11/05/12

Mungkin Kami Memang Tidak Ingin Kamu Pergi

Sedih, bukan bosan. Kami bukannya tidak mau anakku, kami hanya takut jika kamu benar-benar pergi jauh dari pelukan kami. Pernarkah terbersit di pikiranmu semua ini? Tidakkah kamu akan rindu dengan kami?

Setiap kali kamu membuka pintu putih rumah kita, kamu menyalami kami dengan senyum dan mencium kedua pipi kami. Kami rindu kamu anakku, kami mungkin tidak mengatakannya, kami hanya mengekspresikannya. Mami buatkan kamu masakan yang kamu suka dan papa ajak kamu berbicara tentang hal-hal kesukaanmu, politik dan hukum. Kakak-kakakmu bukannya juga sudah mencurahkan rindunya padamu? Mereka mengajakmu pergi dan bermain. Tentu, malam adalah saat yang paling tepat untuk berkumpul. Papa dan kakak-kakakmu pulang kerja, dan mami selesai memasak masakan untuk makan malam. Kita bersenda gurau dan mengobrol bersama di atas meja makan kesayangan kita.

Sore itu, kamu bilang pada kami ingin mencari beasiswa ke luar negeri. Kami langsung sepakat berkata tidak usah. Bukan, bukan karena kami tidak memiliki cukup uang untuk membiayaimu, kamu sendiri juga memaksa mencari beasiswa penuh. Kami khawatir, khawatir kamu terpesona dengan dunia luar. Seperti ayah Siddharta Gautama, seperti kisah Bubble Boy, kami hanya orang tua yang khawatir.

Jika kamu sakit bagaimana? Apakah kamu sudah makan? Apakah di sana akan selalu dingin? Kami akan selalu ingat kebiasan-kebiasan kamu yang baik maupun buruk. Kami adalah darah dagingmu, kami tahu. Kamu suka sekali dengan selimut, meskipun ketika tidur malam, paginya kamu berkeringat kepanasan. Kami tahu kamu harus mandi selama 30 menit setiap pagi. Kami selalu ingat jam makan malammu yang ngawur jika kami tidak paksa. Jangan tanya bentuk kasih sayang, karena kami tidak bisa mendefinisikannya.

Mungkin memang kami yang tak mau kamu pergi. Maafkan kami.

Konsep Tuhan #1

Beberapa hari belakangan saya sempat mengobrol dengan beberapa teman mengenai konsep Tuhan. Apakah benar Tuhan itu ada? Darimana asalnya? Apa tujuan keberadaannya? Semua pertanyaan itu bukan berarti kami, saya khususnya, meragukan keberadaan Tuhan, tetapi adalah hal wajar bagi manusia untuk bertanya-tanya. Bukankah itu yang membedakan kita dengan mahkluk lainnya?

Ada banyak sekali pendapat mengenai konsep keberadaan Tuhan. Mungkin saya akan membuat ini menjadi tulisan berseri. Yang pertama, saya akan mencoba menjelaskan konsep Tuhan yang saya dapat dari sebuah game.

Pernah bermain game Black & White? Ya, sebuah game PC yang bergenre strategi ini menempatkan kita sebagai sosok Tuhan bagi berbagai macam umat. Game ini berawal dari sebuah drama ketika ada anak manusia yang tenggelam dan kemudian dikelilingi oleh sekelompok ikan hiu. Orang tua anak itu kemudian berdoa untuk mendapat pertolongan Tuhan, dan saat itulah permainan dimulai. Uniknya, konsep Tuhan ini berawal dari sebuah doa yang sederhana. Satu Tuhan kemudian tercipta dari sebuah dimensi lain dimana partikel-partikel hitam putih berkumpul. Permainan kemudian berlangsung, tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan Tuhan lain dengan cara membuat para pemujanya beralih menjadi memuja kita.

Dari permainan game ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu ada banyak. Tetapi hanya beberapa yang dapat bertahan karena mereka saling berebut pemuja. Intinya, pujaan yang dipanjatkan menjadi sumber utama kekuatan untuk bisa melakukan berbagai macam keajaiban. Musibah seperti gempa bumi, badai, dan lain-lainnya merupakan wujud peperangan antar Tuhan tersebut dalam memperebutkan kekuasaan.

Jika kita kaitkan dengan kehidupan di dunia yang sebenarnya, banyak sekali konsep Tuhan yang berbeda-beda antara kaum yang satu dengan yang lainnya, contoh seperti masyarakat Mesir kuno yang percaya terhadap dewa Ra, Anubis, dan lain-lain, masyarakat Yunani kuno yang percaya terhadap dewa Zeus, Hades, dan lain-lain, masih banyak contohnya. Seiring dengan perkembangan kemudian dewa-dewa ini tidak bisa memenuhi keinginan manusia. Hipotesis saya kemudian lahir agama-agama monotheis dengan Tuhan yang baru akibat jawaban dari doa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Karena pengikutnya banyak, Tuhan monotheis ini kemudian dapat menghancurkan peradaban kepercayaan kaum-kaum kuno tersebut. Seperti kisah Musa yang menghancurkan Firaun, Isa atau Yesus yang menghancurkan Romawi, dan lain-lain.

Baiklah, sekian tulisan saya mengenai konsep Tuhan yang pertama. Perlu diingat, ini hanya sekedar opini. Saya perlu menekankan hal tersebut karena belakangan ini di Indonesia sering terjadi pembatasan berpendapat, apalagi jika berkaitan dengan soal agama. Akhir kata, selamat malam.

09/05/12

Aku Bukan Padi

Bukankah kita sama?
Kita sama-sama menua dari waktu ke waktu.
Ilmu yang kita dapatkan apakah akan berguna?
Hanya Tuhan yang tahu.

Bukankah kita sama?
Kita sama-sama memegang amanat dan janji buta.
Tanpa tahu masa depan, menerka masa depan.

Mungkin aku bukan padi, yang merunduk ketika semakin berisi?
Mungkin aku mangkuk. yang terisi lalu kosong lagi?
Atau mungkin aku pipa tua, yang hanya bisa menghisap tanpa ada isi?

Aku tak bisa sepertimu yang menatap langit luas dan menerjang ombak.
Aku tak tega memotong kata dari setiap mulut yang berbicara.
Aku bukan panglima yang berdiri penuh keberanian dan kebijaksanaan.
Dengan serdadu-serdadu yang membela dari belakang dan dari depan.

Hidupku tak sepadat dan semenarik kata-kata dalam gulungan perkamen para wisudawan.
Mungkin aku hanya berusaha mencari hidup yang lain.
Melewati pagi yang penuh dengan awan.
Dan malam, malam yang kunanti penuh dengan kedamaian.

Para Monster, Dewa, dan Alat Ajaib

Suatu hari, hiduplah 4 monster raksasa di suatu pegunungan. Mereka tidak bisa hidup rukun, selain karena mereka memiliki ukuran yang besar, mereka juga memiliki kebiasaan yang aneh.

Yang paling tua, berwarna abu-abu, sukanya berpergian dan menyendiri, jika diganggu dia akan mengamuk. Yang kedua, berwarna ungu, sukanya berbicara tetapi tidak mau mendengar. Yang ketiga, berwarna hijau, sukanya makan apa saja. Dan yang paling kecil, berwarna merah, sukanya tidur.

Suatu ketika saat mereka bertengkar, turunlah seorang dewa. Dewa itu memarahi mereka karena seringkali saling bertengkar satu sama lain. Untuk mencegahnya, maka sang dewa memberikan masing-masing monster tersebut sebuah alat ajaib. Yang tertua diberikan sebuah gelas ajaib yang berisi air berbagai macam rasa buah. Jika habis, maka akan dengan sendirinya terisi kembali dengan rasa buah yang berbeda. Yang berwarna ungu, diberikan bantal yang barang siapa memakainya maka dia tak akan bisa tidur. Yang berwarna hijau diberikan sebuah gulungan perkamen yang berisi kata-kata bijak. Dan yang paling kecil, diberikan sebuah cermin yang bisa melihat kemauan seseorang.

Selepas perginya sang dewa, monster-monster tersebut mencoba alat-alat ajaib tersebut. Yang tertua membawa gelas itu kemanapun dia pergi, suatu ketika dia haus dan meminumnya. Lalu dia berpikir, gelas ini akan jauh lebih bermanfaat apabila diberikan kepada adiknya yang suka makan. Yang berwarna ungu tidak suka dengan bantal tersebut, karena baginya tidak ada manfaatnya sama sekali. Dia pikir akan lebih baik jika diberikan kepada adiknya yang tukang tidur. Yang berwarna hijau malah bingung dengan makna kata-kata yang ada di gulungan perkamen, karena dia tidak punya petunjuk maka ia meminta kakak tertuanya untuk menjelaskan kepadanya arti dari setiap kata-kata tersebut. Dan yang terkecil tidak peduli dengan cerminnya, dia tetap tidur dengan pulas.

Ketika yang tertua kembali ke pegunungan untuk menemui sang adik yang berwarna hijau, dia memberikan gelasnya. Sang adik kemudian meminumnya terus, terus, dan terus. Karena sibuk meminumnya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi lapar. Dan ketika ia sadar, ia berhenti meminumnya dan memeluk kakaknya. Dia pun meminta kakaknya untuk menjelaskan arti kata-kata bijak yang ada di gulungan perkamennya. Sang kakak yang terbiasa menyendiri dan memaknai berbagai macam fenomena alam, mengerti betul kata-kata bijak tersebut. Seiring dengan menjelaskannya kepada adiknya, sang kakak menjadi tahu akan arti kebijaksanaan.

Sedangkan yang berwarna ungu dengan kesal membawa bantalnya kepada adiknya yang berwarna merah. Dengan diam-diam, si kakak mengangkat kepala adiknya dan menaruh bantalnya dibawah kepala sang adik. Terbangunlah si kecil dari tidurnya. Tetapi karena malas, dia tetap merebahkan tubuhnya tetapi tidak dapat tidur. Sedangkan kakaknya yang tertawa melihat adiknya yang malas, tidak sengaja menengok ke cermin ajaib milik adiknya. Saat dia melihat cermin tersebut, sang kakak tahu bahwa sebenarnya yang dia inginkan adalah untuk didengar oleh orang lain, dan untuk itu dia harus belajar untuk mendengar orang lain terlebih dahulu.

Setelah saling tukar, keempat monster tersebut saling berbagi. Yang tertua kemudian menceramahi ketiga adiknya dengan bijak, yang ungu karena dia ingin didengar, maka ia mendengar kakaknya dengan baik, dan seiring dengan itu dia belajar untuk berbicara lebih bijak lagi. Yang terkecil menjadi tidak malas dan mau bangun dari rebahannya. Dan ketika mereka semua haus, yang hijau memberikan gelasnya untuk diminum bersama. Ketika mereka lelah, mereka bisa menggunakan bantalnya untuk beristirahat tanpa harus menjadikan mereka malas.

Pada akhirnya, mereka secara bersama-sama melihat pada cermin keinginan. Ketika mereka berempat bercermin, tidak ada yang istimewa. Mereka hanya melihat diri mereka berempat di depan cermin. Mereka kebingungan. Dan saat itu juga dewa turun menemui mereka dan menjelaskan kepada mereka. Sebetulnya yang mereka inginkan sejak awal adalah untuk hidup bersama secara rukun. Setelah keempatnya sadar akan keinginan mereka, sang dewa mengambil kembali alat-alat ajaib tersebut. Seiring waktu, keinginan mereka untuk hidup bersama secara rukun menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk hidup bersama secara rukun dan saling melengkapi.

08/05/12

Motivasi Untuk Menjadi Seorang Pemimpin

Pagi ini saya mengobrol dengan seorang teman yang super, beliau tidak lain juga adalah pimpinan organisasi yang saya ikuti. Ghufron Mustaqim, nama yang mungkin tidak asing lagi didengar. Beliau akan pergi ke Washington DC untuk mengikuti pertemuan summit para pemuda di dunia. Perannya dalam summit tersebut membuatnya menguasai sedikit banyak materi ketahanan pangan Indonesia. Berawal dari sana, obrolan kami meluas hingga masalah kepemimpinan.

Saya dan beliau kemudian berbicara singkat mengenai kepemimpinan. Bagi saya, sosok pemimpin muncul karena dua alasan. Yakni adanya dorongan dari luar dan dorongan dari dalam. Saya megambil contoh dua pemimpin hebat, Sukarno dan Barack Obama. Menurut saya, Sukarno memiliki latar belakang yang pas untuk bisa menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang lahir akibat adanya dorongan dari luar. Dan Barack Obama yang sempat merasakan hidup di Indonesia memiliki cerita tersendiri tentang jiwa kepemimpinannya.

Dilahirkan untuk menjadi pemimpin
Kumpulan cerita yang saya baca dan saya dengar, membuat saya memiliki pendapat bahwa Sukarno dilahirkan dalam lingkungan yang membangun dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Darah biru mengalir kental di dalam dirinya dan Sukarno seringkali telah diramalkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Hal ini kemudian saya pandang sebagai cara doktrinasi yang terjadi di lingkungan tumbuh besarnya Sukarno. Seiring dengan perkembangan, Sukarno yang terbiasa dianggap sebagai calon pemimpin, memimpikan impian para raja Jawa, yakni menyatukan Nusantara.

Kita dapat melihat bahwa lingkungan sangat berpengaruh bagi Sukarno, ditambah lagi lingkungan dimana dia belajar politik. Sukarno memiliki awal yang baik untuk dapat menjadi seorang pemimpin. Lingkungannya turut andil dalam proses pembangunan jiwa kepemimpinannya. Sukarno hanya perlu menjalankan takdirnya, yang kemudian dapat dia realisasikan dengan dukungan dari berbagai pihak.

Bermimpi untuk menjadi pemimpin
Lain cerita dengan Barack Obama. Sebuah tayangan televisi yang menceritakan biografi singkat Barack Obama pernah menceritakan bagaimana sengsaranya hidup Obama kecil. Perceraian orang tua jelas akan memiliki dampak yang fundamental bagi sang anak, meskipun terkadang dapat ditutupi dengan berbagai hal. Takdir membawa Obama kecil ke Indonesia, dan yang menarik dari tayangan televisi yang waktu itu saya tonton, Barack Obama kecil seringkali meniru pidato Presiden Suharto. Dari sini kita bisa melihat bagaimana usaha Obama kecil untuk bermimpi menjadi seorang pemimpin.

Berlanjut pada masa remajanya, Obama sering melakukan orasi di kampus. Salah satu tayangan yang saya tonton menunjukkan kepiawaiannya dalam berpidato saat dia masih kuliah. Keahliannya dalam memimpin berkembang seiring dengan pengalamannya dalam menjalani hidup. Jangan lupa bahwa isu ras menjadi isu yang hangat dibicarakan ketika Obama sebagai calon presiden kulit hitam dirumorkan menjadi calon terkuat dalam bursa pemilihan. Menurut saya, pengalamannya hidup di negara yang plural (Indonesia) membuat Obama tidak takut menghadapi isu tersebut. Dan pengalamannya hidup dengan keadaan seadanya (bahkan bisa dikatakan miskin) membuatnya memiliki strategi keuangan yang unik untuk membiaya dirinya ketika masa kampanye.

Motivasi dan ambisi
Perbincangan saya dengan kak Ghufron (beliau adalah senior saya di HI UGM) berlanjut pada permasalahan motivasi. Menurutnya, baik faktor eksternal maupun internal seseorang untuk menjadi seorang pemimpin akan kembali pada permasalahan motivasi. Seberapa besarkah motivasi yang dimiliki seseorang untuk mencapai keinginannya (dalam hal ini menjadi seorang pemimpin) itu yang penting. Lanjutnya, seorang pemimpin belum tentu orang yang paling pintar atau paling kuat dalam kelompok/pergaulannya. Dari argumen ini, kita bisa melihat bagaimana motivasi berperan besar dalam menutupi kekurangan sosok seorang pemimpin.

Dan jangan lupa, motivasi berbeda dengan ambisi. Seringkali kita salah mengartikan ambisi sebagai motivasi. Motivasi merupakan suatu gejolak/keinginan yang muncul akibat adanya panggilan hati/merasa dibutuhkan. Berbeda dengan ambisi yang kurang lebih sama, tetapi perbedaannya terletak pada ego. Emosi berperan lebih besar dalam ambisi, dan seperti yang kita tahu bahwa emosi seringkali membawa dampak yang kurang baik dalam suatu hal, dan dalam hal ini kepemimpinan yang didasari oleh emosi juga tidak terlalu baik.

06/05/12

Budaya Pesugihan

Berawal pada perbincangan dengan seorang penjaga warung makan burjo di tengah malam, tema pesugihan pun saya bahas kemudian dengan sepupu saya yang sedikit banyak mengetahui hal-hal mistis.

Waktu itu tengah malam, penjaga burjo kebetulan sedang menyetel acara mistis di televisi. Dan saya datang untuk memesan makan malam. Awalnya kami bercerita tentang hal-hal biasa, kemudian saya memancing dia untuk bercerita mengenai pesugihan.

"Masa sih a' (sebutan untuk teman/orang yang lebih tua dalam bahasa Sunda) ada yang begituan?" tanya saya memancingnya.

"Iya a', saya mah udah biasa sama yang begituan." jawabnya sambil memberikan teh hangat pesanan saya.

"Coba cerita dong a' pengalaman tentang pesugihan yang kayak gitu."

"Dulu nih ya a', saya pernah jadi kenek (kondektur) bis malam. Nah waktu itu saya sama sopirnya lagi istirahat di pangkalan. Si bos dateng sama anak buahnya, saya masih bangun tapi pura-pura tidur. Bos nyuruh anak buahnya buat mutusin kabel rem coba a', katanya buat nyari tumbal. Besoknya saya langsung ngundurin diri, takut saya mah." cerita si penjaga burjo sambil menonton televisi.

"Terus gimana bisnya?" tanya saya penasaran.

"Besoknya mah beneran tuh, bisnya langsung kecelakaan, ada yang meninggal. Yang begituan mah biasa a' dalam bisnis transportasi. Hari ini ada bis yang hancur, makan korban, tapi besokannya langsung beli 10 bis baru yang bagus."

"Waduh, gawat bener tuh."

"Iya a', yang lebih parah lagi mah bisnis kontraktor a', saya pernah diceritain sama temen, serem banget."

"Gimana ceritanya a'?"

"Waktu itu temen saya lagi ngaduk semen a', trus ngeliat mandornya lagi ngawasin temennya temen saya yang lagi ngecor. Nah kan pake truk molen tuh a' yang ngangkut bahan buat cor-coran, si mandornya langsung nendang temennya temen saya itu a' ke tempat cor-corannya, jadi langsung ketimbun gitu. Serem a', mati langsung disitu. Gak ada yang tahu, jadi rahasia umum itu mah di dalam bisnisnya."

"Astaga, beneran itu?"

"Iya a'..." jawabnya menutup perbincangan kami.

Pesugihan merupakan suatu cara untuk memperkaya diri melalui cara-cara mistis. Memang, di dunia yang sudah modern ini, terkadang hal-hal tersebut dirasa tidak lagi relevan ketika teknologi sudah berkembang pesat. Tetapi lain cerita di Indonesia. Bagi saya, pesugihan sudah menjadi suatu budaya yang sulit dihilangkan, bahkan dengan berkembangnya teknologi dan pendidikan.

Saya sempat berbincang dengan sepupu saya mengenai ini. Menurutnya, pesugihan memang suatu hal yang lumrah dalam bisnis. Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya melakukan pesugihan itu mudah dan cepat. Memperkaya diri dengan hal-hal seperti itu sangat cepat dan mudah dilakukan, asalkan yang melakukan mau menerima konsekuensinya.

Semua agama mengajarkan hal-hal yang baik dan benar. Jika kita lihat dari kacamata agama, seringkali usaha/proses lebih diutamakan ketimbang hasil/tujuan. Untuk menjadi sukses memang tidak mudah, harus susah dulu, belajar dulu, mungkin jatuh dulu sebelum bangkit. Pesugihan dalam hal ini menjadi sebuah cara untuk memotong jalur proses sehingga langsung mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kemudian, pesugihan membuat seseorang menjadi tidak lagi merasakan hidup yang benar-benar hidup. Seringkali tumbal/pengorbanan harus dilakukan untuk memenuhi syarat. Sialnya, terkadang pengorbanan harus dilakukan terhadap orang-orang terdekat kita, seperti teman atau anggota keluarga. Perilaku ini, menurut saya, didorong oleh rasa putus asa akibat sulitnya menempuh jalan menuju kesuksesan. Manusia seringkali putus asa dan tersesat karena impiannya yang tak kunjung tercapai.

Perbincangan saya dengan sepupu saya tidak berhenti disana. Kami mulai mencoba melihat menggunakan perspektif modern. Akhirnya kami melihat persamaan antara budaya pesugihan dengan kapitalisme. Kapitalisme yang seringkali dikatakan sebagai sebuah sistem yang menguntungkan segelintir orang/suatu kelompok dan merugikan banyak pihak, tak jarang memakan korban. Banyak kemudian pengusaha-pengusaha yang bangkrut akibat kapitalisme dan kemudian meninggal.

Hal ini kemudian dapat kita sandingkan dengan budaya pesugihan. Saya menyebutnya sebagi budaya kapitalisme primitif. Dimana pesugihan merupakan usaha untuk menguntungkan satu pihak tertentu dengan cara memakan korban secara literal. Jangan-jangan orang Barat yang mengadopsi sistem kapitalisme belajar dari budaya pesugihan? Haha, entahlah.

Pemburu Naga

"Ambilkan air hangat, cepat!" teriak ibu kepadaku.

Aku langsung berlari menuju dapur untuk mengambil air dari tungku perapian dan memberikannya kepada ibu.

"Tatap mataku anak muda, jangan lihat yang lain. Belum waktunya kau pergi ke Valhalla." ibu meyakinkan Axio.

"Oh, Odin yang agung. Setidaknya izinkan aku bertemu dengan naga itu lagi." kata Axio sambil memegang perutnya yang tertancap oleh tanduk naga, lukanya sangat parah.

Malam itu sangat larut, Axio berhasil menemukan naga merah yang sedang beristirahat di danau Sapphire. Dia mencoba menaklukkannya seorang diri. Dia memang seorang pemburu naga yang handal, tapi naga merah jelas bukan tandingannya.

Desa kami memang terkenal sebagai desa para pemburu naga. Ayahku meninggal akibat lengah ketika berburu dengan kelompoknya. Aku juga ingin menjadi pemburu naga seperti ayah.

"Dia akan baik-baik saja, tanduknya sudah berhasil aku cabut. Biarkan dia bermalam di sini. Kalian kembalilah ke rumah, jadikan ini sebagai pelajaran untuk tidak berburu naga seorang diri. Ingat kata-kataku! Aku tak ingin ada mayat di rumahku." kata ibu kepada semua yang ada di rumah kami.

Ibu adalah seorang perawat yang ternama di desa kami. Sayang, ibu tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah waktu itu. Kejadian itu membuatnya melarangku untuk menjadi pemburu naga. Sempat ada pembicaraan antara kami berdua untuk pindah ke kota Gale. Ibu ingin aku belajar dagang dengan paman Leo. Tapi aku bersikeras ingin menyelesaikan sekolah para pemburu naga di sini. Itu juga merupakan amanat ayah yang terakhir, ibu pun menerimanya.

