12/08/14

Tidak Ada yang "Salah" dengan Pekerjaan Pertama

Malam itu Mampang Prapatan dipadati oleh mobil-mobil yang berisikan orang-orang yang pulang kerja. Saya berada di dalam taksi menuju sebuah restoran milik seorang senior sambil mendengar ceramah agama sang sopir taksi. Cahaya yang tercipta oleh lampu-lampu mobil-mobil mewah, angkutan umum, lampu jalanan, dan gedung-gedung pencakar langit menjadi suatu lukisan indah yang sulit dilupakan bagi mereka yang pernah berada di tengah sibuknya kota Jakarta. Terkadang betapa sulitnya kita bersyukur atas nikmat-Nya meski semudah melihat nuansa kota melalui jendela kecil taksi berwarna biru.

"Tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama," katanya di tengah perbincangan kami. Seorang kakak, guru, mentor, atau saya lebih suka memandangnya sebagai seorang figur, role model untuk anak muda bau kencur yang belum tahu apa-apa tentang dunia kerja. Tiga jam berlalu begitu saja, saya tenggelam dalam pembicaraan kami akan pekerjaan kami yang berada dalam satu bidang, dan restoran itu tetap ramai dengan orang-orang yang juga tenggelam dalam entah apa yang ada di tiap-tiap pikiran mereka.

Jujur saya selalu merasa minder apabila pertanyaan mengenai "gaji" muncul di antara saya dan teman-teman saya yang sudah atau setidaknya sedang mengenyam pendidikan yang katanya disebut-sebut sebagai kampus kerakyatan. Dengan melihat kakak-kakak kami yang lulus dan mendapat pekerjaan serta gaji fantastis di ibukota, jelas saya ini tidak ada apa-apanya, hanyan butiran debu di tengah hutan beton ibukota. Ada sebuah mindset yang tercipta, sebuah standarisasi bahwa lulusan salah satu dari tiga universitas negeri raksasa di negara Indonesia ini harus menjadi "seseorang", ditambah lagi Presiden baru kita yang satu almamater dengan saya. Sebuah citra yang harus dijaga, atau saya lebih suka menyebutnya sebagai beban moral untuk mereka-mereka yang baru menetas keluar dari sana.

Apakah ada yang salah dengan saya? Atau dengan teman-teman saya? Apakah semua standarisasi itu harus dipenuhi demi sebuah citra yang mungkin beberapa tahun lagi berubah? Saya sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan di universitas terbesar di Indonesia, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, wawasan, serta pelajaran hidup di sana. Terkadang saya suka termenung memandang gelagat teman-teman saya dalam melihat dunia kerja. Memang, tidak pernah ada salahnya untuk beropini, membicarakan sesuatu sesuai pengalaman, namun apakah pengalaman kita sama?

"Kamu serius mau digaji sebesar itu? Kamu menganiaya diri kamu sendiri tahu,"

Berbagi kisah adalah sebuah pembelajaran, dan tujuannya adalah untuk dapat saling menghormati. Saya tahu betul tiap-tiap orang memiliki misinya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan saya. Kita begitu lama bermimpi saat kuliah, dan terbangun dari mimpi yang indah itu rasanya sakit sekali. Saya tidak bisa memenuhi standar maya yang terbentuk dalam mindset teman-teman saya. Saya rasa-rasanya berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang perguruan tinggi. Tapi, ada yang bernasib lebih menyedihkan lagi dari saya. Apa itu bisa menjadi pembenaran?

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri orang-orang yang tidak bisa menggunakan bahasa yang katanya merupakan bahasa pemersatu dunia, bahasa internasional, dalam kehidupannya sehari-hari maupun untuk urusan formal. Mereka diperas dari jam 7 pagi hingga jam 6 sore selama bertahun-tahun untuk gaji yang besarnya tidak lebih dari saya yang baru saja masuk kerja sekitar 2 bulan. Ada lagi mereka yang memiliki potensi luar biasa besarnya, namun harus memikul nasib berat atas tanggung jawabnya terhadap bangsa dan negara. Mereka rela untuk tidak digaji "demi sebuah mimpi akan negara yang lebih baik," katanya. Dan masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang bisa, lagi-lagi, saya gunakan untuk menjadi pembenaran nasib saya ini.

Memang tidak ada yang salah dengan pekerjaan pertama. Pekerjaan pertama selalu menjadi awal mula seseorang menapaki dunia kerja. Kita tidak akan pernah bisa berharap lebih dari kaki yang masih bergetar di pinggir tebing. Menatapi langit yang luas, yang terkadang rasanya tak akan tersentuh. Tapi kita bisa melihat burung-burung yang terbang, awan, matahari, dan bintang-bintang yang bersinar di gelapnya malam. Dan mungkin sewaktu-waktu kita bisa menjadi bagian dari itu semua.

01/08/14

Munculnya Cinta

Dari begitu banyaknya cerita tentang cinta, apakah kita benar-benar tahu artinya cinta, Isabel? Apakah kita pernah sekedar bertanya kepadanya tentang maksud kehadirannya di setiap nafas kehidupan mahkluk ciptaan Tuhan? Atau, bertanya "Siapa sebenarnya Tuhan?". Ah, pertanyaan yang begitu tabu dipandang oleh masyarakat. Berbicara seakan kita tahu segalanya hingga lupa bahwa sang surya telah lama tenggelam.

Isabel, siang ini aku melakukan ibadah yang sudah jarang rasanya aku lakukan semenjak aku kuliah. Ya, ibadah, Isaebel. Apa kau tahu artinya ibadah? Ah, kau pasti sudah memiliki definisi yang jauh lebih canggih dariku. Bagiku, ibadah adalah cara agar kita bisa dekat dengan Tuhan. Atau sekedar berkomunikasi dengan-Nya, meski seringkali hanya berbisik ke telinga-Nya. Apakah kau memiliki definisi yang berbeda? Izinkan aku tahu. Mari, aku lanjutkan cerita pendekku kembali.

Sang penceramah nampak semangat melontarkan kata-kata pujian serta doa-doanya siang itu. Ada satu hal unik yang aku tangkap dari ceramahnya, yakni tentang munculnya cinta. Aku tak pernah memikirkan sebelumnya bagaimana cinta bisa muncul di dunia ini. Mengapa kita tidak pernah membicarakan ini ya sebelumnya, Isabel? Di tengah propaganda dan segmentasi agama yang ia bicarakan, yang lagi-lagi, seperti yang sudah-sudah, hanya berkutat antara neraka dan surga, dia berbicara tentang cinta. Meski rasanya seperti hanya kurang dari lima menit ia membicarakan tentang cinta dan kaitannya dengan agama, pikiranku terbang sendiri mencari kisah tentang munculnya cinta siang itu, Isabel.

Kapan dan darimana sebenarnya cinta muncul? Apakah ia seorang lelaki berengsek yang mencari wanita tiap malamnya tanpa ia kenal namanya esok hari di ranjang hotel mereka menginap? Atau ia adalah seorang ibu yang membersihkan kotoran anaknya hingga ia bisa membersihkannya sendiri di usianya yang masih kecil? Atau ia adalah seorang kakak yang bingung dengan kehadiran adik barunya hingga terkadang merasa iri dengan segala perhatian yang didapatkan namun tetap tidak bisa memungkiri hatinya yang penuh dengan suka cita?

"Saudara-saudara, cinta datang di tengah harapan dan keraguan," sang penceramah memecah keheningan yang hinggap di otakku. Apa iya cinta datang di antara harapan dan keraguan?

"Ketika kita memberikan perhatian kita kepada seseorang, di sana timbul harapan bahwa kita juga ingin mendapatkan perhatian. Ingin dicintai,"

"Namun, kita seringkali lupa bahwa harapan tidak pernah datang sendiri. Ia datang bersama keraguan. Keraguan akan datangnya cinta yang kita harap,"

"Saat itulah cinta muncul, saudara-saudara,"

Dan cinta pun muncul. Menjadi jawaban atas harapan dan keraguan. Namun, apakah iya selalu berakhir seperti itu? Bagaimana dengan cinta yang tak terjawab? Tak terbalas? Apakah akan berakhir sama? Apakah ini hanya konsep belaka, yang lagi-lagi, hanya berkedok sebagai propaganda?

Yang aku mengerti, Isabel, cinta itu adalah kebenaran. Ia adalah yang sebenar-benarnya. Ia menghapuskan dendam dan benci, menghilangkan iri dan dengki, ia membutakan mata seseorang atas perhitungan untung dan rugi.. Jika ia benar adalah kebenaran, maka sang penceramah tidak berbohong. Karena seperti yang kau dan aku selalu bicarakan setiap kali kita bertemu, "Kebenaran hadir di tengah harapan dan keraguan,"

Kita berharap, kemudian meragu. Semakin kita dekat dengan kebenaran, semakin banyak cobaan yang datang. Jika harapan dan keraguan selalu datang bersamaan, apakah cinta datang sendiri? Akankah dia pergi, Isabel? Akankah kita sebenar-benarnya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita? 

Apakah cinta itu ada?

25/06/14

Cantik Itu Mahal

"Kenapa ya bu, kenapa bisa begini," kata anak muda itu dengan wajah penuh kekecewaan.

"Ibu kan sudah bilang, hal-hal seperti ini tidak hanya terjadi di televisi," sang ibu berkata sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu.

"Kenapa materi, harta, benda, bisa membuat kita bersikap sangat berbeda terhadap manusia lainnya bu?" tangannya mulai mencari-cari batu di taman untuk dilempar ke kolam sebagai pelampiasan kekesalannya.

Sang ibu hanya tertegun. Sore itu, ia harus menjelaskan pahitnya hidup kepada anak semata wayangnya yang masih terlalu muda. Sembari merangkai kata, kenangan akan dosa-dosanya di masa lalu menghiasi pikirannya.

. . .

"Aku gak mau jalan sama kamu, kalo kamu gak bawa mobil," wanita muda itu meronta mencoba melepas tangannya dari genggaman seorang pria sebayanya.

"Kamu kok matre banget sih?" pemuda itu tak juga melepas genggamannya.

"Lepasin! Kalo gak nanti aku teriak!" si wanita mengancam.

"Oke, oke! Aku kecewa sama kamu, pikiran kamu sempit!" akhirnya pemuda itu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan si wanita.

"Sempit? Mungkin kamu ya yang belum sadar. Aku ini wanita, senjata utamaku ya kecantikanku. Aku harus jaga asetku dong! Lagipula, kalo memang benar kamu anak orang mampu, pastinya kamu punya mobil!"

"Aku ga pernah bilang sama kamu kalo aku punya mobil,"

"Kalo begitu, aku yang salah. Maaf ya, aku gak bisa jalan sama kamu,"

"Mau sampai kapan kamu memberikan harapan-harapan palsu ini kepada para lelaki, hey Laila?"

"Sampai aku menemukan dia yang bisa menjagaku, merawatku, mengerti kebutuhanku. Sadarlah Amin, hidup itu mahal, dan laki itu gak cuma kamu. Wajar saja jika aku menebar kecantikanku, bukan cuma untuk kau seorang,"

"Berarti semua ini hanya masalah materi?"

"Amin, ayolah. Aku tahu kau pintar,"

"Tapi aku mencintaimu Laila! Aku mencintaimu apa adanya!"

"Kamu tahu aku harus tampil cantik kan? Dan biaya untuk kecantikan itu mahal. Bagaimana aku bisa tetap tampil cantik dengan menaiki motormu itu? Polusi, debu, kotoran, iyuuuh. Aku hanya mengambil jalan tengah. Jujurlah pada dirimu sendiri Amin, kau tidak akan mencintaiku jika aku jelek kan?"

Pemuda itu terdiam mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut manis si wanita cantik itu. Kata-katanya seperti menusuk hati dan membolak-balikkan pikirannya. Apa iya cinta itu datang dari mata? Apa iya cinta harus dipupuk dengan harta? Apakah hidup semahal ini?

"Sudahlah, kembalilah ketika kamu punya mobil sendiri," sang wanita pun pergi, tertutup kabut kenangan.

. . .

"Ibu, ibu," anak muda itu mengguncang tubuh ibunya yang membatu sesaat.

"Iya nak? Maaf ya, ibu melamun tadi,"

"Aku lapar,"

"Ayo, kita makan di restoran favoritmu. Panggil pak Juki untuk mengantar kita,"

"Pak Juki!" anak muda itu memanggil supirnya.

"Iya mas?" lelaki tua dengan kumis lebat datang dengan tergesa-gesa.

"Tolong antar aku sama ibu ke restoran ya,"

"Baik mas,"

"Oh iya, aku lupa menaruh sepeda motor ayah tadi, tolong masukkan sekalian ya pak," anak muda itu dengan nada lembut menyuruhnya. Langkah tergesa-gesa pun menghiasi kaki tua pak Juki selepas mendengar perintah majikannya itu.

Setelah pak Juki memasukkan motor majikannya ke garasi, ia mengeluarkan mobil mewah majikannya dan membukakan pintu untuk mereka.

"Pak Juki, besok pagi jangan lupa jemput bapak ya di bandara," sang ibu berkata sesaat sebelum menaiki mobil.

"Baik bu, besok pagi saya akan jemput pak Amin," kata si supir sambil menutup pintu mobil.

24/06/14

Sampai Nanti

"Kalo wanita yang disakiti, biasanya sebuah hubungan masih bisa bertahan. Si laki bakal anulah, inilah, biar hubungan itu bisa kembali berjalan. Tapi sayangnya, kalo si laki yang disakiti... Well, aku belum pernah melihat laki-laki yang cukup pemaaf,"

Aku kembali meminum kopi susu hangatku. Mataku masih memandang lampu jalanan ibukota yang terang benderang. Malam yang berisik mengingatkanku tentang sebuah kisah tentang angka lima yang dulu pernah aku baca dalam sebuah surat kabar. Sebuah kisah yang tenang dan jauh dari keramaian. Tentang sepasang kekasih yang harus saling menyakiti untuk dapat menemukan jalan hidup mereka masing-masing.

"Sudah, kalo memang jodoh gak akan kemana. Sekarang fokus saja dulu dengan pekerjaanmu, bukankah masih banyak mimpi-mimpimu yang belum tercapai?"

"Ya, kurasa kau benar. Aku terlalu lama tenggelam dalam urusan wanita. Kau tahu, dulu pernah sesekali seorang teman meramalku. Katanya, dari tiga kelemahan pria (harta, tahta, dan wanita), aku akan jatuh di tangan wanita," aku tersenyum mengakhiri kalimatku yang disambut tawa ringan olehnya.

"Ah, andai ya waktu terulang kembali,"

"Untuk apa waktu terulang kembali?"

"Kenapa kau berkata demikian?"

"Meskipun waktu terulang kembali, aku akan tetap memilih jalan yang sama. Melewati hari-hariku persis seperti apa yang telah aku lewati. Hanya mereka yang menyesal dengan hidup mereka yang meminta waktu bisa diputar kembali, Isabel,"

"Ah, kau ini, selalu saja menyindirku,"

"Aku tidak menyindirmu, aku hanya..."

"Menerima kenyataan?"

"Bisa dibilang begitu. Kita tidak akan pernah bisa bergerak jika kita terus melihat ke belakang, bukan? Aku tidak pernah berkata aku tidak merindukan masa laluku. Semua yang indah dan buruk telah kita lalui, menjadikan kita seperti hari ini,"

"Menjadikan kita secangkir kopi susu dan segelas air putih?" Isabel tertawa.

"Ah, kau merusak suasana," aku kembali meminum kopi susuku.

Malam yang berisik di ibukota tidak pernah mengganggu mimpi-mimpi indah yang tercipta oleh insan-insan manusia yang sedang tertidur lelap. Kita adalah hasil akumulasi dari masa lalu kita, tapi masa depan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang akan kita buat, dimulai dari sekarang.

Sampai nanti. Sampai masa depan menemuimu.

"I suppose, in the end, the whole of life becomes an act of letting go. But what always hurts the most is not taking a moment to say goodbye." 
-Life of Pi

11/06/14

11 Juni 2014

Kepada Isabel,

Sudah lama kita tidak berbincang atau sekedar bertukar sapa. Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih seperti dahulu? Tersenyum tersipu malu jika kupandang matamu lebih dari tiga detik? Oh, Isabel, kau tahu, sungguh dalam hati masing-masing manusia menyimpan rindu yang tak terkira. Kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada cinta, dan kepada dendamnya.

Aku baik-baik saja di hutan beton ini. Aku masih menjadi diriku, atau mungkin lebih tepat mengatakannya, aku kembali seperti dulu lagi. Seperti sejak sebelum bertemu denganmu. Isabel, dunia ini keras ya. Terkadang kita lupa bahwa sebenarnya kita hanya memerlukan sebuah senyuman untuk dapat membuat sepersekian detik hidup kita sendiri atau bahkan hidup orang lain lebih indah.

Isabel, dari semenjak kepergianku, banyak cerita yang belum aku sampaikan. Entahlah, apakah suratku ini akan sampai padamu atau tidak. Meskipun sampai, apakah akan kau baca? Ah biarlah. Lagi-lagi, cerita tentang cinta memang cerita yang tidak akan pernah habis dimakan usia. Bagaimana dengamu? Sudahkah kamu menemukan cinta sejatimu? Terakhir kita bertukar kabar, kau masih mengidam-idamkan sosok yang aku pikir tidak akan pernah hadir di dunia ini. Kau memang seorang utopis sejati, haha.

Sungguh cinta itu sulit dimengerti. Yang dekat terkadang terasa jauh, yang jauh terkadang terasa dekat. Apakah kau pernah merasakannya juga, Isabel? Ya, aku bertemu dengan dia yang dulu pernah merebut hatiku dengan senyum manis dan paras wajah cantiknya. Aku menghabiskan hariku dengannya melewati senja yang tertutup awan hitam polusi kendaraan ibukota. Aku menyukainya, jujur. Tapi terkadang ada rasa yang kurang, yang janggal. Hening di antara kami sangat asing. Dia tak pernah banyak bertanya, dia tak pernah banyak memberi kabar, tapi dia selalu ada. Katakan, apakah itu cinta?

Ah, Isabel, aku ini lelaki yang tak akan pernah terpuaskan hasratnya. Beberapa malam yang lalu aku juga memberanikan diri untuk bertemu dengan dia yang matanya menembus relung jiwaku. Malam itu rembulan ditutupi hujan yang turun dengan malu-malu, memberikanku nuansa romansa yang tak pernah aku rasakan semenjak kepulanganku ke ibukota. Ia begitu cantik, Isabel. Aku tak bisa melepas pandanganku darinya. Kendati demikian, mata kami tak pernah bertemu karena ia sibuk berbincang dengan sahabatnya. Ah! Aku merasa bodoh sekali malam itu. Ragaku seakan-akan membeku dengan keberadaannya. Aku tak bisa menjauh, tapi aku segan untuk mendekat. Aku takut terlalu dekat, Isabel. Lagi-lagi, apakah itu cinta?

Aku rasa ia akan menjadi cinta yang tak berbalas Isabel. Tapi biarlah, memandang wajahnya saja sudah membuatku senang, membuat bibirku tersenyum tanpa kusadari. Terkadang aku suka terperanjat dengan diriku sendiri yang diam-diam menyimpan foto-fotonya di telepon genggamku. Sungguh lucu ya? Haha.

Sudahlah Isabel, besok aku harus kembali menjalani hari layaknya pria-pria dewasa. Menyusuri jalanan yang keras dan tak mengenal belas kasih demi mencari rezeki. Aku harap kau tak keberatan dengan kisahku yang agak panjang malam ini.

Dari aku yang merindukanmu,

P.S: 
Cepatlah pulang, banyak orang membutuhkanmu 9 Juli nanti.

08/05/14

Catatan Perang Korea

Salah satu karya dari penulis sekaligus wartawan Indonesia, Mochtar Lubis, ini mungkin adalah buku pertama yang memberikan perspektif berbeda tentang sebuah perang yang terbit di Indonesia. Dengan gaya bahasanya yang khas, Mochtar Lubis membawa pembaca melihat perang Korea pada dekade awal tahun 1950-an lebih dekat. Seperti yang disimpulkan oleh Mochtar lubis, "Perang menghasilkan kesedihan, bencana, duka, air mata, dan lain-lain. Perang adalah keruntuhan dari perikemanusiaan".

Pergolakan di negeri Ginseng ini mendapat perhatian banyak negara di dunia karena menjadi salah satu arena perebutan pengaruh antara ideologi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Selepas kekalahan Jepang di Perang Dunia II, Korea sebagai bagian dari jajahan Jepang ikut merasakan bagaimana pemimpin negara-negara besar mempengaruhi kehidupan mereka. Korea Utara yang dibawahi oleh Uni Soviet memiliki pemimpin bernama Kim Il Sung yang notabene merupakan pahlawan perang ketika masa penjajahan Jepang dulu. Di sisi lain, Korea Selatan yang dibawahi oleh Amerika Serikat secara "demokratis" memilih Syngman Rhee sebagai Presiden mereka.

Mochtar Lubis bersama dengan wartawan lainnya dari berbagai negara meliput jalannya peperangan. Bersumber dari keterangan banyak warga Korea, Mochtar Lubis menyimpulkan bahwa perang Korea memang dimulai oleh pihak Korea Utara yang secara mendadak menduduki kota Seoul. Semenjak itu pertumpahan darah tidak bisa dihindari oleh kedua belah pihak.

Kisah Tentang Penderitaan Karena Perang
Mochtar Lubis menekankan bahwa penulisan buku ini bukan sepenuhnya untuk menceritakan bagaimana perang ini berjalan, tapi bagaimana dampaknya terhadap masyarakat Korea. Bab yang saya paling suka dari buku ini adalah Bab 5: Kimpo-Seoul. Dalam bab tersebut ada sebuah cerita yang mengiris hati saya dan membuka mata saya bahwa perang bukan hanya sekedar pertarungan politik ataupun ideologi, namun juga pertaruhan nyawa.

Entah ini bersifat subjektif atau tidak, tapi di dalam bab tersebut Mochtar Lubis menceritakan bahwa sesuai dengan keterangan-keterangan yang didapatkannya dari masyarakat Korea, Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menggunakan perang Korea sebagai momentum untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Syngman Rhee, yang tidak terlalu populer di mata masyarakat dan memiliki banyak musuh di DPR, menggunakan polisi militer Korea Selatan untuk tidak hanya "menghukum" masyarakat Korea Selatan yang benar-benar terbukti membantu pasukan Korea Utara, namun juga "menghukum" para lawan politiknya dengan dakwaan yang sama. Dalam situasi yang kacau, hukum tidak berlaku sesuai dengan prosedur. Penculikan lawan-lawan politik Syngman Rhee berjalan mulus tanpa ada halangan karena keadaan negara yang kacau.

Salah satu kisah tentang penculikan tersebut ditemui oleh Mochtar Lubis ketika mengamati keadaan di depan gedung parlemen Korea Selatan. Seorang wanita menghampirinya dengan balutan luka di tangannya, bercerita dengan tangis yang tak tertahankan dalam bahasa Korea yang tidak ia mengerti. Hingga akhirnya datang seorang wanita yang bisa berbahasa Inggris menerjemahkan kata-katanya untuk Mochtar Lubis. Awalnya Mochtar Lubis mengira wanita tersebut menangis karena kesakitan akibat luka di tangannya dan mencoba meminta obat kepada Mochtar Lubis, namun ternyata perkiraannya salah. Setelah diterjemahkan, ternyata wanita tersebut mencoba untuk menanyakan keberadaan suaminya kepada Mochtar Lubis. Ia bercerita pada Mochtar Lubis bahwa suaminya ditangkap tanpa penjelasan ketika ia dan suaminya berkeliling kota Seoul untuk mencari sisa-sisa makanan. Semenjak hari itu ia terus mencari suaminya dan tanpa henti berkeliling kota Seoul.

Cerita tersebut merupakan satu dari banyak kisah penderitaan karena perang Korea yang ditemukan oleh Mochtar Lubis. Banyak kisah-kisah yang dicatat oleh Mochtar Lubis yang tak akan pernah tersampaikan oleh surat kabar manapun di seluruh dunia. Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih menganggap perang sebagai sebuah jalan keluar agar dapat melihat sisi lain dari perang yang terkadang terlupakan karena termakan oleh waktu.

03/05/14

Bukan Spiderman

Amazing Spiderman 2 memang menyajikan sesuatu yang berbeda dengan Spiderman sebelumnya ketika masih diperankan oleh Tobey Maguire. Dengan kenakalan Andrew Garfield saat mengenakan kostum Spiderman dan hadirnya Gwen Stacy yang diperankan Emma Stone memberikan warna baru untuk si manusia laba-laba. Tapi tulisan ini bukanlah untuk membuat review tentang film manusia laba-laba.

Salah satu sorotan yang paling tajam dari setiap kisah pahlawan super adalah hadirnya dua kehidupan yang berbeda dari keseharian sang pahlawan. Superman dengan Clark Kent-nya yang bekerja sebagai reporter, Spiderman dengan Peter Parker sebagai seorang remaja yang merintis menjadi fotografer, atau si millionaire Bruce Wayne yang memilih untuk mengamankan kota Gotham sebagai Batman. Tapi apakah hanya mereka yang memiliki dua kehidupan yang berbeda? Saya rasa tidak. Pernahkah kalian merasa bahwa kita ini memiliki hidup yang beragam? Minimal seperti para pahlawan super ini, kita punya dua kehidupan yang berbeda. Mengutip kata-kata bibi May, "terkadang kita menyembunyikan kehidupan kita, bahkan kepada mereka yang kita sayangi". Tapi kehidupan apa sebenarnya yang kita sembunyikan? Everybody have their own issues I think.

Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle
Kutipan dari Ian Maclaren mungkin bisa menjelaskan bagaimana seseorang memiliki dua kehidupan yang berbeda. Setiap orang mengalami pertarungan yang hebat dalam hidupnya setiap hari, setiap detik, dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Kita pun demikian saya rasa. Seseorang bisa saja sangat ramah dalam satu pertemuan, namun mungkin dia tidak akan seramah itu dalam pertemuan-pertemuan lainnya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam setiap detik hidupnya. Seperti halnya Spiderman bukan? He fought a very hard battle against the super-villains and no one know that he was only a teenager with the same problem like the rest of us.

Sometimes the person who tries to keep everyone happy is the most lonely people
Bagaimana sebuah senyuman itu bisa lahir mengalami proses yang rumit. Senyuman, sebuah hal sederhana yang dapat menyebarkan kebahagiaan ternyata memiliki dilemanya sendiri dengan tangis yang disimpan oleh setiap pemiliknya. Sebagai manusia, kita adalah makhluk hidup yang cukup egois. Kita ingin orang lain untuk menghargai kita, mengerti akan kesedihan dan keadaan kita, namun jarang untuk mencoba mau untuk sekedar lebih peduli dengan orang lain. Kita cenderung senang untuk ditanya ketimbang bertanya, sekedar bertanya "ada apa?" atau "bagaimana kabarmu?". Kita lupa bahwa kita perlu mendengar sebelum didengar. Kita terus ditekan oleh sekitar kita, menjadikan kita pribadi yang semakin individualistis. Lelah dengan keluhan sedang senyuman harus terus terpajang di wajah.

Pada akhirnya, kita semua adalah para pahlawan super minus kekuatan super bukan? Kita memiliki sisi-sisi kehidupan yang disembunyikan. Kita juga harus menjaga perasaan tiap-tiap orang dengan menimbang perasaan kita sendiri. Semakin kita hidup, semakin rumit kehidupan.

"The loneliest people are the kindest. The saddest people smile the brightest. The most damaged people are the wisest. All because they do not wish to see anyone else suffer the way they do."