25/09/14

Mengenal Etos Kerja Negara Maju

Awalnya saya membaca postingan seorang teman di Path, kemudian saya gatal untuk berbagi pengalaman dengan Anda-Anda yang setia membaca blog ini. Seorang teman yang memulai program exchange-nya sekitar enam bulan yang lalu memposting pengalamannya di negeri asal Doraemon.


Saya ingin berbagi sebuah pengalaman berharga terkait etos kerja yang baru-baru saja saya alami. Dimulai saat awal bulan Agustus lalu, saya diberikan tugas menjadi salah satu supporting team untuk sebuah klien internasional. Saya dipercaya untuk menjadi PR Event Coordinator oleh atasan saya. 

"Why?"
Beberapa hari berlangsung, Project Manager (PM) untuk sang klien tidak masuk pada hari itu. Alhasil, saya yang harus meneruskan pekerjaannya untuk berhubungan dengan klien. Ternyata saat itu sedang ada perdebatan mengenai rencana event yang akan dilaksanakan pada bulan September dan saya diminta oleh atasan untuk mencari solusi atas perdebatan tersebut.

Perdebatan terjadi mengenai jumlah pembicara yang akan hadir di acara tersebut. Hal yang sepele bukan? Tapi tidak bagi mereka. Setelah saya pelajari perdebatan tersebut, ada perbedaan pendapat antara sang PM dan sang klien. Klien percaya bahwa satu pembicara sudah cukup untuk mengisi acara yang rencananya akan berdurasi 2 jam itu. Namun, sang PM tidak sepemikiran dengan hal tersebut. Saya memahami pemikiran sang PM yang menyatakan bahwa it is unusual to have a single speaker in a such big event. Akhirnya saya mencoba memberikan penjelasan-penjelasan untuk membuat klien memahami jalan pemikiran PM dan saya.

Ternyata hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan bagi saya, karena hal pertama yang akan selalu mereka ucapkan setelah saya memberikan penjelasan adalah "why?". Yang unik dan sering luput dari kita (termasuk saya) adalah hal-hal kecil yang detail. Orang-orang ini membawanya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni mengusahakan semuanya agar rasional, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan ke depannya. Setelah sekitar beberapa jam saya memberikan penjelasan serta contoh-contoh yang memperkuat argumen saya, akhirnya muncul e-mail ini:



Semakin Detail, Semakin Baik
Setelah kejadian tersebut, saya mulai di-recognize oleh sang klien. Saya yang sebelumnya pasif karena job desc saya hanya menjalankan event, menjadi aktif memberikan pendapat saat ditanyai oleh klien, atasan, dan juga PM. Hingga akhirnya saya diajak untuk makan malam oleh atasan dan PM bersama dengan klien. Hubungan kami menjadi sangat akrab sampai datang saat-saat saya menjalankan fungsi PR Event Coordinator.

H-7 sang klien mengutus perwakilannya ke Jakarta untuk membantu saya merealisasikan rencana yang dibuat sebulan lalu. Seperti yang saya bilang sebelumnya, orang-orang ini sangat detail dan sangat kepo. Mereka mempertanyakan ini dan itu, mengapa, dan bagaimana selanjutnya. Dalam satu hari kami bisa merevisi rancangan hingga tujuh kali dan semua itu harus dibayar mahal dengan waktu. Saya dan tim harus menginap di kantor untuk mempersiapkan semuanya, dan hebatnya perwakilan mereka, meskipun tidak menginap, juga ikut bekerja hingga larut malam.

Apresiasi Itu Penting!
Acara berjalan dengan lancar, meskipun ada satu dua hal yang mengganggu akibat perbedaan bahasa. Semua terbayar lunas oleh senyum manis sang klien dan juga e-mail ini:


Setelah acara berakhir, saya belum bertemu dengan sang klien maupun perwakilannya yang sangat kooperatif dalam bekerjasama menjalankan acara. Satu hal yang selalu saya perhatikan dan jarang sekali saya temukan di etos kerja orang-orang Indonesia, yakni masalah apresiasi. Meskipun cara kerja orang-orang ini agak sedikit menyusahkan karena selalu meminta sesuatu hingga sangat detail, mereka akan selalu mengakhirinya dengan kalimat atau kata-kata apresiasi. Dan hal itu benar-benar membayar lunas semua jerih payah yang sudah saya dan tim lakukan.

P.S:
1. Sensor dilakukan untuk menjaga kerahasiaan.
2. Cerita lebih lengkap bisa tanya/ngobrol langsung.
3. Bonus e-mail terakhir (mereka sangat detail):


07/09/14

Menjadi Manusia di Atas 10 Juta Rupiah

"Kalo kamu masuk ke sebuah ruangan dan kamu merasa kamu adalah yang paling pintar, maka kamu berada di ruangan yang salah,"

Setelah beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang senior yang menjadi role-model bagi saya, dua malam terakhir ini saya bertemu dengan dua orang luar biasa yang memberikan saya semangat dan tujuan hidup baru. Dua sahabat yang dulu secara tidak disengaja dipertemukan oleh Tuhan kepada saya. Dan ajaibnya, mereka semua dari almamater yang sama. Betapa bersyukurnya saya dapat kuliah di Yogyakarta.

Semenjak hengkang dari tanah Sultan, ibukota merubah pandangan hidup saya 180 derajat. Saya menjadi begitu pragmatis dan materialistis. Saya selalu mengejar apa yang tak akan pernah selesai. Dan sayangnya, it consumes me. Mulai dari rasa simpati dan juga empati yang berkurang sedikit demi sedikit, hingga depresi yang tidak berkesudahan.

"Tidak pernah ada the way. Yang ada adalah my way and your way. Semua orang punya jalannya sendiri-sendiri, kawan. Yang penting jangan pernah berhenti."

Saya (bersyukur) bukan tipe orang yang mudah merasa puas. Selalu saja ada keinginan, target-target, impian, yang ingin dicapai. Dan terkadang itu tidak murni datang karena niatan yang baik. Salah satu 'racun' yang sedang mengkontaminasi saya saat ini adalah rasa iri. Saya begitu terintimidasi (secara tidak langsung) dengan keadaan finansial orang-orang luar biasa ini. Saya merasa begitu kecil, dan menyadari bahwa saya membuang begitu banyak waktu ketika masih berstatus mahasiswa dulu. Kenapa saya bisa begitu 'berbeda' dari mereka yang memulai semuanya dari tempat yang sama dengan saya? Dan setelah berbincang dengan ketiganya, akhirnya saya menemukan jawabannya.

Hidup adalah kerja keras. Mereka yang saya temui merupakan pekerja keras luar biasa yang tak henti-hentinya belajar untuk berkembang. Mereka adalah manusia-manusia yang menyadari bakat serta passion mereka. Dan (bagi saya) sayangnya, mereka sudah mengetahui itu semenjak mereka masih duduk di tempat yang juga menjadi tempat saya mengenyam pendidikan tinggi.

First rule: Language
Aturan pertama untuk menjadi manusia di atas 10 juta rupiah, pastinya, adalah bahasa. Percayalah, bahasa Inggris bukan lagi menjadi 'kelebihan' namun menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa dihindari untuk masuk ke sebuah institusi bergengsi dengan kaliber internasional. Saya yang merasa begitu sombong karena sudah merasa sudah cukup bisa untuk berbahasa Inggris, menemui karma. Cukup bisa bukan minimum requirement lagi untuk dapat mengantarkan kita ke pintu depan institusi impian kita bekerja, tapi fluently. Ini adalah hal yang saya kurang tanggapi dengan serius dulu.

Mulailah belajar untuk bisa berbahasa Inggris dengan lancar, tidak gagap, dengan grammar yang baik dan sopan (tidak kasar). Membaca dan menulis kalimat atau laporan dalam bahasa Inggris tanpa bantuan kamus, google translate, ataupun aplikasi kamus lain, adalah suatu keharusan. Atasan atau klien tidak punya waktu dan tidak akan pernah menerima alasan apapun untuk keterlambatan laporan atau hasil kerja. Efisiensi waktu adalah segalanya dalam dunia kerja.

Second rule: Skill & Passion
Skill and passion? Kenapa keduanya tidak terpisahkan? Karena keduanya saling berhubungan dan saling menguatkan. Ketika kita telah menemukan passion kita, maka ada skill yang akan terasah setiap kali kita melakukan passion kita. Sangat bijaksana untuk menentukan passion dan commit melakukannya sedini mungkin.

Yang paling krusial dari dunia kerja adalah they didn't give a shit with our GPA or academic achievements. What they want to see and hear is you now, not you in the past. IPK dan prestasi seminar-seminar ataupun lomba hanya akan mengantar kamu ke pintu depan institusi. Yang mereka inginkan adalah dampak apa yang semua itu berikan terhadap kepribadian kita.

Third rule: Experience
Pengalaman adalah guru terbaik, dan itu benar secara mutlak. Pengalaman adalah apa yang bisa kita jual. Dan pengalamanlah yang membentuk kepribadian kita. Tapi dari itu semua, adalah pengalaman yang mementukan rasionalitas, cara berpikir, cara pandang, dan juga membuka wawasan kita. Di sinilah sebenarnya inti dari penghakiman atas nilai dari seseorang.

Dari ketiga rules yang saya bicarakan ini, adalah pengalaman yang paling sulit untuk dibentuk. Karena ia bergantung terhadap kepribadian dan keberanian seseorang dalam mengambil keputusan. Masa lalu tidak akan pernah bisa diubah, karena itu ia tak ternilai. Yang terpenting dari itu semua adalah untuk tidak menyesalinya dan siap memperbaiki atau mengembangkannya di masa depan. Satu pola sama yang saya lihat dari orang-orang ini adalah keberanian mereka untuk keluar dari comfort zone mereka. Dan itu sangat membentuk kepribadian mereka, yang tentunya, menjadi lebih baik.

Sebenarnya hanya ada tiga rules ini yang saya temukan dari orang-orang luar biasa ini. Keinginan dan motivasi mereka beragam dalam mencari dan menempati posisi mereka sekarang. Untuk mengetahui siapa jati diri kita, memang hati nuranilah yang bertugas dan bertanggung jawab. Tapi jika ada satu lagi rules yang bisa ditambahkan, maka saya akan memilih Count Your Blessings. Kehidupan manusia tidak akan pernah terpuaskan. Seberapapun hebatnya kita, akan selalu ada yang lebih hebat. Dan kita akan selalu merasa iri terhadap sesuatu yang lebih baik. Tapi semua itu adalah hal yang wajar dan normal. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, maka bersyukurlah.

We all have choices.

12/08/14

Tidak Ada yang "Salah" dengan Pekerjaan Pertama

Malam itu Mampang Prapatan dipadati oleh mobil-mobil yang berisikan orang-orang yang pulang kerja. Saya berada di dalam taksi menuju sebuah restoran milik seorang senior sambil mendengar ceramah agama sang sopir taksi. Cahaya yang tercipta oleh lampu-lampu mobil-mobil mewah, angkutan umum, lampu jalanan, dan gedung-gedung pencakar langit menjadi suatu lukisan indah yang sulit dilupakan bagi mereka yang pernah berada di tengah sibuknya kota Jakarta. Terkadang betapa sulitnya kita bersyukur atas nikmat-Nya meski semudah melihat nuansa kota melalui jendela kecil taksi berwarna biru.

"Tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama," katanya di tengah perbincangan kami. Seorang kakak, guru, mentor, atau saya lebih suka memandangnya sebagai seorang figur, role model untuk anak muda bau kencur yang belum tahu apa-apa tentang dunia kerja. Tiga jam berlalu begitu saja, saya tenggelam dalam pembicaraan kami akan pekerjaan kami yang berada dalam satu bidang, dan restoran itu tetap ramai dengan orang-orang yang juga tenggelam dalam entah apa yang ada di tiap-tiap pikiran mereka.

Jujur saya selalu merasa minder apabila pertanyaan mengenai "gaji" muncul di antara saya dan teman-teman saya yang sudah atau setidaknya sedang mengenyam pendidikan yang katanya disebut-sebut sebagai kampus kerakyatan. Dengan melihat kakak-kakak kami yang lulus dan mendapat pekerjaan serta gaji fantastis di ibukota, jelas saya ini tidak ada apa-apanya, hanyan butiran debu di tengah hutan beton ibukota. Ada sebuah mindset yang tercipta, sebuah standarisasi bahwa lulusan salah satu dari tiga universitas negeri raksasa di negara Indonesia ini harus menjadi "seseorang", ditambah lagi Presiden baru kita yang satu almamater dengan saya. Sebuah citra yang harus dijaga, atau saya lebih suka menyebutnya sebagai beban moral untuk mereka-mereka yang baru menetas keluar dari sana.

Apakah ada yang salah dengan saya? Atau dengan teman-teman saya? Apakah semua standarisasi itu harus dipenuhi demi sebuah citra yang mungkin beberapa tahun lagi berubah? Saya sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan di universitas terbesar di Indonesia, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, serta pelajaran hidup di sana. Terkadang saya suka termenung memandang gelagat teman-teman saya dalam melihat dunia kerja. Memang, tidak pernah ada salahnya untuk beropini, membicarakan sesuatu sesuai pengalaman, namun apakah pengalaman kita sama?

"Kamu serius mau digaji sebesar itu? Kamu menganiaya diri kamu sendiri tahu,"

Berbagi kisah adalah sebuah pembelajaran, dan tujuannya adalah untuk dapat saling menghormati. Saya tahu betul tiap-tiap orang memiliki misinya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan saya. Kita begitu lama bermimpi saat kuliah, dan terbangun dari mimpi yang indah itu rasanya sakit sekali. Saya tidak bisa memenuhi standar maya yang terbentuk dalam mindset teman-teman saya. Saya rasa-rasanya berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang perguruan tinggi. Tapi, ada yang bernasib lebih menyedihkan lagi dari saya. Apa itu bisa menjadi pembenaran?

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri orang-orang yang tidak bisa menggunakan bahasa yang katanya merupakan bahasa pemersatu dunia, bahasa internasional, dalam kehidupannya sehari-hari maupun untuk urusan formal. Mereka diperas dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore selama bertahun-tahun untuk gaji yang besarnya tidak lebih dari saya yang baru saja masuk kerja sekitar 2 bulan. Ada lagi mereka yang memiliki potensi luar biasa besarnya, namun harus memikul nasib berat atas tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara. Mereka rela untuk tidak digaji "demi sebuah mimpi akan negara yang lebih baik," katanya. Dan masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang bisa, lagi-lagi, saya gunakan untuk menjadi pembenaran nasib saya ini.

Memang tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama. Pekerjaan pertama selalu menjadi awal mula seseorang menapaki dunia kerja. Kita tidak akan pernah bisa berharap lebih dari kaki yang masih bergetar di pinggir tebing. Menatapi langit yang luas, yang terkadang rasanya tak akan tersentuh. Tapi kita bisa melihat burung-burung yang terbang, awan, matahari, dan bintang-bintang yang bersinar di gelapnya malam. Dan mungkin sewaktu-waktu kita bisa menjadi bagian dari itu semua.

01/08/14

Munculnya Cinta

Dari begitu banyaknya cerita tentang cinta, apakah kita benar-benar tahu artinya cinta, Isabel? Apakah kita pernah sekedar bertanya kepadanya tentang maksud kehadirannya di setiap nafas kehidupan mahkluk ciptaan Tuhan? Atau, bertanya "Siapa sebenarnya Tuhan?". Ah, pertanyaan yang begitu tabu dipandang oleh masyarakat. Berbicara seakan kita tahu segalanya hingga lupa bahwa sang surya telah lama tenggelam.

Isabel, siang ini aku melakukan ibadah yang sudah jarang rasanya aku lakukan semenjak aku kuliah. Ya, ibadah, Isaebel. Apa kau tahu artinya ibadah? Ah, kau pasti sudah memiliki definisi yang jauh lebih canggih dariku. Bagiku, ibadah adalah cara agar kita bisa dekat dengan Tuhan. Atau sekedar berkomunikasi dengan-Nya, meski seringkali hanya berbisik ke telinga-Nya. Apakah kau memiliki definisi yang berbeda? Izinkan aku tahu. Mari, aku lanjutkan cerita pendekku kembali.

Sang penceramah nampak semangat melontarkan kata-kata pujian serta doa-doanya siang itu. Ada satu hal unik yang aku tangkap dari ceramahnya, yakni tentang munculnya cinta. Aku tak pernah memikirkan sebelumnya bagaimana cinta bisa muncul di dunia ini. Mengapa kita tidak pernah membicarakan ini ya sebelumnya, Isabel? Di tengah propaganda dan segmentasi agama yang ia bicarakan, yang lagi-lagi, seperti yang sudah-sudah, hanya berkutat antara neraka dan surga, dia berbicara tentang cinta. Meski rasanya seperti hanya kurang dari lima menit ia membicarakan tentang cinta dan kaitannya dengan agama, pikiranku terbang sendiri mencari kisah tentang munculnya cinta siang itu, Isabel.

