06/05/12

Pemburu Naga

"Ambilkan air hangat, cepat!" teriak ibu kepadaku.

Aku langsung berlari menuju dapur untuk mengambil air dari tungku perapian dan memberikannya kepada ibu.

"Tatap mataku anak muda, jangan lihat yang lain. Belum waktunya kau pergi ke Valhalla." ibu meyakinkan Axio.

"Oh, Odin yang agung. Setidaknya izinkan aku bertemu dengan naga itu lagi." kata Axio sambil memegang perutnya yang tertancap oleh tanduk naga, lukanya sangat parah.

Malam itu sangat larut, Axio berhasil menemukan naga merah yang sedang beristirahat di danau Sapphire. Dia mencoba menaklukkannya seorang diri. Dia memang seorang pemburu naga yang handal, tapi naga merah jelas bukan tandingannya.

Desa kami memang terkenal sebagai desa para pemburu naga. Ayahku meninggal akibat lengah ketika berburu dengan kelompoknya. Aku juga ingin menjadi pemburu naga seperti ayah.

"Dia akan baik-baik saja, tanduknya sudah berhasil aku cabut. Biarkan dia bermalam di sini. Kalian kembalilah ke rumah, jadikan ini sebagai pelajaran untuk tidak berburu naga seorang diri. Ingat kata-kataku! Aku tak ingin ada mayat di rumahku." kata ibu kepada semua yang ada di rumah kami.

Ibu adalah seorang perawat yang ternama di desa kami. Sayang, ibu tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah waktu itu. Kejadian itu membuatnya melarangku untuk menjadi pemburu naga. Sempat ada pembicaraan antara kami berdua untuk pindah ke kota Gale. Ibu ingin aku belajar dagang dengan paman Leo. Tapi aku bersikeras ingin menyelesaikan sekolah para pemburu naga di sini. Itu juga merupakan amanat ayah yang terakhir, ibu pun menerimanya.

"Aku tak ingin menjadi orang yang kehilangan segalanya. Kau sangat berharga bagiku, anakku. Aku telah kehilangan seorang kekasih, seorang suami, dan seorang kepala keluarga yang baik di tanganku sendiri." kata ibu memegang tanganku sambil meneteskan air mata.

"Dan seorang pemburu naga, jangan lupakan itu ibu." tambahku sambil menggenggam tangan ibu.

"Iya, iya." jawab ibu tersenyum sambil menyeka air matanya.

"Aku akan menemani Axio, bu." kataku sambil mencium kening ibu.

Ayah memang seorang pemburu naga, tapi tidak terlalu handal. Dia sekelompok dengan Zatu, temannya sejak kecil dan pemburu naga paling hebat yang ada di desa kami. Zatu baru saja berangkat untuk ekspedisi pencarian naga putih bersama dengan kelompoknya. Zatu adalah ayah Axio, dan tentu dia tidak tahu keadaan anaknya sekarang.

"Hei." sapaku kepada Axio.

"Hei. Aku mendengar tangisan tadi. Kau tak apa?"

"Ya, ibu sempat menangis tadi. Seharusnya aku yang bertanya mengenai keadaanmu." jawabku sambil bercanda.

"Haha, aku tak apa berkat ibumu. Pasti berat untuk kehilangan ayahmu."

"Ya, tentu. Semua orang punya masalah yang berat. Bukankah begitu?"

"Ya."

"Bagaimana rasanya menjadi seorang pemburu naga?"

"Kadang menyenangkan, kadang mengerikan. Tapi bukan itu yang penting."

"Lalu?"

"Ah, sudahlah. Kau tak ingin mendengar cerita dari seseorang yang baru saja tertusuk tanduk naga kan? Memalukan sekali aku ini, ayah pasti malu jika tahu."

"Haha, memang sulit untuk membayangkan apa yang terjadi padamu. Ayolah, tak apa, lagipula aku sudah terlatih untuk mendengar tangisan ibu setiap hari, apa ada yang lebih buruk daripada itu?" kataku menggodanya.

"Sial kau, haha. Baiklah, aku akan cerita. Aku selalu dibayang-bayangi oleh prestasi ayahku. Semua orang menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Ekspektasi yang tinggi, kau tahu kan. Dan mungkin sekarang aku telah merusak segalanya."

"Oh ayolah, naga merah seorang diri? Siapa yang cukup berani untuk melakukan itu?"

"Cukup berani atau cukup bodoh? Aku sangat putus asa. Sesaat sebelum ayahku pergi, aku ingin memberikannya taring naga merah, tapi aku tak kunjung menemui naga merah. Dan ketika aku menemukannya, situasiku sangat tidak menguntungkan. Aku ingin membuat ayahku bangga. Ketika ia pulang, aku ingin memberikan taring naga merah kepadanya."

"Ayahmu sudah bangga dengan siapa dirimu Axio, masih banyak cara untuk menyambut pulang ayahmu. Kau sudah menjadi pemburu naga yang handal."

"Terima kasih."

Aku melihat matanya yang kosong. Aku tahu, perasaannya sangat tidak baik saat ini. Axio berjuang di bawah bayang-bayang ayahnya. Sesuatu yang sangat sulit dijalani oleh seorang anak muda berumur 22 tahun.

"Baiklah, kau butuh banyak istirahat. Aku akan pergi ke kamarku. Jika ada apa-apa, kau boleh teriak, haha."

"Haha, baiklah. Terima kasih telah menemaniku."

Aku pun meninggalkannya di kamar tamu. Langkahku berat menuju kamar. Banyak pikiran yang terlintas di benakku. Aku selalu melihat Axio sebagai sosok pemburu naga yang ideal, muda dan handal. Tapi kenyataan berbicara lain.

Aku membuka pintu kamarku, dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pemburu naga. Mungkin ibu benar, aku akan pandai menjadi seorang pedagang. Mungkin Odin yang agung punya rencana lain. Mungkin dan mungkin. Begitu banyak kemungkinan, dan aku tak tahu akan menjalani yang mana. 

Aku pun memejamkan mata.

04/05/12

Janji

Akhirnya jalanan di kota mulai sepi. Lampu-lampu di pinggir jalan mengiringi langkahnya yang tenang. Angin malam sangat tidak bersahabat dan dia harus mengenakan jubah hitam barunya yang diberikan Secioria tiga hari  yang lalu untuk menjaga badannya tetap hangat.

"Lalala~" lantunnya di bawah sinar bulan purnama.

Suaranya yang khas membuat semua kucing di kota itu mengikutinya. Dan dia berhenti di depan sebuah rumah tua yang lampunya sudah sangat redup.

"Coba kita lihat, ups, ini dia, rumah No. 58. Terima kasih sudah menemaniku kucing-kucing manis, sekarang biarkan aku melakukan pekerjaanku." gumamnya sambil tersenyum kepada kucing-kucing.

Kucing-kucing yang mengelilinginya pun berpencar tanpa suara. Selangkah kemudian dia berada tepat di depan pintu rumah No. 58. Dia membuka pintu rumah itu perlahan, semuanya gelap. Dia melangkah dengan tenang, matanya tertuju pada sumber cahaya di pojok lorong rumah itu.

"Siapa itu?" suara lirih dan berat mengisi rumah itu.

"Ini aku." jawabnya ringan.

"Oh."

Dia mendekati pria tua itu sambil tersenyum. Rambutnya telah memutih, kulitnya penuh dengan keriput, dan matanya telah merabun. Duduk tak berdaya di sofa merah kesayangannya, orang tua itu mengenakan kaos putih dan celana pendek bergaris-garis.

"Sudah waktunya ya?"

"Ya, maaf membuatmu menunggu lama." sambil tersenyum mencoba menenangkan orang tua itu.

"Tak apa. Sekarang apa? Akankah terasa sakit?"

"Dalam kasusmu mungkin tidak, kau bisa tidur sekarang."

"Boleh aku bertanya?"

"Ya, silahkan."

"Bagaimana kabar istriku? Apa kau pernah bertemu dengannya?"

"Ya, hanya sekali. Dia cantik sekali dengan gaun putihnya, dia merindukanmu."

"Ah, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama." katanya sambil menutup mata.

Dia hanya tersenyum memandang orang tua itu. Siapa yang tahu orang tua itu hanya seorang diri semenjak istrinya meninggal dunia akibat penyakit leukimia. Dia belum sempat memiliki seorang keturunan, dan keluarganya telah lama pergi mendahuluinya. Dia adalah seorang veteran perang yang hidup dari uang pensiun negara dan sekarang telah divonis dokter mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4. 

"Bisa kita berangkat sekarang? Aku takut terlambat untuk kencan dengan Sessy." sambil menggenggam tangan orang tua itu.

"Oh, baiklah." orang tua itu membuka matanya dan bangun dari tidurnya.

"Hati-hati, kau belum terbiasa."

Orang tua itu berdiri tidak menyentuh lantai, dia melayang. Masih menggenggam tangannya, dia menuntunnya keluar rumah.

"Aku kira akan terasa sakit." gumam orang tua itu sambil mencoba membiasakan diri.

"Tidak. Tergantung bagaimana kau melihatnya." jawabnya sambil tersenyum.

"Apakah selalu seperti ini? Kau sangat ramah."

"Tidak, terkadang aku harus memaksa. Dan kau tak ingin melihatku marah kan?"

Mereka berdua diam sejenak sambil meneruskan langkah mereka ke tengah kota. Cahaya matahari sudah mulai bersinar dari arah Timur.

"Sudah waktunya." katanya memecah keheningan.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Ikuti cahaya matahari dan kau akan sampai. Istrimu mungkin sudah menunggu di gerbang surga."

"Terima kasih." jawab orang tua itu ragu.

"Aku tahu kau punya banyak pertanyaan tentangku dan semuanya. Aku datang kepadamu untuk memenuhi janji Tuanku dan aku datang sebagai ingatan masa lalumu. Jangan terlalu dipikirkan." dia menutup kata-katanya sambil tersenyum.

Orang tua itu sekarang tersenyum dengan gembira. Dia mengikuti cahaya matahari dan perlahan-lahan menghilang.

Kisah orang tua itu telah berakhir. Tapi belum baginya, masih ada banyak janji yang harus dipenuhi. Sekarang matahari telah bersinar, orang-orang mulai keluar dari rumah dan beraktivitas seperti biasa. Tak ada yang tahu apa yang terjadi kepada penghuni rumah No. 58.

"Selamat pagi." sapa orang-orang di sekitarnya.

Dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum, orang-orang telah menyadari keberadaannya. Dia harus kembali beraktivitas sebagai seorang pengusaha restoran yang hidup berkecukupan. Pagi ini cerah dan dia akan bertemu dengan kekasihnya.

"Semoga malam ini bukan Sessy, haha." dia bercanda dengan dirinya sendiri.

03/05/12

Underoath - The Only Survivor Was Miraculously Unharmed

Selamat hari Kamis! Ini adalah postingan #3 di bulan Mei, hehe. Bagi yang belum tahu, saya sedang menjalankan misi, halah, untuk menulis secara rutin selama 31 di bulan Mei. Kali ini saya akan menulis sesuatu yang ringan, ringan, berat, haha. Dari judul sudah kelihatan kan kalo saya ingin membahas lirik lagu? Ayo kita mulai!

Underoath adalah band metal religius yang saya sukai semenjak album ketiganya, Define The Great Line, muncul. Dengan nada yang sering kali keras tetapi ada lembutnya juga, Underoath menyajikan lirik yang berlafaskan religi. Salah satu lagu favorit saya adalah The Only Survivor Was Miraculously Unharmed yang merupakan salah satu lagu di album keempatnya Lost In The Sound of Separation. Kenapa saya suka? Karena ada lirik ini:

"Everything, everything is leaving me wondering.
I hate that I'm questioning.
You're everything, everything."

Selain memang enak didengar, lirik ini juga (bagi saya) memiliki arti tersendiri. Seperti banyak artis dan lagu lainnya, terdapat banyak arti atau penafsiran atas sebuah lirik. Dan bagi saya, lirik ini tidak jauh dari makna religi.

Lirik ini menggambarkan sebuah keraguan yang dialami seorang anak manusia. Mengapa semua yang ada di dunia membuat kita seringkali bertanya-tanya. Kita bertanya akan sesuatu yang sudah pasti, karena semua ini merupakan ciptaan Tuhan. Tuhan adalah segalanya. Dan (mungkin) Underoath melalui lirik ini ingin mempertegas kemutlakkan Tuhan sebagai awal dan akhir dari segalanya.

Menurut saya, lirik ini secara implisit ingin menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya segala yang ada di dunia merupakan kepingan-kepingan fakta untuk mendukung keberadaan Tuhan. Dan seringkali kita lupa akan itu. Memang kita juga tidak boleh menelan mentah-mentah dogma agama, dewasa ini manusia mengutamakan rasionalitas melalui ilmu pengetahuan. Tetapi itu jelas tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk melupakan keberadaan agama sebagai salah satu pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia.

Keraguan seringkali menghinggapi diri manusia, bagi saya itu wajar, terutama masalah agama. Seperti kata Pandji dalam bukunya NASIONAL.IS.ME, "Keraguan bisa menjadi anugerah yang luar biasa. Keraguan membuat kita mempertanyakan kembali keyakinan kita. Kalau kita kembali dari keraguan itu, keyakinan kita akan jadi jauh lebih kuat" Akhir kata, selamat hari Kamis!

Underoath - The Only Survivor Was Miraculously Unharmed

02/05/12

Donor Darah

Dulu saya sering bertanya, sebenarnya untuk apa saya hidup? Di luar konteks agama, saya merasa saya hidup untuk diri saya sendiri. Tidak heran kemudian jika banyak manusia yang tamak demi menutupi kekosongan mereka. Sampai suatu hari saya melihat sebuah video iklan tentang donor darah.

Bagaimana jika kita hidup bukan untuk suatu tujuan yang pasti, melainkan untuk orang lain? Bagaimana jika pertanyaan "untuk apa" berubah menjadi "untuk siapa" Pada akhirnya memang kita tetap akan mengalami kebuntuan ketika orang yang menjadi tujuan hidup kita telah tiada. Tetapi itu cuma selingan saja untuk menunjukkan bahwa hidup kita bisa sangat berarti bagi orang lain, bahkan mungkin untuk orang yang tidak kita kenal.

Pernahkah kalian mendonorkan darah kalian? Saya pernah dan sering, saya ketagihan, hehe. Memang saya terkadang tidak rutin setiap 3 bulan menjalani donor darah, tetapi setiap kali ada ajakan acara donor darah atau ada yang beanr-benar membutuhkan, saya selalu siap sedia. Mungkin ada orang yang baru pertama kali melakukan donor darah kemudian setelahnya sudah tidak mau lagi, entah karena takut atau sakit. Dalam kasus saya kok malah nagih ya? Saya akan jelaskan beberapa alasan yang mungkin ada beberapa yang agak tidak masuk akal, hehe, mungkin kalian juga merasakannya.
  1. Saya merasa sangat excited sekali setiap kali mau mendonor darah! Entah kenapa. Mungkin karena saya selalu berpikir bahwa akhirnya saya berguna bagi orang lain, setidaknya darah saya berguna, hehe.
  2. Menurut ilmu kedokteran (sok tau banget sih), donor darah itu baik. Karena darah kita akan digantikan oleh yang baru alias fresh! Meskipun sesaat setelah donor kita merasa lemas tapi yakinlah keesokan harinya kita akan merasa sangat fresh sekali!
  3. Kita akan diberikan snack, hehe. Maklum mental anak kos jadi cari-cari gratisan.
  4. Donor darah tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tentunya ini memaksa agar sang pendonor untuk selalu dalam kondisi prima. Bagi saya, ini menjadi dorongan agar terus hidup sehat. Ya masa kita mau kasih darah kita yang lagi sakit ke orang yang sakit? Sakitnya jadi plus-plus dong.
  5. Entah saya pernah mendengar info ini darimana, tapi katanya orang yang mendonorkan darahnya berarti juga mendonorkan sedikit sifatnya ke target donornya. Hehe, saya selalu berpikir sebagian sifat saya yang baik-baik bisa menular ke orang yang pakai darah saya itu tadi. Lha iya kalo yang bagus-bagus, kalo yang jelek-jelek kan berabe? :P
Mungkin dari beberapa alasan diatas kalian juga merasakan hal yang sama. Saya tidak pernah menolak untuk mendonorkan darah (kecuali jika dalam keadaan tidak fit). Maka dari itu ayo kita donor darah lebih sering lagi! Jangan takut akan rasa sakit atau jarum suntik, karena itu bisa diredam dengan senyuman manis si suster atau bu dokter (gombal!). 

Jadi, jangan pernah berpikir kita tidak berguna untuk orang lain. Untuk membantu orang lain tidak harus dengan cara-cara yang besar dan sulit, cukup dimulai dari hal yang kecil dan praktis. Donor darah bisa menjadi salah satunya. Kumpulkan niat baikmu, jika ada kesempatan maka lakukanlah. Kemudian percayalah bahwa kebaikan akan dibalas oleh kebaikan.

01/05/12

Pertarungan Kekuasaan: Legitimasi dan Gerakan Massa

Banyak peristiwa pemberontakan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Baik yang berskala domestik, maupun global. Pemberontakan merupakan salah satu wujud ketidakpuasan yang umumnya ditujukan kepada pemerintah atau penguasa yang biasanya memiliki legitimasi untuk berkuasa secara sah, meskipun terkadang ada yang tidak. Dari sini kemudian timbul pertanyaan, bagaimana pertarungan kekuasaan ini akan berjalan dan berakhir antara mereka yang memiliki legitimasi untuk berkuasa dengan mereka yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa?

Kekuasaan merupakan kekuatan untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, baik secara sadar, tidak sadar, terpaksa, maupun tidak terpaksa. Konflik antar manusia tidak pernah bisa lepas dari permasalahan kekuasaan, karena sifat dasar manusia selalu menginginkan penambahan kekuasaan atau hanya sekedar mempertahankan kekuasaannya.

Pemberontakan yang sering terjadi dalam lingkup suatu negara tidak melulu bercerita mengenai pemerintah yang buruk, korup, jahat, dan lain-lain, yang kemudian digulingkan oleh mereka yang merasa dapat memerintah dengan lebih baik. Dalam beberapa kasus, pemberontakan dapat dimaknai tidak lebih dari usaha untuk memperkaya diri beberapa golongan dengan cara menggulingkan pemerintah yang berkuasa. Hal ini terjadi karena seringkali kekuasaan dipandang sebagai cara untuk mendapatkan kekayaan, atau kasarnya siapa yang berkuasa, dia yang kaya. Masing-masing kasus memang memiliki ceritanya tersendiri, siapa yang menjadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat, tetapi siapakah yang kemudian dapat memenangkan pertempuran kekuasaan ini?

Dalam perkembangannya, dunia telah mengenal kebebasan yang dibungkus dalam istilah demokrasi. Manusia meneriakkan dan memperjuangkan kebebasan. Argumen ini saya gunakan kemudian untuk menyangkal kekuasaan yang didapatkan melalui paksaan dan mengaitkannya dengan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain. Karena penggunaan soft power kian meningkat ketimbang penggunaan hard power dewasa ini.

Penggunaan kekuasaan melalui legitimasi kekuasaan seringkali berakhir pada pemaksaan. Sebagai contoh, jika kita mengambil contoh kasus dimana pemerintah berperan sebagai penjahat, penggunaan aparat penegak hukum dan militer hanyalah merupakan masalah komando dan terkesan sebagai sebuah alat untuk mempertahankan kekuasaan rezim pemerintahan tersebut. Kekuatan kekuasaan ini tentu besar karena pemerintah memiliki akses penuh untuk menggerakkan alat negara (penegak hukum dan militer).

Sedangkan penggunaan kekuasaan melalui penggerakkan massa selalu dilakukan dengan kesepakatan dan persuasi. Sebagai contoh, jika kita mengambil contoh kasus dimana pemerintah masih berperan sebagai penjahat, rakyat akan melakukan observasi dan kesepakatan bahwa apa yang dilakukan pemerintah memang tidak lagi demi kepentingan rakyat sehingga diperlukan berbagai macam aksi untuk menyelesaikan permasalahan ini, salah satunya penggerakkan massa. Rakyat akan berbondong-bondong mengajak satu sama lain untuk memperbesar jumlah dan menggerakkan massa yang pada umumnya bertujuan untuk menggulingkan rezim pemerintah yang berkuasa.

Jika dilihat sekilas, penggunaan kekuasaan dengan penggerakkan massa tentu akan memenangkan pertarungan ini melawan mereka yang menggunakan legitimasi kekuasaan karena tindakan represif yang terlalu keras akan menimbulkan perlawanan yang lebih keras lagi (jangan lupa dukungan internasional juga sangat berpengaruh). Tapi jika ditelaah lebih jauh, ini akan mengarah ke besar pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh masing-masing pihak. Sebagai contoh, pemerintah ini belum tentu jahat, mungkin saja ada kebijakan yang menguntungkan banyak pihak sehingga selain memiliki legitimasi kekuasaan untuk menggerakkan alat negara, pemerintah ini juga mampu untuk menggerakkan massa yang pro pemerintah.

Pada akhirnya, saya memandang ini dari kacamata pribadi sang pelaku. Apakah pemimpin pihak pemerintah atau pemberontak memiliki pribadi yang cukup, kharisma, dan pembawaan untuk menjadi figur publik yang mampu mengantongi dukungan dari banyak kalangan. Semakin dia bisa mempengaruhi pihak lain maka semakin besar kemungkinannya untuk memenangi pertarungan kekuasaan ini.

30/04/12

Ilmu Itu Bebas

Selamat malam, sepertinya sapaan kali ini akan terbawa bersama dengan angin dingin yang turun beriringan dengan hujan deras di Jogja. Kali ini saya akan menulis tentang pendidikan di Indonesia. Haha, saya akan coba untuk membawakannya dengan nada yang tidak terlalu serius dan semoga tulisan ini dapat dinikmati dengan sambil lalu.

Beberapa hari belakangan saya berbicara ringan dengan seorang teman, mungkin lebih. Intinya, kami berbicara tentang penjurusan kami di SMA dulu. Saya yang merasa berkhianat, hehe, karena memiliki ilmu dasar IPA di SMA dan sekarang bersemayam di jurusan Ilmu HI FISIPOL UGM, mencoba mencari tahu kepingan informasi mengenai penjurus-jurusan, hehe, pendidikan di Indonesia. Dan perlu diingat, saya tidak melakukan ini dalam rangka penelitian yang artinya dikaji secara serius melainkan hanya tulisan opini yang mungkin hanya sekedar omong kosong belaka. Tapi tentunya tulisan ini tidak tertutup untuk komentar, as always, feel free to comment. :)

SMA: IPA/IPS?
Di masa saya (karena masa orang tua saya berbeda) penjurusan di tingkat SMA itu berkutat pada dua ilmu ini saja. Tetapi belakangan saya tahu bahwa ada teman (yang sekarang juga di HI UGM) ternyata dulunya berjurusan IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa). Entah ini saya yang bodoh, kurang informasi, atau bagaimana, ternyata pembukaan jurusan di SMA teman saya itu hanya memenuhi minimal kuota pembukaan kelas Bahasa, yakni 10 orang (kemudian dia cerita kalo ternyata hanya ada 9 orang di angkatannya).

Saya melihat hal ini sebagai permasalahan informasi dan gengsi. Remaja SMA tentu pernah merasakan bagaimana dahsyatnya kekuatan gengsi di antara orang tua kita mengenai penjurusan ini. Stereotype yang entah sejak kapan adanya, membuat orang tua kita "memaksa" kita untuk masuk ke IPA karena stereotype anak IPA itu pintar. Well, I guess gak semua anak IPA itu pintar (apalagi saya, wekekekek), apalagi kalo kita udah stereotyping kalo anak IPS itu gak lebih pintar dari anak IPA (wah, salah banget tuh, pasti anak IPS pada marah kalo dibilangin gitu). Gengsi ini yang kemudian membuat orang tua kita mengarahkan kita untuk masuk ke jurusan IPA. Hal ini kemudian didukung oleh "diskriminasi" yang dilakukan beberapa sekolah dengan membuka kelas IPS yang lebih sedikit jumlahnya ketimbang kelas IPA. Bayangin kalo hal ini terus berlanjut, bisa-bisa kelas IPS akan sirna seperti kelas Bahasa, haha.

Yang aneh kemudian, saya tidak tahu sejak kapan kelas Bahasa sirna keberadaannya di banyak sekolah. Padahal, 11 tahun yang lalu di SMA saya (kakak saya juga dulu sekolahnya sama kayak saya) ada kelas Bahasa. Dan uniknya, informasi teman saya yang lulusan kelas Bahasa bilang bahwa sebenarnya kelas Bahasa bisa dibuka jika minimum kuota (10 orang) siswa yang berminat terpenuhi. Lalu kenapa kelas Bahasa seakan-akan menghilang dari peradaban? Saya juga tidak tahu alasannya, hehe.

Kuliah: Banyak Jurusan, Sedikit Pekerjaan
Berbeda dengan permasalahan di masa SMA, kuliah memiliki permasalahan yang lebih serius, yakni mengenai pekerjaan. Indonesia memiliki banyak universitas yang berkelas (UGM bahkan mengincar title World Class Research University), tapi permasalahannya lulusan dari universitas-universitas tersebut yang notabene memiliki banyak jurusan tidak melulu atau bahkan jarang mendapatkan pekerjaan yang selaras dengan ilmu yang mereka dapatkan di kala kuliah.

Apa sebenarnya yang salah dengan pendidikan Indonesia? Ya masa dapet pendidikan Ilmu HI tapi dapet kerjaan jadi bankir? Haha, but this is the fact. Indonesia merupakan negara berkembang yang masih tidak terlalu memikirkan lulusan jurusan apa, melainkan bisa apa. Kita dibeli (dipekerjakan) bukan karena skill kita, tapi karena raga kita dapat memenuhi kekosongan perusahaan atau institusi-institusi pemerintah. Disuruh apa mau asalkan gaji tetap turun. Kalo begini ceritanya, jangan heran banyak lulusan-lulusan terbaik Indonesia yang lebih milih kerja di luar negeri yang sesuai dengan bidangnya.

Tetapi ada kabar baik juga nih, dalam perkembangannya, kita bisa melihat institusi-institusi pemerintah mencari/membuka lowongan kerja sesuai dengan yang mereka butuhkan, contohnya Kemenlu sering mencari lulusan HI dan sastra, tetapi belum semuanya mengaplikasikan ini. Mungkin kita berada di jalur yang benar, namun kita bergerak tidak pesat. Ini mungkin bisa menjadi kajian menarik buat beberapa pemerhati pendidikan.

Ini Tentang Ilmu
Bagi saya permasalahan ini sebenarnya ada pada persepsi kita mengenai ilmu itu sendiri. Coba saya kupas satu-satu ya permasalahannya. Kalo di jenjang SMA, (regardless kurikulum dan lain-lain) sebenarnya kelas Bahasa masih ada apabila banyak yang berminat (dan tahu) untuk mengadakan kelasnya. Cukup kumpulkan siswanya kemudian ajukan surat permohonan. Jika ini bisa dilaksanakan oleh kelas Bahasa, kenapa ilmu lain tidak? Ilmu seni misalnya? Saya melihat ilmu sebagai sesuatu yang bebas dan umur remaja SMA bagi saya sudah cukup dewasa untuk mengerti mana yang mereka sukai, minati, dan mana yang mereka butuhkan. Persoalan penjurusan (yang hanya ada dua mayoritas) ini menurut saya merupakan pembunuhan terhadap mimpi (mungkin juga tidak sih).

Persoalan kedua mengenai pekerjaan memang sangat kompleks. Indonesia merupakan negara Timur yang budaya KKN-nya masih sangat kental. Unsur rekan dan famili dalam masalah pekerjaan sangat umum. Selain masalah birokrasi, kesadaran akan kebutuhan para ahli juga harus segera diperhatikan. Mau sampai kapan Indonesia mengandalkan banyak ahli-ahli dari luar negeri? Padahal lulusan-lulusan terbaiknya ngalor ngidul mencari pekerjaan yang tidak jelas, tidak sesuai dengan bidangnya, atau bahkan dipakai negara lain. Hehe, kita tutup sampai sini ya. Mari kita cermati lebih jauh mengenai pendidikan Indonesia.

29/04/12

Tiga Kelemahan Pria: Harta, Kekuasaan, dan Wanita

Saya lupa siapa yang pertama kali mengatakan hal ini kepada saya, tapi saya masih ingat betul tentang ketiganya. Tulisan ini saya tujukan sebagai media untuk berbagi sesama lelaki, uhuk, yang mungkin mulai menyadari keberadaan ketiganya sangat berbahaya, menarik, menantang, dan sangat candu. Ayo kita mulai!

