17/09/13

Takemoto dan Sepedanya

Lelaki itu terus mengayuh sepedanya. Di benaknya selalu terpikir, "seberapa jauh aku bisa mengayuh tanpa melihat ke belakang?". Sebuah pertanyaan yang tak satu orang pun tahu tujuannya. Waktu berlalu sangat cepat, tahun pertama, tahun kedua, ia terus menimba ilmu di negeri bunga Sakura dengan segenap jiwanya. Ia bertemu dengan orang-orang hebat yang akan mewarnai hidupnya sekarang dan nanti. Dan juga seorang wanita yang akan mengajarinya arti cinta dan pengorbanan.

Tahun ketiga adalah tahun terakhirnya mengayuh sepeda itu. Kali ini dia tak bertanya seberapa jauh ia bisa mengayuhnya tanpa melihat ke belakang. Dia hanya terus mengayuh. Keringat dan panas matahari tak menghentikannya hingga ke ujung pulau negeri. Sebuah perjalanan yang awalnya bermula dari pelarian diri atas tugas akhir dan masalah cinta, malah membawanya ke sebuah desa kecil tempat di mana ia belajar tentang arti hidup. Dia pergi sebagai seorang bocah yang tak tahu apa-apa dan meragukan segalanya. Dia pulang sebagai lelaki yang kuat dan siap menghadapi kehidupan.

Aku ingin menjadi seperti Takemoto. Yang kuat untuk bangkit ketika dikecewakan, yang tak malu untuk menangis karena kesedihan, dan yang selalu siap membantu teman-temannya. Takemoto belajar banyak dari kehidupan kuliahnya. Meskipun ilmu yang ditimba bukanlah hasratnya, namun lingkungan membangunnya menjadi manusia yang baru. Tanpa memperdulikan masa depan, ia terus mengayuh sepedanya menuju kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan oleh dirinya maupun orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar