25/06/14

Cantik Itu Mahal

"Kenapa ya bu, kenapa bisa begini," kata anak muda itu dengan wajah penuh kekecewaan.

"Ibu kan sudah bilang, hal-hal seperti ini tidak hanya terjadi di televisi," sang ibu berkata sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.

"Kenapa materi, harta, benda, bisa membuat kita bersikap sangat berbeda terhadap manusia lainnya bu?" tangannya mulai mencari-cari batu di taman untuk dilempar ke kolam sebagai pelampiasan kekesalannya.

Sang ibu hanya tertegun. Sore itu, ia harus menjelaskan pahitnya hidup kepada anak semata wayangnya yang masih terlalu muda. Sembari merangkai kata, kenangan akan dosa-dosanya di masa lalu menghiasi pikirannya.

. . .

"Aku gak mau jalan sama kamu, kalo kamu gak bawa mobil," wanita muda itu meronta mencoba melepas tangannya dari genggaman seorang pria sebayanya.

"Kamu kok matre banget sih?" pemuda itu tak juga melepas genggamannya.

"Lepasin! Kalo gak nanti aku teriak!" si wanita mengancam.

"Oke, oke! Aku kecewa sama kamu, pikiran kamu sempit!" akhirnya pemuda itu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan si wanita.

"Sempit? Mungkin kamu ya yang belum sadar. Aku ini wanita, senjata utamaku ya kecantikanku. Aku harus jaga asetku dong! Lagipula, kalo memang benar kamu anak orang mampu, pastinya kamu punya mobil!"

"Aku ga pernah bilang sama kamu kalo aku punya mobil,"

"Kalo begitu, aku yang salah. Maaf ya, aku gak bisa jalan sama kamu,"

"Mau sampai kapan kamu memberikan harapan-harapan palsu ini kepada para lelaki, hey Laila?"

"Sampai aku menemukan dia yang bisa menjagaku, merawatku, mengerti kebutuhanku. Sadarlah Amin, hidup itu mahal, dan laki itu gak cuma kamu. Wajar saja jika aku menebar kecantikanku, bukan cuma untuk kau seorang,"

"Berarti semua ini hanya masalah materi?"

"Amin, ayolah. Aku tahu kau pintar,"

"Tapi aku mencintaimu Laila! Aku mencintaimu apa adanya!"

"Kamu tahu aku harus tampil cantik kan? Dan biaya untuk kecantikan itu mahal. Bagaimana aku bisa tetap tampil cantik dengan menaiki motormu itu? Polusi, debu, kotoran, iyuuuh. Aku hanya mengambil jalan tengah. Jujurlah pada dirimu sendiri Amin, kau tidak akan mencintaiku jika aku jelek kan?"

Pemuda itu terdiam mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut manis si wanita cantik itu. Kata-katanya seperti menusuk hati dan membolak-balikkan pikirannya. Apa iya cinta itu datang dari mata? Apa iya cinta harus dipupuk dengan harta? Apakah hidup semahal ini?

"Sudahlah, kembalilah ketika kamu punya mobil sendiri," sang wanita pun pergi, tertutup kabut kenangan.

. . .

"Ibu, ibu," anak muda itu mengguncang tubuh ibunya yang membatu sesaat.

"Iya nak? Maaf ya, ibu melamun tadi,"

"Aku lapar,"

"Ayo, kita makan di restoran favoritmu. Panggil pak Juki untuk mengantar kita,"

"Pak Juki!" anak muda itu memanggil supirnya.

"Iya mas?" lelaki tua dengan kumis lebat datang dengan tergesa-gesa.

"Tolong antar aku sama ibu ke restoran ya,"

"Baik mas,"

"Oh iya, aku lupa menaruh sepeda motor ayah tadi, tolong masukkan sekalian ya pak," anak muda itu dengan nada lembut menyuruhnya. Langkah tergesa-gesa pun menghiasi kaki tua pak Juki selepas mendengar perintah majikannya itu.

Setelah pak Juki memasukkan motor majikannya ke garasi, ia mengeluarkan mobil mewah majikannya dan membukakan pintu untuk mereka.

"Pak Juki, besok pagi jangan lupa jemput bapak ya di bandara," sang ibu berkata sesaat sebelum menaiki mobil.

"Baik bu, besok pagi saya akan jemput pak Amin," kata si supir sambil menutup pintu mobil.

24/06/14

Sampai Nanti

"Kalo wanita yang disakiti, biasanya sebuah hubungan masih bisa bertahan. Si laki bakal anulah, inilah, biar hubungan itu bisa kembali berjalan. Tapi sayangnya, kalo si laki yang disakiti... Well, aku belum pernah melihat laki-laki yang cukup pemaaf,"

Aku kembali meminum kopi susu hangatku. Mataku masih memandang lampu jalanan ibukota yang terang benderang. Malam yang berisik mengingatkanku tentang sebuah kisah tentang angka lima yang dulu pernah aku baca dalam sebuah surat kabar. Sebuah kisah yang tenang dan jauh dari keramaian. Tentang sepasang kekasih yang harus saling menyakiti untuk dapat menemukan jalan hidup mereka masing-masing.

"Sudah, kalo memang jodoh gak akan kemana. Sekarang fokus saja dulu dengan pekerjaanmu, bukankah masih banyak mimpi-mimpimu yang belum tercapai?"

"Ya, kurasa kau benar. Aku terlalu lama tenggelam dalam urusan wanita. Kau tahu, dulu pernah sesekali seorang teman meramalku. Katanya, dari tiga kelemahan pria (harta, tahta, dan wanita), aku akan jatuh di tangan wanita," aku tersenyum mengakhiri kalimatku yang disambut tawa ringan olehnya.

"Ah, andai ya waktu terulang kembali,"

"Untuk apa waktu terulang kembali?"

"Kenapa kau berkata demikian?"

"Meskipun waktu terulang kembali, aku akan tetap memilih jalan yang sama. Melewati hari-hariku persis seperti apa yang telah aku lewati. Hanya mereka yang menyesal dengan hidup mereka yang meminta waktu bisa diputar kembali, Isabel,"

"Ah, kau ini, selalu saja menyindirku,"

"Aku tidak menyindirmu, aku hanya..."

"Menerima kenyataan?"

"Bisa dibilang begitu. Kita tidak akan pernah bisa bergerak jika kita terus melihat ke belakang, bukan? Aku tidak pernah berkata aku tidak merindukan masa laluku. Semua yang indah dan buruk telah kita lalui, menjadikan kita seperti hari ini,"

"Menjadikan kita secangkir kopi susu dan segelas air putih?" Isabel tertawa.

"Ah, kau merusak suasana," aku kembali meminum kopi susuku.

Malam yang berisik di ibukota tidak pernah mengganggu mimpi-mimpi indah yang tercipta oleh insan-insan manusia yang sedang tertidur lelap. Kita adalah hasil akumulasi dari masa lalu kita, tapi masa depan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang akan kita buat, dimulai dari sekarang.

Sampai nanti. Sampai masa depan menemuimu.

"I suppose, in the end, the whole of life becomes an act of letting go. But what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye." 
-Life of Pi

11/06/14

11 Juni 2014

Kepada Isabel,

Sudah lama kita tidak berbincang atau sekedar bertukar sapa. Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih seperti dahulu? Tersenyum tersipu malu jika kupandang matamu lebih dari tiga detik? Oh, Isabel, kau tahu, sungguh dalam hati masing-masing manusia menyimpan rindu yang tak terkira. Kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada cinta, dan kepada dendamnya.

Aku baik-baik saja di hutan beton ini. Aku masih menjadi diriku, atau mungkin lebih tepat mengatakannya, aku kembali seperti dulu lagi. Seperti sejak sebelum bertemu denganmu. Isabel, dunia ini keras ya. Terkadang kita lupa bahwa sebenarnya kita hanya memerlukan sebuah senyuman untuk dapat membuat sepersekian detik hidup kita sendiri atau bahkan hidup orang lain lebih indah.

Isabel, dari semenjak kepergianku, banyak cerita yang belum aku sampaikan. Entahlah, apakah suratku ini akan sampai padamu atau tidak. Meskipun sampai, apakah akan kau baca? Ah biarlah. Lagi-lagi, cerita tentang cinta memang cerita yang tidak akan pernah habis dimakan usia. Bagaimana dengamu? Sudahkah kamu menemukan cinta sejatimu? Terakhir kita bertukar kabar, kau masih mengidam-idamkan sosok yang aku pikir tidak akan pernah hadir di dunia ini. Kau memang seorang utopis sejati, haha.

Sungguh cinta itu sulit dimengerti. Yang dekat terkadang terasa jauh, yang jauh terkadang terasa dekat. Apakah kau pernah merasakannya juga, Isabel? Ya, aku bertemu dengan dia yang dulu pernah merebut hatiku dengan senyum manis dan paras wajah cantiknya. Aku menghabiskan hariku dengannya melewati senja yang tertutup awan hitam polusi kendaraan ibukota. Aku menyukainya, jujur. Tapi terkadang ada rasa yang kurang, yang janggal. Hening di antara kami sangat asing. Dia tak pernah banyak bertanya, dia tak pernah banyak memberi kabar, tapi dia selalu ada. Katakan, apakah itu cinta?

Ah, Isabel, aku ini lelaki yang tak akan pernah terpuaskan hasratnya. Beberapa malam yang lalu aku juga memberanikan diri untuk bertemu dengan dia yang matanya menembus relung jiwaku. Malam itu rembulan ditutupi hujan yang turun dengan malu-malu, memberikanku nuansa romansa yang tak pernah aku rasakan semenjak kepulanganku ke ibukota. Ia begitu cantik, Isabel. Aku tak bisa melepas pandanganku darinya. Kendati demikian, mata kami tak pernah bertemu karena ia sibuk berbincang dengan sahabatnya. Ah! Aku merasa bodoh sekali malam itu. Ragaku seakan-akan membeku dengan keberadaannya. Aku tak bisa menjauh, tapi aku segan untuk mendekat. Aku takut terlalu dekat, Isabel. Lagi-lagi, apakah itu cinta?

Aku rasa ia akan menjadi cinta yang tak berbalas Isabel. Tapi biarlah, memandang wajahnya saja sudah membuatku senang, membuat bibirku tersenyum tanpa kusadari. Terkadang aku suka terperanjat dengan diriku sendiri yang diam-diam menyimpan foto-fotonya di telepon genggamku. Sungguh lucu ya? Haha.

Sudahlah Isabel, besok aku harus kembali menjalani hari layaknya pria-pria dewasa. Menyusuri jalanan yang keras dan tak mengenal belas kasih demi mencari rezeki. Aku harap kau tak keberatan dengan kisahku yang agak panjang malam ini.

Dari aku yang merindukanmu,

P.S: 
Cepatlah pulang, banyak orang membutuhkanmu 9 Juli nanti.

08/05/14

Catatan Perang Korea

Salah satu karya dari penulis sekaligus wartawan Indonesia, Mochtar Lubis, ini mungkin adalah buku pertama yang memberikan perspektif berbeda tentang sebuah perang yang terbit di Indonesia. Dengan gaya bahasanya yang khas, Mochtar Lubis membawa pembaca melihat perang Korea pada dekade awal tahun 1950-an lebih dekat. Seperti yang disimpulkan oleh Mochtar lubis, "Perang menghasilkan kesedihan, bencana, duka, air mata, dan lain-lain. Perang adalah keruntuhan dari perikemanusiaan".

Pergolakan di negeri Ginseng ini mendapat perhatian banyak negara di dunia karena menjadi salah satu arena perebutan pengaruh antara ideologi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Selepas kekalahan Jepang di Perang Dunia II, Korea sebagai bagian dari jajahan Jepang ikut merasakan bagaimana pemimpin negara-negara besar mempengaruhi kehidupan mereka. Korea Utara yang dibawahi oleh Uni Soviet memiliki pemimpin bernama Kim Il Sung yang notabene merupakan pahlawan perang ketika masa penjajahan Jepang dulu. Di sisi lain, Korea Selatan yang dibawahi oleh Amerika Serikat secara "demokratis" memilih Syngman Rhee sebagai Presiden mereka.

Mochtar Lubis bersama dengan wartawan lainnya dari berbagai negara meliput jalannya peperangan. Bersumber dari keterangan banyak warga Korea, Mochtar Lubis menyimpulkan bahwa perang Korea memang dimulai oleh pihak Korea Utara yang secara mendadak menduduki kota Seoul. Semenjak itu pertumpahan darah tidak bisa dihindari oleh kedua belah pihak.

Kisah Tentang Penderitaan Karena Perang
Mochtar Lubis menekankan bahwa penulisan buku ini bukan sepenuhnya untuk menceritakan bagaimana perang ini berjalan, tapi bagaimana dampaknya terhadap masyarakat Korea. Bab yang saya paling suka dari buku ini adalah Bab 5: Kimpo-Seoul. Dalam bab tersebut ada sebuah cerita yang mengiris hati saya dan membuka mata saya bahwa perang bukan hanya sekedar pertarungan politik ataupun ideologi, namun juga pertaruhan nyawa.

Entah ini bersifat subjektif atau tidak, tapi di dalam bab tersebut Mochtar Lubis menceritakan bahwa sesuai dengan keterangan-keterangan yang didapatkannya dari masyarakat Korea, Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menggunakan perang Korea sebagai momentum untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Syngman Rhee, yang tidak terlalu populer di mata masyarakat dan memiliki banyak musuh di DPR, menggunakan polisi militer Korea Selatan untuk tidak hanya "menghukum" masyarakat Korea Selatan yang benar-benar terbukti membantu pasukan Korea Utara, namun juga "menghukum" para lawan politiknya dengan dakwaan yang sama. Dalam situasi yang kacau, hukum tidak berlaku sesuai dengan prosedur. Penculikan lawan-lawan politik Syngman Rhee berjalan mulus tanpa ada halangan karena keadaan negara yang kacau.

Salah satu kisah tentang penculikan tersebut ditemui oleh Mochtar Lubis ketika mengamati keadaan di depan gedung parlemen Korea Selatan. Seorang wanita menghampirinya dengan balutan luka di tangannya, bercerita dengan tangis yang tak tertahankan dalam bahasa Korea yang tidak ia mengerti. Hingga akhirnya datang seorang wanita yang bisa berbahasa Inggris menerjemahkan kata-katanya untuk Mochtar Lubis. Awalnya Mochtar Lubis mengira wanita tersebut menangis karena kesakitan akibat luka di tangannya dan mencoba meminta obat kepada Mochtar Lubis, namun ternyata perkiraannya salah. Setelah diterjemahkan, ternyata wanita tersebut mencoba untuk menanyakan keberadaan suaminya kepada Mochtar Lubis. Ia bercerita pada Mochtar Lubis bahwa suaminya ditangkap tanpa penjelasan ketika ia dan suaminya berkeliling kota Seoul untuk mencari sisa-sisa makanan. Semenjak hari itu ia terus mencari suaminya dan tanpa henti berkeliling kota Seoul.

Cerita tersebut merupakan satu dari banyak kisah penderitaan karena perang Korea yang ditemukan oleh Mochtar Lubis. Banyak kisah-kisah yang dicatat oleh Mochtar Lubis yang tak akan pernah tersampaikan oleh surat kabar manapun di seluruh dunia. Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih menganggap perang sebagai sebuah jalan keluar agar dapat melihat sisi lain dari perang yang terkadang terlupakan karena termakan oleh waktu.

03/05/14

Bukan Spiderman

Amazing Spiderman 2 memang menyajikan sesuatu yang berbeda dengan Spiderman sebelumnya ketika masih diperankan oleh Tobey Maguire. Dengan kenakalan Andrew Garfield saat mengenakan kostum Spiderman dan hadirnya Gwen Stacy yang diperankan Emma Stone memberikan warna baru untuk si manusia laba-laba. Tapi tulisan ini bukanlah untuk membuat review tentang film manusia laba-laba.

Salah satu sorotan yang paling tajam dari setiap kisah pahlawan super adalah hadirnya dua kehidupan yang berbeda dari keseharian sang pahlawan. Superman dengan Clark Kent-nya yang bekerja sebagai reporter, Spiderman dengan Peter Parker sebagai seorang remaja yang merintis menjadi fotografer, atau si millionaire Bruce Wayne yang memilih untuk mengamankan kota Gotham sebagai Batman. Tapi apakah hanya mereka yang memiliki dua kehidupan yang berbeda? Saya rasa tidak. Pernahkah kalian merasa bahwa kita ini memiliki hidup yang beragam? Minimal seperti para pahlawan super ini, kita punya dua kehidupan yang berbeda. Mengutip kata-kata bibi May, "terkadang kita menyembunyikan kehidupan kita, bahkan kepada mereka yang kita sayangi". Tapi kehidupan apa sebenarnya yang kita sembunyikan? Everybody have their own issues I think.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle
Kutipan dari Ian Maclaren mungkin bisa menjelaskan bagaimana seseorang memiliki dua kehidupan yang berbeda. Setiap orang mengalami pertarungan yang hebat dalam hidupnya setiap hari, setiap detik, dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Kita pun demikian saya rasa. Seseorang bisa saja sangat ramah dalam satu pertemuan, namun mungkin dia tidak akan seramah itu dalam pertemuan-pertemuan lainnya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam setiap detik hidupnya. Seperti halnya Spiderman bukan? He fought a very hard battle against the super-villains and no one know that he was only a teenager with the same problem like the rest of us.

Sometimes the person who tries to keep everyone happy is the most lonely people
Bagaimana sebuah senyuman itu bisa lahir mengalami proses yang rumit. Senyuman, sebuah hal sederhana yang dapat menyebarkan kebahagiaan ternyata memiliki dilemanya sendiri dengan tangis yang disimpan oleh setiap pemiliknya. Sebagai manusia, kita adalah makhluk hidup yang cukup egois. Kita ingin orang lain untuk menghargai kita, mengerti akan kesedihan dan keadaan kita, namun jarang untuk mencoba mau untuk sekedar lebih peduli dengan orang lain. Kita cenderung senang untuk ditanya ketimbang bertanya, sekedar bertanya "ada apa?" atau "bagaimana kabarmu?". Kita lupa bahwa kita perlu mendengar sebelum didengar. Kita terus ditekan oleh sekitar kita, menjadikan kita pribadi yang semakin individualistis. Lelah dengan keluhan sedang senyuman harus terus terpajang di wajah.

Pada akhirnya, kita semua adalah para pahlawan super minus kekuatan super bukan? Kita memiliki sisi-sisi kehidupan yang disembunyikan. Kita juga harus menjaga perasaan tiap-tiap orang dengan menimbang perasaan kita sendiri. Semakin kita hidup, semakin rumit kehidupan.

"The loneliest people are the kindest. The saddest people smile the brightest. The most damaged people are the wisest. All because they do not wish to see anyone else suffer the way they do."

10/03/14

Terima Kasih, Neil Strauss

Saya telah menyelesaikan salah satu buku yang saya beri poin penuh (bintang lima) di akun Goodreads saya. Buku berjudul "The Game: Penetrating The Secret Society of Pickup Artists" karya Neil Strauss ini memakan waktu satu bulan bagi saya untuk menyelesaikannya. Saya sangat antusias membacanya dan 452 halaman tidak menjadi masalah serius bagi saya. Dan pada akhirnya, seperti buku-buku bagus lainnya yang memberikan saya lebih dari sekedar cerita, tidak ada yang dapat saya katakan selain berkata, "Terima kasih, Neil Strauss."

The Game
Suatu kebetulan memang ketika saya menemukan buku ini di rak bawah toko buku Periplus Malioboro. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mencari buku-buku yang aneh-aneh di setiap toko buku, dan untungnya saya dipertemukan oleh buku yang tersisa satu ini ketika itu. Berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas langsung menarik perhatian saya. Ukurannya yang kecil ternyata tidak mencegah buku ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan saya.

Buku ini singkatnya bercerita tentang seorang penulis majalah RollingStones yang mendapat tugas untuk menulis tentang sebuah komunitas pickup artists yang mulai tren di masanya. Diawali dengan ketidakpercayaan, Neil Strauss menerima pekerjaan tersebut dan menemukan bahwa dirinya telah tersedot dalam dunia yang selamanya akan merubah dirinya dan jutaan pembaca buku ini. Selama dua tahun penuh dia menyelami (sambil meminum juga) dunia pickup artists. Belajar mengenai trik-trik bagaimana untuk mendekati wanita hingga membawanya ke kamar (tidak selalu) untuk "dijelajah". Di tengah perjalanan, Neil Strauss bertemu dengan berbagai macam karakter yang di dalam bukunya hanya dituliskan dengan nama alias atau kode sandi mereka sebagai pickup artists, dan juga sempat berinteraksi dengan artis-artis papan atas Hollywood.

"To win the game was to leave it."
Ketika buku lain memberikan saya bagian-bagian favorit yang biasanya di awal atau di tengah cerita, buku ini memberikan efek yang luar biasa di akhir cerita. Saya tidak akan memberitahu Anda bagaimana buku ini akan berakhir untuk tetap menjaga ketertarikan Anda untuk membacanya, tapi saya ingin berbagi sedikit kesan saya terhadapnya. 

Neil Strauss berhasil menjalani mimpi mayoritas laki-laki normal di dunia untuk bisa tidur dengan berbagai macam wanita cantik di seluruh dunia. Sebuah dunia yang akhirnya harus dengan rela ia tinggalkan demi kebaikan hidupnya. Lalu apa yang menarik? Seperti yang tertera di sub bab tulisan saya ini, permainan usai ketika kita pergi meninggalkannya. Apa yang terjadi selama dua tahun dalam hidup Neil Strauss, dan mungkin juga kita yang sudah membacanya, bukan lain hanyalah sebuah permainan. Permainan yang harusnya kita mainkan dengan tujuan agar kita tidak terjebak di dalamnya untuk waktu yang lama. Permainan berbahaya yang mampu membuat siapapun rela meninggalkan hampir semuanya: kekayaan, kesehatan, waktu, pendidikan, bahkan masa depan untuk dapat bermain dengan sangat baik di dalam permainan ini.

Buku ini berhasil me-reset semua yang terjadi dalam pikiran pembacanya untuk kembali melanjutkan hidup dan berhenti memainkan permainan ini ketika kita selesai membacanya. Permainan ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah alat bagi kita untuk mencapai tujuan awal untuk mempelajari dunia pickup artists. Apakah kita ingin menggunakannya hanya sekedar untuk bermain menemukan wanita yang berbeda setiap hari untuk menemani malam-malam yang sepi? Atau untuk mencari the one yang akan menemani kita hingga akhir hayat? Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Sekali lagi, "Terima kasih, Neil Strauss."

07/03/14

Nyanyian Kantin

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya sudah jarang sekali untuk pergi ke kampus. Yah, paling satu atau dua kali untuk sekedar bertemu dosen atau mengurus keperluan skripsi. Saya juga sudah tidak berurusan dengan politik kampus, fakultas, atau jurusan yang biasanya tidak saling peduli satu sama lain. Saya hanya sekedar mendengar angin gosip yang berterbangan tanpa punya kendali atau kekuatan yang valid sebagai pengurus organisasi ataupun semacamnya. 

Fakultas saya tercinta di Bulaksumur terlihat rindang-rindang saja dengan angin sayu yang mendayu. Gedung-gedung baru megah berdiri, tempat parkir yang meluas mengundang lebih banyak kendaraan untuk parkir di sana, dan tentunya didominasi oleh kendaraan para mahasiswanya. Siang ini saya ke kampus datang sekedar untuk main, bertemu dengan teman-teman yang masih mengambil mata kuliah. Selain itu saya juga ingin mengecek gosip tentang kantin fakultas saya yang hampir satu tahun ini "mati" tak bernyawa.

"Kamu tau gak sih, masa ibu penjaga kantin ada lagi lho!" kata seorang teman via telpon genggam.

"Ah, masa? Bukannya sudah ganti tender?" balasku sambil malas-malasan.

"Kesini deh, kita diminta dukungan untuk pengaduan masalah kantin sama si ibu."

"Siang ya aku kesana."

