11/05/13

Jeruji Malam

"Aku sering merasa kesepian dalam ramai,"

Malam itu bar milik Odi agak ramai. Seperti biasa aku duduk di depan meja bartender untuk memesan segelas minuman yang dapat menghangatkan tubuh serta pikiranku.

"Aku tak bisa menemanimu malam ini, tak apa ya," sapa Odi sambil memberi pesananku.
"Santai saja, toh ramai," balasku dengan senyum ringan.

Malam ini begitu sempurna, bintang-bintang bersinar jelas terlihat dari luar jendela bar yang kecil itu. Bulan tersenyum malu dengan sabitnya yang runcing. Dan lampu jalanan menyinari trotoar yang sepi, sendiri, tanpa teman untuk berbagi. Semua orang sudah berada di dalam bar, tak ada yang tersisa untuk angin malam di luar pintu jati milik Odi. Aku pegang erat syal biru milikku dan melingkarkannya lebih ketat ke leherku.

Wajah-wajah yang sempurna bermain kata dalam semak kebohongan dan asap perak cerutu Cuba. Merayu yang satu dengan yang lainnya, menikmati hidup seperti tak akan pernah ada akhirnya. Aku terjebak dalam ruang dan waktu yang aku ciptakan sendiri.

Aku melihat jam tangan milik ayahku yang kotak dan retak kacanya. Memikirkan kembali tentang konsep waktu dan relativitasnya. Bisakah aku memutarnya kembali?

"Benarkah kesendirian itu abadi?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar