13/09/13

ARK & PIF

Sekembalinya saya dari pulau Laskar Pelangi yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan keakraban, saya kembali kepada realita dunia modern yang individualis dan egois. Kepedulian menjadi sebuah hal yang langka ditemukan bahkan di kota pelajar ini. Saya jadi teringat oleh dua film yang menggadang dua konsep solutif atas permasalahan ketidakpedulian masyarakat kota, yakni Evan Almighty dan Pay It Forward. Dua konsep yang sekembalinya saya ke Jogja saya coba terapkan.

Act of Random Kindness (ARK)
Film Evan Almighty adalah film tentang sosok nabi yang dihadirkan dalam kehidupan modern, dikemas dalam bentuk humor dan menyenangkan untuk ditonton oleh semua umur. Satu hal yang saya sorot adalah ketika sang Tuhan (Morgan Freeman) menuliskan tiga huruf, "A-R-K" yang bermakna Act of Random Kindness. Sebuah konsep kebaikan, yang dilakukan dalam situasi tak menentu/random. Intinya tidak jauh berbeda dengan ikhlas, namun momentum yang digunakan sangatlah tidak menentu.

Dalam kehidupan nyata, saya seringkali melihat pengemis, atau bahkan mahasiswa yang sedang mengumpulkan dana untuk acara. Di saat-saat seperti itu, uang yang ada di dompet kita tentunya akan kita berikan kepada salah satu di antaranya atau bahkan dua-duanya dengan pertimbangan tertentu. Mungkin melihat dari motivasi keduanya, atau bahkan dari perilaku/busana keduanya. Terkadang, kebaikan dalam memberikan bantuan materi dapat disalahgunakan. Banyak orang-orang yang meminta bantuan dana atas nama pembangunan masjid/tempat ibadah atau yayasan yatim-piatu kepada kita tetapi nyatanya tempat itu tidak ada, atau dengan kata lain kita dibohongi. Atau juga di kasus yang lain, saya pernah dimintai oleh pengemis dengan perilaku yang tidak menyenangkan dan cenderung memaksa, saya terpaksa harus membentak untuk menegaskan penolakan saya. Hal-hal semacam ini menjadi pertimbangan tersendiri tanpa mengurangi rasa ikhlas. Tentunya kita semua ingin uang/bantuan yang diberikan bermanfaat serta tepat sasaran bukan?

Pay It Forward (PIF)
Konsep kedua yang saya temukan di dalam film Pay It Forward adalah sebuah revolusi atas tindakan kepedulian. Pay It Forward bercerita tentang sebuah proyek kelas yang diinisiasi seorang guru untuk anak-anak SD yang harus dilalui sebagai syarat kelulusan. Anak-anak SD ini diminta membuat sebuah ide untuk membantu orang lain yang dapat memberikan dampak global. Satu anak berhasil membuat revolusi dengan ide Pay It Forward. Sebuah ide untuk membalas kebaikan orang lain, namun membalasnya kepada orang yang tidak sama. Kebaikan yang dilakukan tidak harus sama bentuknya, seperti contoh di filmnya, ada seorang kaya raya yang sebelumnya dibantu oleh orang lain dalam masalah antrian rumah sakit (anaknya sakit parah), kemudian membalasnya dengan memberikan mobilnya (beserta surat-suratnya) kepada orang lain ketika dia membutuhkan. Di akhir film sayangnya si anak SD yang menemukan ide ini terbunuh.

Sebuah ide membalas kebaikan yang luar biasa ini sepertinya belum bisa diterapkan tanpa kesadaran yang sama, namun ini masih dapat dimungkinkan. Ide ini dapat menjadi kolaborasi terhadap konsep ARK yang sebelumnya telah dibahas.

Tentang Ikhlas
Kondisi kehidupan kota yang semakin individualis dan egois memang perlu perbaikan tanpa merusak sisi privat. Banyak orang yang senang hidup di kota karena asas "urusanmu, urusanku", namun sejatinya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa pertolongan orang lain ketika diperlukan. Memang dalam kedua konsep ini keikhlasan dipertanyakan kembali motivasinya. Sejak saya mengenal orang-orang atheis yang lebih peduli terhadap manusia atau istilahnya humanis ketimbang orang-orang beragama yang lebih memilih untuk membantu sesama penganutnya saja atau hanya orang-orang terdekatnya, saya jadi memikirkan kembali esensi ikhlas. Benarkah kita selama ini ikhlas memberikan pertolongan? Ataukah kita memberikan pertolongan karena berharap mendapat pahala di akhir zaman kelak? Bukankah itu artinya kita tidak ikhlas? Karena selama ini yang ada di benak saya, ikhlas itu artinya membantu tanpa mengharap imbalan. Kalau kata teman saya, memberikan pertolongan karena "kasihan".

Dulu guru saya pernah bercerita tentang belajar ikhlas. Beliau bilang belajarlah ikhlas dari kamar mandi. Ketika kita buang air besar, kita tidak mengharapkannya atau bahkan menginginkannya kembali ke perut bukan? Itulah ikhlas kata beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar