08/05/12

Motivasi Untuk Menjadi Seorang Pemimpin

Pagi ini saya mengobrol dengan seorang teman yang super, beliau tidak lain juga adalah pimpinan organisasi yang saya ikuti. Ghufron Mustaqim, nama yang mungkin tidak asing lagi didengar. Beliau akan pergi ke Washington DC untuk mengikuti pertemuan summit para pemuda di dunia. Perannya dalam summit tersebut membuatnya menguasai sedikit banyak materi ketahanan pangan Indonesia. Berawal dari sana, obrolan kami meluas hingga masalah kepemimpinan.

Saya dan beliau kemudian berbicara singkat mengenai kepemimpinan. Bagi saya, sosok pemimpin muncul karena dua alasan. Yakni adanya dorongan dari luar dan dorongan dari dalam. Saya megambil contoh dua pemimpin hebat, Sukarno dan Barack Obama. Menurut saya, Sukarno memiliki latar belakang yang pas untuk bisa menyebutnya sebagai seorang pemimpin yang lahir akibat adanya dorongan dari luar. Dan Barack Obama yang sempat merasakan hidup di Indonesia memiliki cerita tersendiri tentang jiwa kepemimpinannya.

Dilahirkan untuk menjadi pemimpin
Kumpulan cerita yang saya baca dan saya dengar, membuat saya memiliki pendapat bahwa Sukarno dilahirkan dalam lingkungan yang membangun dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Darah biru mengalir kental di dalam dirinya dan Sukarno seringkali telah diramalkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Hal ini kemudian saya pandang sebagai cara doktrinasi yang terjadi di lingkungan tumbuh besarnya Sukarno. Seiring dengan perkembangan, Sukarno yang terbiasa dianggap sebagai calon pemimpin, memimpikan impian para raja Jawa, yakni menyatukan Nusantara.

Kita dapat melihat bahwa lingkungan sangat berpengaruh bagi Sukarno, ditambah lagi lingkungan dimana dia belajar politik. Sukarno memiliki awal yang baik untuk dapat menjadi seorang pemimpin. Lingkungannya turut andil dalam proses pembangunan jiwa kepemimpinannya. Sukarno hanya perlu menjalankan takdirnya, yang kemudian dapat dia realisasikan dengan dukungan dari berbagai pihak.

Bermimpi untuk menjadi pemimpin
Lain cerita dengan Barack Obama. Sebuah tayangan televisi yang menceritakan biografi singkat Barack Obama pernah menceritakan bagaimana sengsaranya hidup Obama kecil. Perceraian orang tua jelas akan memiliki dampak yang fundamental bagi sang anak, meskipun terkadang dapat ditutupi dengan berbagai hal. Takdir membawa Obama kecil ke Indonesia, dan yang menarik dari tayangan televisi yang waktu itu saya tonton, Barack Obama kecil seringkali meniru pidato Presiden Suharto. Dari sini kita bisa melihat bagaimana usaha Obama kecil untuk bermimpi menjadi seorang pemimpin.

Berlanjut pada masa remajanya, Obama sering melakukan orasi di kampus. Salah satu tayangan yang saya tonton menunjukkan kepiawaiannya dalam berpidato saat dia masih kuliah. Keahliannya dalam memimpin berkembang seiring dengan pengalamannya dalam menjalani hidup. Jangan lupa bahwa isu ras menjadi isu yang hangat dibicarakan ketika Obama sebagai calon presiden kulit hitam dirumorkan menjadi calon terkuat dalam bursa pemilihan. Menurut saya, pengalamannya hidup di negara yang plural (Indonesia) membuat Obama tidak takut menghadapi isu tersebut. Dan pengalamannya hidup dengan keadaan seadanya (bahkan bisa dikatakan miskin) membuatnya memiliki strategi keuangan yang unik untuk membiaya dirinya ketika masa kampanye.

Motivasi dan ambisi
Perbincangan saya dengan kak Ghufron (beliau adalah senior saya di HI UGM) berlanjut pada permasalahan motivasi. Menurutnya, baik faktor eksternal maupun internal seseorang untuk menjadi seorang pemimpin akan kembali pada permasalahan motivasi. Seberapa besarkah motivasi yang dimiliki seseorang untuk mencapai keinginannya (dalam hal ini menjadi seorang pemimpin) itu yang penting. Lanjutnya, seorang pemimpin belum tentu orang yang paling pintar atau paling kuat dalam kelompok/pergaulannya. Dari argumen ini, kita bisa melihat bagaimana motivasi berperan besar dalam menutupi kekurangan sosok seorang pemimpin.

Dan jangan lupa, motivasi berbeda dengan ambisi. Seringkali kita salah mengartikan ambisi sebagai motivasi. Motivasi merupakan suatu gejolak/keinginan yang muncul akibat adanya panggilan hati/merasa dibutuhkan. Berbeda dengan ambisi yang kurang lebih sama, tetapi perbedaannya terletak pada ego. Emosi berperan lebih besar dalam ambisi, dan seperti yang kita tahu bahwa emosi seringkali membawa dampak yang kurang baik dalam suatu hal, dan dalam hal ini kepemimpinan yang didasari oleh emosi juga tidak terlalu baik.

06/05/12

Budaya Pesugihan

Berawal pada perbincangan dengan seorang penjaga warung makan burjo di tengah malam, tema pesugihan pun saya bahas kemudian dengan sepupu saya yang sedikit banyak mengetahui hal-hal mistis.

Waktu itu tengah malam, penjaga burjo kebetulan sedang menyetel acara mistis di televisi. Dan saya datang untuk memesan makan malam. Awalnya kami bercerita tentang hal-hal biasa, kemudian saya memancing dia untuk bercerita mengenai pesugihan.

"Masa sih a' (sebutan untuk teman/orang yang lebih tua dalam bahasa Sunda) ada yang begituan?" tanya saya memancingnya.

"Iya a', saya mah udah biasa sama yang begituan." jawabnya sambil memberikan teh hangat pesanan saya.

"Coba cerita dong a' pengalaman tentang pesugihan yang kayak gitu."

"Dulu nih ya a', saya pernah jadi kenek (kondektur) bis malam. Nah waktu itu saya sama sopirnya lagi istirahat di pangkalan. Si bos dateng sama anak buahnya, saya masih bangun tapi pura-pura tidur. Bos nyuruh anak buahnya buat mutusin kabel rem coba a', katanya buat nyari tumbal. Besoknya saya langsung ngundurin diri, takut saya mah." cerita si penjaga burjo sambil menonton televisi.

"Terus gimana bisnya?" tanya saya penasaran.

"Besoknya mah beneran tuh, bisnya langsung kecelakaan, ada yang meninggal. Yang begituan mah biasa a' dalam bisnis transportasi. Hari ini ada bis yang hancur, makan korban, tapi besokannya langsung beli 10 bis baru yang bagus."

"Waduh, gawat bener tuh."

"Iya a', yang lebih parah lagi mah bisnis kontraktor a', saya pernah diceritain sama temen, serem banget."

"Gimana ceritanya a'?"

"Waktu itu temen saya lagi ngaduk semen a', trus ngeliat mandornya lagi ngawasin temennya temen saya yang lagi ngecor. Nah kan pake truk molen tuh a' yang ngangkut bahan buat cor-coran, si mandornya langsung nendang temennya temen saya itu a' ke tempat cor-corannya, jadi langsung ketimbun gitu. Serem a', mati langsung disitu. Gak ada yang tahu, jadi rahasia umum itu mah di dalam bisnisnya."

"Astaga, beneran itu?"

"Iya a'..." jawabnya menutup perbincangan kami.

Pesugihan merupakan suatu cara untuk memperkaya diri melalui cara-cara mistis. Memang, di dunia yang sudah modern ini, terkadang hal-hal tersebut dirasa tidak lagi relevan ketika teknologi sudah berkembang pesat. Tetapi lain cerita di Indonesia. Bagi saya, pesugihan sudah menjadi suatu budaya yang sulit dihilangkan, bahkan dengan berkembangnya teknologi dan pendidikan.

Saya sempat berbincang dengan sepupu saya mengenai ini. Menurutnya, pesugihan memang suatu hal yang lumrah dalam bisnis. Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya melakukan pesugihan itu mudah dan cepat. Memperkaya diri dengan hal-hal seperti itu sangat cepat dan mudah dilakukan, asalkan yang melakukan mau menerima konsekuensinya.

Semua agama mengajarkan hal-hal yang baik dan benar. Jika kita lihat dari kacamata agama, seringkali usaha/proses lebih diutamakan ketimbang hasil/tujuan. Untuk menjadi sukses memang tidak mudah, harus susah dulu, belajar dulu, mungkin jatuh dulu sebelum bangkit. Pesugihan dalam hal ini menjadi sebuah cara untuk memotong jalur proses sehingga langsung mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kemudian, pesugihan membuat seseorang menjadi tidak lagi merasakan hidup yang benar-benar hidup. Seringkali tumbal/pengorbanan harus dilakukan untuk memenuhi syarat. Sialnya, terkadang pengorbanan harus dilakukan terhadap orang-orang terdekat kita, seperti teman atau anggota keluarga. Perilaku ini, menurut saya, didorong oleh rasa putus asa akibat sulitnya menempuh jalan menuju kesuksesan. Manusia seringkali putus asa dan tersesat karena impiannya yang tak kunjung tercapai.

Perbincangan saya dengan sepupu saya tidak berhenti disana. Kami mulai mencoba melihat menggunakan perspektif modern. Akhirnya kami melihat persamaan antara budaya pesugihan dengan kapitalisme. Kapitalisme yang seringkali dikatakan sebagai sebuah sistem yang menguntungkan segelintir orang/suatu kelompok dan merugikan banyak pihak, tak jarang memakan korban. Banyak kemudian pengusaha-pengusaha yang bangkrut akibat kapitalisme dan kemudian meninggal.

Hal ini kemudian dapat kita sandingkan dengan budaya pesugihan. Saya menyebutnya sebagi budaya kapitalisme primitif. Dimana pesugihan merupakan usaha untuk menguntungkan satu pihak tertentu dengan cara memakan korban secara literal. Jangan-jangan orang Barat yang mengadopsi sistem kapitalisme belajar dari budaya pesugihan? Haha, entahlah.

Pemburu Naga

"Ambilkan air hangat, cepat!" teriak ibu kepadaku.

Aku langsung berlari menuju dapur untuk mengambil air dari tungku perapian dan memberikannya kepada ibu.

"Tatap mataku anak muda, jangan lihat yang lain. Belum waktunya kau pergi ke Valhalla." ibu meyakinkan Axio.

"Oh, Odin yang agung. Setidaknya izinkan aku bertemu dengan naga itu lagi." kata Axio sambil memegang perutnya yang tertancap oleh tanduk naga, lukanya sangat parah.

Malam itu sangat larut, Axio berhasil menemukan naga merah yang sedang beristirahat di danau Sapphire. Dia mencoba menaklukkannya seorang diri. Dia memang seorang pemburu naga yang handal, tapi naga merah jelas bukan tandingannya.

Desa kami memang terkenal sebagai desa para pemburu naga. Ayahku meninggal akibat lengah ketika berburu dengan kelompoknya. Aku juga ingin menjadi pemburu naga seperti ayah.

"Dia akan baik-baik saja, tanduknya sudah berhasil aku cabut. Biarkan dia bermalam di sini. Kalian kembalilah ke rumah, jadikan ini sebagai pelajaran untuk tidak berburu naga seorang diri. Ingat kata-kataku! Aku tak ingin ada mayat di rumahku." kata ibu kepada semua yang ada di rumah kami.

Ibu adalah seorang perawat yang ternama di desa kami. Sayang, ibu tidak bisa menyelamatkan nyawa ayah waktu itu. Kejadian itu membuatnya melarangku untuk menjadi pemburu naga. Sempat ada pembicaraan antara kami berdua untuk pindah ke kota Gale. Ibu ingin aku belajar dagang dengan paman Leo. Tapi aku bersikeras ingin menyelesaikan sekolah para pemburu naga di sini. Itu juga merupakan amanat ayah yang terakhir, ibu pun menerimanya.

"Aku tak ingin menjadi orang yang kehilangan segalanya. Kau sangat berharga bagiku, anakku. Aku telah kehilangan seorang kekasih, seorang suami, dan seorang kepala keluarga yang baik di tanganku sendiri." kata ibu memegang tanganku sambil meneteskan air mata.

"Dan seorang pemburu naga, jangan lupakan itu ibu." tambahku sambil menggenggam tangan ibu.

"Iya, iya." jawab ibu tersenyum sambil menyeka air matanya.

"Aku akan menemani Axio, bu." kataku sambil mencium kening ibu.

Ayah memang seorang pemburu naga, tapi tidak terlalu handal. Dia sekelompok dengan Zatu, temannya sejak kecil dan pemburu naga paling hebat yang ada di desa kami. Zatu baru saja berangkat untuk ekspedisi pencarian naga putih bersama dengan kelompoknya. Zatu adalah ayah Axio, dan tentu dia tidak tahu keadaan anaknya sekarang.

"Hei." sapaku kepada Axio.

"Hei. Aku mendengar tangisan tadi. Kau tak apa?"

"Ya, ibu sempat menangis tadi. Seharusnya aku yang bertanya mengenai keadaanmu." jawabku sambil bercanda.

"Haha, aku tak apa berkat ibumu. Pasti berat untuk kehilangan ayahmu."

"Ya, tentu. Semua orang punya masalah yang berat. Bukankah begitu?"

"Ya."

"Bagaimana rasanya menjadi seorang pemburu naga?"

"Kadang menyenangkan, kadang mengerikan. Tapi bukan itu yang penting."

"Lalu?"

"Ah, sudahlah. Kau tak ingin mendengar cerita dari seseorang yang baru saja tertusuk tanduk naga kan? Memalukan sekali aku ini, ayah pasti malu jika tahu."

"Haha, memang sulit untuk membayangkan apa yang terjadi padamu. Ayolah, tak apa, lagipula aku sudah terlatih untuk mendengar tangisan ibu setiap hari, apa ada yang lebih buruk daripada itu?" kataku menggodanya.

"Sial kau, haha. Baiklah, aku akan cerita. Aku selalu dibayang-bayangi oleh prestasi ayahku. Semua orang menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Ekspektasi yang tinggi, kau tahu kan. Dan mungkin sekarang aku telah merusak segalanya."

"Oh ayolah, naga merah seorang diri? Siapa yang cukup berani untuk melakukan itu?"

"Cukup berani atau cukup bodoh? Aku sangat putus asa. Sesaat sebelum ayahku pergi, aku ingin memberikannya taring naga merah, tapi aku tak kunjung menemui naga merah. Dan ketika aku menemukannya, situasiku sangat tidak menguntungkan. Aku ingin membuat ayahku bangga. Ketika ia pulang, aku ingin memberikan taring naga merah kepadanya."

"Ayahmu sudah bangga dengan siapa dirimu Axio, masih banyak cara untuk menyambut pulang ayahmu. Kau sudah menjadi pemburu naga yang handal."

"Terima kasih."

Aku melihat matanya yang kosong. Aku tahu, perasaannya sangat tidak baik saat ini. Axio berjuang di bawah bayang-bayang ayahnya. Sesuatu yang sangat sulit dijalani oleh seorang anak muda berumur 22 tahun.

"Baiklah, kau butuh banyak istirahat. Aku akan pergi ke kamarku. Jika ada apa-apa, kau boleh teriak, haha."

"Haha, baiklah. Terima kasih telah menemaniku."

Aku pun meninggalkannya di kamar tamu. Langkahku berat menuju kamar. Banyak pikiran yang terlintas di benakku. Aku selalu melihat Axio sebagai sosok pemburu naga yang ideal, muda dan handal. Tapi kenyataan berbicara lain.

Aku membuka pintu kamarku, dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pemburu naga. Mungkin ibu benar, aku akan pandai menjadi seorang pedagang. Mungkin Odin yang agung punya rencana lain. Mungkin dan mungkin. Begitu banyak kemungkinan, dan aku tak tahu akan menjalani yang mana. 

