31/05/13

Di Dalam Mimpi

Di dalam mimpi dia datang kepadaku
Mengatakan suka, cinta, dan yang lainnya
Dia tahu aku merasakan hal yang sama

Di dalam mimpi dia menangis kepadaku
Memegang tanganku hingga luka
Dia tahu aku tak bisa bicara

Di dalam mimpi dia menungguku
Di seberang jalan yang rasanya sering aku lalui
Dia menarikku dan menangis
"Kenapa kau tinggalkan dia yang mencintaimu?"

Padahal aku tak mengucapkan satu patah kata pun
Dalam mimpiku

22/05/13

Mengagumimu

Jika aku bersama dengan wanita dan mengagumimu, apa aku salah?
Jika kau bersama dengan pria dan aku masih mengagumimu, apa aku berdosa?
Aku rasa mengagumi keindahan ciptaan Tuhan tak ada salahnya dan tak ada hukumannya

Mengagumi bukan berarti mencintai
Jika kagum menjadi pintu masuk cinta, apa akan lahir benci?

Maaf, aku hanya mencoba menjadi manusia

21/05/13

Selingkuh

Beberapa dari kita mungkin pernah selingkuh terhadap pasangan kita, namun pernahkah kita mencari tahu alasan mengapa kita selingkuh? Perbincangan saya dengan seorang teman mengenai "perselingkuhan" telah membuahkan hasil yang mungkin dapat saya bagi kepada kalian pada kesempatan kali ini.

"Tak selamanya selingkuh itu indah," sebuah potongan lagu yang mungkin dapat menjadi pengantar tulisan saya ini. Selingkuh itu ibarat bermain dengan api, kalo kita bisa mengendalikannya, diri ini menjadi hangat, namun jika tidak, ya sudah kita terbakar. Apa sih sebenarnya selingkuh itu? Beberapa mengatakan bahwa selingkuh itu adalah ketika kita memberikan perhatian lebih kepada orang lain (tentunya lawan jenis) ketimbang pasangan kita. Tapi bagi saya, selingkuh itu adalah ketika kita tidak lagi "hanya" memikirkan pasangan kita saat menghabiskan waktu berdua. Kalian pilih yang mana?

Mengapa kita selingkuh? Pertanyaan yang seringkali terlintas namun enggan dicari jawabannya. Mengapa tidak dicari? Jawaban saya simpel, mungkin karena kita takut. Takut bahwa alasan itu bisa menjadi pembenaran atas tindak selingkuh yang dilakukan. Kita tentu memilih pasangan dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Mengapa pilih yang ini, bukan yang itu. Kita-lah yang tahu alasannya dan menentukannya. Jika menggunakan sistem variabel, contohlah pasangan kita memiliki sepuluh variabel yang pas dan cocok dengan kita. Sepuluh variabel ini tentunya tidak ditemukan dalam satu malam saja, namun ditemukan melalui hubungan yang terjalin selama ini (dari masa pendekatan, mengenal, pacaran, bahkan hingga menikah). Sepuluh variabel inilah yang menjadikan hubungan dengan pasangan kita sangat kuat dan seringkali digunakan sebagai senjata untuk memusnahkan perselingkuhan. 

Tapi kemudian, apa sangkut pautnya dengan selingkuh? Nah, sekarang kita ambil kasus perselingkuhan. Ketika kita (karena saya juga pernah selingkuh, hehe) mengenal lawan jenis lain, kita menemukan variabel baru yang "mungkin" berbeda dari pasangan kita. Dengan melihat jangka waktu kita mengenalnya, mungkin hanya satu-dua saja yang berbeda atau baru (jika mengenalnya lebih lama lagi, mungkin akan lebih banyak lagi variabel barunya, dan ini lebih berbahaya saudara-saudara). Inilah yang harus menjadi perhatian kita. Waktu yang telah kita habiskan bersama pasangan kita mungkin membuat rasa kebosanan memuncak. Variabel baru inilah yang menjadi opsi jalan keluarnya.

Variabel baru yang kita lihat di orang lain ini memang tidak akan bisa ditemukan di pasangan kita, karena itulah yang membuat manusia itu unik dan berbeda satu sama lain. Mencari hal baru merupakan hal yang manusiawi, namun perlu dipertimbangkan konsekuensinya. Terkadang menghabiskan waktu dengan orang lain yang bukan pasangan kita malah dapat membuat kita lebih meyakini dan percaya akan kekuatan hubungan dengan pasangan kita. Seringkali ketika menghabiskan waktu dengan orang lain, kita akan teringat dengan kebiasan-kebiasaan kecil pasangan kita. Ingatan inilah yang memperkuat keyakinan kita bahwa satu-satunya penghuni hati dan pikiran kita adalah dia. Atau jangan-jangan malah variabel "baru" itu yang teringat ketika bersama pasangan? Haha, ayo cari tahu jawabannya sendiri!

12/05/13

Hidup Itu Singkat

Kalo kata Forrest Gump, hidup itu kayak kotak coklat. Kita gak pernah tau apa yang bakal kita dapetin ketika mengambilnya dari kotak. Life is full of surprise, begitu intinya. Umur kita gak pernah bisa ditebak, yang sehat bisa aja tiba-tiba sakit, yang sakit-sakitan bisa aja hidupnya lama. Lalu apa tujuan hidup jika semua tidak pasti? Kita yang menentukan sendiri tujuan hidup kita.

Secara gak sengaja, gw pernah pesen minuman di Calais (cie ilah, sombong amat). Biasalah, kan mba-mbanya yang jaga nulis-nulis gak jelas di cup-nya gitu. Terus tulisannya kayak gini, "The purpose of life is life of purpose". Gila, keren juga mba-mbanya, haha.

Anyway, semenjak gw liat video Eve Ensler di TED (cek sendiri ya), gw menyadari bahwa hidup memang tidak pasti, tidak aman, dan tidak ada yang dapat menjamin masa depan. Semenjak itu pula gw sangat enjoying my life. Kenapa gitu? Balik lagi, bukannya hidup itu full of surprise? Yap, gw mencoba living life to the fullest. Hidup cuma sekali men, habis itu kita ke surga, amin. Gw selalu mencintai orang dengan sepenuh hati, dengan begitu secara otomatis gw juga akan tersakiti sepenuh hati. Sepupu gw pernah bilang, hidup itu diterima aja udah, wong dikasih gratis kok sama Tuhan. Kalo sakit (hati) ya terima aja, kalo kecewa ya terima aja. Semua itu bumbu kehidupan. Yang perlu dilakukan kan bangkit dari itu semua.

Gw dulu selalu bertanya-tanya, kenapa Tuhan gak ngasih tau kita kapan kita mati? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, semua gak ada bedanya. Bukannya Dia udah nentuin takdir ya? Kalo emang udah begini, ya begini aja. Kalo gak dapet "ilham" dari-Nya ya udah kelar, haha. Life goes on like it should be. Yang dapat merubah kita hanya perlakuan kita terhadap orang lain. Ya, kebaikan. Lakukan apa yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu, dan sebaliknya, jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan kepadamu. Hanya kebaikan yang dapat merubah takdir kita.

Oke deh, maaf ya tulisan gw berantakan banget malem ini. Soalnya mau cerita-cerita juga gak ada temennya, haha. Mau nulis galau, kemarin udah, hehe. Pokoknya gw saranin hidup itu enjoy aja. Gak usah berharap banyak-banyak, dan gak usah sedih terus. Orang jahat pasti ada, dan orang baik juga gak sedikit kok. Hidup memang berat, tapi kalo kita latihan angkat beban terus, hidup juga lama-lama kerasa ringan. Hanya mereka yang tersakiti pantas mendapat kebahagiaan.

11/05/13

Jeruji Malam

"Aku sering merasa kesepian dalam ramai,"

Malam itu bar milik Odi agak ramai. Seperti biasa aku duduk di depan meja bartender untuk memesan segelas minuman yang dapat menghangatkan tubuh serta pikiranku.

"Aku tak bisa menemanimu malam ini, tak apa ya," sapa Odi sambil memberi pesananku.
"Santai saja, toh ramai," balasku dengan senyum ringan.

Malam ini begitu sempurna, bintang-bintang bersinar jelas terlihat dari luar jendela bar yang kecil itu. Bulan tersenyum malu dengan sabitnya yang runcing. Dan lampu jalanan menyinari trotoar yang sepi, sendiri, tanpa teman untuk berbagi. Semua orang sudah berada di dalam bar, tak ada yang tersisa untuk angin malam di luar pintu jati milik Odi. Aku pegang erat syal biru milikku dan melingkarkannya lebih ketat ke leherku.

Wajah-wajah yang sempurna bermain kata dalam semak kebohongan dan asap perak cerutu Cuba. Merayu yang satu dengan yang lainnya, menikmati hidup seperti tak akan pernah ada akhirnya. Aku terjebak dalam ruang dan waktu yang aku ciptakan sendiri.

Aku melihat jam tangan milik ayahku yang kotak dan retak kacanya. Memikirkan kembali tentang konsep waktu dan relativitasnya. Bisakah aku memutarnya kembali?

"Benarkah kesendirian itu abadi?"

07/05/13

Peach

Hari ini dia mengenakan baju peach yang manis
Semanis senyumnya ketika melihatku
Memang benar itu adanya atau itu hanya imajiku?

Kukunya manis berwarna hijau tosca
Dia bercanda dengan teman-temannya
Tapi di seberang meja kita bermain mata

Selalu seperti ini, seminggu tak berlalu lama
Sejak matahari setinggi ujung tombak
Hingga matahari tersesat mencari jalan pulangnya

Jika kesempatan itu ada
Maka ingin aku rebut hatinya
Tapi maukah ia?
Ah, sudah ada yang punya ternyata

06/05/13

Jika Saya Menjadi Pengurus Keuangan

Saya agak kecewa dengan beberapa teman yang seringkali ikut kepanitian dan menjadi pengurus keuangan, baik itu bendahara maupun dana usaha. Beberapa kasus membuat acara yang ditangani menjadi tidak sehat, dalam artian mengalami defisit dan seringkali mendesak bagian dana usaha atau penghimpun dana menjadi bekerja terlalu keras. Memang saya jarang sekali (atau sepertinya tidak pernah) menjadi bagian keuangan dan saya bahkan tidak mendalami ilmu manajemen keuangan, namun saya mulai mengerti sistem keuangan dari melihat kasus-kasus acara yang defisit. Tulisan kali ini saya gunakan untuk berbagi pemikiran saya mengenai sistem keuangan yang sehat dalam pembuatan dan pelaksanaan sebuah acara dengan menggunakan skenario terburuk.

