22/12/13

Kata

Kata, adalah anugerah Tuhan dan kesepakatan manusia atas kesepemahaman. Kata, memberi ruang dan membatasi dimensi. Menenggelamkan eksistensi, mencurinya, kemudian hilang dalam gelap esensi. Kata telah menguntungkan sekaligus merugikan kita. Atas definisi-definisi yang tidak seberapa. Atas pembatasan dan reduksi esensi. Atas segala perasaan dan kenikmatan yang tak terlukiskan. 

Oleh kata kita terpenjara sekaligus dibebaskan. Oleh makna-makna yang disepakati bersama kita mengenal dunia. Hanya mereka yang memahami ini yang bisa merangkai kata, tepat di mana mereka seharusnya berada. Menjadikannya sebuah simpul harmoni, bernada, dan melantunkan keindahan. Tapi yang paling berbahaya adalah kata mampu memanipulasi hati manusia. Menggugahnya, membuatnya meronta-ronta, atau bahkan membuatnya kecil dan menangis.

Aku adalah budak kata yang candu melalui tulisan-tulisan yang tertoreh dalam tinta di atas kertas. Menagih janji atas kenikmatan dari kesepakatan bersama melalui buku-buku yang indah. Dibuat oleh para perangkai kata.

14/12/13

Arti Dewasa

Sekitar seminggu yang lalu saya membaca tweet mas Ulil tentang jengukannya terhadap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga kita, Andi Mallarangeng. Di tweet tersebut mas Ulil memberikan link terhadap tulisan Andi yang ke-6. Andi memiliki kebiasaan yang unik di balik jeruji besi sebagai tahanan KPK, yaitu menulis. Tulisannya yang ke-6 menarik hati saya karena beliau menulis hal yang tidak biasa menjadi perhatian seorang politisi, apalagi tahanan kasus korupsi. Tulisan beliau berjudul "Konsep 'Dewasa' Ternyata Agak Rumit". Seperti yang tertulis dalam judul, tentunya beliau berbicara mengenai konsep dewasa di dalam tulisannya. Bagaimana masyarakat Indonesia memahami arti kata 'dewasa' dipandu oleh UU serta melihatnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan politik dan sosial negara kita.

Apa sebenarnya arti dewasa? Bukan itu sebenarnya yang mau saya bahas di kesempatan kali ini. Untuk detail yang lebih jauh Anda bisa mencermati tulisan Andi atau mencari maknanya menurut setiap bidang (biologi, politik, ataupun psikologi) atau berdasarkan atas pengalaman Anda pribadi. Ya, pengalaman pribadi. Itu sebenarnya yang mau saya bahas kali ini. Pengalaman pribadi saya mengenai konsep kedewasaan. Seperti apa sebenarnya orang-orang dekat saya melihat sisi kedewasaan saya.

Orang Tua
Siapa lagi yang lebih dekat dengan kita ketimbang orang tua? Bagi beberapa orang yang memiliki kasus khusus mungkin bisa menyangkalnya. Tapi saya yakin kebanyakan dari kita sangat dekat dengan orang tua kita. Saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan yang simpel, "Pernahkah Anda dikatakan dewasa oleh orang tua Anda?". Jawaban saya, tidak.

Orang tua kita (saya khususnya) adalah orang-orang yang selalu menuntut yang terbaik dari kita. Saya tidak pernah terlihat baik bagi mereka, termasuk melihat saya sebagai orang yang benar-benar sudah dewasa. Tapi saya tahu itu adalah cara mereka untuk terus menggali apa yang terbaik dari saya. Mereka berusaha untuk memacu saya dengan cara yang terkadang tidak saya sukai, yakni membanding-bandingkan saya dengan orang lain. Apakah Anda juga sering dapat perlakuan seperti itu?

Yang menjadi celah unik dari orang tua kita adalah mereka akan selalu melihat kita sebagai anak mereka yang masih kecil. Yang masih memerlukan bimbingan, nasehat, kasih sayang, dan tak jarang memanjakan kita. Bagi saya, ini adalah hal yang sangat positif di tengah derasnya tuntutan profesionalisme dalam segala bidang. Orang tua adalah tempat yang palik baik bagi kita untuk meminta pujian di saat kita membutuhkannya, selimut yang hangat untuk kita tidur di kamar, memasakkan kita makanan rumah, atau bahkan perhatian kecil seperti menanyakan bagaimana kabar kita setiap bulan.

Jawaban saya atas pertanyaan diatas masih sangat mungkin untuk disangkal atau bahkan saya sendiri masih meragukannya. Orang tua kita mungkin memang tidak pernah mengatakannya secara langsung bahwa kita sudah dewasa, namun perilaku mereka sebenarnya mengatakannya secara langsung. Sebagai contoh, adalah keputusan yang sangat berat untuk orang tua mempertimbangkan dimana anaknya akan kuliah kelak. Apakah dekat dengan rumah, di luar kota, atau bahkan di luar negeri. Setiap jarak memberikan makna kebebasan serta beban tanggung jawab yang lebih berat. Saya selalu merasa beruntung untuk bisa merantau dalam jenjang pendidikan kuliah saya. Dengan menjadi anak kos, saya bisa berusaha untuk lebih bertanggung jawab atas kehidupan saya sendiri. Mencari makan atau bahkan masak sendiri, mencuci baju (saya sih laundry), membersihkan kamar, menghabiskan waktu sendiri di kamar, mengerjakan tugas di luar kos/rumah, bekerja bagi yang mengalami kesulitan ekonomi, hingga menjaga hubungan dengan penghuni kos yang lain serta masyarakat sekitar adalah beberapa dinamika yang dirasakan anak-anak kos. Izin yang diberikan oleh orang tua kita untuk kita memilih/membuat keputusan kita sendiri terhadap tempat kita mengenyam pendidikan, atau takdir kita sendiri adalah pengakuan yang tak terbantahkan atas kedewasaan kita.

Teman
Teman kita, terutama yang sebaya, tentu juga memiliki penilaian mereka sendiri atas kedewasaan kita. Dengan melakukan banyak tindakan konyol saat bergaul atau melakukan kesalahan saat kita bekerja dalam tugas kelompok menentukan penilaian mereka atas kesan kedewasaan kita. Yang lainnya melihat sisi berbeda dari itu semua. Ada yang melihat kontribusi kita terhadap mereka, organisasi, diksi yang kita gunakan sehari-hari, hingga kebiasaan yang jarang kita tunjukkan di depan umum juga memiliki pengaruh tersendiri.

Kita dan teman-teman kita sering terjebak dalam koridor-koridor penilaian kedewasaan kita tadi. Kita jarang sekali dapat melihat seseorang sebagai satu-kesatuan konsep kedewasaan. Misal, ada teman saya yang jika bermain futsal/olahraga sangat serius dan kata teman-teman saya yang lain, aura kedewasaannya sangat terpancar. Tetapi saat melakukan tugas kelompok kami tahu bahwa dia tidak bisa diberikan tanggung jawab yang besar, sehingga hanya diberikan tugas yang mudah-mudah saja. Kita memiliki dua penilaian terhadap satu orang yang sama dengan melihat konsep kedewasaan dari koridor yang berbeda.

Kekasih
Kalo yang ini beda urusannya. Kekasih atau pacar adalah suatu hasil dari jalinan hubungan komunikasi yang intensif antar kedua insan manusia yang bersifat sangat privat. Jadi, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai ini. Sedangkan saya, pernah bertanya bagaimana pacar saya melihat kedewasaan saya. Pada dasarnya jawabannya sama dengan teman. Kita masih sering terjebak oleh koridor penilaian kedewasaan. Namun, pola yang saya temukan agak sedikit berbeda di sini. Mungkin karena dipengaruhi oleh kedekatan, jarang sekali kita akan menemukan jawaban-jawaban yang negatif dan cenderung positif.

Namun terkadang, sifat ketidakdewasaan kita juga diperlukan dalam hubungan. Misalnya, spontanitas. Bagi saya, kegiatan yang spontan itu memang tidak bisa dibilang dewasa karena tidak terencana hitungan untung-ruginya. Tapi dalam suatu hubungan ternyata spontanitas, menurut saya, diperlukan sebagai penyegar. Kebosanan atas jalinan hubungan yang lama akan mematikan rasa di hati, dan spontanitas bisa menjadi solusi.

Pribadi
Saya sangat benci dibilang tidak dewasa atau masih kecil oleh orang lain. Sampai sekarang pun saya masih kesal jika orang tua saya yang mengucapkannya (meskipun sudah tidak pernah lagi pasca saya kuliah). Karena bagi saya, setuju dengan tulisan Andi, konsep kedewasaan adalah suatu hal yang rumit. Pengalaman-pengalaman yang telah kita lalui bisa saja mengkonfirmasi kita atas label dewasa, namun orang lain yang melihat kita dari koridor yang berbeda-beda tadi belum tentu berkesimpulan sama. Yang paling parah adalah ketika kita terjebak dalam stereotipe dan mulai menghakimi orang lain atas satu tindakan kecil.

Saya masih sering bertanya apakah konsistensi memiliki sangkut-pautnya dengan konsep kedewasaan. Karena saya pikir konsisten dengan ucapan memiliki pengaruh yang tinggi terhadap kesan orang lain kepada kita. Seperti halnya menulis status di Facebook, Twitter, atau bahkan Line. Ketika kita menghapusnya, dimana letak konsistensi kita? Apakah itu artinya ketika kita menghapusnya, kita terlepas dari tanggung jawab kita atas apa yang telah kita tulis? Bagaimana jika orang lain sudah terlanjur membacanya? Yang lebih menarik lagi, apa alasan kita untuk menghapusnya? Apakah karena takut dibaca dan menerima kritikan? Atau kita takut harapan kita akan status kita yang kita tujukan untuk orang lain dibaca oleh orang itu sehingga membuat kita menjadi pengecut? Atau bagaimana?

Yah, saya mengakui saya juga sering melakukan itu terutama di Facebook. Alasan saya simpel, karena saya tidak mendapatkan "like", haha. Kalo memang tulisan saya itu ada yang salah ejaan dalam bahasa Indonesia atau Inggris, saya juga akan menghapusnya dan mengubahnya agar sesuai. Tapi ketika saya menuliskan status bersifat informasi atau opini dan ada orang menyangkalnya, saya akan mencoba untuk menjawab dan menerimanya sebagai kritik agar saya lebih berhati-hati, bukan dengan mencoba menyelesaikannya dengan menghapusnya. Karena itu saya sangat menghargai orang yang bertahan dikritik oleh banyak orang di statusnya, haha.

Jadi, kita kembali lagi, apa arti dewasa?

03/12/13

Menjadi "Garis Depan"

Sore yang mendung di langit Yogyakarta membawa saya ke puing-puing mimpi ditemani lembutnya selimut. Maksud hati mengistirahatkan kepala saya sejenak yang agak pusing, namun ternyata gagal dan membuat mata ini terus menatap acara di salah satu stasiun televisi. Apa boleh buat, sudah kadung terbawa suasana acara tersebut, jadi menontonnya hingga selesai.

Pada bulan September saya kembali ke tanah Jawa setelah menunaikan kewajiban saya kepada kampus. Belitung, tanah Laskar Pelangi menjadi tujuan saya untuk melaksanakan kegiatan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat). Selama dua bulan saya menghabiskan waktu bersama masyarakat Belitung, tujuan sebenarnya adalah untuk membantu pembangunan daerah dengan pemanfaatan sumber daya mahasiswa bersama berintegrasi dengan masyarakat. Menciptakan kondisi mutualisme bagi keduanya, mahasiswa memantik semangat membangun masyarakat, dan masyarakat memberi pengalaman kepada mahasiswa. Meski pada akhirnya lebih berat yang kedua, saya rasa program kampus saya ini berhasil membuat saya, khususnya, mengerti sepersekian persen gambaran kehidupan masyarakat di daerah yang jauh dari perkembangan dan bagaimana sebenarnya sumber daya orang-orang terdidik itu sangat diperlukan di sana.

Garis Depan
Acara sebuah stasiun televisi yang saya tonton menceritakan tentang sebuah tim kesehatan yang dikirim ke sebuah daerah perbatasan terluar Indonesia dengan Papua New Guinea, bernama Semografi. Daerah yang jika saya tidak salah memiliki jumlah keluarga di bawah seratus ini sangat memperihatinkan. Bayangkan kehidupan tanpa pasokan listrik dan tiada akses komunikasi dan informasi. 

Tim kesehatan yang terdiri dari satu dokter dan beberapa perawat ini menempuh perjalanan selama delapan jam dari kota untuk menuju kampung Semografi. Melewati dua gunung dan 19 sungai, tim kesehatan ini sudah sangat cocok sekali menjadi anak buah Ninja Hatori. Perjuangan mereka diceritakan dan digambarkan sangat apik dalam acara tersebut.

Berbagai macam tantangan dihadapi oleh tim kesehatan ini. Dari permasalahan suplai obat-obatan yang hanya bisa minta diantarkan melalui jasa komunikasi militer setempat (via helikopter) atau harus ke kota yang notabene mengulang perjalanan Ninja Hatori mereka hingga masalah komunikasi dengan masyarakat setempat yang kurang menyadari pentingnya arti kesehatan. Penyakit yang diidap oleh masyarakat setempat didominasi oleh penyakit pernapasan akibat cara tradisional merokok (rokok terbuat dari tembakau yang dikeringkan kemudian digulung dengan tembakau, tanpa kertas, tanpa filter. Bayangkan seberapa beratnya daya rusak yang dihisap oleh mereka!) dan penyakit kulit akibat sistem sanitasi yang buruk serta kebiasaan membuang ludah dan sampah sembarangan.

Proses pemberian pengobatan benar-benar menjadi perhatian khusus saya dalam acara tersebut. Coba bayangkan, meskipun mereka sudah diberikan pengobatan gratis oleh tim kesehatan, masih saja banyak yang belum mengerti atau malah ngeyel. Kebiasaan hidup sehat dan bersih serta meminum obat-obatan masih menjadi hal yang asing bagi mereka. Ini dapat kita mengerti dengan melihat rendahnya tingkat pendidikan di sana. Disuruh minum obat tiga kali sehari sangat sulit, minum sehari satu kali saja sudah untung, itu jika tidak lupa.

Bupati daerah setempat yang mengerti akan kesulitan-kesulitan ini, untungnya, memiliki inisiatif yang sangat bagus dengan memberikan insentif kepada tim kesehatan tersebut berupa gaji sebesar 30 juta rupiah per bulan, bersih ditambah uang makan yang akan diberikan selama mereka di sana. Tapi tetap saja, apa gunanya uang di sana, wong gak ada tempat untuk menghabiskan uang atau sekedar berbelanja di sana.

Butuh Otak dan Niat
Saya sangat mengagumi orang-orang yang berani bekerja di daerah perbatasan. Mereka bukanlah orang sembarangan yang hanya punya niat baik. Orang-orang ini dituntut untuk memiliki ilmu serta pengetahuan lebih untuk bisa memahami kehidupan masyarakat setempat. Begitu juga halnya dengan niatan. Tanpa niat, daerah perbatasan hanyalah sebuah titik tak terlihat bagi mereka di peta Indonesia.

Saya mencoba melihat kembali pengalaman saya di tanah Laskar Pelangi. Program KKN-PPM yang saya jalankan selama dua bulan sepertinya belum ada apa-apanya dibandingkan orang-orang Garis Depan ini. Saya hanya baru melihat 1% kehidupan mereka dari kacamata seorang mahasiswa yang masih diberikan uang dan dijamin keselamatannya oleh orang tua dan kampus. Sedangkan orang-orang ini bertaruh nyawa dan (saya rasa) tidak memikirkan imbalan atau gaji mereka.

Sekarang ini memang sudah mulai tumbuh program-program sejenis yang mencoba memantik para pemuda maupun profesional untuk mengabdi kepada negeri di daerah-daerah perbatasan negara Indonesia. Namun tidak jarang saya temukan mereka yang tidak peduli, tidak tahu, dan bahkan menghindari hal-hal seperti ini. Saya pun kembali mempertanyakan diri kembali, apakah saya bagian dari mereka? Apakah kesadaran yang tumbuh ini selamanya hanya akan menjadi kesadaran tanpa tindakan? Saya masih ingat, saya dulu berniat untuk KKN-PPM di daerah perbatasan juga, tapi mungkin saya yang belum siap atau mungkin juga takdir punya jalannya sendiri, jadi saya berangkat ke Belitung kemarin.

Kemajuan Bangsa
Banyak dari kita (termasuk saya) terus mengeluh betapa lambannya bangsa kita ini berkembang, baik itu dalam bidang akademi, teknologi, bisnis, peradaban, maupun toleransi dan multikulturalisme, tanpa melakukan apa-apa bagi bangsa. Saya berakhir pada sebuah kesimpulan yang sangat menyakitkan saat selesai menonton acara tersebut, bagaimana bangsa kita ini bisa maju jika masih banyak daerah yang tertinggal? Bagaimana kita bisa berbicara masalah penjualan iPhone 5s jika di Semografi saja masyarakat belum tahu apa itu ponsel genggam? Lalu, apakah pantas kita iri dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, ataupun Korea Selatan yang memiliki wajah perkembangan teknologi maju, sedangkan masih banyak borok-borok bangsa ini yang perlu disembuhkan, diperhatikan, dimajukan? Ternyata perjalanan bangsa kita masih panjang ya.

30/11/13

Tentang Membaca Buku

"Buku itu investasi masa depan," begitu kata Ayah saat saya pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi Gadjah Mada. Saya sangat bodoh waktu pertama kali mendengar kata-kata Ayah saya dengan lalu. Saya belum menyadari arti penting dari kata-kata beliau. Pertama kali saya memasuki dunia perkuliahan, dosen saya selalu menekankan pentingnya membaca. "Jika kalian mau lebih pintar dari saya, baca buku lebih banyak dari saya!" begitu kata beliau menandai permulaan perjalanan perkuliahan saya. Bahan bacaan yang banyak sekali di perkuliahan memaksa saya untuk terus membaca dan membaca, apapun medianya, koran, buku, hingga artikel-artikel di internet. Dan saat itulah saya mulai menyukai buku.

Saat pertama kali kuliah, entah berapa banyak buku yang saya paksakan untuk beli agar tidak tertinggal dengan teman-teman yang lain. Maklum, saya sewaktu SMA bukanlah orang yang gemar membaca, dan teman-teman kuliah saya ini, saya juga baru tahu pada tahun kedua, banyak yang suka membaca. Ayah saya dengan senang hati mendukung saya untuk membeli buku dengan mengganti berapapun uang yang saya keluarkan untuk membeli buku kuliah. Dari sekedar Rp. 60.000,- hingga diatas Rp. 300.000,-. Bagi saya itu jumlah yang luar biasa untuk membeli buku dan Ayah saya tidak keberatan dengan itu. Saya mulanya sangat benci membaca, tertidur di tengah-tengah saat membaca. Atau bahkan meninggalkan buku yang saya baca saat saya rasa sudah tidak lagi menarik atau membosankan. Lama-kelamaan saya terbiasa, baik dengan kebosanan gaya penulisan, apalagi buku-buku teori, hingga mengerti arti dari kata-kata atau istilah yang saya jarang dengar dalam pembicaraan sehari-hari.

Ayah saya juga sebenarnya bukan seseorang yang suka membaca buku, tapi beliau selalu membaca koran setiap pagi saat libur kerja atau sore sepulang kerja. Saya selalu memperhatikan bagaimana beliau membaca dengan seksama maupun hanya membaca dengan sekilas. Menggunakan kacamata bacanya yang khas dan tentunya minuman teh atau kopi sebagai pelengkap. Saya selalu teringat kebiasaan itu setiap kali saya membaca. Jika Ayah saya rajin sekali membaca, kenapa saya tidak? Ternyata sekarang saya mulai merasakan kebiasaan itu menurun ke saya. 

Sejak memasuki semester 6, saya berhenti membaca koran dan mengandalkan televisi untuk berita-berita terkini, namun saya lebih fokus kepada buku. Saya menjadi lebih sering membaca dan membeli buku. Kemudian lahirlah komunitas IR Book Club yang saya dan teman-teman saya dirikan. Bacaan saya jadi mulai meranah ke genre-genre asing. Buku-buku yang jarang orang lain baca, dan itu menarik perhatian saya. Dengan berdiskusi bersama teman-teman yang juga suka membaca buku seperti itu, gairah saya untuk membaca semakin meningkat dan terus meningkat hingga sekarang.

Menjadi Hobi
Dulu saya tidak mengerti apa sebetulnya hobi saya. Perbincangan dengan beberapa teman membuat hati saya tersentil. Teman-teman dengan lancar dan ringan sekali membicarakan apa yang menjadi kesukaan atau hobi mereka. Ada yang suka otomotif, fotografi, hingga gigs. Kata salah satu dari mereka, "lelaki itu harus punya hobi,". Lalu, apa hobi saya?

Saya kemudian curhat dengan pacar saya mengenai ini. Apa sebenarnya hobi saya? Pacar saya kemudian mengatakan bahwa hobi itu adalah sesuatu yang kita suka lakukan dengan sukarela, tanpa ada rasa terbebani, senang rasanya jika dilakukan, dan tanpa sadar kita melakukannya. Apakah saya benar-benar suka membaca buku? Ya namanya tidak sadar, jadi mana saya tahu. Kemudian hal yang paling menyadarkan saya adalah ketika saya melihat rak buku saya di kos. Betapa banyaknya buku yang berjejer di sana, belum lagi buku-buku yang sedang dipinjam oleh teman-teman saya. Padahal saya masih ingat dulu waktu pertama kali kuliah, rak buku saya hanya ada satu dan itu kosong (tak ada buku). Sekarang saya berencana membeli rak ketiga, karena dua rak buku saya sudah penuh. Ternyata saya benar-benar suka membaca.

Sekarang, saya tidak pernah lagi membatasi diri untuk membeli buku dengan jumlah harga di luar akal sehat (saya pernah menghabiskan hampir 1 juta untuk membeli buku). Namun saya tetap menjaga diri agar sebisa mungkin sebulan sekali saja ke toko buku. Karena setiap kali saya ke toko buku, saya selalu tertarik untuk membeli buku, padahal masih banyak buku yang belum saya selesaikan.

Tapi hobi yang baru saya sadari ini belum menjadikan saya seseorang yang benar-benar gila buku. Ada banyak teman saya yang lebih gila lagi, dan saya sadar saya belum ada apa-apanya. Saya masih sering lupa dengan isi buku yang sudah saya baca, jadi saya harus membaca isinya secara garis besarnya dulu sebelum menjelaskan ke orang lain. Hal ini kemudian yang memantik saya untuk menulis. Menulis review atau resensi buku sangat membantu untuk mengingat isi buku itu. Ternyata memang benar bahwa membaca dan menulis itu dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Sekarang saya sedang berlatih untuk menulis review atau resensi buku-buku yang telah saya baca. Tapi lagi-lagi, rasa malas adalah musuh utama.

Satu hal yang negatif dari hobi saya ini adalah saya menjadi benci sekali dengan teman-teman yang meminjam buku saya dan lupa mengembalikannya, apalagi buku saya yang dipinjam oleh teman saya, dipinjamkan lagi ke temannya (jadi tangan ketiga). Bukan kepalang bencinya saya ketika mengetahui itu. Saya merasa buku-buku itu adalah harta karun saya, dan seharusnya orang yang saya pinjamkan itu menyadari betapa saya sangat menghargai mereka dengan membolehkannya meminjam harta karun saya. Makanya setiap kali ada teman yang ingin meminjam buku, saya menjadi ragu dan merasa enggan. Saya menjadi egois. Padahal ketika teman saya ada yang memiliki buku yang bagus, saya juga kerap meminjamnya (tapi pasti saya kembalikan). Yah, namanya juga manusia.

Saya juga sering merasa ada yang kurang setiap kali saya selesai membaca buku pinjaman. Saya merasa harus memilikinya. Ini mengakibatkan saya harus membeli buku yang serupa atau memfotokopinya. Namun saya rasa ini bukanlah hal yang negatif. Rasanya senang sekali jika koleksi buku saya bertambah. Ada kebahagiaan tersendiri yang mengalir di nadi saya. Ini memunculkan ide di masa depan agar saya memiliki perpustakaan pribadi. Wah, pasti senang sekali rasanya melihat koleksi buku saya semenjak menjadi mahasiswa kelak.

Menjaga Konsistensi
Sebagai penutup, saya ingin memberikan tips kepada teman-teman yang masih merasa kesulitan untuk membaca buku. Sebenarnya kuncinya ada di konsistensi kalian untuk membaca. Sebagai contoh, saya menjaga konsistensi membaca saya dengan selalu membaca satu jam sebelum saya tidur. Tapi jika memang kalian sedang ingin membaca lebih, silahkan. Saya kadang juga agak keterlaluan dengan tidak mengenal tempat untuk membaca (kadang di kamar mandi, kantin kampus, atau bahkan di lapangan), tapi tidak apa, itu artinya kalian sedang tertarik, dan jangan redupkan gairah kalian untuk membaca itu.

Memang pada awalnya akan sangat sulit dan terasa sangat malas untuk melakukannya. Tapi jika kalian memang benar-benar ingin membaca, paksakanlah. Jika itu tidak menjadi hobi kalian, atau sekedar kewajiban untuk membaca bahan kuliah, saya rasa tips saya itu akan berguna. Ingat, membaca itu penting! Buku adalah jendela dunia, dan istilah itu benar! Setelah kalian membaca, bagikanlah ilmu kalian dengan orang lain, diskusikan, lalu menulislah! Kemajuan peradaban manusia dimulai dari cara mereka berpikir, dan mampu menuliskan ide mereka agar bisa dimengerti oleh orang lain.

26/11/13

Alien di Antara Kita

"Di Indonesia ada alien. Di Mall di pusat kota Jakarta itu terlihat banyak rombongan manusia2 aneh yang deduksi dan induksi dari pengalaman hidup untuk membaca orangku nggak mampu menalarkan dengan utuh selain asumsi kalau mungkin: ini kasta baru manusia Indonesia, hedonis tingkat murni, pureblood, yang punya takdir kekayaan milyaran sejak baru lahir. Orang2 ini sepertinya nggak pernah merasakan susah, mereka dan lingkungannya menciptakan lingkungan eksklusif terlindung dan aman dari proses-proses sosial dan segala hal yang akan berkaitan tentang kesadaran ke-Indonesiaan atau pun keduniaan. Bahkan isu2 ham dan lingkungan yang biasanya ada di kalangan elitis dan kelas menengah terlihat nggak menyentuh mereka. Putih, bersih, berkelas, bebas, dengan nilai moral sendiri, rule of social sendiri, dengan setiap gerik mencoba menciptakan keanggunan, merapihkan rambut, menjaga gestur badan, tebaran pesona. Alien2 ini orang2 yang asing dengan Indonesianya. Hahaha. Hati2, kita ribut urusan rakyat mayoritas sementara kasta baru ini menguasai aset2 dan kekayaan kapital gila2an."

Tulis status Facebook seorang senior yang terkenal menjadi aktivis kampus ini membuat saya tertegun sejenak dan memutar otak mengenai keberadaan alien ini. Apakah benar mereka benar-benar ada? Mereka yang tak tersentuh, yang ekslusif, dan bahkan tak memikirkan "kita". Keberadaan alien ini ternyata sungguh dekat. Bahkan di nadi jantung kota pendidikan Yogyakarta pun saya rasa ada. Mereka mulai memasuki relung pernapasan kita, mempengaruhi detak jantung kita, dan mungkin lama-kelamaan akan membentuk pemikiran dan perkembangan otak kita.

Di tengah ketakutan itu saya mencoba melihat kembali mimpi-mimpi saya yang ingin saya capai di Jakarta. Ya, Jakarta. Ibukota Indonesia yang telah menjadi pemikat para perantau di nusantara. Pusat perputaran ekonomi dan arus keuangan bangsa kita sebagian besar terletak di sana. Saya ingin menjadi bagian darinya. Mengambil sebanyak mungkin uang yang ada di sana dengan ilmu yang telah saya pelajari di kota Gudeg. Apakah iya hidup saya hanya sedangkal itu? Tanpa ada maksud dan takdir lain dari Tuhan yang menempatkan saya di jantung kota pergerakan mahasiswa Indonesia? Saya mulai merenungkan kembali semuanya.

Mimpi dangkal saya itu saya dapatkan dari sebuah hal yang sangat simpel. Beberapa bulan yang lalu sepulangnya saya dari tanah laskar pelangi, saya mendapatkan sebuah film serial bagus yang mungkin dapat menggambarkan kehidupan alien ini, Suits. Kehidupan yang nyaman, mobil mewah, apartemen mewah, kehidupan kalangan atas eksklusif, yang digambarkan dari kehidupan seorang pengacara. Indahnya hidup seperti itu. Tapi apakah tujuan hidup akan berhenti sampai sana?

Membaca status senior saya di atas membuat saya menjadi takut akan menjadi salah satunya. Atau jangan-jangan saya sudah menjadi bagian dari mereka? Sudah mulai terpengaruh virus alien-alien itu? Saya sangat takut. Sangking takutnya, hari ini saya memaksakan diri menonton film Laskar Pelangi di tengah kesibukan untuk mengingatkan saya tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai, prosesnya, dan untuk siapa mimpi itu akan berdampak. Saya menginjeksikan vaksin kepedulian ke dalam diri saya, meski dalam dosis yang terhitung sedikit. 

Saya tak ingin menjadi alien! Apa jadinya bangsa ini jika kita semua menjadi alien? Apakah kita pantas mengatakan diri kita ini manusia jika kepedulian sudah hilang dari kamus kita?

03/11/13

Lelaki

"Tidak aku tahu lelaki begitu mudah ditipu oleh perempuan,"

Begitu tulis Mochtar Lubis mengantarku kepada akhir cerita pendeknya. Malam ini aku memutar otakku yang kaku oleh emosi. Terjaga oleh kesadaran yang terbangun dalam lima jam tidurku sejak matahari terbenam. Melihat wajah yang cantik di album foto ponsel genggamku, tak terasa waktu telah lebih lama menahan rasa cinta ini untuknya dari praduga awalku.

"Emotion is good, but you should back it up with some cold hard facts,"

Menemani bulan sambil mengulang kembali episode-episode dari kisah seri tentang seorang pengacara tak berhati yang mengejar kemenangan. Selalu terbayang tentang mimpi menjadi dirinya yang tak peduli dunia dan wanita. Bagaimana seseorang bisa menghilangkan emosinya? Menjalin hubungan hanya sebatas kebutuhan fisik tanpa ada campur tangan cinta. Aku ingin seperti itu, tapi itu bukan aku.

Dunia terus berubah dan membawaku kepada kehidupan yang semakin kompleks. Perempuan mengangkat equality ke permukaan. Bukannya takut, tapi ragu. Apakah kita semua paham arti equality? Mengaitkannya dengan anatomi tubuh dan menganalisa perilaku berdasarkan ilmu biologi. Apakah kita memang benar-benar equal? Perempuan ingin selalu dimengerti, tapi apakah mereka pernah mau mengerti tentang lelaki? Yang tak hanya memerlukan kebutuhan fisik seperti yang selama ini selalu menjadi prejudis mereka, namun lebih dari itu. Tentang aktualisasi diri dan pengakuan. Tentang emosi dan egoisme. Tentang suka dan tidak suka. Tentang menjadi sensitif dan tak peduli.

Mungkin aku telah kacau dan kehilangan identitas di tengah krisis hidup menuju ke kedewasaan seperti yang kau bilang. Aku akan menjadi sesuatu yang aku inginkan, dan mungkin juga seperti yang kau harapkan. Aku ingin menenggelamkan "aku" yang kini sedang dalam badai emosi. Membuangnya begitu saja seperti tisu yang basah dipakai untuk membersihkan percikan sperma. Aku ingin mengukir raut wajah ini, seperti lelaki-lelaki yang katanya telah merasakan manis pahitnya kehidupan. Menyembunyikan sifat asliku dalam tindakan yang tak akan pernah dapat dimaafkan. Bukankah begitu penyakit lelaki yang seharusnya? Mengalihkan apa yang seharusnya ditunjukkan ke dalam tindakan yang bajingan? 

Seperti kata pepatah Belanda, "semakin tinggi status sosial dan tingkat intelektual seseorang, semakin tinggi tingkat kebinatangannya". Seperti lelaki-lelaki yang terhimpit oleh kekuatan sosial untuk menjadi "lelaki", namun melakukan ke"lelaki"annya kepada hal yang tak sepantasnya dilakukan seorang lelaki. Dipaksa untuk menghilangkan apa yang sebenarnya menjadikannya lelaki. 

Tak aku tahu bahwa harga kebebasan sebegitu mahalnya. Menjadi seorang lelaki pun tidak bebas begitu saja menjadi. Membentuk identitas diri dari apa yang diinginkan oleh orang lain. Kita bukanlah kita yang apa adanya, melainkan kita yang terbentuk oleh mata-mata orang lain yang melihat kita.

Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang hal yang aku suka, tentang hal yang aku benci?
Apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang apa yang kurasa dan apa yang kuinginkan?
Dan apakah kau pernah bertanya kepadaku, sayang?
Tentang aku yang ingin menjadi apa, tentang siapa aku sebenarnya?
Tenggelam dalam badai emosi,
Mencoba menghapusnya dan bertahan dalam lingkar kebinasaan,
hidup,
Sulit menjadi apa yang seharusnya kita ini diciptakan,
Karena mata-mata yang tak pernah melepasmu dalam kebebasan.

01/10/13

Bersepeda di Malam Hari

Melewati lampu-lampu yang berdiri sendiri, berjarak namun saling menerangi. Melihat satu-dua wajah yang lelah melepas hari, ataupun yang masih sibuk tertawa saling menipu diri. 

Cahaya bulan terang dan kadang bintang benderang. Seperti wajahmu yang selalu terbayang, meski lagu yang terputar di telinga tak selalu mengenai roman.

Keringat ini tak ada artinya disapa angin yang dingin menusuk relung. Jiwa yang sendiri bebas terbang bersama imajinasi. Melihat detil-detil peradaban manusia secara perlahan namun pasti. 

Aku suka bersepeda di malam hari, tanpa tujuan yang pasti, atau hanya ketika ingin menghabiskan waktu sendiri. Mungkin suatu hari nanti, di waktu dan tempat yang tak terencana, kita bisa bersama bersepeda di malam hari, sayang.

28/09/13

Dimana Ayah?

Malam itu aku sedang menunggu temanku sambil menenggak segelas coklat hangat rasa hazelnut di tengah dinginnya malam. Aku memilih untuk membuka youtube sebagai pembunuh waktu. Tanganku terus bergerak mencari-cari video yang mungkin akan membuatku berhenti bernapas sejenak dan mengalihkan perhatianku dari lampu jalan yang menerangi langkah para pejalan kaki dan pengendara motor. Aku melihat satu video yang tak umum, bergambar dua buah boneka dengan figur ayah dan anak yang duduk di sebuah sofa.
"Stromae - Papaoutai"
"Ah! Bahasa Perancis," pikirku melihat judul video itu. Baru-baru ini aku memutuskan untuk kursus bahasa Perancis. Entah itu karena motif untuk menunjang karir atau hanya iseng belaka, tak ada ruginya bagiku di tengah penantian kepastian untuk pengerjaan skripsiku. Mungkin aku bisa sambil mempraktekkan hasil dua kali pertemuan kelas bahasa Perancisku dengan melihat video ini dan kemudian mencari liriknya.

Aku mulai menyetel video itu. Dengan nada yang mudah dicerna dan ucapan si musisi yang mudah diikuti membuatku suka dengan video ini. Video yang awalnya kukira cukup lucu dengan adegan-adegan orang tua yang berjoget bersama anaknya ini kemudian membuatku mulai merasakan sesuatu setiap kali si musisi menyanyikan reff lagu.
"Où t'es? Papa, où t'es? Où t'es? Papa, où t'es? Où t'es? Papa, où t'es? Ou t'es, ou t'es où papa, où t'es?"
Aku tidak mengerti artinya, bagaimana tidak, aku kursus bahasa Perancis saja baru dua kali pertemuan, dan itu saja aku masih dalam tahap awal sekali. Aku kemudian memutuskan untuk mencari lirik beserta artinya di internet. Ternyata lagu ini bercerita tentang seorang anak yang mempertanyakan eksistensi ayahnya. Ya, eksistensi. Mungkin itu adalah kata yang terlalu berat untuk menginterpretasikan lagu ini. Tapi setelah melihat lirik serta membaca forum-forum yang membahas arti lagu ini (banyak yang memperdebatkannya, selain karena lagu ini berbahasa Perancis yang notabene sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, juga karena video ini terlalu abstrak untuk diterjemahkan secara harafiah), aku berkesimpulan bahwa lagu ini memang membahas tentang eksistensi seorang ayah.

Ada bagian lirik yang sangat menyentilku di dalam lagu ini.
"Tout le monde sait (everyone knows)
Comment on fait des bébés (how to raise a child)
Mais personne sait (but nobody knows)
Comment on fait des papas (how to raise a dad)"
Ingatanku mulai berputar mengenang masa-masa yang telah aku habiskan bersama ayahku. Aku sadar aku merindukannya dan aku sadar bahwa sedikit sekali waktu yang telah aku habiskan bersamanya. Aku baru sadar bahwa aku sebenarnya tidak mengenal siapa ayahku secara dalam. Karena selama ini dia selalu jauh, bekerja setiap waktu dan sibuk dengan hobinya. Aku mulai mengenang itu semua dan kembali haus akan perhatian orang tuaku. Apa yang terjadi? Apakah semua orang tua seperti itu? Semua seperti tergambar dengan jelas dalam video ini.

Aku mulai berpikir secara analitis, "apa yang akan aku lakukan jika aku berada di posisi ayahku?". Pertanyaan itu membawaku ke sebuah diskusi kecil yang pernah aku lakukan dengan seorang temanku. "Menjadi orang tua di zaman seperti ini serba salah," katanya. Benarkah? Ya. Aku sering berpikir bahwa aku tidak akan pernah siap untuk menjadi orang tua, seorang ayah, sekaligus pembimbing hidup bagi keturunanku, darah dagingku. Begitu berat tanggung jawab yang akan dipikul. Aku harus bisa memastikan anak-anakku kelak hidup dalam kenyamanan tanpa harus mengurangi tingkat moralitas maupun intelegensia mereka. Aku ingin mereka hidup nyaman dalam mempelajari hidup, agar mereka siap untuk hidup. Aku ingin mereka menjadi lebih baik dariku, dari semua aspek yang aku miliki. Tapi di sisi yang lain, aku juga harus bisa memastikan diriku memiliki waktu untuk mereka semua.

Begitu banyak angan-angan mengenai menjadi ayah yang baik yang kumiliki, namun selalu terbang terbawa angin realita. Seringkali aku melihat orang tua-orang tua yang belum bisa memenuhi angan-angan itu. Begitu sulit, dan mungkin sepertinya hampir tidak mungkin. Kemudian aku mulai dipenuhi rasa pesimis, mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi ayah yang baik, atau mungkin malah aku tidak akan menjadi seorang ayah.

Cerminku menjadi saksi begitu egoisnya diriku ini, yang ingin memiliki segalanya tanpa berbagi. Begitu banyak keinginan diriku yang belum terpenuhi, ingin punya apartemen pribadi, mobil pribadi, semata-mata untuk membanggakan diri kepada orang lain atas keberhasilan diri sendiri. Pikiran sepeti ini apakah patut ada di dalam benak seorang ayah yang baik? Tidak. Jalanku menuju kesuksesan masih panjang dan berat. Aku tidak bisa mengambil konsekuensi dengan membawa beban lebih. Aku harus bisa menyelesaikan urusanku dulu sebelum menjadi seorang ayah. Aku ingin memberikan segalanya untuk anak-anakku kelak. Aku ingin selesai dengan diriku sendiri dan memberikan hidupku untuk anak-anakku. Aku ingin menjadi bijak sebelum belajar membesarkan anak.

Bagian lirik lagu ini sepertinya memiliki banyak intepretasi,
"Où est ton papa? (Where are you, Dad?)
Dis moi où est ton papa! (Tell me, where are you papa?)
Sans même devoir lui parler (Without even talking to him)
Il sait ce qui ne va pas (he knows what he did wrong)
Hein sacré papa! (It's holy papa!)"
Tapi aku memiliki intepretasi pribadi tentang bagian ini,
"Dimana dirimu ayah? Katakan padaku, dimana dirimu ayah? Kau tak pernah berbicara denganku, apapun yang kau kerjakan untuk menghidupi kami, kami tahu kau tahu konsekuensinya. Semua ini untuk kita, tak apa ayah. Apapun yang kau lakukan itu suci."
Begitu banyak ayah-ayah yang memilih jalan pintas demi memberikan anak-istrinya kehidupan yang nyaman, atau hanya sekedar bertahan hidup. Begitu berat tanggungan yang akan dipikul, karena seorang ayah tak lagi akan memikul satu beban kehidupan, namun juga kehidupan anak-istrinya. Bisakah? Bisakah aku menjadi seorang ayah? Atau hanya seorang lelaki?

"Stromae - Papaoutai"

19/09/13

Pemuda Bertindak, Negara Bergerak

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Seharusnya hal ini memberikan rasa toleransi yang tinggi di antara masyarakatnya, lalu mengapa kita masih sering mendengar berita mengenai konflik agama di sekitar kita? Jawabannya karena kita masih merasa nyaman dalam lingkaran komunitas agama kita dan enggan melakukan interaksi/hubungan dengan orang di luar lingkaran komunitas agama kita. Ashutosh Varshney, seorang peneliti politik pernah berkata bahwa ketegangan antar umat agama sebenarnya dapat dikurangi dengan meningkatkan intensitas interaksi di antara mereka. Oleh karena itu, merupakan suatu kesempatan sekaligus kewajiban bagi pemuda Indonesia untuk menjaga harmonisasi bangsa dengan menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput.

Harus Dimulai dari Pemuda
Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya! Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”, begitulah ucapan Soekarno dalam menggambarkan betapa hebatnya kemampuan pemuda dalam mengubah dunia. Pemuda Indonesia sejak dulu telah memiliki peran penting dalam memajukan bangsa ini dan sekarang pun pemuda masih memiliki peranan dalam mewujudkan serta menjaga harmonisasi bangsa, khususnya dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Pemuda memiliki peluang yang dapat digunakan dan dioptimalkan untuk melakukan hal tersebut. Kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pemuda dan banyaknya akses yang dimiliki pemuda untuk memperluas wawasannya merupakan beberapa dari banyaknya peluang yang dimiliki oleh pemuda untuk menggiatkan dialog lintas agama.

Indonesia memiliki lebih dari 30 organisasi/komunitas yang digerakkan oleh pemuda. Organisasi-organisasi tersebut bergerak di berbagai bidang yang berbeda-beda namun secara garis besar memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan bangsa Indonesia. Selain dari organisasi, institusi pendidikan seperti universitas pun ikut memberdayakan pemuda melalui berbagai macam aktivitas. Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa berbagai universitas di Indonesia melalui berbagai macam program kerjanya mulai bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bahkan di beberapa universitas tertentu dengan adanya program KKN (Kuliah Kerja Nyata) menjadi bukti nyata kontribusi pemuda kepada masyarakat Indonesia. Dengan seluruh program dan kegiatan yang telah berlangsung, baik yang dampaknya telah terasa maupun belum terasa oleh masyarakat luas, kepercayaan masyarakat terhadap pemuda secara perlahan terus meningkat. Ditambah lagi tren yang sedang marak di tengah masyarakat Indonesia, yakni menyusutnya kepercayaan masyarakat terhadap elit politik yang diwakili oleh partai politik, membuat masyarakat menumpahkan kepercayaannya kepada pemuda.

Pemuda, khususnya mahasiswa, memiliki akses yang tak terbatas untuk memperluas wawasan mereka dewasa ini. Internet dan beasiswa menjadi contoh nyata yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari pemuda. Internet membebaskan siapapun untuk dapat mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan menembus batasan negara. Dan beasiswa, selain mempermudah pemuda dan keluarganya dalam pembiayaan pendidikan, juga dapat memperluas wawasan pemuda mengenai toleransi dan memahami kehidupan masyarakat di negara lain melalui beasiswa program pertukaran pelajar antar negara maupun konferensi internasional yang nantinya diharapkan dapat menjadi solusi alternatif berbagai macam persoalan yang ada di Indonesia.

Dengan mengoptimalkan peluang yang ada, pemuda dapat menggiatkan dialog lintas agama. Kepercayaan masyarakat terhadap pemuda yang tinggi seharusnya membuat pemuda dapat meyakinkan masyarakat bahwa dialog lintas agama adalah sesuatu yang harus dilakukan demi menjaga harmonisasi bangsa. Sedangkan akses yang tak terbatas untuk memperluas wawasan membuat pemuda dapat mengsosialisasikan kepada masyarakat tentang apa yang sebaiknya perlu dilakukan untuk mengatasi konflik antar agama dan langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk menggiatkan dialog lintas agama.

Bukan Halangan, Namun Tantangan
Selain peluang, pemuda juga memiliki tantangan untuk menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Tantangan yang ada bukan berarti menjadi sebuah halangan, namun menjadi kesempatan untuk pemuda mengembangkan serta mengoptimalkan potensi dirinya. Beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda dalam usahanya menggiatkan dialog lintas agama adalah kesadaran dan keinginan pemuda itu sendiri untuk melakukannya, pola pikir masyarakat yang lebih menyukai keadaan apa adanya ketimbang perubahan, dan isu agama yang bersifat sangat sensitif dan tabu. Tantangan-tantangan ini haruslah dipandang sebagai sebuah batu loncatan bagi perkembangan pemuda dan bangsa Indonesia, karena dengan adanya tantangan-tantangan inilah pintu kesempatan untuk berubah menjadi individu serta bangsa yang lebih baik lagi terbuka lebar di depan mata kita.

Inge Amundsen berbicara mengenai political will/keinginan politik sebagai dasar untuk melakukan perubahan dalam konteks memerangi korupsi. Kita dapat belajar satu hal yang penting dari Amundsen, yakni will/keinginan. Segala macam perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan perlu ada keinginan yang besar untuk melakukannya, begitu juga dalam usaha menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Pemuda harus mengerti betul keadaan yang ada sekitar mereka sekarang ini, dan segera mengumpulkan niatnya untuk melakukan perubahan. Sayangya, gelombang globalisasi telah menggerus kepedulian pemuda terhadap lingkungannya. Banyak pemuda yang menjadi sangat individualistik dan tidak peduli terhadap isu yang beredar di sekitar mereka. Untuk itu, tantangan pertama yang harus dijawab oleh pemuda dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput adalah untuk mengumpulkan niat/keinginan mereka agar lebih peduli, lebih memahami, dan mau bergerak.

Merubah pola pikir/mindset masyarakat adalah hal yang telah diakui banyak orang sulit, namun masih mungkin untuk dilakukan. Masyarakat cenderung merasa nyaman dengan keadaan yang ada ketimbang menerima gerakan perubahan yang dapat mengancam kenyamanan kondisi mereka saat ini. Meskipun begitu, argumen tersebut belum tentu berlaku di seluruh golongan masyarakat. Biasanya pendidikanlah yang menjadi faktor utama diterimanya gerakan perubahan dengan baik di tengah masyarakat. Avadhesh Agrawal menjelaskan dengan sangat baik bagaimana merubah pola pikir seseorang itu bisa menjadi sangat sulit ataupun sangat mudah. Agrawal percaya bahwa pola pikir positif dapat menangani perubahan pola pikir dengan mudah. Sedangkan pola pikir yang negatif akan mempersulit perubahan pola pikir. Untuk merubah pola pikir masyarakat, pemuda harus membawa pola pikir yang positif dan memang ditujukan untuk perubahan yang lebih baik. Berawal dari sana, pemuda dapat menarik masyarakat menuju pola pikir baru yang lebih terbuka dan toleran. Cara penyampaian juga menjadi kunci kesuksesan dalam merubah pola pikir masyarakat yang tidak boleh terlupakan.

Agama merupakan isu yang sensitif dan tabu untuk dibicarakan tidak hanya di Indonesia, namun di dunia. Agama adalah doktrin tertua di dunia yang menjadi fondasi utama kehidupan banyak manusia. Karen Armstrong dalam seminarnya di TED (sebuah organisasi yang bertujuan mengundang orang-orang yang ahli dalam bidangnya untuk menyampaikan pemikirannya ke masyarakat umum) menjelaskan permasalahan dialog lintas agama terletak di rasa toleransi para pemeluk agama. Agama merupakan pena yang menentukan hitam dan putih lembaran kertas kehidupan manusia, dimana benar dan salah adalah dua hal yang pasti dan dapat dipisahkan. Dialog lintas agama seharusnya berpusat kepada pembangunan rasa toleransi antar agama dan pembahasan ruang abu-abu yang belum terlihat di dalamnya.

Banyaknya tantangan yang dihadapi oleh pemuda untuk menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput membuka kesempatan bagi pemuda dan bangsa Indonesia untuk maju menjadi negara yang lebih baik lagi. Kesadaran dan keinginan dari pemuda sendiri merupakan tantangan pertama yang perlu dijawab oleh pemuda. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi tujuan utama pemuda dalam menggiatkan dialog lintas agama. Dan terakhir, dialog mengenai agama itu sendiri merupakan tantangan yang perlu dilewati. Mengangkat isu agama menjadi isu yang tidak lagi sensitif dan tabu menjadi langkah awal membangun toleransi antar umat beragama dan harmonisasi bangsa.

Pemuda Bertindak, Negara Bergerak
Pemuda memiliki berbagai macam peluang dan tantangan dalam menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput. Kesadaran generasi muda akan toleransi antar agama harus terus digalakkan demi harmonisasi bangsa di masa depan. Melalui berbagai macam cara pemuda dapat menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput, dengan atau tanpa bantuan dari pemerintah. Terakhir, mengutip perkataan Karen Armstrong dalam seminarnya di TED:
“...saat dimana ideologi tidak mampu memunculkan rasa akan pemahaman global dan sikap saling apresiasi secara global mengalami kegagalan saat ini, agama harus dijadikan sebagai pendorong harmoni dunia, dan memang mampu menjadi demikian karena adanya etika timbal balik: “Jangan lakukan pada orang lain apapun yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap kamu”. Sebuah etos yang harus diterapkan secara global... Saya pikir inilah saatnya kita bergerak bukan sekedar demi toleransi, tetapi bergerak menuju apresiasi terhadap orang lain.”
Sudah saatnya bagi pemuda untuk bertindak, menggiatkan dialog lintas agama di kalangan akar rumput untuk mewujudkan harmonisasi bangsa dan turut serta berperan aktif dalam harmonisasi dunia. Semua dimulai dari sini, menggiatkan dialog lintas agama di sekitar kita: keluarga kita, teman-teman kita, dan lingkungan kita. Dimulai sejak sekarang, sejak detik ini, sejak Anda selesai membaca tulisan ini. Jika pemuda bertindak menuju arah yang lebih baik, maka tentu negara akan bergerak ke arah yang lebih baik.

REFERENSI 
Sumber dari buku
Agrawal, A., Throw Away Your Thoughts and Change Your Life: A Spiritual Journey, AuthorHouse, Bloomington, 2012.
Amundsen, I., Political corruption: An Introduction to the Issues, Chr. Michelsen Institute, Bergen, 1999.
Varshney, A., Ethnic Conflict and Civic Life: Hindus and Muslims in India, Yale University Press, New Haven.

Sumber dari internet: 
Armstrong, K., ‘Karen Armstrong makes her TED Prize wish: the Charter for Compassion’, TED, 2008, diakses 10 April 2012. 
Cahyono, H., J., ‘Puluhan komunitas sosial luncurkan Forum Jogja Peduli’, ANTARANEWS, 3 Maret 2013diakses 9 Maret 2013. 
Sasmita, I., ‘Pemilu 2014, Kepercayaan Rakyat ke Parpol Menyusut’, Republika Online, 20 Februari 2013, diakses 3 April 2013.

N.B:
Dibuat untuk mengikuti Lomba Karya Tulis (LKT) mengenai Dialog Lintas Agama 2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Februari 2013 lalu.

17/09/13

Takemoto dan Sepedanya

Lelaki itu terus mengayuh sepedanya. Di benaknya selalu terpikir, "seberapa jauh aku bisa mengayuh tanpa melihat ke belakang?". Sebuah pertanyaan yang tak satu orang pun tahu tujuannya. Waktu berlalu sangat cepat, tahun pertama, tahun kedua, ia terus menimba ilmu di negeri bunga Sakura dengan segenap jiwanya. Ia bertemu dengan orang-orang hebat yang akan mewarnai hidupnya sekarang dan nanti. Dan juga seorang wanita yang akan mengajarinya arti cinta dan pengorbanan.

Tahun ketiga adalah tahun terakhirnya mengayuh sepeda itu. Kali ini dia tak bertanya seberapa jauh ia bisa mengayuhnya tanpa melihat ke belakang. Dia hanya terus mengayuh. Keringat dan panas matahari tak menghentikannya hingga ke ujung pulau negeri. Sebuah perjalanan yang awalnya bermula dari pelarian diri atas tugas akhir dan masalah cinta, malah membawanya ke sebuah desa kecil tempat di mana ia belajar tentang arti hidup. Dia pergi sebagai seorang bocah yang tak tahu apa-apa dan meragukan segalanya. Dia pulang sebagai lelaki yang kuat dan siap menghadapi kehidupan.

Aku ingin menjadi seperti Takemoto. Yang kuat untuk bangkit ketika dikecewakan, yang tak malu untuk menangis karena kesedihan, dan yang selalu siap membantu teman-temannya. Takemoto belajar banyak dari kehidupan kuliahnya. Meskipun ilmu yang ditimba bukanlah hasratnya, namun lingkungan membangunnya menjadi manusia yang baru. Tanpa memperdulikan masa depan, ia terus mengayuh sepedanya menuju kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan oleh dirinya maupun orang lain.

15/09/13

Raja Midas

Katakan padaku, apakah dia berdosa? Dia hanya meminta apa yang telah ditawarkan oleh dewa. Dia meminta emas, seperti yang semua manusia impikan. Dia tidak naif, tapi hanya sedikit serakah. Apakah itu hukuman? Atau itu hanyalah hiperbola para penyair Yunani yang ingin dikenang seumur hidupnya?

Midas yang senang hatinya, Midas yang terkutuk takdirnya. Kau begitu tidak beruntung di hadapan sejarah manusia dan dewa. Kau meminta tangan manusiamu agar bisa mengubah semua menjadi emas. Kau ubah piring-piring dan gelas-gelas, satu per satu dengan sentuhan yang lembut menjadi emas, tapi kau tak puas. Kau sentuh lantai dan dinding-dinding istanamu, terlapis oleh emas dalam seketika. Namun kau lupa dengan konsekuensi yang Dionysius telah tegaskan, "semua akan menjadi emas". Istri dan keturunanmu menjadi korban konsekuensi nyata sang dewa.

Apakah itu semua hanya bermula dari niat baikmu memberikan anggur terbaik untuk si pemabuk? Atau itu memang hanya lelucon buatan para dewa untuk membuatmu terkutuk? Manusia dan dewa tak ada bedanya, kita semua suka bercanda. Ah, Midas, kau adalah legenda keserakahan manusia.

13/09/13

ARK & PIF

Sekembalinya saya dari pulau Laskar Pelangi yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan keakraban, saya kembali kepada realita dunia modern yang individualis dan egois. Kepedulian menjadi sebuah hal yang langka ditemukan bahkan di kota pelajar ini. Saya jadi teringat oleh dua film yang menggadang dua konsep solutif atas permasalahan ketidakpedulian masyarakat kota, yakni Evan Almighty dan Pay It Forward. Dua konsep yang sekembalinya saya ke Jogja saya coba terapkan.

Act of Random Kindness (ARK)
Film Evan Almighty adalah film tentang sosok nabi yang dihadirkan dalam kehidupan modern, dikemas dalam bentuk humor dan menyenangkan untuk ditonton oleh semua umur. Satu hal yang saya sorot adalah ketika sang Tuhan (Morgan Freeman) menuliskan tiga huruf, "A-R-K" yang bermakna Act of Random Kindness. Sebuah konsep kebaikan, yang dilakukan dalam situasi tak menentu/random. Intinya tidak jauh berbeda dengan ikhlas, namun momentum yang digunakan sangatlah tidak menentu.

Dalam kehidupan nyata, saya seringkali melihat pengemis, atau bahkan mahasiswa yang sedang mengumpulkan dana untuk acara. Di saat-saat seperti itu, uang yang ada di dompet kita tentunya akan kita berikan kepada salah satu di antaranya atau bahkan dua-duanya dengan pertimbangan tertentu. Mungkin melihat dari motivasi keduanya, atau bahkan dari perilaku/busana keduanya. Terkadang, kebaikan dalam memberikan bantuan materi dapat disalahgunakan. Banyak orang-orang yang meminta bantuan dana atas nama pembangunan masjid/tempat ibadah atau yayasan yatim-piatu kepada kita tetapi nyatanya tempat itu tidak ada, atau dengan kata lain kita dibohongi. Atau juga di kasus yang lain, saya pernah dimintai oleh pengemis dengan perilaku yang tidak menyenangkan dan cenderung memaksa, saya terpaksa harus membentak untuk menegaskan penolakan saya. Hal-hal semacam ini menjadi pertimbangan tersendiri tanpa mengurangi rasa ikhlas. Tentunya kita semua ingin uang/bantuan yang diberikan bermanfaat serta tepat sasaran bukan?

Pay It Forward (PIF)
Konsep kedua yang saya temukan di dalam film Pay It Forward adalah sebuah revolusi atas tindakan kepedulian. Pay It Forward bercerita tentang sebuah proyek kelas yang diinisiasi seorang guru untuk anak-anak SD yang harus dilalui sebagai syarat kelulusan. Anak-anak SD ini diminta membuat sebuah ide untuk membantu orang lain yang dapat memberikan dampak global. Satu anak berhasil membuat revolusi dengan ide Pay It Forward. Sebuah ide untuk membalas kebaikan orang lain, namun membalasnya kepada orang yang tidak sama. Kebaikan yang dilakukan tidak harus sama bentuknya, seperti contoh di filmnya, ada seorang kaya raya yang sebelumnya dibantu oleh orang lain dalam masalah antrian rumah sakit (anaknya sakit parah), kemudian membalasnya dengan memberikan mobilnya (beserta surat-suratnya) kepada orang lain ketika dia membutuhkan. Di akhir film sayangnya si anak SD yang menemukan ide ini terbunuh.

Sebuah ide membalas kebaikan yang luar biasa ini sepertinya belum bisa diterapkan tanpa kesadaran yang sama, namun ini masih dapat dimungkinkan. Ide ini dapat menjadi kolaborasi terhadap konsep ARK yang sebelumnya telah dibahas.

Tentang Ikhlas
Kondisi kehidupan kota yang semakin individualis dan egois memang perlu perbaikan tanpa merusak sisi privat. Banyak orang yang senang hidup di kota karena asas "urusanmu, urusanku", namun sejatinya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain ketika diperlukan. Memang dalam kedua konsep ini keikhlasan dipertanyakan kembali motivasinya. Sejak saya mengenal orang-orang atheis yang lebih peduli terhadap manusia atau istilahnya humanis ketimbang orang-orang beragama yang lebih memilih untuk membantu sesama penganutnya saja atau hanya orang-orang terdekatnya, saya jadi memikirkan kembali esensi ikhlas. Benarkah kita selama ini ikhlas memberikan pertolongan? Ataukah kita memberikan pertolongan karena berharap mendapat pahala di akhir zaman kelak? Bukankah itu artinya kita tidak ikhlas? Karena selama ini yang ada di benak saya, ikhlas itu artinya membantu tanpa mengharap imbalan. Kalau kata teman saya, memberikan pertolongan karena "kasihan".

Dulu guru saya pernah bercerita tentang belajar ikhlas. Beliau bilang belajarlah ikhlas dari kamar mandi. Ketika kita buang air besar, kita tidak mengharapkannya atau bahkan menginginkannya kembali ke perut bukan? Itulah ikhlas kata beliau.

07/09/13

Untuk Yang Berkerudung

Dia menatap langit yang biru dari belakang kerudungnya
Menatap cakrawala melalui matanya yang indah
Bermain dengan pasir bersama tangannya yang kelak akan membantu umat manusia

Kita menyusuri mercusuar saat awan mulai menggelap
Derap menggergap, tiap langkah menderu bangunan tua itu
Kita sampai di angka 18, menggapai puncak dunia

Terlukis senyum di wajahmu, puas langkah ini terbayar
Kita bercerita tentang dunia yang tak ada habisnya
Kita akan lupa tentang waktu yang telah lalu

Kau akan tetap di sana, di puncak dunia
Dan aku akan tetap melihatmu dalam lukisan bersama indahnya pulau Lengkuas

06/09/13

Memilih Untuk Pulang ke Jogja

Layanan pesan singkat itu sungguh mengganggu. Di tengah obrolan dengan teman-temanku, hanya pesan-pesan darinya yang menggangguku. Seperti laron yang suka dengan cahaya lampu dan datang hanya ketika hujan. Mungkin kamu bisa kusamakan dengan itu.

. . .

"Hello mom!" sapaku seperti biasa.
"Halo le. Piye kabarmu? Apik ta?" suara ibu terdengar merdu.
"Ya beginilah mom, hehe. Sehat?" kataku basa-basi.
"Iya, sehat. Adekmu ini lho makin subur. Kamu kapan pulang?" tanya ibu diiringi suara adik yang masih berumur lima bulan.
"Tanggal tiga September pulang, tapi aku langsung ke Jogja ya mom," jawabku.
"Lho kenapa? Main dulu ke Jakarta, ketemu papa, kakak-kakakmu, sama adikmu juga," ibu terus mengejarku.
"Yah, langsung masuk kuliah aku mom, maaf ya," aku berbohong.
"Ya sudah, kuliah yang benar ya, cepat lulus." ibu mengakhiri perbincangan kami.

. . .


Jogja sangat asing bagiku. Dua bulan telah berlalu tanpa dirinya. Sepertinya aku bisa melewati masa yang lebih lama tanpa dirinya. Yang sudah dikorbankan, yang hilang, hanya tinggal masa lalu dan harapan. Kita seperti bermain layangan. Menunggu dan melawan angin. Tarik dan ulur. Aku tak keberatan terluka. Tapi luka ini akan butuh tempat dalam memori hati.

Aku ingin memeluk ibuku, ayahku, kakak-kakakku, dan adikku. Cinta memang buta. Manusia memang bisa melakukan tindakan irasional. Dan aku salah satunya. Kenapa aku memilih untuk pulang ke Jogja yang palsu tanpa jaminan ketimbang Jakarta yang penuh kepastian dari keluargaku? Entahlah. Tak ada gunanya menyesal.

27/06/13

Pertanyaan Tentang Manusia dan Cinta

Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya hingga mereka bisa menerima segala kelemahannya satu sama lain dan saling menutupinya? 
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya tatkala mereka saling melukai dan saling membenci? 
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya hingga mereka bisa menghabiskan waktu 24 jam dalam seminggu bersama-sama sampai akhir hayatnya?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya tatkala mereka saling mencurigai dan saling cemburu?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya hingga mereka mau memberikan nyawanya untuk yang lainnya?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya tatkala mereka melihat pasangannya bercumbu mesra dengan yang lain dan pergi merelakannya?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya hingga mereka mau saling menelanjangkan tubuh satu sama lainnya?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya tatkala mereka membesarkan buah hatinya saat perceraian telah di depan mata?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya hingga mereka mau menukar harta dan tahta untuk satu orang yang belum pasti jodohnya?
Bagaimana seorang manusia bisa begitu mencintai manusia lainnya tatkala Tuhan telah melarang manusia untuk mencintai manusia lainnya melebihi cintanya kepada Tuhan?

Bagaimana cinta bisa masuk ke hati seorang manusia?

23/06/13

Relawan dan Pengabdian

Sore ini saya menghadiri Obrolan Sabtu, sebuah acara talkshow ataupun sharing yang diadakan oleh organisasi Forum For Indonesia. Tema yang diangkat adalah Social Media Campaign dan Volunteerism. Tiga orang pembicaranya adalah teman-teman saya yang saya kagumi karena inspiratif dan ahli di bidang yang mereka sukai. Pembicara pertama, Ghufron Mustaqim memberikan penjelasan teoritis serta berbagi ilmunya mengenai literatur-literatur yang telah ia baca selama ini mengenai volunteerism. Pembicara kedua, Shofi Awanis berbagi pengalamannya menjadi sukarelawan sewaktu studi di Amerika Serikat dan Singapura. Pembicara ketiga, Andin Rahmana, memberikan penjelasan mengenai social media campaign. Tema yang menarik ini berhasil memikat saya dan beberapa peserta yang tidak biasa karena kebanyakan adalah orang-orang hebat serta aktivis di organisasinya masing-masing.

Saya pribadi sangat tertarik ketika Shofi berbagi pengalamannya mengenai volunteerism di luar negeri. Saya baru tahu kalo ternyata di Amerika Serikat, volunteerism bukanlah hal yang sering dilakukan oleh pemuda, melainkan merupakan program rehabilitasi para narapidana. Tentunya ini merupakan tantangan tersendiri untuk bisa bekerjasama dengan narapidana dalam melakukan kegiatan relawan sambil diawasi oleh polisi bersenjata. Kalo saya sih, udah ketar-ketir duluan liat narapidananya, haha. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan memang variatif, seperti membagikan makanan kepada orang-orang tidak mampu, menghabiskan waktu bersama para panti jompo, hingga bergotong-royong membangun atau memperbaiki rumah masyarakat. Jangan salah ya teman-teman, ukuran orang mampu di sana dan di sini beda. Kalo kata Shofi, orang tidak mampu di sana masih punya dan mengendarai mobil. Hal yang sangat unik bahwa jarang sekali terlihat pemuda melakukan kegiatan relawan di negara semaju Amerika Serikat. Kalo di Indonesia, dimana-mana selalu ada kegiatan volunteerism yang targetnya adalah pemuda. 

Shofi kemudian melanjutkan pengalamannya berbagi ketika di Singapura. Nah, yang unik lagi adalah bahwa di Singapura program relawan seperti ini memiliki birokrasi yang rumit dan sulit. Pertama-tama kita harus registrasi dulu yang biasanya bersifat online, kemudian melakukan training atau masa seleksi. Di Indonesia kalo mau jadi relawan sepertinya tidak seribet itu. Namanya juga relawan, yang rela ya mari gabung. Hal ini tentunya dapat dimengerti karena organisasi yang melakukan hal tersebut ingin mendapatkan relawan yang sesuai dengan kebutuhan dan berkomitmen penuh untuk kegiatan tersebut. Ini menjadi perhatian saya juga yang akhirnya membawa saya ke sebuah pertanyaan yang tidak saya tanyakan dalam kesempatan itu, "Apakah kedua hal ini perlu dipertimbangkan untuk dilakukan di Indonesia?"

Saya beranggapan bahwa dua pengalaman Shofi ini sangat berharga untuk diketahui oleh organsisasi-organisasi berbasis relawan di Indonesia serta untuk pemerintah. Yang pertama, kegiatan relawan untuk program rehabilitasi para narapidana adalah pilihan yang berani untuk dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Sebetulnya ini bisa dilakukan juga di Indonesia, tentunya dengan sosialisasi kepada masyarakat terlebih dahulu serta adanya jaminan pengamanan yang ketat. Sudah sejak lama persoalan rehabilitasi narapidana diperdebatkan, terutama bagaimana caranya membuat para narapidana ini kelak setelah bebas dapat diterima kembali oleh masyarakat. Program ini bisa menjadi jawabannya jika pemerintah dan kepolisian berani berkomitmen untuk melakukannya. Yang kedua, sistem pendaftaran dan seleksi di dalam sebuah organisasi juga menjadi perdebatan panjang semenjak pertama kali saya mencoba memasuki sebuah organisasi. Apakah perlu diadakannya sistem pendaftaran yang rumit dan lama, serta uji coba seleksi atau pelatihan? Saya rasa perlu.

Indonesia adalah negara yang bangga dengan asas bergotong-royongnya. Hal ini dibuktikan dengan berbagai macam organisasi yang hadir dengan basis relawan. Sayangnya, ini membuat suatu dilema akan pertanyaan sebuah komitmen. Ya, mari kita akui bersama bahwa sebagai pemuda kita sangat ingin mencoba-coba hal yang baru, termasuk bergabung dengan organisasi-organisasi berbasis relawan. Ini mengakibatkan banyak pemuda Indonesia mengikuti lebih dari satu organisasi. Beberapa pendapat akan mengatakan "Ya, enggak apa-apa. Kan buat menambah pengalaman,". Betul! Pengalaman memang akan bertambah, keahlian juga pasti akan berkembang sesuai dengan bidangnya. Tetapi bagaimana dengan waktu? Dengan komitmen atas program-program yang harus dijalani? Lagi, beberapa pendapat akan mengatakan "Selama bisa mengatur waktu, ya tidak masalah,". Jawaban yang klise atas sebuah pertanyaan komitmen. Tapi benarkah itu cukup?

Seringkali saya temui teman-teman yang di tengah jalan mengundurkan diri dari jabatannya di organisasi ataupun dikeluarkan karena tidak bisa memenuhi komitmennya. Alasannya beragam, dari masalah keluarga, pendidikan, hingga ingin fokus ke organisasi yang lain. Apakah alasan ini dapat diterima? Bagi saya yang termasuk kaum pasifis-utopis yang percaya dengan asas liberal (lakukanlah apapun sesukamu asalkan tidak merugikan orang lain) John Stuart Mill, sah-sah saja bagi seseorang untuk keluar atau masuk suatu organsisasi yang bersifat relawan atau tak digaji ini. Toh ini juga tidak boleh menjadi batasan bagi seseorang untuk terus berkembang bukan? Tapi bagaimana dengan kerugian yang ditimbulkan? Nah, ini yang perlu mendapat perhatian khusus serta menjadi pertimbangan kita. 

Kerugian yang ditimbulkan tentu adalah rasa kecewa dan rasa percaya yang terlukai. Orang-orang yang telah kita "khianati" tentunya akan mencatat ini sebagai sebuah peringatan, bahwa "Mungkin orang ini, jika bekerja sama lagi denganku, akan melakukan hal yang sama jika dia tidak suka dengan keadaan yang ada,". Kepercayaan sebagai modal utama kerjasama juga secara otomatis akan terlukai. Bagi saya inilah inti masalah dari kerelawanan. Sejauh mana komitmen Anda akan terus berjalan? Apakah ketika ada masalah akan langsung berhenti? Apakah ketika ada sesuatu yang lebih menarik atau dirasa dapat mengembangkan kemampuan kita maka kita akan berhenti? Ataukah  memang ketika benar-benar kewajiban atau amanah yang telah dipercayakan selesai kita jalankan baru kita berhenti? Bahkan di beberapa kasus, saya sendiri contohnya, masih terus menaruh perhatian atas organisasi yang telah saya tinggalkan karena masa jabatan, kewajiban, atau amanah saya terselesaikan.

Saya harus akui bahwa banyak organisasi di Indonesia yang berbasis relawan telah memahami permasalahan ini dan mengambil jalan tengah yang sangat bijak. Forum For Indonesia, misalnya, memberlakukan open volunteerism di beberapa program kerjanya. Artinya, orang-orang yang ingin mengabdi secara singkat dan tidak terikat secara penuh dengan Forum For Indonesia dapat ikut berkontribusi dalam program kerjanya. Sedangkan para penanggung jawab program kerja adalah mereka yang menjabat, berkomitmen, dan terikat penuh dengan Forum For Indonesia. Para penanggungjawab inilah yang kemudian harus diberlakukan sistem pendaftaran, registrasi, pelatihan, serta seleksi yang sulit dan rumit. Hal ini untuk menanamkan benih komitmen yang dalam dan diharapkan tumbuh tinggi hingga selepas masa jabatannya pun masih menaruh perhatian serta kasih sayangnya kepada organisasi tempat belajarnya dulu.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan saya dengan sebuah pesan. Teman-teman, organisasi berbasis relawan adalah tempat kita belajar untuk mengabdi. Mengabdi kepada teman-teman sesama anggota, mengabdi kepada masyarakat (target program kerja), serta mengabdi kepada diri sendiri. Mengapa diri sendiri? Karena saya tahu, berkomitmen itu sangat sulit, apalagi untuk masa waktu yang lama. Kita tentunya akan mengalami kesulitan serta keraguan untuk terus menjalankan komitmen tersebut. Kuatlah, percayalah, dan yakini apa yang telah menjadi keputusan kita.

21/06/13

Waktu dan Keegoisannya

Pagi itu Christopher sudah meniatkan diri untuk tidak masuk sekolah. Ia tahu ia akan dimarahi ibunya, "ah, biarlah, sehari ini," ujarnya membenarkan tindakan bolosnya hari itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, dan Christopher belum beranjak dari kasur kecilnya. Tubuh mungilnya masih terbungkus dengan selimut bergambar Superman dan matanya dipaksanya untuk terpejam kembali meski dia sudah terbangun oleh ketukan ibu di pintu kamarnya.

"Ayo bangun," sapa ibunya memasuki kamar Christopher tanpa ketukan lagi. Christopher terpaksa duduk dan menatap mata ibunya yang suci. "Aku tak mau sekolah bu, aku mau di rumah saja," jawab Christopher. Ibunya tersenyum sesaat, entah kenapa sepertinya dia mengerti alasan kenapa Christopher tidak mau berangkat ke sekolah hari itu. Padahal dialah yang paling rajin untuk bangun dan pergi ke sekolah ketimbang ketiga kakaknya.

Ibu mengelus kepala Christopher kemudian memeluknya, dan menyuruhnya untuk tidur kembali. Christopher merasakan kehangatan dan juga kesedihan dalam pelukan itu. Christopher kembali mendekatkan kepalanya ke bantal dan memejamkan mata kembali. Dia rindu.

Siang itu rumah sangat sepi. Kakaknya sedang sekolah dan hanya tersisa ibu di rumah memasak untuk Christopher. "Ibu," Christopher memanggil ibunya selepas beranjak dari kasur kecilnya. "Ya sayang?" jawab ibunya dari dapur. Christopher melangkah kecil dari kamarnya yang mungil berukuran 4x4 ke dapur melewati ruang keluarga. Dia melihat foto-fotonya bersama ibu dan kakak-kakaknya. Ada yang kurang disana. "Ibu masak apa?" tanya Christopher sambil menarik daster batik ibu dengan tangan kecilnya. "Telur dadar. Buat kamu," jawab ibu sambil memasak. Christopher berjalan lagi menuju ruang makan yang dekat dari dapur dan duduk di bangku yang cukup tinggi untuknya, dia harus menjinjit untuk bisa duduk. Tak lama kemudian ibu mengantarkan makanannya, telur dadar, nasi dan kecap manis, sederhana. Ibu menemaninya makan sambil tersenyum melihat anak terakhirnya. Waktu terasa sangat lambat dan ibu mulai mengenang bagaimana sulitnya melahirkan Christopher. Kala itu malam hari hampir jam setengah dua pagi, ibu harus segera pergi ke bidan untuk melahirkannya. Penuh perjuangan dan harapan.

"Ibu, aku rindu Ayah," kata Christopher mendadak di tengah makan siangnya. "Ya, ibu tahu," jawab ibu sambil memandang fotonya dengan anak-anaknya di ruang keluarga. "Bolehkah malam ini aku menginap di sana?" tanyanya kembali mengusik hati ibunya. "Bukankah itu alasanmu bolos?" goda ibunya sambil mencium kening Christopher dan pergi beranjak ke kamar yang dulu pernah dipakai ibu dan ayahnya beristirahat.

Seusai makan siang Christopher berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa hijau berkayu hitam favoritnya. Dia merenung sejenak, melihat jam dan waktu yang terus berlalu. Bertanya-tanya akan masa depan dan membayangkan masa lalu. Christopher menggapai telepon rumah dan mulai menekan angka-angka di atasnya.

. . .

Christopher membuka matanya, ruangan itu gelap dan panas. Tapi angin menghampiri dirinya dengan malu-malu dari sisi kiri membelai pipinya yang gembul. "Mati lampu,"  kata ayah sambil mengipaskan Christopher dengan koran. "Sudah, tidur lagi sana," ayah terus mengipasinya sambil mengelus rambut Christopher. Jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Mata Christopher terasa sangat berat dan badannya sangat lelah. Ia telah berjalan-jalan dengan ayah selama yang dia bisa sejak matahari terbenam. Rindunya terobati.

Hari itu berlalu sangat cepat. Christopher menghabiskan waktu dengan dua orang yang telah memberikannya kehidupan. Mungkin waktu terlalu mahal atau mungkin terlalu egois untuk berbagi bersama Christopher yang tak akan pernah bisa menghabiskannya dengan dua orang itu secara bersamaan lagi. Tapi Christopher tahu dan menyadari keadaannya, mereka terpisah dengan dua dunia yang sangat berbeda. Jika Christopher semakin mendekat di antara salah satunya, maka yang lain akan menjauh. Begitu sulit, rumit, namun memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai waktu, perhatian, dan kasih sayang.

14/06/13

The Best You Can Get

I don't know, since last night I felt very 'arrogant' with myself. I felt my body was wrapped in gold from head to toe. Ever since I set foot in the land of my birth, I never stopped smiling imagining the world and the future.

Yes, I am very proud to bring the symbol of ivory colored petals on my back and on my chest. I'm very proud of the gift God gave me: my face, my brain, and my family. But I know my journey is not over, it's only half of the journey. The rest I need to finish by running, sweating. Alone? Maybe. You may not be there for me until the finish line.

Yes, I know I have many flaws. But you also have to admit that I'm the best that you can get until now. I'm complete. I am a special package that you never imagined.

13/06/13

Rumah

Aku akan selalu ingat bagaimana kalian menyapaku setiap pulang sekolah, setiap pulang dari bermain, ataupun setiap pulang dari melarikan diri. Pintu putih itu akan selalu sama berdiri disitu, di tempat yang tak satu manusia pun akan kuizinkan untuk memindahkannya. Jamku telah menunjukkan pukul empat pagi ketika aku sampai pada titik merenungi tujuh tahun kehidupanku di sini. Aku rasa ini akan menjadi sapaan terakhirku.

Tak akan lama lagi kursi-kursi itu akan berpindah. Lemari-lemari itu, buku-buku itu, kasur-kasur itu, meja-meja itu, dan jiwa-jiwa para penghuninya juga akan berpindah. Aku rasa aku telah sampai pada titik puncak kelelahanku. Melihat sekali lagi memori itu berputar di otakku sembari memainkan sedikit lagu melankolis di hati rasanya tak kuat jiwa ini. Tapi jika tak begitu, aku tak akan bergerak dari sini.

Rasanya aku akan memasuki babak baru dalam hidup. Tapi aku tak mau hidupku seperti rangkaian film "Failure to Launch", aku ingin rumahku sendiri dimana aku dapat merenung, dimana aku dapat hidup. Waktuku cepat atau lambat akan tiba, begitu juga waktumu, dan kamu.

Aku tak ingin kamar baru, Ayah. Aku tak ingin ruang baca baru ataupun taman baru yang bisa kita gunakan untuk menghabiskan waktu bersama. Aku tak ingin membangunkanmu di kala aku harus lembur meneruskan malam yang singkat. Aku tak akan ada di dekatmu untuk selamanya. Rasanya kau mengerti itu, kau hanya inginkan yang terbaik bagi kami. Tapi aku tak bisa. Cukup sudah aku membebanimu. Untuk tahun depan dan kedepannya lagi, aku akan sering bermain ke "rumah". Tempatmu, Ibu, dan Adik menghabiskan waktu merajut mimpi.

04/06/13

Kisah Yorlov dan Novacech

Malam ini aku teringat kisah dari seorang teman, mengenai dua orang penulis yang tinggal dalam satu apartemen, sebut saja Yorlov dan Novacech. Singkat cerita mereka berdua adalah penulis ternama satu genre yang sama di kota yang mereka tinggali. Saban hari mereka sibuk dengan rutinitas masing-masing sampai-sampai tidak pernah berbicara satu sama lain. Ya, maksimal hanya tegur sapa.

Suatu hari Yorlov diundang untuk acara bedah buku karyanya sendiri di suatu universitas. Seorang mahasiswa bertanya, "Tuan, apakah benar Anda tinggal satu atap dengan penulis ternama Tuan Novacech?".  Dengan wajah serius Yorlov menjawab, "Ya, kenapa?". Ternyata si mahasiswa ini ingin bertanya mengenai kritikan Yorlov terhadap karya-karya Novacech. Tanpa ragu Yorlov langsung menghantam mahasiswa itu dengan segala kritikan yang selama ini telah dia simpan untuk karya-karya Novacech. Di waktu dan tempat yang berbeda, Novacech juga menghadiri acara bedah buku karyanya dan hal yang sama terjadi. Kritikan-kritikan pedas untuk karya-karya Yorlov tertumpahkan saat itu juga.

Berita menyebar mengenai kritikan-kritikan yang dilemparkan oleh keduanya untuk masing-masing. Kemudian apa yang terjadi? Yorlov dan Novacech meningkatkan intensitas interaksi mereka berdua. Jika Yorlov memiliki makanan lebih, maka dia akan menaruh di meja dapur dan memberikan memo untuk Novacech, "Ambil saja". Begitu juga sebaliknya. Ada perasaan menghargai yang sangat dalam tumbuh di diri keduanya. Siapa yang sangka kritikan-kritikan yang tak pernah secara langsung terlontarkan dapat mengakrabkan mereka?

Meskipun demikian, kisah ini tak berakhir bahagia. Mereka terus melakukan interaksi seperti itu hingga akhir hayat keduanya. Maklum, penulis zaman itu memang sedang tren tidak membangun keluarga (menikah dan punya anak) tetapi lebih memilih hidup sendiri. Tapi yang terindah adalah ketika keduanya saling bertukar kata pengantar untuk karya terakhir mereka, mereka saling jujur untuk memberikan penghargaan dan pengaguman satu sama lain.

Aku tak ingin itu terjadi dalam hidupku. Aku ingin kau tahu bahwa aku mengagumimu. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu karena aku bisa belajar banyak darimu. Baik dari kelebihanmu ataupun kekuranganmu. Kita telah melalui masa-masa yang menyenangkan (meskipun tidak semuanya) kendati kita berbeda pandangan. Kita telah mengambil jalan yang berbeda, saling bertentangan namun memegang semangat yang sama, semangat kekeluargaan. Semangat yang mungkin belum kita turunkan untuk penerus kita. Terima kasih, semoga langkah hidupmu terus diwarnai oleh kebaikan yang kau anut. :)

01/06/13

Sapaan Terakhir

"Pulanglah," suaranya melemah di telepon.
"Ya, aku akan pulang," jawabku terdiam sejenak.

Baru beberapa hari aku kembali ke tanah rantau ini, di negeri orang, aku telah mendapatkan sebuah kabar buruk yang tak pernah sedetik pun terlintas di bayanganku. Janjiku harus aku penuhi, janji yang sebenarnya tak pernah terucap, namun sudah terlanjur terpati di hati. Bukankah janji yang tak pernah terucap adalah janji yang tak akan pernah terlanggar?

. . .

"Jika kau harus memilih antara meneruskan karirmu yang saat itu juga mempromosikanmu atau pulang untuk menemui keluargamu yang sedang sakit parah, kau akan memilih yang mana?" tanyanya kepadaku.
"Aku akan pulang," jawabku sambil menghirup cerutuku.

Saat itu malam terasa sangat dingin. Padahal kami berada di dalam kafe dan tepat di depan perapian. Sepertinya alam mencatat kata-kataku dan menugaskan angin malam agar lebih dingin kali ini sebagai balasan atas kata-kataku.

"Sepupuku tak berpikir seperti itu. Dia memilih untuk melanjutkan studinya di Belgia ketimbang menghabiskan waktu di sisi pamanku yang sakit parah," dia lanjut bercerita kepadaku.
"Bagiku tak masalah, setiap orang punya prioritasnya masing-masing kan?" balasku memandang buku Machiavelli miliknya diatas meja kayu bundar tempat kami berbicara.
"Benar, kita juga tidak punya hak untuk memaksa alur kehidupan seseorang," katanya menutup perbincangan kami.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Sudah tiga jam kami habiskan waktu untuk berbincang-bincang. Christopher adalah pria berkewarganegaraan Inggris berlatarbelakang keluarga kerajaan. Sayang, keluarga besarnya tak seharmonis yang sering dibayangkan oleh orang-orang. Semua orang menyimpan ceritanya sendiri-sendiri. 

Tak pernah terpikir olehku untuk dapat berbicara kepadanya lima tahun yang lalu. Jika aku tidak memutuskan untuk kuliah, mungkin aku masih akan terjebak di negeri khatulistiwa. Masa depan memang tidak ada yang tahu. Mungkin di satu sisi pilihanku benar, tapi mungkin di sisi yang lain berakibat sebaliknya.

. . .

Aku memesan tiket pesawat secepat mungkin. Menelpon bosku untuk meminta izin dan meminta teman-temanku untuk menggantikan posisiku beberapa hari ke depan. Waktu kembali terasa bergulir sangat cepat, aku mengemas barang-barangku seadanya, dan pergi ke bandara. Pikiranku kosong, hujan mengisinya dengan suara rintikan.

Ternyata sapaan terakhir yang kudengar darinya adalah melalui telepon itu. Selamat jalan, terima kasih untuk kehidupan yang telah kau berikan.

Stay strong, my friend!

31/05/13

Di Dalam Mimpi

Di dalam mimpi dia datang kepadaku
Mengatakan suka, cinta, dan yang lainnya
Dia tahu aku merasakan hal yang sama

Di dalam mimpi dia menangis kepadaku
Memegang tanganku hingga luka
Dia tahu aku tak bisa bicara

Di dalam mimpi dia menungguku
Di seberang jalan yang rasanya sering aku lalui
Dia menarikku dan menangis
"Kenapa kau tinggalkan dia yang mencintaimu?"

Padahal aku tak mengucapkan satu patah kata pun
Dalam mimpiku

22/05/13

Mengagumimu

Jika aku bersama dengan wanita dan mengagumimu, apa aku salah?
Jika kau bersama dengan pria dan aku masih mengagumimu, apa aku berdosa?
Aku rasa mengagumi keindahan ciptaan Tuhan tak ada salahnya dan tak ada hukumannya

Mengagumi bukan berarti mencintai
Jika kagum menjadi pintu masuk cinta, apa akan lahir benci?

Maaf, aku hanya mencoba menjadi manusia

21/05/13

Selingkuh

Beberapa dari kita mungkin pernah selingkuh terhadap pasangan kita, namun pernahkah kita mencari tahu alasan mengapa kita selingkuh? Perbincangan saya dengan seorang teman mengenai "perselingkuhan" telah membuahkan hasil yang mungkin dapat saya bagi kepada kalian pada kesempatan kali ini.

"Tak selamanya selingkuh itu indah," sebuah potongan lagu yang mungkin dapat menjadi pengantar tulisan saya ini. Selingkuh itu ibarat bermain dengan api, kalo kita bisa mengendalikannya, diri ini menjadi hangat, namun jika tidak, ya sudah kita terbakar. Apa sih sebenarnya selingkuh itu? Beberapa mengatakan bahwa selingkuh itu adalah ketika kita memberikan perhatian lebih kepada orang lain (tentunya lawan jenis) ketimbang pasangan kita. Tapi bagi saya, selingkuh itu adalah ketika kita tidak lagi "hanya" memikirkan pasangan kita saat menghabiskan waktu berdua. Kalian pilih yang mana?

Mengapa kita selingkuh? Pertanyaan yang seringkali terlintas namun enggan dicari jawabannya. Mengapa tidak dicari? Jawaban saya simpel, mungkin karena kita takut. Takut bahwa alasan itu bisa menjadi pembenaran atas tindak selingkuh yang dilakukan. Kita tentu memilih pasangan dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Mengapa pilih yang ini, bukan yang itu. Kita-lah yang tahu alasannya dan menentukannya. Jika menggunakan sistem variabel, contohlah pasangan kita memiliki sepuluh variabel yang pas dan cocok dengan kita. Sepuluh variabel ini tentunya tidak ditemukan dalam satu malam saja, namun ditemukan melalui hubungan yang terjalin selama ini (dari masa pendekatan, mengenal, pacaran, bahkan hingga menikah). Sepuluh variabel inilah yang menjadikan hubungan dengan pasangan kita sangat kuat dan seringkali digunakan sebagai senjata untuk memusnahkan perselingkuhan. 

Tapi kemudian, apa sangkut pautnya dengan selingkuh? Nah, sekarang kita ambil kasus perselingkuhan. Ketika kita (karena saya juga pernah selingkuh, hehe) mengenal lawan jenis lain, kita menemukan variabel baru yang "mungkin" berbeda dari pasangan kita. Dengan melihat jangka waktu kita mengenalnya, mungkin hanya satu-dua saja yang berbeda atau baru (jika mengenalnya lebih lama lagi, mungkin akan lebih banyak lagi variabel barunya, dan ini lebih berbahaya saudara-saudara). Inilah yang harus menjadi perhatian kita. Waktu yang telah kita habiskan bersama pasangan kita mungkin membuat rasa kebosanan memuncak. Variabel baru inilah yang menjadi opsi jalan keluarnya.

Variabel baru yang kita lihat di orang lain ini memang tidak akan bisa ditemukan di pasangan kita, karena itulah yang membuat manusia itu unik dan berbeda satu sama lain. Mencari hal baru merupakan hal yang manusiawi, namun perlu dipertimbangkan konsekuensinya. Terkadang menghabiskan waktu dengan orang lain yang bukan pasangan kita malah dapat membuat kita lebih meyakini dan percaya akan kekuatan hubungan dengan pasangan kita. Seringkali ketika menghabiskan waktu dengan orang lain, kita akan teringat dengan kebiasan-kebiasaan kecil pasangan kita. Ingatan inilah yang memperkuat keyakinan kita bahwa satu-satunya penghuni hati dan pikiran kita adalah dia. Atau jangan-jangan malah variabel "baru" itu yang teringat ketika bersama pasangan? Haha, ayo cari tahu jawabannya sendiri!