28/03/13

Dari Ku

Bukankah sudah Ku katakan padamu, bahkan sebelum kau dapat mendengar?
Bukankah sudah Ku perlihatkan padamu, bahkan sebelum kau dapat melihat?

Tanyalah, tanyakan lagi pada Ku.
Tentang cinta yang tak akan pernah beratahan lama.
Tentang cinta yang tak akan pernah terbalas.

Dunia ini hanya mimpi semu.
Tempatmu bernanung dan mencari arti keberadaan Ku.
Bukan tempat tinggalmu, apalagi tempat untuk merindu.

Tanyalah iblis dan setan yang menerima cinta Ku.
Mereka abadi.

26/03/13

Apa Arti Keadilan?

Hari ini saya baru saja menghadiri sebuah diskusi mengenai isu UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang sedang marak di seluruh universitas se-Indonesia. Sebuah konsep yang "niat"-nya dapat mengurangi beban mahasiswa dan keluarganya dalam masalah biaya pendidikan. Namun, ternyata masih banyak anomali terhadap kebijakan yang sedang dirancang oleh pemerintah ini dan konsep keadilan akhirnya pun dipertanyakan kembali.

Apa sebenarnya arti keadilan? Saya mendapatkan gambaran umum mengenai keadilan saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya sewaktu itu mendapatkan uang saku yang relatif lebih sedikit ketimbang kakak-kakak saya yang sedang mengenyam pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Kenapa saya harus mendapatkan uang saku yang lebih sedikit? Jawabannya ternyata dijelaskan hanya dengan satu kata oleh guru saya, "kebutuhan". 

Kebutuhan menjadi faktor utama penentu jumlah uang saku saya waktu itu. Ya jelas saja jika saya diberikan uang saku yang lebih sedikit, toh kebutuhan saya masih sedikit, paling mentok cuma jajan minuman es, dan waktu yang saya habiskan untuk belajar di sekolah setiap hari juga singkat, pulang langsung ke rumah. Berbeda dengan kakak saya yang mungkin memiliki kebutuhan lebih banyak. Namun untuk menentukan kebutuhan juga merupakan suatu hal yang relatif. Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, dan kebutuhan bisa ditekan sedemikan rupa untuk tetap menjaga keadaan ekonomi yang sehat. Dari pengalaman saya tersebut, saya memahami keadilan sebagai hal yang sangat relatif. Keadilan bukan berarti memukul rata semua hal menjadi sama, tetapi bagaimana melihat kebutuhan dari "objek" keadilan tersebut dan berusaha untuk memenuhinya. 

Sejalan dengan berkembangnya waktu, konsep keadilan yang saya pegang ini diuji dengan berbagai teori dan perspektif di kelas-kelas kuliah saya. Sosialis-komunis dan liberalisme mungkin menjadi pilihan cara melihat keadilan. Saya selalu beranggapan bahwa membentuk nasib yang sama atau menyamaratakan kesejahteraan adalah suatu hal yang mustahil, namun dimungkinkan. Dalam berbagai cerita kasus negara komunis, penyamarataan kesejahteraan menjadi sesuatu hal yang kejam karena menghilangkan aspek "kesempatan". Dan di liberalisme-lah saya melihat kesempatan bersinar terang meski berada dibalik jeruji besi kapitalisme. Saya percaya bahwa manusia seharusnya dihargai sesuai dengan kemampuan dan usahanya untuk mengembangkan diri melalui kesempatan yang ia ambil. Dan liberalisme (dengan kebebasan individualnya) menjawab itu. 

Perjalanan saya berlanjut dengan pembicaraan mengenai urgensi untuk "mengawal" isu UKT ini dengan seorang teman saya. Dia bertanya kepada saya, "kenapa kamu tertarik dengan isu yang bahkan tidak memiliki dampak langsung denganmu? Apa urgensimu?". Pertanyaan yang mengetuk kedua pintu otak dan hati saya ini mengembalikan saya kepada konsep keadilan yang sudah saya jelaskan tadi. Hendaknya pintu kesempatan terus dibuka dan dijaga untuk tetap ada sebagai kunci menuju keadilan. Memberikan kesempatan yang sama adalah arti keadilan yang sesungguhnya bagi saya. Saya hanya berusaha menjamin kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi terus terbuka lebar bagi siapapun, dan menjamin kualitas pendidikan yang baik bagi generasi selanjutnya.

Sudahkah Anda, saya, kita berlaku adil?

Aku Takut Jatuh Cinta

Aku takut untuk jatuh cinta
Kenapa harus ada kata 'jatuh' sebelum kata 'cinta'?
Aku tak mau jatuh sebelum mendapatkan cinta

Aku takut untuk jatuh cinta
Takut untuk merasakan sakit saat jatuh cinta
Aku takut terikat dengan cinta
Dengan rasa sakitnya, dengan rasa bahagianya

Aku takut untuk jatuh cinta
Takut untuk menjauh dari dia saat cinta telah tiada

22/03/13

Seperti Mereka

Aku tak ingin kau seperti mereka
Seperti para wanita dari negeri pasir yang menangis ketika kekasihnya melakukan ziarah
Ziarah menuju tempat yang tak pasti, berkelana

Aku tak ingin kau seperti mereka
Seperti para istri prajurit pemberani yang menangis karena suaminya mati di tengah perang
Pulang hanya sekedar medali, tanpa nyawa

Aku ingin kau seperti mereka
Seperti para Ratu kerajaan Jawa, yang tegar melihat tambatan hatinya pergi
Tanpa tahu akan kembali, tanpa tahu apakah akan mati

20/03/13

Mengecek E-mail

Mengecek e-mail (electronic mail) menjadi sebuah kebiasaan yang ketinggalan zaman dewasa ini. Saya masih ingat dulu di sebuah acara infotainment, ketika jejaring sosial semacam MySpace, Facebook dan Twitter belum ada, cara berinteraksi antara artis dan fans hanyalah melalui e-mail. Ini bukan berarti saya punya banyak fans ya, hehe (ngarep banget sih). Sekarang bisa kita lihat jejaring sosial menjadi wadah baru untuk berkomunikasi, dan e-mail sepertinya kurang mendapat perhatian. Tapi ini kemudian malah menjadi masalah yang serius dalam dunia formal dan sekarang saya sedang mengalaminya.

Berawal dari pengalaman magang saya dulu, bos saya adalah seseorang yang bisa dikatakan kurang rajin membuka e-mail, dan akibatnya banyak klien yang terlepas begitu saja. Untungnya sekarang sudah ada bagian/divisi tersendiri yang memang memiliki kewajiban untuk mengecek e-mail. Padahal, sebagai Public Relation, sudah tugas kita untuk terus menjaga hubungan dengan klien. Cerita ini mungkin bisa saya kaitkan dengan pengalaman yang baru saja saya dan mungkin teman-teman juga alami.

Saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada sebuah institusi dalam konteks beasiswa, dari beberapa hari yang lalu, dan sampai sekarang belum mendapatkan balasan. Memang, kejadian seperti ini bukanlah hal yang baru dan patut menjadi perhatian kita semua. Karena bagi saya, ini merupakan masalah komunikasi yang fatal akibatnya kepada image. Saya juga terkadang kesal kepada orang lain (dan terkadang dengan diri saya sendiri, hehe) yang jarang mengecek e-mail-nya. Padahal e-mail merupakan sarana komunikasi yang terhitung privat jika dibandingkan dengan Facebook atau Twitter yang lebih publik (bisa sih pakai Message atau DM). Entah apakah ini memang institusinya yang bermasalah atau e-mail-nya yang tak kunjung tiba. Jika ditilik lebih jauh, ini bisa mempengaruhi profesionalitas lho.

Dari cerita singkat saya ini akhirnya saya menyimpulkan bahwa e-mail adalah fasilitas yang penting dan sebaiknya digunakan secara optimal oleh siapapun. Melalui e-mail kita bisa berkomunikasi tanpa batasan wilayah, dengan kecepatan sepersekian detik, dan tidak lupa, karena e-mail-lah komunikasi kita bisa berkembang dengan pesat. Jadi, mari kita perbaiki ke-e-mail-an kita, balas e-mail yang kita dapatkan (jika perlu dibalas), cek setiap hari, dan jaga hubungan kita dengan orang lain.

19/03/13

Ketidakpedulian Adalah Sebuah Penyakit Menular

Malam ini dengan tubuh yang kurang sehat saya memutuskan untuk menonton sebuah film yang selalu saya lihat sepotong demi sepotong (entah karena saya mencari "scene" tertentu atau memang saya takut menontonnya) tanpa sepenuhnya saya ikuti. American Psycho, sebuah film yang diangkat dari sebuah novel karya Bret Easton Ellis ini mengemas kehidupan Amerika (New York) di tahun 1980an. Film yang bergenre serial killer ini menakutkan namun menimbulkan rasa penasaran bagi saya akan hal yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Bercerita tentang seorang eksekutif muda Wall Street yang sempurna secara fisik (tampan, kaya, memiliki segalanya) namun cacat secara psikologis (psychopath), film ini sarat akan pesan sosial. Manusia/masyarakat telah melupakan jati dirinya dan ter-consumed oleh kekayaan dan ketidakpedulian. Pembunuhan berantai yang dilakukan oleh sang aktor utama menggambarkan kehancuran sistem sosial masyarakat Amerika saat itu. Ya, ketidakpedulian menjadi sebuah penyakit yang menular dan sangat berbahaya. Semua orang sangat self-obsessed dan tidak mendalami orang yang lainnya.

Sejak awal film, penonton akan digiring kepada tingkat individualitas yang tinggi. Dari rutinitas hingga aktivitas komunikasi yang, menurut saya, mengalami kecacatan karena selalu salah menyebut nama/mengenal orang lain (meskipun terkesan telah kenal/berteman lama). Pesan "hancurnya sistem sosial masyarakat" tersampaikan ketika seluruh kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sang aktor utama tidak kunjung terungkap dan malah dilupakan oleh masyarakat. Penggunaan apartemen sebagai tempat "penyimpanan" mayat menjadi suatu hal yang tidak berarti bagi pemiliki apartemen ketika ingin menjual kembali apartemen tersebut demi harga jual.

Pada akhirnya film ini akan memutar kembali pemikiran kita mengenai "profit vs humanity". Sejauh mana kepedulian Anda terhadap orang lain? Sejauh mana kepedulian orang lain terhadap Anda? American Psycho telah membawa "humanity" ke dalam tingkat yang baru.

15/03/13

Lelah Malam

Melewati jalan yang sudah sepi, lampu merah telah mati.
Melewati toko yang telah tutup menunggu pagi.

Malam ini aku merasa sangat lelah.
Dengan dunia yang tak pernah kehabisan masalah.
Dan cinta yang selalu membuat resah.

Aku ingin berhenti sejenak.
Mematikan waktu tanpa siapapun disisiku, sendiri tanpa jantung yang berdetak.