Harta
Kenapa sih salah satu kelemahan pria adalah harta? Seriously, sebagai kepala keluarga dan pemimpin, seorang pria memiliki tanggung jawab untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya, dan kelompoknya. Tentu dengan harta kita bisa melakukan semua itu. Kita tahu apa saja yang bisa dilakukan dengan harta, bahkan manusia pun bisa kita beli, haha.

Sayangnya, dalam usaha untuk mendapatkan harta sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan, pria seringkali terjatuh dalam perangkap. Korupsi adalah salah satu contoh murni usaha seorang pria untuk mendapatkan harta tetapi terkena perangkap, haha. Saya lebih suka melihat ini sebagai fenomena keserakahan manusia. Ya, manusia memang sangat sulit untuk puas dan dalam konteks harta, siapa yang tidak mau menjadi kaya? Apalagi menjadi kaya secara mendadak? Banyak cara yang dilakukan untuk memenuhi hasrat ini, menggunakan ilmu hitam, korupsi, hingga menipu pun sering dilakukan pria-pria yang sudah sangat putus asa.

Keadaan memang sering memaksa kita untuk melakukan hal yang tidak baik. Kemiskinan, kurangnya akses ekonomi, hingga paksaan untuk tetap menjaga citra diri sering menjadi alasan utama untuk melakukan hal-hal yang telah saya sebutkan sebelumnya. Tetapi di sinilah tantangannya, bagaimana kita bisa mengakali hal tersebut yang menjadikan kita manusia yang lebih baik.

Kekuasaan
Berbicara tentang kekuasaan tentu tidak akan ada habisnya. Dari dulu hingga sekarang pembahasan tentang kekuasaan tidak pernah selesai. Banyak literatur-literatur yang memberikan kita cara-cara untuk mendapatkan kekuasaan. Kenapa kekuasaan? Permasalahan manusia tidak pernah jauh dari kekuasaan. Hanya berkutat seputar mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Sebelumnya mungkin ada baiknya kita menyamakan pemikiran sebelum berbicara lebih banyak mengenai kekuasaan. Di sini saya akan membahas mengenai legitimasi kekuasaan/jabatan dan tingkat pengaruh. Jadi agar lebih nyambung di antara kita, halah, kita samakan dulu definisi kekuasaan seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Posisi penting/strategis sering kali diperebutkan oleh manusia, khsusnya pria. Saya akan mencoba mengaitkan hal ini dengan teori maskulinitas dan pemenuhan kebutuhan yang sebelumnya saya jelaskan pada bagian harta. Tentu jabatan yang memiliki posisi strategis akan memudahkan pria untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, berbeda dengan konsep yang saya jelaskan pada bagian harta mengenai pemenuhan kebutuhan. Berbicara mengenai kekuasaan berarti berbicara mengenai keinginan. Apapun yang kita inginkan bisa didapatkan jika kita memiliki kekuasaan.

Keinginan yang dapat kita penuhi dengan kekuasaan tidak melulu melalui penempatan posisi strategis politis. Menjadi pejabat publik atau pengusaha bukan satu-satunya pintu gerbang kekuasaan. Seringkali kekuasaan kita lihat sebelah mata sebagai bagian dari politik. Seiring perkembangan zaman, manusia mendapatkan kekuasaan dari berbagai macam cara. Menjadi musisi terkenal misalnya, artis, ketua adat, atau bahkan dukun, wekekekek. Kekuasaan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan. Dan sesuatu tersebut juga dapat kita maknai sebagai pengaruh. Pengaruh ada dari pemberian legitimasi kekuasaan atau bakat, seperti bakat memimpin dan kharisma.

Tidak berhenti di sana, sesuai janji saya, saya akan mengaitkan hal ini dengan pemenuhan kebutuhan. Selain pemenuhan keinginan, kekuasaan juga dapat dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan. Sejalan dengan teori maskulinitas, posisi strategis yang diincar banyak pria tidak lepas dari besaran pendapatan/harta yang mereka dapatkan. Dari besarnya pendapatan tersebut kita bisa kembali ke bagian harta. Jadi sangat fleksibel bukan fungsi kekuasaan ini?

Wanita
Wahahaha, sampailah kita pada bagian wanita. Wanita, mahkluk paling indah yang pernah tercipta di dunia, haha, sedikit gombal gak papa ya. Ini, bagi saya, merupakan kelemahan pria yang paling berat untuk diatasi. Bagaimana tidak, bukankah pria diciptakan untuk dipasangkan oleh wanita? Haha. Oke, mari kita bahas lebih mendalam mengenai wanita, tetapi sebelumnya saya ingin mengingatkan pembaca untuk tidak mengaitkannya dengan segala macam ajaran gender maupun teori feminisme. Ini murni pendapat seorang lelaki, asik.

Dari zaman mitologi Yunani, peran wanita sangat sering disinggung. Baik perannya sebagai seorang dewi, manusia biasa, atau bahkan peran mereka yang terkutuk seperti Medusa. Wanita sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki tingkat emosi tidak stabil, cemburuan, dan lain-lain. Ini yang kemudian sangat sulit dimengerti oleh para pria, tapi di sisi lain sangat menarik untuk diperhatikan.

Wanita itu bagi saya adalah sesuatu yang sangat indah. Ehm, sedikit curhat, saya gak bisa tahan lihat wanita yang cantik, seksi, atau pintar (dasar mata keranjang), hehe. Kenapa cantik dan seksi berbeda? Jelas. Wanita bisa menjadi cantik tanpa harus menjadi seksi, tetapi sulit bagi wanita untuk menjadi seksi jika tidak cantik. Karena pembicaraan ini akan berakhir pada perdebatan birahi, maka ada baiknya kita selesaikan disini mengenai perbedaan cantik dan seksi, hehe. Kemudian ada kategori pintar. Perubahan zaman mendorong pria mencari wanita yang pintar untuk dapat diajak berbicara, bepikir bersama, atau bahkan berinovasi atas hubungan mereka. Ya, kategori pintar memang sangat luas maknanya. Pintar disini selain pintar dalam menjalin hubungan dengan pria juga berarti pintar dalam ilmu pengetahuan dan wawasan.

Oke, jadi kita sudah tahu bahwa wanita itu mahkluk yang indah, cantik, seksi, dan pintar, lalu kenapa itu menjadi kelemahan pria? Hal ini sangat erat kaitannya dengan dua bagian sebelumnya, yakni harta dan kekuasaan.Wanita dapat menjadi bagian dari diri pria untuk mendapatkan dua hal sebelumnya. Tentu saja banyak cara yang dapat ditempuh. Dalam hal harta, wanita dapat bekerja untuk membantu pria dalam memenuhi kebutuhan. Dan dalam hal kekuasaan, wanita juga dapat dijadikan cara untuk mendapatkan kekuasaan, misalkan seperti menjadi suami seorang anak politisi atau pengusaha besar, hehe.

Jika ada cara yang baik, tentu ada cara yang tidak baik. Ini kemudian yang menjadikannya sebagai kelemahan pria. Seperti halnya harta dan kekuasaan, untuk mendapatkan keduanya wanita dapat diberdayagunakan melalui hal-hal yang tidak baik. Contoh, seringkali mereka yang berhubungan (baik pacaran maupun yang sudah nikah) dikuras kekayaannya oleh si wanita, haha. Dengan segala rayuan dan tipu dayanya kita terkecoh untuk memberikan harta kita untuk si wanita. Dalam hal ini tentu harta kita digunakan untuk pemenuhan kebutuhan maupun keinginan si wanita. Sedangkan kekuasaan juga bernasib sama dengan harta, haha. Melalui rayuan dan godaan sering kali seorang raja menjadi seorang budak tanpa disadari.

Secara garis besar, sulit bagi kita para pria untuk menolak rayuan dan tipu daya wanita, apalagi kalo wanita itu memenuhi kriteria yang telah disebutkan sebelumnya, cantik, seksi, dan kaya, huehuehue. Jadi, kuatkan iman dan tahan nafsu birahi kita, haha. Jadikan wanita sebagai pasangan hidup untuk dapat membantu kita menutupi ketiga kelemahan kita ini.

Solusi
Baiklah, setelah panjang lebar saya membahas tiga kelemahan pria, tidak akan afdol jika saya tidak menawarkan solusi untuk mencegah ketiga hal tersebut jatuh ke dalam lubang hitam yang tidak kita inginkan. Dari segala teori dan bahan bacaan yang sudah saya baca semenjak lahir hingga sekarang, haha, lebay ya, saya hanya bisa memberikan satu solusi. Ya, self-restraint atau pengikatan/pembatasan diri. Kalo dalam istilah religius mungkin akan lebih mengena, yakni bersyukur.

Kenapa harus bersyukur? Kenapa harus menahan diri? Saya pernah berbicara dengan seorang teman dan menuju pemikiran seperti ini, "Hidup itu bagaikan sebuah perjalanan petualangan. Pasti ada awal dan akhirnya. Meski dalam perkembangannya kita ingin terus memperbaiki kehidupan kita, mau sampai kapan? Kapan kita akan puas? Manusia diciptakan untuk tidak pernah puas, karena itu lahirlah konsep bersyukur".

Dari penjelasan di atas, satu-satunya cara untuk mengatasi tiga kelemahan tersebut, menurut saya adalah dengan bersyukur atau menahan diri. Jujur, saya sendiri sangat sulit melakukan itu. Namanya juga manusia, sering tidak puas dan selalu mencari yang lebih baik. Hidup itu memang sebuah petualangan yang harus kita sadari ada akhirnya. Akhir kata, semua ini kembali pada perspektif setiap individu yang berbeda-beda. Silahkan mencernanya dengan segala pengetahuan yang Anda miliki. Selamat malam!