Aku pun memejamkan mata.

04/05/12

Janji

Akhirnya jalanan di kota mulai sepi. Lampu-lampu di pinggir jalan mengiringi langkahnya yang tenang. Angin malam sangat tidak bersahabat dan dia harus mengenakan jubah hitam barunya yang diberikan Secioria tiga hari  yang lalu untuk menjaga badannya tetap hangat.

"Lalala~" lantunnya di bawah sinar bulan purnama.

Suaranya yang khas membuat semua kucing di kota itu mengikutinya. Dan dia berhenti di depan sebuah rumah tua yang lampunya sudah sangat redup.

"Coba kita lihat, ups, ini dia, rumah No. 58. Terima kasih sudah menemaniku kucing-kucing manis, sekarang biarkan aku melakukan pekerjaanku." gumamnya sambil tersenyum kepada kucing-kucing.

Kucing-kucing yang mengelilinginya pun berpencar tanpa suara. Selangkah kemudian dia berada tepat di depan pintu rumah No. 58. Dia membuka pintu rumah itu perlahan, semuanya gelap. Dia melangkah dengan tenang, matanya tertuju pada sumber cahaya di pojok lorong rumah itu.

"Siapa itu?" suara lirih dan berat mengisi rumah itu.

"Ini aku." jawabnya ringan.

"Oh."

Dia mendekati pria tua itu sambil tersenyum. Rambutnya telah memutih, kulitnya penuh dengan keriput, dan matanya telah merabun. Duduk tak berdaya di sofa merah kesayangannya, orang tua itu mengenakan kaos putih dan celana pendek bergaris-garis.

"Sudah waktunya ya?"

"Ya, maaf membuatmu menunggu lama." sambil tersenyum mencoba menenangkan orang tua itu.

"Tak apa. Sekarang apa? Akankah terasa sakit?"

"Dalam kasusmu mungkin tidak, kau bisa tidur sekarang."

"Boleh aku bertanya?"

"Ya, silahkan."

"Bagaimana kabar istriku? Apa kau pernah bertemu dengannya?"

"Ya, hanya sekali. Dia cantik sekali dengan gaun putihnya, dia merindukanmu."

"Ah, akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama." katanya sambil menutup mata.

Dia hanya tersenyum memandang orang tua itu. Siapa yang tahu orang tua itu hanya seorang diri semenjak istrinya meninggal dunia akibat penyakit leukimia. Dia belum sempat memiliki seorang keturunan, dan keluarganya telah lama pergi mendahuluinya. Dia adalah seorang veteran perang yang hidup dari uang pensiun negara dan sekarang telah divonis dokter mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4. 

"Bisa kita berangkat sekarang? Aku takut terlambat untuk kencan dengan Sessy." sambil menggenggam tangan orang tua itu.

"Oh, baiklah." orang tua itu membuka matanya dan bangun dari tidurnya.

"Hati-hati, kau belum terbiasa."

Orang tua itu berdiri tidak menyentuh lantai, dia melayang. Masih menggenggam tangannya, dia menuntunnya keluar rumah.

"Aku kira akan terasa sakit." gumam orang tua itu sambil mencoba membiasakan diri.

"Tidak. Tergantung bagaimana kau melihatnya." jawabnya sambil tersenyum.

"Apakah selalu seperti ini? Kau sangat ramah."

"Tidak, terkadang aku harus memaksa. Dan kau tak ingin melihatku marah kan?"

Mereka berdua diam sejenak sambil meneruskan langkah mereka ke tengah kota. Cahaya matahari sudah mulai bersinar dari arah Timur.

"Sudah waktunya." katanya memecah keheningan.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Ikuti cahaya matahari dan kau akan sampai. Istrimu mungkin sudah menunggu di gerbang surga."

"Terima kasih." jawab orang tua itu ragu.

"Aku tahu kau punya banyak pertanyaan tentangku dan semuanya. Aku datang kepadamu untuk memenuhi janji Tuanku dan aku datang sebagai ingatan masa lalumu. Jangan terlalu dipikirkan." dia menutup kata-katanya sambil tersenyum.

Orang tua itu sekarang tersenyum dengan gembira. Dia mengikuti cahaya matahari dan perlahan-lahan menghilang.

Kisah orang tua itu telah berakhir. Tapi belum baginya, masih ada banyak janji yang harus dipenuhi. Sekarang matahari telah bersinar, orang-orang mulai keluar dari rumah dan beraktivitas seperti biasa. Tak ada yang tahu apa yang terjadi kepada penghuni rumah No. 58.

"Selamat pagi." sapa orang-orang di sekitarnya.

Dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum, orang-orang telah menyadari keberadaannya. Dia harus kembali beraktivitas sebagai seorang pengusaha restoran yang hidup berkecukupan. Pagi ini cerah dan dia akan bertemu dengan kekasihnya.

"Semoga malam ini bukan Sessy, haha." dia bercanda dengan dirinya sendiri.

03/05/12

Underoath - The Only Survivor Was Miraculously Unharmed

Selamat hari Kamis! Ini adalah postingan #3 di bulan Mei, hehe. Bagi yang belum tahu, saya sedang menjalankan misi, halah, untuk menulis secara rutin selama 31 di bulan Mei. Kali ini saya akan menulis sesuatu yang ringan, ringan, berat, haha. Dari judul sudah kelihatan kan kalo saya ingin membahas lirik lagu? Ayo kita mulai!

Underoath adalah band metal religius yang saya sukai semenjak album ketiganya, Define The Great Line, muncul. Dengan nada yang sering kali keras tetapi ada lembutnya juga, Underoath menyajikan lirik yang berlafaskan religi. Salah satu lagu favorit saya adalah The Only Survivor Was Miraculously Unharmed yang merupakan salah satu lagu di album keempatnya Lost In The Sound of Separation. Kenapa saya suka? Karena ada lirik ini:

"Everything, everything is leaving me wondering.
I hate that I'm questioning.
You're everything, everything."

Selain memang enak didengar, lirik ini juga (bagi saya) memiliki arti tersendiri. Seperti banyak artis dan lagu lainnya, terdapat banyak arti atau penafsiran atas sebuah lirik. Dan bagi saya, lirik ini tidak jauh dari makna religi.

Lirik ini menggambarkan sebuah keraguan yang dialami seorang anak manusia. Mengapa semua yang ada di dunia membuat kita seringkali bertanya-tanya. Kita bertanya akan sesuatu yang sudah pasti, karena semua ini merupakan ciptaan Tuhan. Tuhan adalah segalanya. Dan (mungkin) Underoath melalui lirik ini ingin mempertegas kemutlakkan Tuhan sebagai awal dan akhir dari segalanya.

Menurut saya, lirik ini secara implisit ingin menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya segala yang ada di dunia merupakan kepingan-kepingan fakta untuk mendukung keberadaan Tuhan. Dan seringkali kita lupa akan itu. Memang kita juga tidak boleh menelan mentah-mentah dogma agama, dewasa ini manusia mengutamakan rasionalitas melalui ilmu pengetahuan. Tetapi itu jelas tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk melupakan keberadaan agama sebagai salah satu pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia.

Keraguan seringkali menghinggapi diri manusia, bagi saya itu wajar, terutama masalah agama. Seperti kata Pandji dalam bukunya NASIONAL.IS.ME, "Keraguan bisa menjadi anugerah yang luar biasa. Keraguan membuat kita mempertanyakan kembali keyakinan kita. Kalau kita kembali dari keraguan itu, keyakinan kita akan jadi jauh lebih kuat" Akhir kata, selamat hari Kamis!

Underoath - The Only Survivor Was Miraculously Unharmed

02/05/12

Donor Darah

Dulu saya sering bertanya, sebenarnya untuk apa saya hidup? Di luar konteks agama, saya merasa saya hidup untuk diri saya sendiri. Tidak heran kemudian jika banyak manusia yang tamak demi menutupi kekosongan mereka. Sampai suatu hari saya melihat sebuah video iklan tentang donor darah.

Bagaimana jika kita hidup bukan untuk suatu tujuan yang pasti, melainkan untuk orang lain? Bagaimana jika pertanyaan "untuk apa" berubah menjadi "untuk siapa" Pada akhirnya memang kita tetap akan mengalami kebuntuan ketika orang yang menjadi tujuan hidup kita telah tiada. Tetapi itu cuma selingan saja untuk menunjukkan bahwa hidup kita bisa sangat berarti bagi orang lain, bahkan mungkin untuk orang yang tidak kita kenal.

Pernahkah kalian mendonorkan darah kalian? Saya pernah dan sering, saya ketagihan, hehe. Memang saya terkadang tidak rutin setiap 3 bulan menjalani donor darah, tetapi setiap kali ada ajakan acara donor darah atau ada yang beanr-benar membutuhkan, saya selalu siap sedia. Mungkin ada orang yang baru pertama kali melakukan donor darah kemudian setelahnya sudah tidak mau lagi, entah karena takut atau sakit. Dalam kasus saya kok malah nagih ya? Saya akan jelaskan beberapa alasan yang mungkin ada beberapa yang agak tidak masuk akal, hehe, mungkin kalian juga merasakannya.
  1. Saya merasa sangat excited sekali setiap kali mau mendonor darah! Entah kenapa. Mungkin karena saya selalu berpikir bahwa akhirnya saya berguna bagi orang lain, setidaknya darah saya berguna, hehe.
  2. Menurut ilmu kedokteran (sok tau banget sih), donor darah itu baik. Karena darah kita akan digantikan oleh yang baru alias fresh! Meskipun sesaat setelah donor kita merasa lemas tapi yakinlah keesokan harinya kita akan merasa sangat fresh sekali!
  3. Kita akan diberikan snack, hehe. Maklum mental anak kos jadi cari-cari gratisan.
  4. Donor darah tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tentunya ini memaksa agar sang pendonor untuk selalu dalam kondisi prima. Bagi saya, ini menjadi dorongan agar terus hidup sehat. Ya masa kita mau kasih darah kita yang lagi sakit ke orang yang sakit? Sakitnya jadi plus-plus dong.
  5. Entah saya pernah mendengar info ini darimana, tapi katanya orang yang mendonorkan darahnya berarti juga mendonorkan sedikit sifatnya ke target donornya. Hehe, saya selalu berpikir sebagian sifat saya yang baik-baik bisa menular ke orang yang pakai darah saya itu tadi. Lha iya kalo yang bagus-bagus, kalo yang jelek-jelek kan berabe? :P
Mungkin dari beberapa alasan diatas kalian juga merasakan hal yang sama. Saya tidak pernah menolak untuk mendonorkan darah (kecuali jika dalam keadaan tidak fit). Maka dari itu ayo kita donor darah lebih sering lagi! Jangan takut akan rasa sakit atau jarum suntik, karena itu bisa diredam dengan senyuman manis si suster atau bu dokter (gombal!). 

Jadi, jangan pernah berpikir kita tidak berguna untuk orang lain. Untuk membantu orang lain tidak harus dengan cara-cara yang besar dan sulit, cukup dimulai dari hal yang kecil dan praktis. Donor darah bisa menjadi salah satunya. Kumpulkan niat baikmu, jika ada kesempatan maka lakukanlah. Kemudian percayalah bahwa kebaikan akan dibalas oleh kebaikan.

01/05/12

Pertarungan Kekuasaan: Legitimasi dan Gerakan Massa

Banyak peristiwa pemberontakan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Baik yang berskala domestik, maupun global. Pemberontakan merupakan salah satu wujud ketidakpuasan yang umumnya ditujukan kepada pemerintah atau penguasa yang biasanya memiliki legitimasi untuk berkuasa secara sah, meskipun terkadang ada yang tidak. Dari sini kemudian timbul pertanyaan, bagaimana pertarungan kekuasaan ini akan berjalan dan berakhir antara mereka yang memiliki legitimasi untuk berkuasa dengan mereka yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan massa?