Siang datang, matahari tegap berdiri. Lantai yang berlapis ubin, beton-beton penyangga bangunan menyapa. Saya berjalan ke kantin untuk bertemu dengan teman-teman. Tanpa banyak bicara saya langsung mencoba salah satu penjaja makanan di kantin baru itu. Masih seperti dulu, membayar makanan pun harus ke kasir. Sejauh ini belum ada kecurigaan. Kemudian saya pun ke kasir, dan bertemu dengan ibu kantin.

"Hai bu," sapaku sambil membayar.

"Halo mas," si ibu mengambil kembalian. "Oh iya mas, saya mau minta tolong. Besok saya mau bertemu dengan pihak kampus ini, saya butuh dukungan mas dan teman-teman," si ibu memberikan buku dengan banyak catatan tangan dari mahasiswa-mahasiswi serta komplain mereka tentang kantin.

"Loh, loh, memang ada apa ya ini bu?"

"Aduh mas, gimana ya saya jelasinnya. Ya memang awalnya kontrak kami dulu kan sudah habis, lalu kan katanya mau ada perbaikan fasilitas, dicat ulang, bangku-bangku, meja-meja, dan stan-stan akan diperbaiki, diganti yang lebih bagus. Tapi ternyata kita toh tidak bisa jualan lagi."

"Walah, ini memang wewenang siapa sekarang bu?"

"Walah, mas. Saya ini wong cilik, masalah itu kan yang lebih tinggi yang tahu."

"Ini sudah saya tulis komentar saya. Coba ya bu nanti saya kasih tahu teman-teman saya yang gerak di organisasi, siapa tahu bisa bantu."

"Wah, matur nuwun lho mas!" kata si ibu terlihat senang.

Setelah itu saya kembali ke tempat duduk. Cerita yang mengalir ternyata memberi banyak informasi serta sedikit cross check. Ada yang bilang harga sekarang jauh lebih mahal dari yang dulu, ada yang bilang tidak seenak dulu, tapi juga ada yang bilang dulu sempat ada pengetesan makanan untuk penjaja di kantin oleh pihak kampus yang terbuka bagi mahasiswa. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Saya benar-benar bingung dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Apakah semua orang seperti saya? Atau hanya saya yang seperti ini karena jarang ke kampus? Kalo iya, tak apa, tapi kalo tidak, wah, bahaya. Lalu mereka yang memberi dukungan itu apakah tahu betul apa duduk permasalahannya?

Di saat-saat seperti ini saya jadi gemes dengan organisasi-organisasi kampus yang katanya kerakyatan ini. Apakah mereka sudah tahu? Kalo sudah, mereka melakukan apa ya? Apakah sudah berusaha? Jika sudah, menghasilkan apa? Tak masalah jika gagal, tapi semua harus tahu apa yang terjadi. Informasi dan transparansi harus tetap dijunjung tinggi. Jangan menunggu untuk diminta menjelaskan, mulailah menjelaskan. Buat awareness di antara kita semua, bangkitkan rasa kepedulian. Bukankah itu tugas kita semua? Tidak perlu membeda-bedakan jurusan, apalagi agama. Daripada jauh-jauh membahas soal negara atau terlalu sering membicarakan seminar-seminar skala nasional atau internasional, bagaimana jika kita memberi sedikit perhatian bagi sekitar kita? Alangkah lebih baik jika ada edaran, public hearing, atau informasi berbentuk lainnya yang bisa menjelaskan semuanya dari semua organisasi mahasiswa yang tidak terlalu jauh aktif dari isu ini, atau yang anggotanya sering mengisi perut mereka di sini. 

Dulu sempat ada vandalisme yang mempertanyakan isu ini, namun entah sudah kemana hingar-bingarnya. Katanya bersatulah, katanya kerakyatanlah, katanya perjuanganlah, katanya kekeluargaanlah, apa artinya semua jika seperti ini sekarang? Alat makan tak bisa bicara, jangan biarkan mereka terbuang sia-sia hanya karena perut ini sudah kenyang. Dulu kita sempat dihina sebagai elit berotak yang hidup dibalik jeruji beton mewah ber-AC karena tidak mau pergi ke jalan. Sekarang tidak perlu pergi ke jalan untuk membantu, terlalu jauh, dan mungkin terlalu riskan. Coba lihat dan dengar mereka yang bernyanyi di kantin.