30/11/13

Tentang Membaca Buku

"Buku itu investasi masa depan," begitu kata Ayah saat saya pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi Gadjah Mada. Saya sangat bodoh waktu pertama kali mendengar kata-kata Ayah saya dengan lalu. Saya belum menyadari arti penting dari kata-kata beliau. Pertama kali saya memasuki dunia perkuliahan, dosen saya selalu menekankan pentingnya membaca. "Jika kalian mau lebih pintar dari saya, baca buku lebih banyak dari saya!" begitu kata beliau menandai permulaan perjalanan perkuliahan saya. Bahan bacaan yang banyak sekali di perkuliahan memaksa saya untuk terus membaca dan membaca, apapun medianya, koran, buku, hingga artikel-artikel di internet. Dan saat itulah saya mulai menyukai buku.

Saat pertama kali kuliah, entah berapa banyak buku yang saya paksakan untuk beli agar tidak tertinggal dengan teman-teman yang lain. Maklum, saya sewaktu SMA bukanlah orang yang gemar membaca, dan teman-teman kuliah saya ini, saya juga baru tahu pada tahun kedua, banyak yang suka membaca. Ayah saya dengan senang hati mendukung saya untuk membeli buku dengan mengganti berapapun uang yang saya keluarkan untuk membeli buku kuliah. Dari sekedar Rp. 60.000,- hingga diatas Rp. 300.000,-. Bagi saya itu jumlah yang luar biasa untuk membeli buku dan Ayah saya tidak keberatan dengan itu. Saya mulanya sangat benci membaca, tertidur di tengah-tengah saat membaca. Atau bahkan meninggalkan buku yang saya baca saat saya rasa sudah tidak lagi menarik atau membosankan. Lama-kelamaan saya terbiasa, baik dengan kebosanan gaya penulisan, apalagi buku-buku teori, hingga mengerti arti dari kata-kata atau istilah yang saya jarang dengar dalam pembicaraan sehari-hari.

Ayah saya juga sebenarnya bukan seseorang yang suka membaca buku, tapi beliau selalu membaca koran setiap pagi saat libur kerja atau sore sepulang kerja. Saya selalu memperhatikan bagaimana beliau membaca dengan seksama maupun hanya membaca dengan sekilas. Menggunakan kacamata bacanya yang khas dan tentunya minuman teh atau kopi sebagai pelengkap. Saya selalu teringat kebiasaan itu setiap kali saya membaca. Jika Ayah saya rajin sekali membaca, kenapa saya tidak? Ternyata sekarang saya mulai merasakan kebiasaan itu menurun ke saya. 

Sejak memasuki semester 6, saya berhenti membaca koran dan mengandalkan televisi untuk berita-berita terkini, namun saya lebih fokus kepada buku. Saya menjadi lebih sering membaca dan membeli buku. Kemudian lahirlah komunitas IR Book Club yang saya dan teman-teman saya dirikan. Bacaan saya jadi mulai meranah ke genre-genre asing. Buku-buku yang jarang orang lain baca, dan itu menarik perhatian saya. Dengan berdiskusi bersama teman-teman yang juga suka membaca buku seperti itu, gairah saya untuk membaca semakin meningkat dan terus meningkat hingga sekarang.

Menjadi Hobi
Dulu saya tidak mengerti apa sebetulnya hobi saya. Perbincangan dengan beberapa teman membuat hati saya tersentil. Teman-teman dengan lancar dan ringan sekali membicarakan apa yang menjadi kesukaan atau hobi mereka. Ada yang suka otomotif, fotografi, hingga gigs. Kata salah satu dari mereka, "lelaki itu harus punya hobi,". Lalu, apa hobi saya?

Saya kemudian curhat dengan pacar saya mengenai ini. Apa sebenarnya hobi saya? Pacar saya kemudian mengatakan bahwa hobi itu adalah sesuatu yang kita suka lakukan dengan sukarela, tanpa ada rasa terbebani, senang rasanya jika dilakukan, dan tanpa sadar kita melakukannya. Apakah saya benar-benar suka membaca buku? Ya namanya tidak sadar, jadi mana saya tahu. Kemudian hal yang paling menyadarkan saya adalah ketika saya melihat rak buku saya di kos. Betapa banyaknya buku yang berjejer di sana, belum lagi buku-buku yang sedang dipinjam oleh teman-teman saya. Padahal saya masih ingat dulu waktu pertama kali kuliah, rak buku saya hanya ada satu dan itu kosong (tak ada buku). Sekarang saya berencana membeli rak ketiga, karena dua rak buku saya sudah penuh. Ternyata saya benar-benar suka membaca.

Sekarang, saya tidak pernah lagi membatasi diri untuk membeli buku dengan jumlah harga di luar akal sehat (saya pernah menghabiskan hampir 1 juta untuk membeli buku). Namun saya tetap menjaga diri agar sebisa mungkin sebulan sekali saja ke toko buku. Karena setiap kali saya ke toko buku, saya selalu tertarik untuk membeli buku, padahal masih banyak buku yang belum saya selesaikan.

Tapi hobi yang baru saya sadari ini belum menjadikan saya seseorang yang benar-benar gila buku. Ada banyak teman saya yang lebih gila lagi, dan saya sadar saya belum ada apa-apanya. Saya masih sering lupa dengan isi buku yang sudah saya baca, jadi saya harus membaca isinya secara garis besarnya dulu sebelum menjelaskan ke orang lain. Hal ini kemudian yang memantik saya untuk menulis. Menulis review atau resensi buku sangat membantu untuk mengingat isi buku itu. Ternyata memang benar bahwa membaca dan menulis itu dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Sekarang saya sedang berlatih untuk menulis review atau resensi buku-buku yang telah saya baca. Tapi lagi-lagi, rasa malas adalah musuh utama.

Satu hal yang negatif dari hobi saya ini adalah saya menjadi benci sekali dengan teman-teman yang meminjam buku saya dan lupa mengembalikannya, apalagi buku saya yang dipinjam oleh teman saya, dipinjamkan lagi ke temannya (jadi tangan ketiga). Bukan kepalang bencinya saya ketika mengetahui itu. Saya merasa buku-buku itu adalah harta karun saya, dan seharusnya orang yang saya pinjamkan itu menyadari betapa saya sangat menghargai mereka dengan membolehkannya meminjam harta karun saya. Makanya setiap kali ada teman yang ingin meminjam buku, saya menjadi ragu dan merasa enggan. Saya menjadi egois. Padahal ketika teman saya ada yang memiliki buku yang bagus, saya juga kerap meminjamnya (tapi pasti saya kembalikan). Yah, namanya juga manusia.

Saya juga sering merasa ada yang kurang setiap kali saya selesai membaca buku pinjaman. Saya merasa harus memilikinya. Ini mengakibatkan saya harus membeli buku yang serupa atau memfotokopinya. Namun saya rasa ini bukanlah hal yang negatif. Rasanya senang sekali jika koleksi buku saya bertambah. Ada kebahagiaan tersendiri yang mengalir di nadi saya. Ini memunculkan ide di masa depan agar saya memiliki perpustakaan pribadi. Wah, pasti senang sekali rasanya melihat koleksi buku saya semenjak menjadi mahasiswa kelak.

Menjaga Konsistensi
Sebagai penutup, saya ingin memberikan tips kepada teman-teman yang masih merasa kesulitan untuk membaca buku. Sebenarnya kuncinya ada di konsistensi kalian untuk membaca. Sebagai contoh, saya menjaga konsistensi membaca saya dengan selalu membaca satu jam sebelum saya tidur. Tapi jika memang kalian sedang ingin membaca lebih, silahkan. Saya kadang juga agak keterlaluan dengan tidak mengenal tempat untuk membaca (kadang di kamar mandi, kantin kampus, atau bahkan di lapangan), tapi tidak apa, itu artinya kalian sedang tertarik, dan jangan redupkan gairah kalian untuk membaca itu.

Memang pada awalnya akan sangat sulit dan terasa sangat malas untuk melakukannya. Tapi jika kalian memang benar-benar ingin membaca, paksakanlah. Jika itu tidak menjadi hobi kalian, atau sekedar kewajiban untuk membaca bahan kuliah, saya rasa tips saya itu akan berguna. Ingat, membaca itu penting! Buku adalah jendela dunia, dan istilah itu benar! Setelah kalian membaca, bagikanlah ilmu kalian dengan orang lain, diskusikan, lalu menulislah! Kemajuan peradaban manusia dimulai dari cara mereka berpikir, dan mampu menuliskan ide mereka agar bisa dimengerti oleh orang lain.

26/11/13

Alien di Antara Kita

"Di Indonesia ada alien. Di Mall di pusat kota Jakarta itu terlihat banyak rombongan manusia2 aneh yang deduksi dan induksi dari pengalaman hidup untuk membaca orangku nggak mampu menalarkan dengan utuh selain asumsi kalau mungkin: ini kasta baru manusia Indonesia, hedonis tingkat murni, pureblood, yang punya takdir kekayaan milyaran sejak baru lahir. Orang2 ini sepertinya nggak pernah merasakan susah, mereka dan lingkungannya menciptakan lingkungan eksklusif terlindung dan aman dari proses-proses sosial dan segala hal yang akan berkaitan tentang kesadaran ke-Indonesiaan atau pun keduniaan. Bahkan isu2 ham dan lingkungan yang biasanya ada di kalangan elitis dan kelas menengah terlihat nggak menyentuh mereka. Putih, bersih, berkelas, bebas, dengan nilai moral sendiri, rule of social sendiri, dengan setiap gerik mencoba menciptakan keanggunan, merapihkan rambut, menjaga gestur badan, tebaran pesona. Alien2 ini orang2 yang asing dengan Indonesianya. Hahaha. Hati2, kita ribut urusan rakyat mayoritas sementara kasta baru ini menguasai aset2 dan kekayaan kapital gila2an."

Tulis status Facebook seorang senior yang terkenal menjadi aktivis kampus ini membuat saya tertegun sejenak dan memutar otak mengenai keberadaan alien ini. Apakah benar mereka benar-benar ada? Mereka yang tak tersentuh, yang ekslusif, dan bahkan tak memikirkan "kita". Keberadaan alien ini ternyata sungguh dekat. Bahkan di nadi jantung kota pendidikan Yogyakarta pun saya rasa ada. Mereka mulai memasuki relung pernapasan kita, mempengaruhi detak jantung kita, dan mungkin lama-kelamaan akan membentuk pemikiran dan perkembangan otak kita.

Di tengah ketakutan itu saya mencoba melihat kembali mimpi-mimpi saya yang ingin saya capai di Jakarta. Ya, Jakarta. Ibukota Indonesia yang telah menjadi pemikat para perantau di nusantara. Pusat perputaran ekonomi dan arus keuangan bangsa kita sebagian besar terletak di sana. Saya ingin menjadi bagian darinya. Mengambil sebanyak mungkin uang yang ada di sana dengan ilmu yang telah saya pelajari di kota Gudeg. Apakah iya hidup saya hanya sedangkal itu? Tanpa ada maksud dan takdir lain dari Tuhan yang menempatkan saya di jantung kota pergerakan mahasiswa Indonesia? Saya mulai merenungkan kembali semuanya.

Mimpi dangkal saya itu saya dapatkan dari sebuah hal yang sangat simpel. Beberapa bulan yang lalu sepulangnya saya dari tanah laskar pelangi, saya mendapatkan sebuah film serial bagus yang mungkin dapat menggambarkan kehidupan alien ini, Suits. Kehidupan yang nyaman, mobil mewah, apartemen mewah, kehidupan kalangan atas eksklusif, yang digambarkan dari kehidupan seorang pengacara. Indahnya hidup seperti itu. Tapi apakah tujuan hidup akan berhenti sampai sana?

Membaca status senior saya di atas membuat saya menjadi takut akan menjadi salah satunya. Atau jangan-jangan saya sudah menjadi bagian dari mereka? Sudah mulai terpengaruh virus alien-alien itu? Saya sangat takut. Sangking takutnya, hari ini saya memaksakan diri menonton film Laskar Pelangi di tengah kesibukan untuk mengingatkan saya tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai, prosesnya, dan untuk siapa mimpi itu akan berdampak. Saya menginjeksikan vaksin kepedulian ke dalam diri saya, meski dalam dosis yang terhitung sedikit. 

Saya tak ingin menjadi alien! Apa jadinya bangsa ini jika kita semua menjadi alien? Apakah kita pantas mengatakan diri kita ini manusia jika kepedulian sudah hilang dari kamus kita?

03/11/13

Lelaki

"Tidak aku tahu lelaki begitu mudah ditipu oleh perempuan,"

Begitu tulis Mochtar Lubis mengantarku kepada akhir cerita pendeknya. Malam ini aku memutar otakku yang kaku oleh emosi. Terjaga oleh kesadaran yang terbangun dalam lima jam tidurku sejak matahari terbenam. Melihat wajah yang cantik di album foto ponsel genggamku, tak terasa waktu telah lebih lama menahan rasa cinta ini untuknya dari praduga awalku.

"Emotion is good, but you should back it up with some cold hard facts,"

Menemani bulan sambil mengulang kembali episode-episode dari kisah seri tentang seorang pengacara tak berhati yang mengejar kemenangan. Selalu terbayang tentang mimpi menjadi dirinya yang tak peduli dunia dan wanita. Bagaimana seseorang bisa menghilangkan emosinya? Menjalin hubungan hanya sebatas kebutuhan fisik tanpa ada campur tangan cinta. Aku ingin seperti itu, tapi itu bukan aku.

Dunia terus berubah dan membawaku kepada kehidupan yang semakin kompleks. Perempuan mengangkat equality ke permukaan. Bukannya takut, tapi ragu. Apakah kita semua paham arti equality? Mengaitkannya dengan anatomi tubuh dan menganalisa perilaku berdasarkan ilmu biologi. Apakah kita memang benar-benar equal? Perempuan ingin selalu dimengerti, tapi apakah mereka pernah mau mengerti tentang lelaki? Yang tak hanya memerlukan kebutuhan fisik seperti yang selama ini selalu menjadi prejudis mereka, namun lebih dari itu. Tentang aktualisasi diri dan pengakuan. Tentang emosi dan egoisme. Tentang suka dan tidak suka. Tentang menjadi sensitif dan tak peduli.

Mungkin aku telah kacau dan kehilangan identitas di tengah krisis hidup menuju ke kedewasaan seperti yang kau bilang. Aku akan menjadi sesuatu yang aku inginkan, dan mungkin juga seperti yang kau harapkan. Aku ingin menenggelamkan "aku" yang kini sedang dalam badai emosi. Membuangnya begitu saja seperti tisu yang basah dipakai untuk membersihkan percikan sperma. Aku ingin mengukir raut wajah ini, seperti lelaki-lelaki yang katanya telah merasakan manis pahitnya kehidupan. Menyembunyikan sifat asliku dalam tindakan yang tak akan pernah dapat dimaafkan. Bukankah begitu penyakit lelaki yang seharusnya? Mengalihkan apa yang seharusnya ditunjukkan ke dalam tindakan yang bajingan? 

Seperti kata pepatah Belanda, "semakin tinggi status sosial dan tingkat intelektual seseorang, semakin tinggi tingkat kebinatangannya". Seperti lelaki-lelaki yang terhimpit oleh kekuatan sosial untuk menjadi "lelaki", namun melakukan ke"lelaki"annya kepada hal yang tak sepantasnya dilakukan seorang lelaki. Dipaksa untuk menghilangkan apa yang sebenarnya menjadikannya lelaki. 

Tak aku tahu bahwa harga kebebasan sebegitu mahalnya. Menjadi seorang lelaki pun tidak bebas begitu saja menjadi. Membentuk identitas diri dari apa yang diinginkan oleh orang lain. Kita bukanlah kita yang apa adanya, melainkan kita yang terbentuk oleh mata-mata orang lain yang melihat kita.

Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang hal yang aku suka, tentang hal yang aku benci?
Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang apa yang kurasa dan apa yang kuinginkan?
Dan apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang aku yang ingin menjadi apa, tentang siapa aku sebenarnya?
Tenggelam dalam badai emosi,
Mencoba menghapusnya dan bertahan dalam lingkar kebinasaan,
hidup,
Sulit menjadi apa yang seharusnya kita ini diciptakan,
Karena mata-mata yang tak pernah melepasmu dalam kebebasan.

01/10/13

Bersepeda di Malam Hari

Melewati lampu-lampu yang berdiri sendiri, berjarak namun saling menerangi. Melihat satu-dua wajah yang lelah melepas hari, ataupun yang masih sibuk tertawa saling menipu diri. 

Cahaya bulan terang dan kadang bintang benderang. Seperti wajahmu yang selalu terbayang, meski lagu yang terputar di telinga tak selalu mengenai roman.

Keringat ini tak ada artinya disapa angin yang dingin menusuk relung. Jiwa yang sendiri bebas terbang bersama imajinasi. Melihat detil-detil peradaban manusia secara perlahan namun pasti. 

Aku suka bersepeda di malam hari, tanpa tujuan yang pasti, atau hanya ketika ingin menghabiskan waktu sendiri. Mungkin suatu hari nanti, di waktu dan tempat yang tak terencana, kita bisa bersama bersepeda di malam hari, sayang.

28/09/13

Dimana Ayah?

Malam itu aku sedang menunggu temanku sambil menenggak segelas coklat hangat rasa hazelnut di tengah dinginnya malam. Aku memilih untuk membuka youtube sebagai pembunuh waktu. Tanganku terus bergerak mencari-cari video yang mungkin akan membuatku berhenti bernapas sejenak dan mengalihkan perhatianku dari lampu jalan yang menerangi langkah para pejalan kaki dan pengendara motor. Aku melihat satu video yang tak umum, bergambar dua buah boneka dengan figur ayah dan anak yang duduk di sebuah sofa.
"Stromae - Papaoutai"
"Ah! Bahasa Perancis," pikirku melihat judul video itu. Baru-baru ini aku memutuskan untuk kursus bahasa Perancis. Entah itu karena motif untuk menunjang karir atau hanya iseng belaka, tak ada ruginya bagiku di tengah penantian kepastian untuk pengerjaan skripsiku. Mungkin aku bisa sambil mempraktekkan hasil dua kali pertemuan kelas bahasa Perancisku dengan melihat video ini dan kemudian mencari liriknya.

Aku mulai menyetel video itu. Dengan nada yang mudah dicerna dan ucapan si musisi yang mudah diikuti membuatku suka dengan video ini. Video yang awalnya kukira cukup lucu dengan adegan-adegan orang tua yang berjoget bersama anaknya ini kemudian membuatku mulai merasakan sesuatu setiap kali si musisi menyanyikan reff lagu.
"Où t'es? Papa, où t'es? Où t'es? Papa, où t'es? Où t'es? Papa, où t'es? Ou t'es, ou t'es où papa, où t'es?"
Aku tidak mengerti artinya, bagaimana tidak, aku kursus bahasa Perancis saja baru dua kali pertemuan, dan itu saja aku masih dalam tahap awal sekali. Aku kemudian memutuskan untuk mencari lirik beserta artinya di internet. Ternyata lagu ini bercerita tentang seorang anak yang mempertanyakan eksistensi ayahnya. Ya, eksistensi. Mungkin itu adalah kata yang terlalu berat untuk menginterpretasikan lagu ini. Tapi setelah melihat lirik serta membaca forum-forum yang membahas arti lagu ini (banyak yang memperdebatkannya, selain karena lagu ini berbahasa Perancis yang notabene sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, juga karena video ini terlalu abstrak untuk diterjemahkan secara harafiah), aku berkesimpulan bahwa lagu ini memang membahas tentang eksistensi seorang ayah.

Ada bagian lirik yang sangat menyentilku di dalam lagu ini.
"Tout le monde sait (everyone knows)
Comment on fait des bébés (how to raise a child)
Mais personne sait (but nobody knows)
Comment on fait des papas (how to raise a dad)"
Ingatanku mulai berputar mengenang masa-masa yang telah aku habiskan bersama ayahku. Aku sadar aku merindukannya dan aku sadar bahwa sedikit sekali waktu yang telah aku habiskan bersamanya. Aku baru sadar bahwa aku sebenarnya tidak mengenal siapa ayahku secara dalam. Karena selama ini dia selalu jauh, bekerja setiap waktu dan sibuk dengan hobinya. Aku mulai mengenang itu semua dan kembali haus akan perhatian orang tuaku. Apa yang terjadi? Apakah semua orang tua seperti itu? Semua seperti tergambar dengan jelas dalam video ini.

Aku mulai berpikir secara analitis, "apa yang akan aku lakukan jika aku berada di posisi ayahku?". Pertanyaan itu membawaku ke sebuah diskusi kecil yang pernah aku lakukan dengan seorang temanku. "Menjadi orang tua di zaman seperti ini serba salah," katanya. Benarkah? Ya. Aku sering berpikir bahwa aku tidak akan pernah siap untuk menjadi orang tua, seorang ayah, sekaligus pembimbing hidup bagi keturunanku, darah dagingku. Begitu berat tanggung jawab yang akan dipikul. Aku harus bisa memastikan anak-anakku kelak hidup dalam kenyamanan tanpa harus mengurangi tingkat moralitas maupun intelegensia mereka. Aku ingin mereka hidup nyaman dalam mempelajari hidup, agar mereka siap untuk hidup. Aku ingin mereka menjadi lebih baik dariku, dari semua aspek yang aku miliki. Tapi di sisi yang lain, aku juga harus bisa memastikan diriku memiliki waktu untuk mereka semua.

Begitu banyak angan-angan mengenai menjadi ayah yang baik yang kumiliki, namun selalu terbang terbawa angin realita. Seringkali aku melihat orang tua-orang tua yang belum bisa memenuhi angan-angan itu. Begitu sulit, dan mungkin sepertinya hampir tidak mungkin. Kemudian aku mulai dipenuhi rasa pesimis, mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi ayah yang baik, atau mungkin malah aku tidak akan menjadi seorang ayah.

Cerminku menjadi saksi begitu egoisnya diriku ini, yang ingin memiliki segalanya tanpa berbagi. Begitu banyak keinginan diriku yang belum terpenuhi, ingin punya apartemen pribadi, mobil pribadi, semata-mata untuk membanggakan diri kepada orang lain atas keberhasilan diri sendiri. Pikiran sepeti ini apakah patut ada di dalam benak seorang ayah yang baik? Tidak. Jalanku menuju kesuksesan masih panjang dan berat. Aku tidak bisa mengambil konsekuensi dengan membawa beban lebih. Aku harus bisa menyelesaikan urusanku dulu sebelum menjadi seorang ayah. Aku ingin memberikan segalanya untuk anak-anakku kelak. Aku ingin selesai dengan diriku sendiri dan memberikan hidupku untuk anak-anakku. Aku ingin menjadi bijak sebelum belajar membesarkan anak.

Bagian lirik lagu ini sepertinya memiliki banyak intepretasi,
"Où est ton papa? (Where are you, Dad?)
Dis moi où est ton papa! (Tell me, where are you papa?)
Sans même devoir lui parler (Without even talking to him)
Il sait ce qui ne va pas (he knows what he did wrong)
Hein sacré papa! (It's holy papa!)"
Tapi aku memiliki intepretasi pribadi tentang bagian ini,
"Dimana dirimu ayah? Katakan padaku, dimana dirimu ayah? Kau tak pernah berbicara denganku, apapun yang kau kerjakan untuk menghidupi kami, kami tahu kau tahu konsekuensinya. Semua ini untuk kita, tak apa ayah. Apapun yang kau lakukan itu suci."
Begitu banyak ayah-ayah yang memilih jalan pintas demi memberikan anak-istrinya kehidupan yang nyaman, atau hanya sekedar bertahan hidup. Begitu berat tanggungan yang akan dipikul, karena seorang ayah tak lagi akan memikul satu beban kehidupan, namun juga kehidupan anak-istrinya. Bisakah? Bisakah aku menjadi seorang ayah? Atau hanya seorang lelaki?

"Stromae - Papaoutai"

19/09/13

Pemuda Bertindak, Negara Bergerak

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Seharusnya hal ini memberikan rasa toleransi yang tinggi di antara masyarakatnya, lalu mengapa kita masih sering mendengar berita mengenai konflik agama di sekitar kita? Jawabannya karena kita masih merasa nyaman dalam lingkaran komunitas agama kita dan enggan melakukan interaksi/hubungan dengan orang di luar lingkaran komunitas agama kita. Ashutosh Varshney, seorang peneliti politik pernah berkata bahwa ketegangan antar umat agama sebenarnya dapat dikurangi dengan meningkatkan intensitas interaksi di antara mereka. Oleh karena itu, merupakan suatu kesempatan sekaligus kewajiban bagi pemuda Indonesia untuk menjaga harmonisasi bangsa dengan menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput.

Harus Dimulai dari Pemuda
Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya! Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”, begitulah ucapan Soekarno dalam menggambarkan betapa hebatnya kemampuan pemuda dalam mengubah dunia. Pemuda Indonesia sejak dulu telah memiliki peran penting dalam memajukan bangsa ini dan sekarang pun pemuda masih memiliki peranan dalam mewujudkan serta menjaga harmonisasi bangsa, khususnya dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Pemuda memiliki peluang yang dapat digunakan dan dioptimalkan untuk melakukan hal tersebut. Kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pemuda dan banyaknya akses yang dimiliki pemuda untuk memperluas wawasannya merupakan beberapa dari banyaknya peluang yang dimiliki oleh pemuda untuk menggiatkan dialog lintas agama.

Indonesia memiliki lebih dari 30 organisasi/komunitas yang digerakkan oleh pemuda. Organisasi-organisasi tersebut bergerak di berbagai bidang yang berbeda-beda namun secara garis besar memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan bangsa Indonesia. Selain dari organisasi, institusi pendidikan seperti universitas pun ikut memberdayakan pemuda melalui berbagai macam aktivitas. Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa berbagai universitas di Indonesia melalui berbagai macam program kerjanya mulai bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bahkan di beberapa universitas tertentu dengan adanya program KKN (Kuliah Kerja Nyata) menjadi bukti nyata kontribusi pemuda kepada masyarakat Indonesia. Dengan seluruh program dan kegiatan yang telah berlangsung, baik yang dampaknya telah terasa maupun belum terasa oleh masyarakat luas, kepercayaan masyarakat terhadap pemuda secara perlahan terus meningkat. Ditambah lagi tren yang sedang marak di tengah masyarakat Indonesia, yakni menyusutnya kepercayaan masyarakat terhadap elit politik yang diwakili oleh partai politik, membuat masyarakat menumpahkan kepercayaannya kepada pemuda.

Pemuda, khususnya mahasiswa, memiliki akses yang tak terbatas untuk memperluas wawasan mereka dewasa ini. Internet dan beasiswa menjadi contoh nyata yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari pemuda. Internet membebaskan siapapun untuk dapat mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan menembus batasan negara. Dan beasiswa, selain mempermudah pemuda dan keluarganya dalam pembiayaan pendidikan, juga dapat memperluas wawasan pemuda mengenai toleransi dan memahami kehidupan masyarakat di negara lain melalui beasiswa program pertukaran pelajar antar negara maupun konferensi internasional yang nantinya diharapkan dapat menjadi solusi alternatif berbagai macam persoalan yang ada di Indonesia.

Dengan mengoptimalkan peluang yang ada, pemuda dapat menggiatkan dialog lintas agama. Kepercayaan masyarakat terhadap pemuda yang tinggi seharusnya membuat pemuda dapat meyakinkan masyarakat bahwa dialog lintas agama adalah sesuatu yang harus dilakukan demi menjaga harmonisasi bangsa. Sedangkan akses yang tak terbatas untuk memperluas wawasan membuat pemuda dapat mengsosialisasikan kepada masyarakat tentang apa yang sebaiknya perlu dilakukan untuk mengatasi konflik antar agama dan langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk menggiatkan dialog lintas agama.

Bukan Halangan, Namun Tantangan
Selain peluang, pemuda juga memiliki tantangan untuk menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Tantangan yang ada bukan berarti menjadi sebuah halangan, namun menjadi kesempatan untuk pemuda mengembangkan serta mengoptimalkan potensi dirinya. Beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda dalam usahanya menggiatkan dialog lintas agama adalah kesadaran dan keinginan pemuda itu sendiri untuk melakukannya, pola pikir masyarakat yang lebih menyukai keadaan apa adanya ketimbang perubahan, dan isu agama yang bersifat sangat sensitif dan tabu. Tantangan-tantangan ini haruslah dipandang sebagai sebuah batu loncatan bagi perkembangan pemuda dan bangsa Indonesia, karena dengan adanya tantangan-tantangan inilah pintu kesempatan untuk berubah menjadi individu serta bangsa yang lebih baik lagi terbuka lebar di depan mata kita.

Inge Amundsen berbicara mengenai political will/keinginan politik sebagai dasar untuk melakukan perubahan dalam konteks memerangi korupsi. Kita dapat belajar satu hal yang penting dari Amundsen, yakni will/keinginan. Segala macam perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan perlu ada keinginan yang besar untuk melakukannya, begitu juga dalam usaha menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Pemuda harus mengerti betul keadaan yang ada sekitar mereka sekarang ini, dan segera mengumpulkan niatnya untuk melakukan perubahan. Sayangya, gelombang globalisasi telah menggerus kepedulian pemuda terhadap lingkungannya. Banyak pemuda yang menjadi sangat individualistik dan tidak peduli terhadap isu yang beredar di sekitar mereka. Untuk itu, tantangan pertama yang harus dijawab oleh pemuda dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput adalah untuk mengumpulkan niat/keinginan mereka agar lebih peduli, lebih memahami, dan mau bergerak.

Merubah pola pikir/mindset masyarakat adalah hal yang telah diakui banyak orang sulit, namun masih mungkin untuk dilakukan. Masyarakat cenderung merasa nyaman dengan keadaan yang ada ketimbang menerima gerakan perubahan yang dapat mengancam kenyamanan kondisi mereka saat ini. Meskipun begitu, argumen tersebut belum tentu berlaku di seluruh golongan masyarakat. Biasanya pendidikanlah yang menjadi faktor utama diterimanya gerakan perubahan dengan baik di tengah masyarakat. Avadhesh Agrawal menjelaskan dengan sangat baik bagaimana merubah pola pikir seseorang itu bisa menjadi sangat sulit ataupun sangat mudah. Agrawal percaya bahwa pola pikir positif dapat menangani perubahan pola pikir dengan mudah. Sedangkan pola pikir yang negatif akan mempersulit perubahan pola pikir. Untuk merubah pola pikir masyarakat, pemuda harus membawa pola pikir yang positif dan memang ditujukan untuk perubahan yang lebih baik. Berawal dari sana, pemuda dapat menarik masyarakat menuju pola pikir baru yang lebih terbuka dan toleran. Cara penyampaian juga menjadi kunci kesuksesan dalam merubah pola pikir masyarakat yang tidak boleh terlupakan.

Agama merupakan isu yang sensitif dan tabu untuk dibicarakan tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Agama adalah doktrin tertua di dunia yang menjadi fondasi utama kehidupan banyak manusia. Karen Armstrong dalam seminarnya di TED (sebuah organisasi yang bertujuan mengundang orang-orang yang ahli dalam bidangnya untuk menyampaikan pemikirannya ke masyarakat umum) menjelaskan permasalahan dialog lintas agama terletak di rasa toleransi para pemeluk agama. Agama merupakan pena yang menentukan hitam dan putih lembaran kertas kehidupan manusia, dimana benar dan salah adalah dua hal yang pasti dan dapat dipisahkan. Dialog lintas agama seharusnya berpusat kepada pembangunan rasa toleransi antar agama dan pembahasan ruang abu-abu yang belum terlihat di dalamnya.

Banyaknya tantangan yang dihadapi oleh pemuda untuk menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput membuka kesempatan bagi pemuda dan bangsa Indonesia untuk maju menjadi negara yang lebih baik lagi. Kesadaran dan keinginan dari pemuda sendiri merupakan tantangan pertama yang perlu dijawab oleh pemuda. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi tujuan utama pemuda dalam menggiatkan dialog lintas agama. Dan terakhir, dialog mengenai agama itu sendiri merupakan tantangan yang perlu dilewati. Mengangkat isu agama menjadi isu yang tidak lagi sensitif dan tabu menjadi langkah awal membangun toleransi antar umat beragama dan harmonisasi bangsa.

Pemuda Bertindak, Negara Bergerak
Pemuda memiliki berbagai macam peluang dan tantangan dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Kesadaran generasi muda akan toleransi antar agama harus terus digalakkan demi harmonisasi bangsa di masa depan. Melalui berbagai macam cara pemuda dapat menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput, dengan atau tanpa bantuan dari pemerintah. Terakhir, mengutip perkataan Karen Armstrong dalam seminarnya di TED:
“...saat dimana ideologi tidak mampu memunculkan rasa akan pemahaman global dan sikap saling apresiasi secara global mengalami kegagalan saat ini, agama harus dijadikan sebagai pendorong harmoni dunia, dan memang mampu menjadi demikian karena adanya etika timbal balik: “Jangan lakukan pada orang lain apapun yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap kamu”. Sebuah etos yang harus diterapkan secara global... Saya pikir inilah saatnya kita bergerak bukan sekedar demi toleransi, tetapi bergerak menuju apresiasi terhadap orang lain.”
Sudah saatnya bagi pemuda untuk bertindak, menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput untuk mewujudkan harmonisasi bangsa dan turut serta berperan aktif dalam harmonisasi dunia. Semua dimulai dari sini, menggiatkan dialog lintas agama di sekitar kita: keluarga kita, teman-teman kita, dan lingkungan kita. Dimulai sejak sekarang, sejak detik ini, sejak Anda selesai membaca tulisan ini. Jika pemuda bertindak menuju arah yang lebih baik, maka tentu negara akan bergerak ke arah yang lebih baik.

REFERENSI 
Sumber dari buku
Agrawal, A., Throw Away Your Thoughts and Change Your Life: A Spiritual Journey, AuthorHouse, Bloomington, 2012.
Amundsen, I., Political corruption: An Introduction to the Issues, Chr. Michelsen Institute, Bergen, 1999.
Varshney, A., Ethnic Conflict and Civic Life: Hindus and Muslims in India, Yale University Press, New Haven.

Sumber dari internet: 
Armstrong, K., ‘Karen Armstrong makes her TED Prize wish: the Charter for Compassion’, TED, 2008, diakses 10 April 2012. 
Cahyono, H., J., ‘Puluhan komunitas sosial luncurkan Forum Jogja Peduli’, ANTARANEWS, 3 Maret 2013diakses 9 Maret 2013. 
Sasmita, I., ‘Pemilu 2014, Kepercayaan Rakyat ke Parpol Menyusut’, Republika Online, 20 Februari 2013, diakses 3 April 2013.

N.B:
Dibuat untuk mengikuti Lomba Karya Tulis (LKT) mengenai Dialog Lintas Agama 2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Februari 2013 lalu.

17/09/13

Takemoto dan Sepedanya

Lelaki itu terus mengayuh sepedanya. Di benaknya selalu terpikir, "seberapa jauh aku bisa mengayuh tanpa melihat ke belakang?". Sebuah pertanyaan yang tak satu orang pun tahu tujuannya. Waktu berlalu sangat cepat, tahun pertama, tahun kedua, ia terus menimba ilmu di negeri bunga Sakura dengan segenap jiwanya. Ia bertemu dengan orang-orang hebat yang akan mewarnai hidupnya sekarang dan nanti. Dan juga seorang wanita yang akan mengajarinya arti cinta dan pengorbanan.

Tahun ketiga adalah tahun terakhirnya mengayuh sepeda itu. Kali ini dia tak bertanya seberapa jauh ia bisa mengayuhnya tanpa melihat ke belakang. Dia hanya terus mengayuh. Keringat dan panas matahari tak menghentikannya hingga ke ujung pulau negeri. Sebuah perjalanan yang awalnya bermula dari pelarian diri atas tugas akhir dan masalah cinta, malah membawanya ke sebuah desa kecil tempat di mana ia belajar tentang arti hidup. Dia pergi sebagai seorang bocah yang tak tahu apa-apa dan meragukan segalanya. Dia pulang sebagai lelaki yang kuat dan siap menghadapi kehidupan.

Aku ingin menjadi seperti Takemoto. Yang kuat untuk bangkit ketika dikecewakan, yang tak malu untuk menangis karena kesedihan, dan yang selalu siap membantu teman-temannya. Takemoto belajar banyak dari kehidupan kuliahnya. Meskipun ilmu yang ditimba bukanlah hasratnya, namun lingkungan membangunnya menjadi manusia yang baru. Tanpa memperdulikan masa depan, ia terus mengayuh sepedanya menuju kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan oleh dirinya maupun orang lain.