"Aku tak ingin menjadi orang yang kehilangan segalanya. Kau sangat berharga bagiku, anakku. Aku telah kehilangan seorang kekasih, seorang suami, dan seorang kepala keluarga yang baik di tanganku sendiri." kata ibu memegang tanganku sambil meneteskan air mata.

"Dan seorang pemburu naga, jangan lupakan itu ibu." tambahku sambil menggenggam tangan ibu.

"Iya, iya." jawab ibu tersenyum sambil menyeka air matanya.

"Aku akan menemani Axio, bu." kataku sambil mencium kening ibu.

Ayah memang seorang pemburu naga, tapi tidak terlalu handal. Dia sekelompok dengan Zatu, temannya sejak kecil dan pemburu naga paling hebat yang ada di desa kami. Zatu baru saja berangkat untuk ekspedisi pencarian naga putih bersama dengan kelompoknya. Zatu adalah ayah Axio, dan tentu dia tidak tahu keadaan anaknya sekarang.

"Hei." sapaku kepada Axio.

"Hei. Aku mendengar tangisan tadi. Kau tak apa?"

"Ya, ibu sempat menangis tadi. Seharusnya aku yang bertanya mengenai keadaanmu." jawabku sambil bercanda.

"Haha, aku tak apa berkat ibumu. Pasti berat untuk kehilangan ayahmu."

"Ya, tentu. Semua orang punya masalah yang berat. Bukankah begitu?"

"Ya."

"Bagaimana rasanya menjadi seorang pemburu naga?"

"Kadang menyenangkan, kadang mengerikan. Tapi bukan itu yang penting."

"Lalu?"

"Ah, sudahlah. Kau tak ingin mendengar cerita dari seseorang yang baru saja tertusuk tanduk naga kan? Memalukan sekali aku ini, ayah pasti malu jika tahu."

"Haha, memang sulit untuk membayangkan apa yang terjadi padamu. Ayolah, tak apa, lagipula aku sudah terlatih untuk mendengar tangisan ibu setiap hari, apa ada yang lebih buruk daripada itu?" kataku menggodanya.

"Sial kau, haha. Baiklah, aku akan cerita. Aku selalu dibayang-bayangi oleh prestasi ayahku. Semua orang menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Ekspektasi yang tinggi, kau tahu kan. Dan mungkin sekarang aku telah merusak segalanya."

"Oh ayolah, naga merah seorang diri? Siapa yang cukup berani untuk melakukan itu?"

"Cukup berani atau cukup bodoh? Aku sangat putus asa. Sesaat sebelum ayahku pergi, aku ingin memberikannya taring naga merah, tapi aku tak kunjung menemui naga merah. Dan ketika aku menemukannya, situasiku sangat tidak menguntungkan. Aku ingin membuat ayahku bangga. Ketika ia pulang, aku ingin memberikan taring naga merah kepadanya."

"Ayahmu sudah bangga dengan siapa dirimu Axio, masih banyak cara untuk menyambut pulang ayahmu. Kau sudah menjadi pemburu naga yang handal."

"Terima kasih."

Aku melihat matanya yang kosong. Aku tahu, perasaannya sangat tidak baik saat ini. Axio berjuang di bawah bayang-bayang ayahnya. Sesuatu yang sangat sulit dijalani oleh seorang anak muda berumur 22 tahun.

"Baiklah, kau butuh banyak istirahat. Aku akan pergi ke kamarku. Jika ada apa-apa, kau boleh teriak, haha."

"Haha, baiklah. Terima kasih telah menemaniku."

Aku pun meninggalkannya di kamar tamu. Langkahku berat menuju kamar. Banyak pikiran yang terlintas di benakku. Aku selalu melihat Axio sebagai sosok pemburu naga yang ideal, muda dan handal. Tapi kenyataan berbicara lain.

Aku membuka pintu kamarku, dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pemburu naga. Mungkin ibu benar, aku akan pandai menjadi seorang pedagang. Mungkin Odin yang agung punya rencana lain. Mungkin dan mungkin. Begitu banyak kemungkinan, dan aku tak tahu akan menjalani yang mana. 

Aku pun memejamkan mata.