Memang sudah sewajarnya sebagai panitia pelaksana kita harus membuat acara sedimikian bagus agar memuaskan para peserta, namun hal ini tidak boleh melupakan kemampuan penghimpunan dana dari panitia pelaksana itu sendiri, baik itu menggunakan uang pendaftaran peserta, sponsor, maupun iuran para panitia. Setelah melihat kasus terakhir kepanitian yang dipegang oleh teman-teman, (seharusnya) saya menjadi berpikiran pragmatis: "you get what you pay". Saya selalu berpikir mengapa kita harus repot-repot mencari uang tambahan jika uang pendaftaran peserta atau iuran dari panitia itu sendiri cukup untuk menutupi segala kebutuhan acara? Yang saya bicarakan kebutuhan lho, bukan keinginan.

Contohlah sebuah acara seminar yang menghargai uang pendaftaran Rp. 50.000,- per orang. Jika asumsi terburuknya yang datang hanya 100 orang, berarti pemasukan awal kita hanya mendapatkan Rp. 5.000.000,-. Nah, dari sana kita seharusnya mendapatkan gambaran yang jelas skenario terburuk dari acara tersebut, yakni kita hanya dapat menyediakan fasilitas sejumlah Rp. 5.000.000,- untuk peserta. Jika berdasarkan kepada iuran panitia saja (peserta tidak dipungut biaya) dan pengeluaran telah jelas (contoh sebesar Rp. 5.000.000,-), kita bisa membagi rata pengeluaran sejumlah dengan anggota kepanitiaan. Contoh, jika panitianya ada 50 orang, maka pengeluaran total sebesar Rp. 5.000.000,- dibagi 50. Berarti setiap panitia (entah mau dengan cara apa) memiliki tanggung jawab untuk iuran sebesar Rp. 100.000,- (entah mau menggunakan tenggat waktu seperti apa). Barulah kita bisa mencari-cari keperluan untuk penyelenggaraan acara tersebut dengan batasan maksimal pengeluaran Rp. 5.000.000,-. 

Untuk masalah sponsor kemudian bisa menyusul, baik itu untuk menambah, memenuhi kebutuhan akan keperluan untuk acara tersebut, atau mengembalikan uang iuran anggota panitia. Contoh, jika kita mencari pembicara untuk seminar tersebut, carilah sponsor yang berkaitan dengan sang pembicara agar dapat memberikan uang akomodasi sang pembicara (jadi kita mendapatkan pembicara gratis). Jika mendapat sponsor yang memberikan fresh money, itu bisa digunakan untuk mempermewah fasilitas yang akan diberikan kepada peserta, baik itu untuk tempat, konsumsi, atau fasilitas lainnya yang lebih baik. Dan jika mendapatkan sponsor yang bersifat reimbursed, kita dapat menjadikannya profit ataupun dalam kasus iuran panitia, bisa dikembalikan uangnya kepada panitia dengan jumlah merata.

Memang acara yang diselenggarakan akan menjadi acara "apa adanya" bukan "ada apanya". Acara yang berbasis skenario terburuk tidak akan dapat menjanjikan apa-apa kepada peserta, karena fasilitas yang dipersembahkan akan baru dapat dijanjikan setelah uang pendaftaran maupun iuran panitia sudah ditetapkan dan terperinci secara jelas. Acara yang dibuat tidak akan bersifat mewah jika uang peserta maupun sponsor yang didapatkan tidak berjumlah besar, namun hal ini akan meminimalisir kesempatan terjadinya defisit dan hutang.

Seringkali teman-teman kepanitian lebih mementingkan idealisme mereka tentang acara yang akan diselenggarakan ketimbang bersifat realistis terhadap kesempatan yang ada (pemasukan yang tidak tentu). Faktor inilah yang kemudian membawa teman-teman menuju lubang hitam defisit atau yang lebih parah, hutang. Jika ini diterapkan, teman-teman dana usaha atau penghimpun dana tidak akan terlalu tergesa-gesa ataupun merasa sangat terbebani untuk mencari uang kesana-kemari, karena mereka lebih bersifat komplementer ketimbang menjadi tulang punggung keuangan. Saya agak heran kenapa teman-teman banyak sekali yang senang berpikir rumit dan berharap terlalu besar terhadap sponsor ketika kita bisa berdiri dengan kaki sendiri. Mungkin masih banyak kekurangan dalam sistem keuangan skenario terburuk yang saya tulis ini, oleh karena itu teman-teman silahkan mengkritiknya :)