Kapan dan darimana sebenarnya cinta muncul? Apakah ia seorang lelaki berengsek yang mencari wanita tiap malamnya tanpa ia kenal namanya esok hari di ranjang hotel mereka menginap? Atau ia adalah seorang ibu yang membersihkan kotoran anaknya hingga ia bisa membersihkannya sendiri di usianya yang masih kecil? Atau ia adalah seorang kakak yang bingung dengan kehadiran adik barunya hingga terkadang merasa iri dengan segala perhatian yang didapatkan namun tetap tidak bisa memungkiri hatinya yang penuh dengan suka cita?

"Saudara-saudara, cinta datang di tengah harapan dan keraguan," sang penceramah memecah keheningan yang hinggap di otakku. Apa iya cinta datang di antara harapan dan keraguan?

"Ketika kita memberikan perhatian kita kepada seseorang, di sana timbul harapan bahwa kita juga ingin mendapatkan perhatian. Ingin dicintai,"

"Namun, kita seringkali lupa bahwa harapan tidak pernah datang sendiri. Ia datang bersama keraguan. Keraguan akan datangnya cinta yang kita harap,"

"Saat itulah cinta muncul, saudara-saudara,"

Dan cinta pun muncul. Menjadi jawaban atas harapan dan keraguan. Namun, apakah iya selalu berakhir seperti itu? Bagaimana dengan cinta yang tak terjawab? Tak terbalas? Apakah akan berakhir sama? Apakah ini hanya konsep belaka, yang lagi-lagi, hanya berkedok sebagai propaganda?

Yang aku mengerti, Isabel, cinta itu adalah kebenaran. Ia adalah yang sebenar-benarnya. Ia menghapuskan dendam dan benci, menghilangkan iri dan dengki, ia membutakan mata seseorang atas perhitungan untung dan rugi.. Jika ia benar adalah kebenaran, maka sang penceramah tidak berbohong. Karena seperti yang kau dan aku selalu bicarakan setiap kali kita bertemu, "Kebenaran hadir di tengah harapan dan keraguan,"

Kita berharap, kemudian meragu. Semakin kita dekat dengan kebenaran, semakin banyak cobaan yang datang. Jika harapan dan keraguan selalu datang bersamaan, apakah cinta datang sendiri? Akankah dia pergi, Isabel? Akankah kita sebenar-benarnya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita? 

Apakah cinta itu ada?

25/06/14

Cantik Itu Mahal

"Kenapa ya bu, kenapa bisa begini," kata anak muda itu dengan wajah penuh kekecewaan.

"Ibu kan sudah bilang, hal-hal seperti ini tidak hanya terjadi di televisi," sang ibu berkata sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.

"Kenapa materi, harta, benda, bisa membuat kita bersikap sangat berbeda terhadap manusia lainnya bu?" tangannya mulai mencari-cari batu di taman untuk dilempar ke kolam sebagai pelampiasan kekesalannya.

Sang ibu hanya tertegun. Sore itu, ia harus menjelaskan pahitnya hidup kepada anak semata wayangnya yang masih terlalu muda. Sembari merangkai kata, kenangan akan dosa-dosanya di masa lalu menghiasi pikirannya.

. . .

"Aku gak mau jalan sama kamu, kalo kamu gak bawa mobil," wanita muda itu meronta mencoba melepas tangannya dari genggaman seorang pria sebayanya.

"Kamu kok matre banget sih?" pemuda itu tak juga melepas genggamannya.

"Lepasin! Kalo gak nanti aku teriak!" si wanita mengancam.

"Oke, oke! Aku kecewa sama kamu, pikiran kamu sempit!" akhirnya pemuda itu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan si wanita.

"Sempit? Mungkin kamu ya yang belum sadar. Aku ini wanita, senjata utamaku ya kecantikanku. Aku harus jaga asetku dong! Lagipula, kalo memang benar kamu anak orang mampu, pastinya kamu punya mobil!"

"Aku ga pernah bilang sama kamu kalo aku punya mobil,"

"Kalo begitu, aku yang salah. Maaf ya, aku gak bisa jalan sama kamu,"

"Mau sampai kapan kamu memberikan harapan-harapan palsu ini kepada para lelaki, hey Laila?"

"Sampai aku menemukan dia yang bisa menjagaku, merawatku, mengerti kebutuhanku. Sadarlah Amin, hidup itu mahal, dan laki itu gak cuma kamu. Wajar saja jika aku menebar kecantikanku, bukan cuma untuk kau seorang,"

"Berarti semua ini hanya masalah materi?"