Kekuasaan merupakan kekuatan untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita inginkan, baik secara sadar, tidak sadar, terpaksa, maupun tidak terpaksa. Konflik antar manusia tidak pernah bisa lepas dari permasalahan kekuasaan, karena sifat dasar manusia selalu menginginkan penambahan kekuasaan atau hanya sekedar mempertahankan kekuasaannya.

Pemberontakan yang sering terjadi dalam lingkup suatu negara tidak melulu bercerita mengenai pemerintah yang buruk, korup, jahat, dan lain-lain, yang kemudian digulingkan oleh mereka yang merasa dapat memerintah dengan lebih baik. Dalam beberapa kasus, pemberontakan dapat dimaknai tidak lebih dari usaha untuk memperkaya diri beberapa golongan dengan cara menggulingkan pemerintah yang berkuasa. Hal ini terjadi karena seringkali kekuasaan dipandang sebagai cara untuk mendapatkan kekayaan, atau kasarnya siapa yang berkuasa, dia yang kaya. Masing-masing kasus memang memiliki ceritanya tersendiri, siapa yang menjadi pahlawan dan siapa yang menjadi penjahat, tetapi siapakah yang kemudian dapat memenangkan pertempuran kekuasaan ini?

Dalam perkembangannya, dunia telah mengenal kebebasan yang dibungkus dalam istilah demokrasi. Manusia meneriakkan dan memperjuangkan kebebasan. Argumen ini saya gunakan kemudian untuk menyangkal kekuasaan yang didapatkan melalui paksaan dan mengaitkannya dengan kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain. Karena penggunaan soft power kian meningkat ketimbang penggunaan hard power dewasa ini.

Penggunaan kekuasaan melalui legitimasi kekuasaan seringkali berakhir pada pemaksaan. Sebagai contoh, jika kita mengambil contoh kasus dimana pemerintah berperan sebagai penjahat, penggunaan aparat penegak hukum dan militer hanyalah merupakan masalah komando dan terkesan sebagai sebuah alat untuk mempertahankan kekuasaan rezim pemerintahan tersebut. Kekuatan kekuasaan ini tentu besar karena pemerintah memiliki akses penuh untuk menggerakkan alat negara (penegak hukum dan militer).

Sedangkan penggunaan kekuasaan melalui penggerakkan massa selalu dilakukan dengan kesepakatan dan persuasi. Sebagai contoh, jika kita mengambil contoh kasus dimana pemerintah masih berperan sebagai penjahat, rakyat akan melakukan observasi dan kesepakatan bahwa apa yang dilakukan pemerintah memang tidak lagi demi kepentingan rakyat sehingga diperlukan berbagai macam aksi untuk menyelesaikan permasalahan ini, salah satunya penggerakkan massa. Rakyat akan berbondong-bondong mengajak satu sama lain untuk memperbesar jumlah dan menggerakkan massa yang pada umumnya bertujuan untuk menggulingkan rezim pemerintah yang berkuasa.

Jika dilihat sekilas, penggunaan kekuasaan dengan penggerakkan massa tentu akan memenangkan pertarungan ini melawan mereka yang menggunakan legitimasi kekuasaan karena tindakan represif yang terlalu keras akan menimbulkan perlawanan yang lebih keras lagi (jangan lupa dukungan internasional juga sangat berpengaruh). Tapi jika ditelaah lebih jauh, ini akan mengarah ke besar pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh masing-masing pihak. Sebagai contoh, pemerintah ini belum tentu jahat, mungkin saja ada kebijakan yang menguntungkan banyak pihak sehingga selain memiliki legitimasi kekuasaan untuk menggerakkan alat negara, pemerintah ini juga mampu untuk menggerakkan massa yang pro pemerintah.

Pada akhirnya, saya memandang ini dari kacamata pribadi sang pelaku. Apakah pemimpin pihak pemerintah atau pemberontak memiliki pribadi yang cukup, kharisma, dan pembawaan untuk menjadi figur publik yang mampu mengantongi dukungan dari banyak kalangan. Semakin dia bisa mempengaruhi pihak lain maka semakin besar kemungkinannya untuk memenangi pertarungan kekuasaan ini.