08/05/12

Motivasi Untuk Menjadi Seorang Pemimpin

Pagi ini saya mengobrol dengan seorang teman yang super, beliau tidak lain juga adalah pimpinan organisasi yang saya ikuti. Ghufron Mustaqim, nama yang mungkin tidak asing lagi didengar. Beliau akan pergi ke Washington DC untuk mengikuti pertemuan summit para pemuda di dunia. Perannya dalam summit tersebut membuatnya menguasai sedikit banyak materi ketahanan pangan Indonesia. Berawal dari sana, obrolan kami meluas hingga masalah kepemimpinan.

Saya dan beliau kemudian berbicara singkat mengenai kepemimpinan. Bagi saya, sosok pemimpin muncul karena dua alasan. Yakni adanya dorongan dari luar dan dorongan dari dalam. Saya megambil contoh dua pemimpin hebat, Sukarno dan Barack Obama. Menurut saya, Sukarno memiliki latar belakang yang pas untuk bisa menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang lahir akibat adanya dorongan dari luar. Dan Barack Obama yang sempat merasakan hidup di Indonesia memiliki cerita tersendiri tentang jiwa kepemimpinannya.

Dilahirkan untuk menjadi pemimpin
Kumpulan cerita yang saya baca dan saya dengar, membuat saya memiliki pendapat bahwa Sukarno dilahirkan dalam lingkungan yang membangun dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Darah biru mengalir kental di dalam dirinya dan Sukarno seringkali telah diramalkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Hal ini kemudian saya pandang sebagai cara doktrinasi yang terjadi di lingkungan tumbuh besarnya Sukarno. Seiring dengan perkembangan, Sukarno yang terbiasa dianggap sebagai calon pemimpin, memimpikan impian para raja Jawa, yakni menyatukan Nusantara.

Kita dapat melihat bahwa lingkungan sangat berpengaruh bagi Sukarno, ditambah lagi lingkungan dimana dia belajar politik. Sukarno memiliki awal yang baik untuk dapat menjadi seorang pemimpin. Lingkungannya turut andil dalam proses pembangunan jiwa kepemimpinannya. Sukarno hanya perlu menjalankan takdirnya, yang kemudian dapat dia realisasikan dengan dukungan dari berbagai pihak.

Bermimpi untuk menjadi pemimpin
Lain cerita dengan Barack Obama. Sebuah tayangan televisi yang menceritakan biografi singkat Barack Obama pernah menceritakan bagaimana sengsaranya hidup Obama kecil. Perceraian orang tua jelas akan memiliki dampak yang fundamental bagi sang anak, meskipun terkadang dapat ditutupi dengan berbagai hal. Takdir membawa Obama kecil ke Indonesia, dan yang menarik dari tayangan televisi yang waktu itu saya tonton, Barack Obama kecil seringkali meniru pidato Presiden Suharto. Dari sini kita bisa melihat bagaimana usaha Obama kecil untuk bermimpi menjadi seorang pemimpin.

Berlanjut pada masa remajanya, Obama sering melakukan orasi di kampus. Salah satu tayangan yang saya tonton menunjukkan kepiawaiannya dalam berpidato saat dia masih kuliah. Keahliannya dalam memimpin berkembang seiring dengan pengalamannya dalam menjalani hidup. Jangan lupa bahwa isu ras menjadi isu yang hangat dibicarakan ketika Obama sebagai calon presiden kulit hitam dirumorkan menjadi calon terkuat dalam bursa pemilihan. Menurut saya, pengalamannya hidup di negara yang plural (Indonesia) membuat Obama tidak takut menghadapi isu tersebut. Dan pengalamannya hidup dengan keadaan seadanya (bahkan bisa dikatakan miskin) membuatnya memiliki strategi keuangan yang unik untuk membiaya dirinya ketika masa kampanye.

Motivasi dan ambisi
Perbincangan saya dengan kak Ghufron (beliau adalah senior saya di HI UGM) berlanjut pada permasalahan motivasi. Menurutnya, baik faktor eksternal maupun internal seseorang untuk menjadi seorang pemimpin akan kembali pada permasalahan motivasi. Seberapa besarkah motivasi yang dimiliki seseorang untuk mencapai keinginannya (dalam hal ini menjadi seorang pemimpin) itu yang penting. Lanjutnya, seorang pemimpin belum tentu orang yang paling pintar atau paling kuat dalam kelompok/pergaulannya. Dari argumen ini, kita bisa melihat bagaimana motivasi berperan besar dalam menutupi kekurangan sosok seorang pemimpin.

Dan jangan lupa, motivasi berbeda dengan ambisi. Seringkali kita salah mengartikan ambisi sebagai motivasi. Motivasi merupakan suatu gejolak/keinginan yang muncul akibat adanya panggilan hati/merasa dibutuhkan. Berbeda dengan ambisi yang kurang lebih sama, tetapi perbedaannya terletak pada ego. Emosi berperan lebih besar dalam ambisi, dan seperti yang kita tahu bahwa emosi seringkali membawa dampak yang kurang baik dalam suatu hal, dan dalam hal ini kepemimpinan yang didasari oleh emosi juga tidak terlalu baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar