidak turut menjadi bagian sukacita tersebut? Seharusnya ajang wisuda bisa menjadi instropeksi bagi diri kita, "Apa ya yang salah dengan saya? Kok teman saya sudah lulus tapi saya belum?" dan menjadi cambuk semangat untuk kita menyelesaikan masa studi dan segera masuk ke dunia kerja.

Isu kedua yang ingin saya komentari sebenarnya terpantik oleh berita pencabutan larangan atheisme di UGM. Sebelum berkomentar ada baiknya kita membaca beritanya terlebih dahulu (yang memang agak jauh relevansi judul dengan isinya):


Berita tersebut sebenarnya ingin memberi kita informasi mengenai perubahan peraturan Rektor UGM. Perubahan pasal tersebut sebenarnya bukan diawali oleh dukungan untuk mempelajari atheisme dan keberagaman agama (yang sangat saya harapkan pada awalnya sebagai institusi pendidikan yang ternama), melainkan untuk menjaga ketertiban. Peraturan tersebut sebatas pelarangan mahasiswa untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama agama. Ya, kalo saya pribadi sih tidak terlalu mempersoalkan, namun pastinya banyak yang akan responsif terhadap "judul" berita yang rasanya tidak pas dengan isinya.

Pemahaman mengenai agama adalah suatu hal yang sangat fundamental dan terkadang sangat sulit dipisahkan antara mana yang faith dan mana yang bisa diperdebatkan. Bagi banyak orang, termasuk saya, agama adalah suatu hal yang dapat diperdebatkan, namun jika sudah menyentuh ranah faith itu menjadi soal lain. Faith di sini artinya adalah sebuah kepercayaan dari lubuk hati yang dibumbui pengalaman kerohanian. Suatu hal yang terkadang sangat sulit untuk dijelaskan. Hemat saya, sebelum berdebat mengenai pemahaman agama, kita perlu tahu terlebih dahulu apakah lawan kita mengerti mengenai pembedaan dari objek perdebatan itu.

Di negara yang katanya sekuler namun sangat religius ini, kita tidak bisa sembarangan memperdebatkan agama dengan orang lain. Rasa mudah tersinggung menjadi hal yang lumrah di Indonesia (yang mana juga menurut saya menghambat kemajuan kekritisan pemikiran kita). Banyak yang suka mengkritik namun masih banyak juga yang masih tidak mau dikritik (saya juga termasuk lho). Intinya, kita ya sama-sama belajar untuk saling memahami terlepas apakah kita memang benar-benar paham atau tidak mengenai agama. Setidaknya kita tetap berkembang tanpa harus menyakiti orang lain, kecuali jika memang orang itu ingin berkembang juga, maka dia harus menerima konsekuensi untuk mau dikritik.

Well, saya rasa itu komentar singkat saya atas gosip-gosip di sekitar saya. Shhhh! Coba perhatikan lebih baik! Lebih banyak mendengar membuat kita bisa lebih banyak berbicara lho! Lebih banyak membaca "seharusnya" membuat kita semakin bijak. Saya Iqbal, selamat malam!

19/02/14

19 Februari 2014

Sudah beberapa malam ini aku sangat merasa kosong. Kosong dengan jadwal yang melompong, skripsi yang tertunda karena harus menunggu dosen untuk kembali ke tanah Jogja. Pagi ini lima temanku telah diwisuda. Tak terasa waktu berlalu cepat ya? Aku mulai menghitung waktu dan rasanya sangat janggal. Terkadang terasa sangat cepat berlalu, tapi lebih sering terasa sangat lama. Ketiadaan aktivitas membuatku rapuh dan membuatku terhenti, seperti jam dinding tua yang berkarat.

Temanku sekarang hanya ada satu, pena dengan tinta yang menodai waktu. Yang lain berpencar mencari hikmah dalam hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang terjebak, mengutuk, bahagia, dan tak sedikit yang kembali ke awal. Sekarang rasanya aku bisa memahami arti "teman hidup". Di saat-saat terakhir, mereka bilang, kita akan mengingat awal. Sepi sudah rasanya tanah Jogja malam ini. Apakah aku yang memang benar-benar sendiri atau pikiranku yang sedang menjebakku?

Sering aku berkata, "Kasihan ya mereka yang tidak merantau, tidak tahu rasanya 'hidup'" dan aku sadar aku begitu sombong. Sekarang setiap aku melihat cermin yang tepat berada di depanku, ia seakan berkata, "Kasihan ya, kamu sendiri". Dan baru sadar aku bahwa kebosanan adalah penjara yang paling menakutkan. Ketika buku tak lagi memberikan arti, serta kekasih yang hanya bermakna esensi dan tiada eksistensinya. Menemani dari jauh, hanya sekedar kata tanpa sentuhan. Sekarang yang ada hanya kata melanjutkan, sesal telah tertinggal, karena pilihan telah diambil. "Tahun pertama dan kedua, kalo bisa main sama teman-teman terus. Kalo sudah tahun-tahun terakhir 'kan sudah sendiri-sendiri, baru cari pacar yang bisa nemenin bikin skripsi," begitu yang kuingat kata-kata dari seorang senior yang sekarang entah mencari rezeki di mana.

Aku begitu iri dengan banyak orang yang menghinaku berlebihan, yang memikirkan hal-hal yang lebih penting dan hal-hal yang lebih sederhana dariku. Mungkin ini yang dirasakan para filsuf zaman dulu. Aku sudah menghitung hari, kemudian kusadari, aku tak bisa pulang lagi. Rumahku tak akan sama lagi. Aku telah berada di tengah-tengah, di saat-saat ragu untuk menyikap masa depan dan tak ada jalan pulang. Sekarang inilah rumahku. Kamar 3x4 yang sejak dua tahun lalu aku berpindah. Seiring aku menulis ini, pikiran kecil menyelip ke dalam hati, "Semua begitu indah pada waktunya kurasa, sekarang saatnya melakukan simplifikasi: toga, kerja, menikah, tua."

Tapi, lagi-lagi kutanya, "Apa iya hidup manusia sesimpel itu?"

17/02/14

Ibu Risma Layak Mendapatkan Kebahagiaan

Di tengah desas-desus ingin mundurnya Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Najwa Shihab mendapatkan momentum yang tepat untuk membuka hati dan mata masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Surabaya pada khususnya akan keadaan cahaya harapan mereka itu. Dengan ketajamannya, Najwa Shihab berhasil menguak rahasia terdalam dari Ibu Risma (panggilan akrab Tri Rismaharini) dan membaginya kepada kita semua. Bagi kita yang selama ini mengenal Ibu Risma sebagai sosok yang kuat, tegas, tegar, dan pemberani, tentu kita akan terkejut dengan tetesan arti mata yang keluar di tengah wawancara eksklusif tersebut.

Tekanan politik
Lulusan ITS ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang politik yang begitu kuat. Ibu Risma memainkan perannya sebagai Walikota murni menggunakan hati nuraninya tanpa memikirkan strategi politik. Baginya menjadi Walikota adalah amanat besar dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan di alam baka kelak. Dengan sifatnya yang religius, Ibu Risma telah mendapatkan banyak sekali 'pencerahan' untuk menunaikan tugasnya. Beberapa kebijakan yang kontroversial tidak luput dari sifat religius dan sifat seorang ibu. Di mulai dari pengecekan jalannya proyek, penutupan lokalisasi, hingga permasalahan di Kebun Binatang Surabaya. Mengandalkan pendekatan pribadi terhadap objek yang akan mendapatkan dampak utama dari kebijakan yang akan dikeluarkannya, Ibu Risma berhasil menangkis banyak kritik. Meskipun begitu, masih banyak yang belum dapat menerima caranya untuk mencapai tujuan utamanya sebagai Walikota Surabaya, yakni menyejahterakan segenap penduduk kota pahlawan.

Tiga tahun telah berlalu di masa pemerintahan Ibu Risma yang pertama. Kendati demikian, Ibu Risma sudah harus menghadapi badai tekanan politik yang kuat dari segala sisi. Ketegasannya untuk menolak pembangunan jalan tol di Surabaya telah membuka sifat asli para politikus materialis yang selama ini bersembunyi di belakangnya. Padahal cita-citanya menolak jalan tol sesederhana agar masyarakat Surabaya tidak perlu membayar untuk bisa memakai jalan gratis yang dibangun oleh pemerintah. Lobi dan tekanan politik terus mengejar Ibu Risma hingga tetes terakhir air matanya. Sekarang, keadaan cahaya harapan masyarakat Surabaya itu sudah berada di ujung tanduk.

Mundur untuk menang
Sebagai seorang wanita, Ibu Risma tidak bisa terlepas dari kerapuhan emosi. Meski terkenal dengan keberanian dan ketegasannya, Ibu Risma tetaplah seorang ibu dan seorang istri yang juga memiliki keluarga. Najwa Shihab berhasil menggali kegelisahan Ibu Risma di wawancara eksklusifnya dengan membuatnya mengatakan, "Saya sudah memberikan semua yang saya punya untuk masyarakat Surabaya." Dalam kata lain, Ibu Risma sebenarnya menunjukkan betapa apa-apa yang sudah beliau korbankan tidak kunjung terbayar dan sedang mengalami krisis kepercayaan bahwa apa yang selama ini diyakininya benar apakah memang benar-benar setimpal.

Memang sangat disayangkan ketika seorang pemimpin ideal yang muncul ketika krisis kepercayaan terhadap pemimpin menghampiri negeri ini dihinggapi sebuah pertimbangan untuk mundur. Seluruh masyarakat Indonesia tahu seberapa besar masyarakat Surabaya mencintai Walikotanya, cahaya harapannya. Namun sangat disayangkan ketika yang terjadi adalah demonstrasi untuk melarang Ibu Risma mundur. Mungkin ini bisa dimengerti karena dukungan yang sifatnya lebih elegan dengan menggunakan media sosial Twitter tidak begitu berpengaruh terhadap stance bimbang yang masih hinggap di benak Walikota Surabaya. Tetapi, dukungan yang diperlukan oleh Ibu Risma sekarang sebenarnya berasal dari keluarganya, dan orang-orang terdekat yang dipercayai oleh Ibu Risma. Karena sejak awal, merekalah yang menyemangati Ibu Risma dan mendampinginya menjejakkan kaki di arena kotor politik untuk bisa membersihkan debu-debu yang selama ini menyelimuti kota Surabaya.

Ibu Risma layak mendapatkan kebahagiaan atas apa yang telah ia lakukan kepada kota Surabaya. Jika ia bahagia bisa melayani masyarakat Surabaya, yang katanya, 'menggantungkan harapan' kepadanya, maka sudah sebaiknya Ibu Risma meneruskan perjuangannya hingga akhir masa jabatan. Namun jika baginya mundur adalah pilihan yang tepat, sudah seharusnya sebagai seseorang yang mencintai pemimpinnya kita menghormati keputusan tersebut. Berikan Ibu Risma ruang untuk bernafas, berpikir, dan biarkan ia melepas rindu terhadap keluarganya yang selama ini ia titipkan kepada Tuhan untuk dapat menjalankan tugas sebagai seorang Walikota. Ibu Risma tetaplah seorang manusia, seorang istri, dan seorang ibu yang layak mengejar kebahagiaannya, seperti kita.