02/10/12

Memelihara Setan Kecil di Hati Kita

Saya percaya bahwa di setiap hati semua orang hadir sesosok setan kecil yang nakal dan kadang suka menggoda kita. Hanya saja orang-orang kadang malu untuk mengakuinya atau saya lebih suka menggunakan istilah naif. Setan kecil ini merupakan kumpulan dosa-dosa idaman kita, sesuatu yang terlarang tetapi ingin sekali kita lakukan dan kita penuhi.

Kenapa sih saya nulis kayak beginian di tengah malam?

Dulu saya pernah berpikir bahwa untuk menjadi yang terbaik, saya harus mengalahkan kakak saya. Mengalahkan dalam artian positif. Kakak saya adalah seseorang yang menurut saya paling dekat untuk saya bisa lampaui. Beliau gagal masuk PTN waktu itu, dan ketika saya telah berhasil masuk PTN, saya beranggapan bahwa misi telah sukses. Tapi waktu terus bergulir, kadang terasa lama, kadang terasa sangat cepat. Kemudian tibalah waktu saya untuk berbicara dengan orang tua saya. Sewaktu itu saya kesal sekali, jengkel karena dari kecil hingga sekarang saya tidak pernah mendapatkan gambaran yang jelas mengenai pekerjaan orang tua saya, saya tidak pernah diajari apa yang mereka kuasai, dan tidak pernah tahu apa yang dimiliki orang tua saya. Kala itu, ayah saya dengan singkat berbicara seperti ini, "Buat apa sih kamu tahu? Kamu mau sombong? Ini belum saatnya. Ada saatnya nanti kamu tahu, baik tahu dari kami maupun dari orang lain. Kami cuma ingin membuat kamu tetap rendah hati". Sejak saat itulah saya tahu bahwa saya harus bisa melampaui dan menjadi lebih baik dari orang tua saya.

Terus apa kaitannya dengan setan kecil yang tadi kita bicarakan di awal tulisan?

Sebetulnya agak memalukan jika saya harus berkata bahwa saya sedang mengalami krisis kepribadian. But the hell with that, saya orang yang terbuka dan saya pikir ini perlu untuk ditulis. Berkaitan dengan cerita saya tadi, saya sadar bahwa ada satu lagi tahap yang harus bisa saya lalui sebelum bisa melampaui orang tua saya. Ya, ini akan terdengar sangat klise, tapi sebelumnya kita harus bisa mengalahkan diri kita sendiri. Dan sekarang saya berada di fase ini. Saya berdiri di depan tembok kokoh bertuliskan "Aku" yang menghalangi jalan saya. I'm stuck.

Belakangan ini saya senang bermain-main dengan setan kecil di hati saya. Saya selalu menganalogikan dia sebagai sesosok pria keren, pintar, kuat secara fisik, dan berengsek di saat yang bersamaan. Kenapa berbentuk seperti itu? Karena saya ingin diri saya seperti itu. Hasratlah yang membentuk setan kecil ini, bukan kebutuhan. Saya percaya setiap orang punya analogi yang berbeda-beda tentang bentuk setan kecil mereka. Analogi simpelnya seperti Naruto dan Kyuubi-nya. Back to the topic, bagaimana saya bisa bermain dengan setan kecil saya? Simply dengan mengizinkan dia menggunakan tubuh saya. Teknisnya saya membiarkan diri saya memenuhi hasrat saya, saya membiarkannya berkembang. Dan ini yang menjadi masalah, he grows too strong to be handled. Akuilah, kita rindu dengan setan kecil kita di hati yang paling dalam. Setan kecil ini ikut memberikan warna ke dalam hidup kita. Dia terlibat dalam pembentukan karakter kita, dia adalah suara hati yang tak terdengar. Dia adalah bisikan jahat yang menggoda. Dia adalah mimpi dan impian kotor kita. Akuilah. Tak ada yang salah dalam mengakuinya, yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menghadapinya. Dan inilah tembok "Aku" yang perlu saya lewati. 

Saya selalu melihat diri saya sebagai sebuah forum. Di sana ada saya, saya, dan banyak lagi saya. Saya berpakaian dalam tema yang berbeda. Saya yang mengenakan baju formal, saya yang mengenakan baju religius, saya yang mengenakan baju santai, dan lain-lain. Mereka adalah impian saya, karakter saya yang terlepas dari tubuh inti saya dan hidup sendiri-sendiri namun satu. Itulah wujud multi-personality kita. Terkadang kita ingin menjadi sesuatu, seseorang, atau sosok yang bahkan mungkin kita tidak pernah bisa wujudkan. Mereka membentuk kita, mereka adalah kita. 

Dua hal yang saya mengerti, saya harus mampu menjadi lebih baik dari saya yang lain untuk bisa melewati tembok "Aku". Tapi ingat, si setan kecil ini akan selalu ada, dia hidup dan menunggu waktu untuk meng-take over tubuh kita. Setan kecil yang lucu dan nakal. Dia yang sedih karena menjadi kambing hitam dari pembenaran dosa-dosa kita. Dia yang tidak pernah diizinkan bermain. Berbicaralah sesekali dengannya di cermin, dia akan tersenyum padamu. Dan jika tergoda, dia akan berbicara seperti ini kepada kita: "Kenapa sih kamu lakukan hal-hal yang baik? Kamu bisa jadi aku yang lepas, bebas, dan bahagia. Dirty things you've done will be my fault. Salahkan semua dosa kepadaku, biarkan aku menjadi kamu."

I always keep the little devil inside me alive. I play with him. It's to remind me not to be like him. To remind me that I can use him. I am better than just a little devil. Or maybe I already am a devil?

Three Days Grace - Animal I Have Become

1 komentar:

  1. Coba lari pagi kang, dengan jarak yang lumayan jauh. Dan akan merasakan kontemplasi dalam lari.

    aneh ya? Karena dalam lari, mental kita sedang dibentuk. Fokus, tidak menyerah, melampaui 'aku', terangkum disitu

    BalasHapus