"Amin, ayolah. Aku tahu kau pintar,"

"Tapi aku mencintaimu Laila! Aku mencintaimu apa adanya!"

"Kamu tahu aku harus tampil cantik kan? Dan biaya untuk kecantikan itu mahal. Bagaimana aku bisa tetap tampil cantik dengan menaiki motormu itu? Polusi, debu, kotoran, iyuuuh. Aku hanya mengambil jalan tengah. Jujurlah pada dirimu sendiri Amin, kau tidak akan mencintaiku jika aku jelek kan?"

Pemuda itu terdiam mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut manis si wanita cantik itu. Kata-katanya seperti menusuk hati dan membolak-balikkan pikirannya. Apa iya cinta itu datang dari mata? Apa iya cinta harus dipupuk dengan harta? Apakah hidup semahal ini?

"Sudahlah, kembalilah ketika kamu punya mobil sendiri," sang wanita pun pergi, tertutup kabut kenangan.

. . .

"Ibu, ibu," anak muda itu mengguncang tubuh ibunya yang membatu sesaat.

"Iya nak? Maaf ya, ibu melamun tadi,"

"Aku lapar,"

"Ayo, kita makan di restoran favoritmu. Panggil pak Juki untuk mengantar kita,"

"Pak Juki!" anak muda itu memanggil supirnya.

"Iya mas?" lelaki tua dengan kumis lebat datang dengan tergesa-gesa.

"Tolong antar aku sama ibu ke restoran ya,"

"Baik mas,"

"Oh iya, aku lupa menaruh sepeda motor ayah tadi, tolong masukkan sekalian ya pak," anak muda itu dengan nada lembut menyuruhnya. Langkah tergesa-gesa pun menghiasi kaki tua pak Juki selepas mendengar perintah majikannya itu.

Setelah pak Juki memasukkan motor majikannya ke garasi, ia mengeluarkan mobil mewah majikannya dan membukakan pintu untuk mereka.

"Pak Juki, besok pagi jangan lupa jemput bapak ya di bandara," sang ibu berkata sesaat sebelum menaiki mobil.

"Baik bu, besok pagi saya akan jemput pak Amin," kata si supir sambil menutup pintu mobil.

24/06/14

Sampai Nanti

"Kalo wanita yang disakiti, biasanya sebuah hubungan masih bisa bertahan. Si laki bakal anulah, inilah, biar hubungan itu bisa kembali berjalan. Tapi sayangnya, kalo si laki yang disakiti... Well, aku belum pernah melihat laki-laki yang cukup pemaaf,"

Aku kembali meminum kopi susu hangatku. Mataku masih memandang lampu jalanan ibukota yang terang benderang. Malam yang berisik mengingatkanku tentang sebuah kisah tentang angka lima yang dulu pernah aku baca dalam sebuah surat kabar. Sebuah kisah yang tenang dan jauh dari keramaian. Tentang sepasang kekasih yang harus saling menyakiti untuk dapat menemukan jalan hidup mereka masing-masing.

"Sudah, kalo memang jodoh gak akan kemana. Sekarang fokus saja dulu dengan pekerjaanmu, bukankah masih banyak mimpi-mimpimu yang belum tercapai?"

"Ya, kurasa kau benar. Aku terlalu lama tenggelam dalam urusan wanita. Kau tahu, dulu pernah sesekali seorang teman meramalku. Katanya, dari tiga kelemahan pria (harta, tahta, dan wanita), aku akan jatuh di tangan wanita," aku tersenyum mengakhiri kalimatku yang disambut tawa ringan olehnya.

"Ah, andai ya waktu terulang kembali,"

"Untuk apa waktu terulang kembali?"

"Kenapa kau berkata demikian?"

"Meskipun waktu terulang kembali, aku akan tetap memilih jalan yang sama. Melewati hari-hariku persis seperti apa yang telah aku lewati. Hanya mereka yang menyesal dengan hidup mereka yang meminta waktu bisa diputar kembali, Isabel,"

"Ah, kau ini, selalu saja menyindirku,"

"Aku tidak menyindirmu, aku hanya..."

"Menerima kenyataan?"

"Bisa dibilang begitu. Kita tidak akan pernah bisa bergerak jika kita terus melihat ke belakang, bukan? Aku tidak pernah berkata aku tidak merindukan masa laluku. Semua yang indah dan buruk telah kita lalui, menjadikan kita seperti hari ini,"

"Menjadikan kita secangkir kopi susu dan segelas air putih?" Isabel tertawa.

"Ah, kau merusak suasana," aku kembali meminum kopi susuku.

Malam yang berisik di ibukota tidak pernah mengganggu mimpi-mimpi indah yang tercipta oleh insan-insan manusia yang sedang tertidur lelap. Kita adalah hasil akumulasi dari masa lalu kita, tapi masa depan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang akan kita buat, dimulai dari sekarang.

Sampai nanti. Sampai masa depan menemuimu.

"I suppose, in the end, the whole of life becomes an act of letting go. But what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye." 
-Life of Pi

11/06/14

11 Juni 2014

Kepada Isabel,

Sudah lama kita tidak berbincang atau sekedar bertukar sapa. Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih seperti dahulu? Tersenyum tersipu malu jika kupandang matamu lebih dari tiga detik? Oh, Isabel, kau tahu, sungguh dalam hati masing-masing manusia menyimpan rindu yang tak terkira. Kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada cinta, dan kepada dendamnya.

Aku baik-baik saja di hutan beton ini. Aku masih menjadi diriku, atau mungkin lebih tepat mengatakannya, aku kembali seperti dulu lagi. Seperti sejak sebelum bertemu denganmu. Isabel, dunia ini keras ya. Terkadang kita lupa bahwa sebenarnya kita hanya memerlukan sebuah senyuman untuk dapat membuat sepersekian detik hidup kita sendiri atau bahkan hidup orang lain lebih indah.

Isabel, dari semenjak kepergianku, banyak cerita yang belum aku sampaikan. Entahlah, apakah suratku ini akan sampai padamu atau tidak. Meskipun sampai, apakah akan kau baca? Ah biarlah. Lagi-lagi, cerita tentang cinta memang cerita yang tidak akan pernah habis dimakan usia. Bagaimana dengamu? Sudahkah kamu menemukan cinta sejatimu? Terakhir kita bertukar kabar, kau masih mengidam-idamkan sosok yang aku pikir tidak akan pernah hadir di dunia ini. Kau memang seorang utopis sejati, haha.

Sungguh cinta itu sulit dimengerti. Yang dekat terkadang terasa jauh, yang jauh terkadang terasa dekat. Apakah kau pernah merasakannya juga, Isabel? Ya, aku bertemu dengan dia yang dulu pernah merebut hatiku dengan senyum manis dan paras wajah cantiknya. Aku menghabiskan hariku dengannya melewati senja yang tertutup awan hitam polusi kendaraan ibukota. Aku menyukainya, jujur. Tapi terkadang ada rasa yang kurang, yang janggal. Hening di antara kami sangat asing. Dia tak pernah banyak bertanya, dia tak pernah banyak memberi kabar, tapi dia selalu ada. Katakan, apakah itu cinta?

Ah, Isabel, aku ini lelaki yang tak akan pernah terpuaskan hasratnya. Beberapa malam yang lalu aku juga memberanikan diri untuk bertemu dengan dia yang matanya menembus relung jiwaku. Malam itu rembulan ditutupi hujan yang turun dengan malu-malu, memberikanku nuansa romansa yang tak pernah aku rasakan semenjak kepulanganku ke ibukota. Ia begitu cantik, Isabel. Aku tak bisa melepas pandanganku darinya. Kendati demikian, mata kami tak pernah bertemu karena ia sibuk berbincang dengan sahabatnya. Ah! Aku merasa bodoh sekali malam itu. Ragaku seakan-akan membeku dengan keberadaannya. Aku tak bisa menjauh, tapi aku segan untuk mendekat. Aku takut terlalu dekat, Isabel. Lagi-lagi, apakah itu cinta?

Aku rasa ia akan menjadi cinta yang tak berbalas Isabel. Tapi biarlah, memandang wajahnya saja sudah membuatku senang, membuat bibirku tersenyum tanpa kusadari. Terkadang aku suka terperanjat dengan diriku sendiri yang diam-diam menyimpan foto-fotonya di telepon genggamku. Sungguh lucu ya? Haha.

Sudahlah Isabel, besok aku harus kembali menjalani hari layaknya pria-pria dewasa. Menyusuri jalanan yang keras dan tak mengenal belas kasih demi mencari rezeki. Aku harap kau tak keberatan dengan kisahku yang agak panjang malam ini.

Dari aku yang merindukanmu,

P.S: 
Cepatlah pulang, banyak orang membutuhkanmu 9 Juli nanti.